Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Nona, Anda tidak harus melawan keluarga Anda untuk saya. Saya bukanlah siapa-siapa, tidak pantas mendapatkan kehormatan seperti itu," ucap Liana dengan lirih.
Hana yang sedang terpejam di atas sofa, membuka matanya pelan. Ia sedang menunggu utusan dari villa untuk membawa Liana dari Eldoria. Di villa, Liana bisa cepat menyembuhkan lukanya dengan berendam di air obat.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku tidak ingin melihat bi Sum menderita karena kehilanganmu. Aku akan mengirim mu ke villa, di sana lukamu bisa cepat sembuh," jawab Hana seraya memejamkan matanya kembali.
Ia sedang menyusun rencana pembalasan terhadap mereka. Satu per satu hutang luka itu akan dia perhitungkan sampai lunas. Rahasia mereka pun sudah berada di tangan Hana. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk menabur selisih di antara mereka.
"Tidak, Nona! Saya ingin tetap di sini menemani Anda. Jika saya pergi, bagaimana dengan Anda," tolak Liana seraya beranjak duduk.
Hana melirik, tersenyum manis saat menatap gadis itu.
Dia gadis yang baik, melihatnya seperti aku melihat Nan'an yang selalu setia di sampingku. Oh, bagaimana kabar gadis kecil itu? Apakah mereka menindasnya?
Hana bergumam di dalam hati, teringat pada pelayan kecil yang selalu melayaninya dengan sepenuh hati. Gadis polos yang mengorbankan masa mudanya hanya untuk mengabdi kepada ratu.
"Bi Sum merindukan anaknya. Dia sudah tua, sudah waktunya beristirahat. Gantikan dia mengurus villa," ujar Hana membuat Liana tertegun.
Menjadi pengurus villa artinya harus pandai mengelola bisnis besar di desa Amanaly. Harus benar-benar mengerti cara mengelola lahan. Harus pandai berkomunikasi saat bertransaksi dengan klien. Harus mampu mengatur para pekerja, memiliki wibawa yang kuat agar disegani dan tidak mudah ditindas.
"Nona, saya rasa saya tidak siap untuk melakukan itu. Saya tidak memiliki kemampuan seperti ibu. Saya hanya ingin berada di sisi Anda, Nona," tolak Liana dengan perasaan kecewa. Kecewa terhadap dirinya yang tak mampu melakukan apapun.
Tidak seperti sang ibu yang pandai dalam segala hal. Merawat villa, mengatur pekerja, mengelola keuangan dan bisnis, mengerti pengobatan, pandai mengolah lahan, juga pandai menggunakan senjata. Liana sama sekali tidak memiliki dasar bela diri untuk dapat mempertahankan villa yang menjadi rebutan banyak orang.
"Tidak apa-apa. Kau pikir ibumu langsung bisa menjadi seperti sekarang? Dia mengikuti nenek sejak muda, belajar apapun yang harus dipelajari. Mulai sekarang, kau harus belajar agar ketika ibumu sudah tidak sanggup, kau siap untuk menggantikannya. Aku memintamu pulang ke villa karena tak ada lagi yang bisa aku percaya," tutur Hana sebenar-benarnya.
Memang tidak ada yang bisa dia percaya. Sama seperti di kehidupannya yang dulu, di kerjaan Amarta. Meskipun seorang ratu, Hana tidak memiliki banyak orang kepercayaan. Hanya Nan'an, gadis polos itu saja yang ia percayai.
Liana terharu, menjadi pengurus villa sungguh sebuah kehormatan bagi keluarganya. Nyonya Tua Haysa sangat mempercayai ibunya, segala rahasia di villa tak ada yang tidak diberitahukan kepada ibunya. Sekarang, Hana mempercayainya maka ia harus berusaha memberikan yang terbaik untuk Hana.
"Nona, Anda begitu baik kepada saya. Saya sangat merasa dihargai. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk Anda dan tidak akan mengecewakan Anda. Saya akan belajar dengan keras agar siap menerima apapun perintah Anda," tegas Liana penuh tekad.
Meskipun yang aku inginkan adalah berada di sisimu, melihatmu sehat dan baik-baik saja. Melindungi mu dari orang-orang jahat. Liana membatin lirih.
Hana tersenyum melihat tekad yang memancar di matanya. Ia mengangguk, kembali merebahkan diri dan memejamkan mata.
Karena kau mirip sekali dengan Nan'an, Liana. Aku meninggalkannya seorang diri di istana yang kejam itu. Banyak pihak yang memusuhiku karena aku selalu dapat menemukan celah kejahatan mereka. Sehingga mereka tidak pernah membiarkan orang-orang terdekatku hidup dengan tenang. Nan'an, semoga kau sudah menjadi gadis yang kuat sekarang.
Air mata Hana jatuh, mengingat perundungan yang pernah dialami gadis kecil itu yang hampir merenggut nyawanya dulu. Itulah pertama kali ratu menjatuhkan hukuman mati untuk para pelayan di istana. Dari sejak itu juga, ratu dikenal kejam tanpa ampun sehingga kaisar sangat bergantung kepadanya.
Liana tercenung, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tulus untuk Hana. Matanya berair, tangisan rindu untuk sosok seorang ibu yang telah meninggalkannya.
Nona, Anda mirip sekali dengan ratu. Seandainya Anda adalah ratu ... ah, tapi rasanya tidak mungkin. Sudah berpuluh tahun ratu menghilang dan tidak ditemukan jejaknya. Jikapun kembali, pasti tidak akan semuda Nona Hana. Apakah aku boleh berharap? Tatapan mata Nona Hana sama persis seperti ratu.
Liana bergumam di dalam hati, memandang wajah Hana tanpa berkedip. Wajah itu, senyumnya, dan tatapan matanya sama persis dengan ratu yang pernah ia layani. Ya, jiwa Nan'an menyebrang ke tubuh Liana. Liana yang sebenarnya sudah mati di ruang bawah tanah setelah disiksa tanpa makan dan minum. Tanpa sengaja, memanggil jiwa Nan'an yang setiap hari merintih kepada langit meminta bertemu dengan ratu.
"Siapapun Anda di dunia ini, saya berjanji akan melindungi Anda dari semua orang-orang yang ingin menyakiti Anda," janjinya dengan tangan terkepal.
Ia menatap pintu dengan nyalang, membayangkan wajah orang-orang yang menyiksa Liana sampai mati.
Liana, kau memiliki dendam yang sama dengan Nona Hana. Dendam kalian aku akan membantu untuk membalasnya. Aku sudah belajar banyak hal di istana sebelum ratu menghilang, tapi mereka terus menindasku sampai aku benar-benar menyerah.
Ia bersumpah, jemarinya terkepal dengan sangat kuat. Meski asing di dunia antah berantah itu, tapi dengan berbekal ingatan Liana asli ia akan mudah belajar.
hai jalang gk tau diri lo