Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Bawah Tanah
Mei Mei yang sejak tadi diam, kini membuka mulut. Matanya berbinar penuh harap.
"Senior, sebaiknya kau tinggal di sini bersama kami. Kau bisa jadi pemimpin, itu tidak masalah. Nenek Yi tidak mempermasalahkan itu. Dengan kekuatan senior, kita bisa melawan para pemburu dari Alam Surgawi!"
Xu Hao menolak tegas. "Tidak bisa. Musuh-musuhku akan mengejar ku. Aku tidak ingin orang lain terlibat."
Tapi Mei Mei tidak menyerah. "Tapi senior..."
Nenek Yi mengangkat tangannya, menghentikan Mei Mei. Wajahnya tenang, bijaksana.
"Tidak perlu, Mei Mei. Setiap orang memiliki jalannya sendiri. Tuan Muda Xu memiliki beban yang harus dipikul sendiri. Kita tidak berhak memaksanya."
Mei Mei tertunduk, menerima keputusan nenek itu.
Xu Hao bangkit dari kursinya. Ia menatap Nenek Yi dan Mei Mei dengan tatapan yang sedikit lebih hangat dari biasanya.
"Saya permisi. Masih banyak hal yang ingin dilakukan."
Nenek Yi ikut bangkit. "Baiklah. Karena kami hanya ingin menanyakan alasanmu saja, kau bisa pergi. Informasimu meski ambigu, tapi cukup memberikan jawaban samar untuk pertanyaan kami. Terima kasih."
Xu Hao mengangguk. "Sama-sama."
Nenek Yi dan Mei Mei mengantarnya keluar dari ruangan, melewati lorong, dan kembali ke aula utama. Para anggota organisasi itu masih berkumpul, tapi kali ini tatapan mereka berbeda. Tidak ada niat membunuh. Hanya rasa ingin tahu dan sedikit rasa hormat.
Mereka berjalan melewati aula, menuju pintu keluar. Di depan pintu, Nenek Yi berhenti.
"Semoga kau berhasil dalam perjalananmu, Tuan Muda Xu. Dan jika suatu saat kau butuh bantuan, ingatlah bahwa ada sekelompok orang sesat di Alam Dua yang mungkin bisa kau andalkan."
Xu Hao menatapnya sebentar. Lalu mengangguk.
"Terima kasih, Senior."
Ia melangkah keluar dari markas bawah tanah itu, meninggalkan Nenek Yi dan Mei Mei di belakang. Tangga menuju permukaan terasa lebih pendek kali ini. Mungkin karena pikirannya sudah tertuju pada tujuan selanjutnya.
Saat sampai di permukaan, makam itu kembali tertutup di belakangnya. Xu Hao berdiri sejenak di bawah sinar matahari, merasakan hangatnya cahaya di kulitnya.
Informasi yang ia dapatkan cukup berharga. Sekarang ia tahu target selanjutnya. Mencapai Dewa Langit bintang sembilan, lalu melewati Hutan Ribuan Ilusi, Jembatan Buaian Mimpi, dan Puncak Dewa untuk naik ke Alam Tiga.
Perjalanan masih panjang. Tapi ia tidak sendiri. Lianxue ada di dalam kesadarannya, menemaninya setiap saat.
Xu Hao melesat meninggalkan makam itu, berjalan santai menuju kota.
---
Di dalam ruang bawah tanah yang sunyi, setelah Xu Hao pergi, suasana berubah hening. Para anggota organisasi mulai berbisik-bisik, membicarakan tentang Dewa Langit bintang satu yang berani melawan Penegak Hukum Langit. Namun Mei Mei tidak bergabung dalam keramaian itu.
Ia berjalan cepat mengejar Nenek Yi yang sudah memasuki lorong menuju kamar pribadinya.
"Nenek!"
Nenek Yi berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Mei Mei dengan tatapan tenang.
Mei Mei berdiri di hadapannya, dadanya naik turun karena napas yang sedikit terengah. Matanya penuh dengan pertanyaan.
"Nenek, kenapa tidak memberi tahu kebenarannya? Kenapa berbohong padanya?"
Nenek Yi diam. Ia menatap Mei Mei dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mei Mei melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Kita tahu alasan sebenarnya mengapa kita disebut sesat. Bukan karena Dao, tapi karena asal usul dan tubuh kita. Sama seperti yang dikatakan Penegak Hukum Langit padanya. Kenapa Nenek bilang tidak tahu alasannya?"
