Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah kehebohan jemputan dengan Mercedes itu, Xiao Han langsung menepati janjinya. Keesokan harinya dan seterusnya, dia kembali menggunakan motor butut yang sudah setia menemaninya sejak dulu. Mesinnya kadang mogok di tengah jalan, joknya sudah robek di beberapa tempat, tapi bagi Hua Ling’er, itu justru terasa lebih nyaman—lebih seperti “mereka” yang dulu.
Setiap sore pukul 15:45, Xiao Han sudah menunggu di gerbang SMA Negeri 7 Golden Core. Tidak ada lagi mobil mewah yang menarik perhatian, hanya motor tua dengan helm cadangan yang sudah dia siapkan untuk Hua Ling’er. Murid-murid yang sempat heboh kemarin mulai bosan dan kembali ke rutinitas mereka sendiri. Gosip tentang “pacar Hua Ling’er yang tajir” pelan-pelan mereda, digantikan cerita baru tentang ujian akhir semester atau drama antar kelompok.
Hua Ling’er keluar gerbang dengan senyum lebar setiap kali melihat motor itu. Dia langsung naik ke jok belakang, memeluk pinggang Xiao Han dari belakang, dagunya bersandar di bahu pria itu.
“Kak… hari ini aku dapet nilai 95 Matematika! Guru bilang aku bisa masuk jurusan favorit di UI kalau terus gini.”
Xiao Han tersenyum, menstarter motor pelan.
“Bagus banget, Ling’er. Nanti malam aku traktir mie ayam double telur ya. Rayain.”
Mereka pun berangkat ke warung mie ayam langganan di pinggir jalan raya kecil. Warung itu sederhana: meja plastik, kursi besi, lampu neon kuning yang kadang kedip-kedip. Pemiliknya, Pak Joko, sudah hafal mereka berdua.
“Wah, anak muda lagi! Mie ayam biasa dua, tambah telur ceplok ya?”
“Iya, Pak. Tambah es teh manis satu liter,” jawab Xiao Han sambil tertawa kecil.
Mereka duduk berhadapan di meja pojok. Hua Ling’er bercerita panjang lebar tentang hari sekolahnya: teman yang ribut soal cowok, guru yang marah karena banyak yang bolos les, dan mimpi-mimpinya setelah lulus.
“Kak… kalau aku masuk UI nanti, Kakak janji nemenin aku ke kampus ya? Aku pengen foto bareng di gerbang utama.”
Xiao Han mengangguk, matanya lembut.
“Janji. Aku jemput kamu pakai motor ini juga. Biar kita foto bareng, tapi helmnya dilepas dulu.”
Hua Ling’er tertawa, lalu diam sejenak. Tangannya meraih tangan Xiao Han di atas meja.
“Kak… makasih ya. Setelah kejadian kemarin, aku sempat takut Kakak malah balik ke mobil mewah itu terus. Tapi Kakak pilih motor lagi. Aku senang banget.”
Xiao Han menggenggam tangan itu erat.
“Aku juga senang, Ling’er. Mobil itu cuma alat kerja. Tapi ini…” dia menepuk jok motor di luar warung, “…ini yang bikin aku ingat siapa aku sebenarnya. Dan siapa yang aku sayang.”
Mereka makan mie ayam sambil ngobrol ringan, sesekali Hua Ling’er menyendokkan mie ke mangkuk Xiao Han, atau Xiao Han menyeka saus yang menempel di sudut bibir gadis itu. Sore itu terasa seperti kembali ke masa sebelum segalanya rumit—sebelum Lin Qing, sebelum uang besar, sebelum tanggung jawab yang menumpuk.
Setelah makan, mereka sering jalan-jalan kecil di sekitar sungai kecil dekat warung. Hua Ling’er berpegangan tangan, kadang berhenti untuk foto selfie dengan latar matahari terbenam. Xiao Han jarang bicara banyak, tapi setiap kali Hua Ling’er tertawa, dia ikut tersenyum—senyum yang tulus dan ringan.
Malam-malam berikutnya, pola itu berulang. Jemput sekolah, makan di warung, jalan-jalan sebentar, lalu antar pulang ke kosan. Hua Ling’er semakin percaya diri—nilainya naik, dia lebih rajin belajar, dan senyumnya semakin sering. Xiao Han juga merasa lebih tenang; beban di dadanya sedikit berkurang setiap kali melihat Hua Ling’er bahagia.
Suatu malam, saat mengantar Hua Ling’er pulang ke kosan, gadis itu berhenti di depan pintu kamar dan memeluk Xiao Han erat-erat.
“Kak… aku sayang Kak Han. Terima kasih udah pilih aku setiap hari.”
Xiao Han membalas pelukan itu, mencium keningnya pelan.
“Aku juga sayang kamu, Ling’er. Dan aku janji… aku akan terus pilih kamu.”
Hua Ling’er masuk ke kamar dengan senyum lebar. Xiao Han berdiri di depan pintu sebentar, memandang lampu kamar yang menyala redup. Lalu dia naik motor lagi, melaju pulang ke kontrakan sambil merasakan angin malam yang sejuk.
Hari-hari seperti ini—sederhana, hangat, tanpa kemewahan—terasa seperti obat bagi hatinya yang lelah. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Xiao Han merasa bahwa mungkin, dia masih bisa memiliki kebahagiaan yang tidak harus dibayar mahal.