NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: tamat
Genre:Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.7
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Malam yang dingin telah berganti menjadi pagi yang gerah dan menyesakkan. Hana tidak pergi jauh. Setelah keluar dari apartemen itu semalam, ia hanya mampu menyewa sebuah kamar di penginapan murah tak jauh dari sana karena tubuhnya yang hamil tua tak lagi sanggup diajak berkompromi.

Pagi ini, dengan sisa tenaga yang ada, ia berdiri di pinggir jalan raya, tepat beberapa ratus meter dari gerbang utama apartemen mewah yang dulu ia sebut rumah.

Tangan kanannya mencengkeram erat pegangan koper, sementara tangan kirinya menyangga pinggang yang terasa seperti akan patah. Matahari Jakarta mulai menyengat, membakar kulit pucatnya yang kurang istirahat. Ia menunggu taksi daring yang tak kunjung datang, sementara peluh mulai membasahi dahi dan lehernya.

"Sabar ya, Sayang... sebentar lagi kita pergi dari sini," bisik Hana pada janinnya yang mendadak aktif bergerak, seolah merasakan kegelisahan sang ibu.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan sport berwarna putih yang sangat ia kenali keluar dari gerbang apartemen. Jantung Hana berdegup kencang. Itu mobil Bima.

Mobil itu melambat tepat di depan lobi gedung, tak jauh dari posisi Hana berdiri. Hana mematung. Dari balik kaca mobil yang transparan, ia melihat Bima turun dengan kemeja slim-fit berwarna biru muda, wajahnya tampak cerah, sangat kontras dengan wajah Hana yang kuyu.

Pintu penumpang terbuka. Seorang wanita dengan gaun merah menyala dan kacamata hitam besar keluar dari sana. Clarissa. Wanita itu tertawa renyah, lalu tanpa malu-malu merangkul lengan Bima.

Bima membalasnya dengan senyuman lebar, jenis senyuman tulus yang sudah berbulan-bulan tidak pernah ia berikan pada Hana.

Hana memalingkan wajah, berusaha bernapas meski dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Ternyata benar, dia tidak membuang waktu sedikit pun untuk menggantiku, batin Hana pedih.

Bima yang sedang membukakan pintu untuk Clarissa, tak sengaja mengedarkan pandangannya ke arah jalan raya. Matanya menangkap sosok wanita hamil yang berdiri kepanasan sambil menggendong tas ransel berat di punggung dan menyeret koper.

Itu Hana.

Bima tertegun sejenak. Ia melihat istrinya tampak begitu menyedihkan. Baju daster hamilnya kusut, rambutnya hanya diikat asal, dan wajahnya memerah karena sengatan matahari.

Untuk sepersekian detik, ada secuil rasa tidak nyaman di hati Bima. Namun, Clarissa segera membuyarkan itu.

"Sayang, lihat itu. Bukankah itu Hana? Wah, dia benar-benar pergi ya? Kupikir dia hanya menggertakmu semalam," ucap Clarissa dengan nada mengejek yang sengaja dikeraskan.

Bima menatap Hana lagi. Melihat Hana yang tetap berdiri tegak meski tampak payah, ego Bima kembali meradang. Ia teringat betapa sombongnya Hana semalam saat menolak semua perhiasannya.

"Dia ingin jadi pahlawan, biarkan saja. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa hidup tanpa aku, kan?" sahut Bima dingin.

"Tapi kasihan sekali dia, seperti gelandangan. Kenapa tidak kamu beri sedikit 'uang tip' saja?" Clarissa tertawa, memanas-manasi.

Bima menyeringai tipis. Ia ingin memberi Hana pelajaran. Ia ingin meruntuhkan martabat wanita itu sampai ke dasar bumi agar Hana sadar bahwa menentang Bima adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Bima masuk ke kursi kemudi. Ia menghidupkan mesin mobilnya yang menderu keras. Hana, yang menyadari mobil itu mulai bergerak mendekatinya, mencoba mundur beberapa langkah.

Ia tahu Bima tidak akan berhenti untuk menolongnya, tapi ia tidak menyangka apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.

Tepat di depan Hana, terdapat sebuah genangan air sisa hujan semalam yang cukup dalam dan berlumpur. Bukannya melambat, Bima justru menginjak pedal gas dalam-dalam.

Craaattt!

Ban mobil sport itu menghantam genangan air dengan kecepatan tinggi. Air berlumpur itu muncrat ke atas, menyiram sekujur tubuh Hana dari kepala hingga kaki.

Baju hamilnya yang berwarna cerah kini berubah menjadi cokelat kotor. Bahkan wajah dan matanya terkena percikan air yang amis itu.

Hana tersentak, hampir kehilangan keseimbangan. Ia terbatuk, mencoba menghapus air lumpur dari matanya.

Lewat kaca spion, ia bisa melihat Clarissa tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil, sementara Bima terus melaju tanpa sedikit pun menginjak rem.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Hana. Ia berdiri mematung di pinggir jalan yang ramai, menjadi tontonan orang-orang yang lewat. Rasanya lebih sakit daripada saat ia dijatuhi talak.