Beberapa anggota lain yang kebetulan lewat ikut berhenti. Mereka menatap Nenek Yi dengan rasa penasaran yang sama.
Nenek Yi menghela nafas panjang. Suaranya lembut, tapi ada kekuatan yang tidak terbantahkan di dalamnya.
"Tidak perlu, Mei Mei. Biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya."
"Nenek..." Mei Mei ingin membantah.
"Cukup." Nenek Yi mengangkat tangannya. "Ini bukan waktunya, juga bukan urusannya. Dia punya jalannya sendiri, kita punya jalur kita. Jika suatu saat takdir mempertemukan kita lagi, mungkin saat itulah kebenaran akan terungkap. Tapi tidak sekarang."
Mei Mei tertunduk. Ia tidak bisa membantah kata-kata Nenek Yi. Tapi di dalam hatinya, ada rasa bersalah karena telah berbohong pada Xu Hao.
Nenek Yi berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan semua orang dengan pertanyaan yang tak terjawab.
KEMBALI KE KOTA CHANGZE
Xu Hao telah kembali ke Kota Changze. Ia berjalan di jalan utama dengan langkah santai, matanya mengamati sekeliling. Pikirannya masih berkutat pada informasi yang baru saja ia dapatkan. Dewa Langit bintang sembilan. Itu target selanjutnya. Setelah itu, Hutan Ribuan Ilusi, Jembatan Buaian Mimpi, dan Puncak Dewa.
Namun lamunannya terputus ketika sekelompok orang menghadang jalannya.
Murid-murid Sekte Semanggi. Masih dengan jubah hijau khas mereka. Sekitar dua belas orang, dengan kultivasi Dewa Langit bintang lima hingga delapan. Dan di barisan depan, seorang pemuda yang tangannya memegang bagian selangkangannya dengan wajah pucat.
Itu pemuda yang diinjak-injak Xu Hao.
Pemimpin mereka, seorang pria dengan kultivasi Dewa Langit bintang delapan, melangkah maju. Wajahnya penuh dengan kesombongan dan kemarahan.
"Akhirnya kita bertemu, dasar bocah kurang ajar!"
Xu Hao berhenti. Matanya dingin menatap mereka.
"Jangan halangi jalan ku."
Seorang wanita di antara mereka tersenyum sinis. Ia mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya genit, matanya mengejek.
"Hanya Dewa Langit bintang satu, tapi bicara seperti Raja Dewa. Lucu sekali."
Yang lainnya ikut tertawa. Suara tawa mereka memenuhi jalan, menarik perhatian para pedagang dan pejalan kaki. Kerumunan mulai terbentuk di pinggir jalan, menonton pertunjukan yang akan terjadi.
"Lihat lihat! Murid Sekte Semanggi lagi cari masalah!"
"Yang dihadapi itu Dewa Langit bintang satu? Mereka pengecut sekali!"
"Diam kau! Mau mati?"
Xu Hao tidak bereaksi terhadap ejekan mereka. Ia hanya diam, menatap mereka dengan mata dingin.
Kemudian, tanpa peringatan, Xu Hao menghilang.
Murid-murid Sekte Semanggi terkejut. Mata mereka membelalak mencari ke mana Xu Hao pergi. Beberapa detik kemudian, mereka menyadari sesuatu.
Xu Hao sudah berada di belakang mereka. Berjalan santai, melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Mereka berbalik cepat, wajah mereka merah padam karena malu dan marah.
"Berhenti! Kau pikir bisa pergi begitu saja?!"
"Kita belum selesai!"
Xu Hao tidak menoleh. Ia terus berjalan.
"PENGECUT! BERANINYA LARI!"
"MAJU DAN LAWAN KAMI JIKA KAU JANTAN!"
Berbagai makian dan provokasi terlontar. Tapi Xu Hao tetap tidak menanggapi. Bukan karena takut, tapi karena ia merasakan sesuatu. Kehadiran lain. Kehadiran yang lebih berbahaya, mengamati dari bayang-bayang.
Murid-murid Sekte Semanggi semakin naik pitam. Mereka tidak tahan dihina di depan umum seperti ini. Pemimpin mereka mengangkat tangan, memberi isyarat.
"SERANG!"
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"