Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul Episode 31: "Kebenaran di Dasar Laut dan Panggilan yang Tak Terduga"
Setelah berhasil mengatasi badai bawah laut dan menyelamatkan kru kapal Pelangi Bahari dari jeruji karang tersembunyi di dasar laut, mereka akhirnya menemukan cagar arkeologi yang menjadi tujuan utama ekspedisi mereka. Kapten Mira memerintahkan kru untuk menghentikan mesin dan menjaga posisi kapal dengan hati-hati, sambil menatap layar sonar yang menunjukkan struktur besar berbentuk piramida di kedalaman lebih dari 500 meter.
“Semua siap! Tim penyelam utama siap meluncur dalam 10 menit,” teriak Juna, kepala tim penyelam, sambil memeriksa peralatan diving terbaru yang baru saja mereka perbaiki setelah kerusakan di episode sebelumnya. Mira mengangguk dengan wajah yang serius—dia merasa ada sesuatu yang berbeda tentang cagar ini, bukan hanya karena ukurannya yang luar biasa, tapi juga karena medan energi yang aneh yang dirasakan oleh alat deteksi mereka sejak beberapa kilometer yang lalu.
Sementara itu, di dalam ruang komunikasi, Lia sedang mencoba memperbaiki sinyal radio yang tiba-tiba terganggu. Tiba-tiba, layar monitornya menyala dengan pesan kode yang tidak dikenal, bukan dari stasiun induk seperti biasanya. Pesannya hanya satu kalimat: “Jangan menyentuh apa pun di dalamnya—kami telah menunggu lama untuk ini.” Lia segera melaporkannya kepada Mira, namun sebelum mereka bisa membahas lebih lanjut, Juna datang dengan berita bahwa tim penyelam sudah siap.
Tanpa banyak pilihan, Mira memutuskan untuk melanjutkan misi dengan meningkatkan tingkat keamanan. Empat penyelam terbaik mereka—Juna, Rina, Bara, dan Toni—meluncur ke dalam air yang dingin dan mulai menyelam ke arah struktur misterius. Saat mereka semakin dekat, cahaya dari lampu bawah air mereka menerangi dinding-dinding piramida yang dihiasi dengan ukiran binatang laut yang tidak dikenal dan simbol-simbol geometris yang kompleks. Rina, yang juga seorang ahli arkeologi laut, merasa jantungnya berdebar kencang—ukiran tersebut sama sekali tidak sesuai dengan catatan sejarah tentang peradaban bawah laut yang pernah ditemukan sebelumnya.
Ketika mereka mencapai pintu utama struktur, mereka menemukan bahwa pintu itu tidak terkunci, melainkan terbuka selebar mungkin seolah-olah mengundang mereka masuk. Di dalamnya, ruangan besar yang penuh dengan kristal berwarna-warni yang memancarkan cahaya sendiri menyambut mereka. Di tengah ruangan, ada piringan besar yang terbuat dari logam langka dengan ukiran yang sama dengan yang ada di dinding luar. Saat Juna hendak menyentuhnya, perangkat komunikasi mereka tiba-tiba menyala dengan suara yang tenang namun jelas:
“Kamu akhirnya datang, penerus dari orang-orang yang pernah menjaga keseimbangan dunia ini.”
Semua penyelam terkejut dan segera membentuk formasi pertahanan. Dari balik salah satu kolom kristal, muncul sosok manusia yang mengenakan baju renang khusus dengan warna biru muda, namun yang membuat mereka tercengang adalah bahwa sosok itu bisa bernapas bebas di dalam air tanpa alat bantu apa pun.
“Saya adalah Lyra dari suku Aquarius,” ujar sosok wanita itu dengan senyum lembut. “Kita telah menunggu ribuan tahun untuk bertemu dengan orang-orang yang cukup berani untuk mencapai tempat ini setelah peristiwa besar yang menghancurkan peradaban kita.”
Sementara itu di atas kapal, Mira dan Lia melihat bahwa semua alat deteksi mulai menunjukkan aktivitas energi yang luar biasa dari dalam struktur. Tanpa diduga, langit yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi mendung gelap, dan ombak mulai membengkak dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Lia berhasil menangkap sinyal darurat dari stasiun induk yang mengatakan bahwa seluruh wilayah laut sekitar mereka sedang mengalami gangguan geomagnetik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kembali ke dalam piramida, Lyra mulai menjelaskan kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dunia luar. Peradaban Aquarius adalah peradaban kuno yang hidup di dasar laut dan menjaga sumber energi utama yang menghubungkan dunia atas dan bawah laut. Namun ribuan tahun yang lalu, seorang pemimpin yang haus kekuasaan mencoba menggunakan energi itu untuk menguasai dunia, menyebabkan bencana besar yang hampir menghancurkan kedua dunia. Untuk mencegah hal itu terulang, mereka menyembunyikan sumber energi dan menutup akses ke piramida hingga muncul orang-orang yang bisa dipercaya untuk menjaga keseimbangan.
“Kamu dan kru kapal Pelangi Bahari adalah mereka yang kita cari,” lanjut Lyra. “Tanda-tanda sudah muncul sejak你们 mulai ekspedisi ini—badai yang kamu atasi, jeruji karang yang hampir menghalangi jalan, bahkan pesan kode yang kami kirimkan. Semuanya adalah ujian untuk memastikan bahwa kamu layak mengetahui kebenaran ini.”
Juna memandang teman-temannya dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu dan tanggung jawab. Mereka tidak pernah menyangka bahwa ekspedisi untuk mencari cagar arkeologi akan mengubah pandangan mereka tentang dunia. Lyra kemudian menunjukkan bahwa sumber energi utama berada di ruangan di belakang piringan besar, dan jika tidak segera diperbaiki, energi itu akan meledak dan menyebabkan kerusakan besar tidak hanya bagi laut, tapi juga daratan di sekitarnya.
“Kita membutuhkan bantuanmu,” ujar Lyra dengan suara yang lebih serius. “Hanya dengan kerja sama antara dunia atas dan bawah laut yang bisa menyelamatkan kita semua. Apakah kamu bersedia membantu kami?”
Saat itu juga, gempa bawah laut kecil mengguncang struktur tersebut. Di atas kapal, kru mulai merasakan getaran yang kuat dan harus berjuang untuk menjaga keseimbangan kapal. Mira tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu lagi untuk memutuskan. Di tengah kekacauan dan ketidakpastian, suara Juna terdengar di radio: “Kapten, kami punya sesuatu yang perlu kamu dengar…”