Ini bukan lagi soal cinta yang hilang, tapi soal kemanusiaan yang telah mati di hati pria yang pernah ia muliakan.

"Astaga, Mbak! Tidak apa-apa?" seorang ibu penjual jamu lari mendekati Hana, mencoba membantu mengelap baju Hana dengan handuk kecilnya. "Tega benar orang kaya itu, sudah tahu ada orang hamil malah sengaja!"

Hana tidak menjawab. Tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena kedinginan, tapi karena kemarahan yang membuncah. Ia melihat ke arah mobil Bima yang kini sudah menghilang di tikungan jalan.

Cukup, Bima. Cukup, batinnya berteriak.

Hana mengusap perutnya yang mendadak menegang keras. "Jangan takut, Nak. Lumpur ini bisa dicuci, tapi dosa ayahmu tidak akan pernah bersih."

Saat itu juga, sebuah taksi berhenti di depannya. Sopirnya segera turun dan membantu memasukkan koper Hana ke bagasi dengan wajah iba.

"Mau ke mana, Mbak?" tanya sopir itu lembut.

Hana menatap apartemen megah di seberangnya untuk terakhir kali. Apartemen itu kini tampak seperti penjara yang mengerikan di matanya.

Ia tidak akan pergi ke rumah orang tuanya untuk dicaci maki ibu tiri. Ia juga tidak akan tetap tinggal di Jakarta untuk menjadi sasaran hinaan Bima.

"Ke Stasiun Gambir, Pak," jawab Hana mantap. Suaranya tidak lagi bergetar.

"Stasiun, Mbak? Mau pulang kampung?"

Hana mengangguk pelan. "Iya. Saya mau pulang ke tempat di mana manusia masih punya hati."

Di dalam taksi, Hana mengeluarkan ponselnya. Ia menghapus semua foto Bima, memblokir nomor teleponnya, menghapus semua akun media sosialnya, dan mematahkan kartu SIM-nya menjadi dua bagian.

Ia membuang serpihan kartu itu ke luar jendela taksi saat mobil mulai membelah kemacetan Jakarta.

Bima mengira ia telah menang karena berhasil menghina Hana. Ia mengira Hana akan menderita dan akhirnya merangkak kembali padanya. Namun, Bima tidak tahu bahwa saat air lumpur itu mengenai tubuh Hana, rasa cinta terakhir yang tersisa di hati wanita itu ikut luruh dan hanyut bersama kotoran.

Hana Anindita yang lembut telah mati di pinggir jalan itu. Dan yang kini sedang menuju stasiun adalah seorang ibu yang memiliki dendam paling tenang yang pernah ada.

Akankah Bima menyadari bahwa tindakannya hari ini telah memutus rantai terakhir yang menghubungkannya dengan anak kandungnya? Dan tantangan apa yang menanti Hana saat ia tiba di stasiun dengan kondisi baju yang kotor dan tubuh yang mulai demam?

...----------------...

To Be Continue ...

1
Cici Mamatoni
ini juga selalu ada akhiran disetiap episode..mending ceritanya aja dipanjangin kak...tulisan anda bagus loh...🙏✌
Cici Mamatoni
saya rasa epilog author terlalu banyak..jadi mengganggu cerita..mending ga usah ada
Raji Hamizan
uang hasil jual mobil kemana
Raji Hamizan
bujanya pengacarabya tahu hana dmn, bingung jadinya
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
assalamualaikum ka . bisa saling support aku penulis baru
Hasnawati 64
Kren ceritanya lanjutkan
Omah Opah
andai ada di dunia nyata laki berdasi seperti dr Adrian di novel baik hati dan mau mencintai wanita tanpa asal usul yang jelas 👍👍👍
Ungu Acova
buat Hana jadi cantik donk jangan cuma pake daster melulu, biar bima mnyesal
Raymatul Hanisa
ceritanya kebanyakan tentang Bima dan nadin
On-On Onsu Sukaedah
Nadin ga sepantasnya terus Bilang mas Gembel ke Bima
Mei Saroha
mantan CEO ngga ngerti bahasa receh Wong bule - agak aneh yaaa. secara emaknya juga hidup di London. othor menghina karakter Bima nih
Mei Saroha
nama tokonya beda lagi? bukan ska's kitchen?
Mei Saroha
tiba2 Adrian Tau aja nama bayinya hana
Mei Saroha
apakah pak pengacara juga menghilang ? 😄😁 othor nya nulis suka2 dia ajaaa... ngga sesuai kronologis ya udah dehh..
Sunarti Pridayani
lanjut kak
Raymatul Hanisa
bahasa minangnya : SIA BANA WAANG? 🤣
Rini
lanjutanya mana ?
Rini
lanjut ...utk Bima semangat utk bangkit kembali, jangan sombong/angkuh tetapi rendah hati
Zaichik Rania
Bima memang jahat memperlakukan hana dulu ketika menjadi istrinya... tp klu sekarang dia berubah lbh baik itu bagus ayo bima semangat, suatu saat jika km ketemu saka km sudah dlm keadaan lbh baik 👍👍👍
Zaichik Rania
kasihan juga si bima benar²hancur sampai ke akarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!