Kusuma Pawening, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu tiba-tiba harus menjadi seorang istri pria dewasa yang dingin dan arogan. Seno Ardiguna.
Semua itu terjadi lantaran harus menggantikan kakanya yang gagal menikah akibat sudah berbadan dua.
"Om, yakin tidak tertarik padaku?"
"Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocah!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Siap Boss," jawab Wening sumringah. Gadis itu langsung kembali ke kelas. Sementara Seno kembali ke kantor.
Tunggu-tunggu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Seno bela-belain ke sekolah di tengah kesibukannya. Apakah pria itu mulai sadar dan peduli? Sungguh pria dewasa sulit ditebak.
"Boss, kita langsung ke kantor?" tanya Wahyu memastikan.
"Langsung ke lokasi meeting saja, males bolak-balik," ujarnya menghemat waktu.
Siang ini ada pertemuan dengan client penting. Sebenarnya kawan lama juga yang bekerja sama dengan perusahaannya.
Wahyu mengikuti permintaan atasannya yang siang ini tidak seperti hari-hari lalu. Pria itu terlihat berwajah lebih bersahaja dari biasanya.
"Sepertinya sedang bahagia, Boss, apa ini karena proyek kemarin?"
"Tentu saja iya, lebih tepatnya ada hal yang lainnya."
Ada apa dengan pria dewasa itu, apakah panggilan sayang dari Wening membuat mood dia baik seharian? Sungguh, kata keramat yang sangat umum. Tidak juga harus merasa geer, hanya saja membuatnya yang sedari kemarin galau merasa terhibur sedikit.
Sementara Wening, baru saja menutup mapel akhir ini dengan banyak tugas yang diberikan guru. Perempuan itu sudah mulai sibuk dengan banyak latihan soal mengingat sudah kelas tiga akhir.
"Ning, kita mau cari buku tambahan, mau ikut nggak?" tawar Silvi. Merasa ada kesempatan, gadis itu pun ingin main juga. Hidupnya selama ini tertekan dan bahkan jarang keluar hanya sekedar pergi dengan teman-temanya.
"Boleh deh, aku mau juga beli buat tambah-tambah wawasan."
Gadis itu baru saja berkemas, berdiri dari duduk tepat sekali Yuda melangkah di sampingnya. Hingga tak sengaja menabrak tubuh pria itu dan menyebabkan buku di tangannya terjatuh.
"Eh, sorry, nggak sengaja," sesal Wening meminta maaf.
Pria itu menatap tajam gadis yang ada di depannya. Dengan canggung Wening langsung berjongkok, dan berinisiatif mengambil buku tebal yang terbuka lembarannya. Perempuan itu terperangah mendapati sebuah foto kecil yang terselip di sana.
Dalam waktu beberapa detik, Wening masih terpaku di tempatnya. Ia sungguh keheranan, mengapa pria itu menyimpan foto yang begitu jelas. Rasa penasaran membawa tangannya untuk membalik gambar itu, siapa tahu di belakang gambar tersebut ada petunjuk.
"Jangan lancang! Ini bukan punyamu!" tegur pria itu terlihat sinis. Merebut gambar itu dan memasukkan kembali ke selipan buku itu.
Wening masih mengetuk-ngetuk kepalanya karena merasa aneh. Dia tidak salah melihat, kan? Siapa Yuda? Ini bukan sesuatu yang kebetulan.
"Ning ayo!" ajak Silvi yang menanti gadis itu di depan kelas.
"Bentar Vi, gue ada perlu dengan Yuda," ujar gadis itu mengejar pria yang kini menuju parkiran.
"Ning! Ngapain? Duh ... cari masalah aja nih orang!" gerutu Vivi resah sendiri.
Wening tidak mengindahkan panggilan sahabatnya. Gadis itu sedikit berlari untuk mengejar langkah Yuda yang lebar.
"Tunggu, Da!" pekik gadis itu dengan napas ngos-ngosan.
Pria dingin dalam setiap kesempatan itu menatap heran perempuan yang tengah menghadapnya.
"Kenapa? Mau nebeng lagi?" tawar pria itu dengan sinis.
"Emangnya boleh?" balas Wening dengan polosnya.
"Gue mau ke gramed, kita beda arah," tolaknya cepat.
"Aku juga mau ke sana, apa—aku boleh bareng?"
"Nggak, gue nggak biasa bareng cewek," ujar pria itu serius.
"Owh ... oke, aku sama Silvi kok, nggak jadi," ujar gadis itu harus mencari cara lain untuk mencari tahu hal itu.
"Ya ampun ... Ning, sudah kubilang juga apa, jangan deket-deket sama Yuda, lo bakalan sakit hati."
"Dia beneran anti perempuan? Ish ... datar banget."
"Gue bilang juga apa, dia tuh cowok aneh, mending jauh-jauh deh."
"Dia beneran anak sekolahan sini atau pindahan kaya gue?"
"Anak sini lah, emang kenapa sih?"
"Gue pengen dekat," jawab Wening yakin.
"Gila, dibilangin juga, lo naksir? Ati-ati, entar sakit hati."
"Gue nggak suka sama dia, Vi ... tapi sepertinya dia tahu sesuatu."
"Ngomong apa sih, nggak jelas banget."
"Cabut Vi, nebeng ya, entar gue traktir."
"Yoi ... Dara nggak ikut?"
"Ketemu di sana," jawab Silvi benar adanya.
Keduanya langsung menuju ke lokasi. Sebelumnya gadis itu sudah memberi pesan pada suaminya untuk menjemputnya di sana. Cukup lama memilih-milih buku bacaan dan yang lainnya.
"Lo ngikutin gue?" tuduh Yuda demi melihat Wening mendekatinya.
"Geer, tadi kan udah bilang mau ke sini, lagian kurang kerjaan amad ngikutin elo."
"Ya udah sana jauhan, ngapain duduk di sini," usir pria itu ketus.
"Tempat umum, 'kan? Suka-suka aku lah, di mana aja."
"Ganggu tahu nggak?"
"Lo kenapa nyimpen foto orang?" tanya Wening sungguh pura-pura pintar.
"Bukan elo, jangan kepedean?"
"Dapat dari mana?" tanya Wening santai.
Yuda tak menimpali, pergi meninggalkan lokasi setelah melakukan pembayaran yang cukup mengantri.
"Vi, gue nitip ini, ini uangnya," pesan Wening ikut keluar dengan cepat.
"Cewek aneh, minggir, ngikutin gue!" bentak Yuda kesal.
Yuda mendorong tubuh Wening hingga gadis itu mundur beberapa langkah. Tepat sekali saat Seno tiba di sana ingin menjemputnya.