Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Deg-Degan
Diam-diam Arisa tersenyum melihat Ogi tertawa. Setidaknya dia bisa membuat lelaki itu tertawa sejenak.
Puas tertawa, keheningan pun menyambut. Ogi menatap ke arah Arisa yang tampak kembali mengutak-atik ponselnya.
"Neng butuh sinyal? Kalau mau, ayok aku temani ke tebing. Tempatnya juga dekat sama ladang Eyang Imas atuh," tawar Ogi.
"Iya nih. Dari tadi pagi aku berusaha menghubungi Papa. Setidaknya aku mau memberitahunya kalau aku dan kamu sudah sampai. Dia pasti sekarang menantikan kabar kita," sahut Arisa.
"Ya udah. Ayo kita pergi!" ajak Ogi. "Teteh! Jaga rumah ya! Aku sama Eneng mau ke ladang Eyang!" pekiknya.
"Iya, Gi!" sahut Asih. Dia sedang sibuk mencuci piring di dapur.
Ogi dan Arisa lantas beranjak meninggalkan rumah. Ogi tampak berjalan lebih dahulu. Sedangkan Arisa mengekori dari belakang.
"Eyang kok masih pergi ke ladang udah tua begitu? Nggak kasihan, Kang?" celetuk Arisa.
"Kau pikir aku nggak pernah bilangin Eyang untuk berhenti? Udah beberapa kali loh aku bilangin dia. Tapi pergi ke kebun bunganya sudah jadi kegiatan rutin setiap hari. Eyang Imas tuh sayang banget sama kebunnya," jelas Ogi panjang lebar.
"Tunggu, tunggu, Kang!" Arisa meraih tangan Ogi dan mendekatkan wajah cantiknya. "Apa kau bilang? Eyang Imas punya kebun bunga?" cecarnya.
Mata Ogi mengerjap cepat. Jantungnya hampir copot karena pendekatan Arisa yang begitu tiba-tiba. Ogi terkesiap sejenak. Menatap lekat wajah cantik gadis di depannya.
"Kang! Kenapa malah bengong atuh?" tukas Arisa. Secara alami dia melepas tangan Ogi.
Ogi langsung tersadar. Apalagi saat mendengar Arisa berbicara dengan nada sunda dan menambahkan kata 'atuh' di akhir kalimat. "Loh, kok pakai atuh? Sudah mulai terbiasa ya?" timpalnya. Ogi begitu pintar menyembunyikan rasa gugupnya. Itu bahkan tak terlihat di mata Arisa.
"Kayaknya begitu. Bahasa sunda tuh terdengar lembut banget ya. Aku suka dengarnya. Kayaknya aku bakalan ketularan deh kalau kelamaan tinggal di sini," tanggap Arisa.
"Bagus deh. Nambah kan ilmu bahasamu. Itu sisi positifnya, Neng..." balas Ogi.
"Tapi kan aku nggak bakalan lama-lama di sini. Kau tahu itu kan, Kang?" sahut Arisa. "Oh iya, mengenai kebun bunga tadi, apa benar Eyang Imas punya?"
Ogi mengangguk. "Kau suka nggak sama bunga?" tanyanya sambil kembali melanjutkan perjalanan.
"Banget! Emangnya Eyang menanam bunga apa?"
"Macam-macam. Dari mulai melati, mawar, aster dan banyak lagi. Aku tahunya itu doang. Laki mah mana tahu tentang bunga atuh, Neng..."
"Jadi nggak sabar pengen lihat." Arisa jadi merasa bersemangat. Dia sampai lupa kalau tujuannya pergi ke tebing untuk mencari sinyal. "Masih jauh nggak, Kang?"
"Bentar lagi," sahut Ogi.
Cukup lama mereka berjalan di jalanan setapak. Arisa merasa kalau dirinya sudah berjalan cukup lama. Kakinya mulai terasa pegal. Apalagi Ogi membawanya ke jalan yang cukup menanjak.
Plak! Plak! Plak!
Arisa beberapa kali menepuk beberapa bagian tubuhnya karena nyamuk. "Gila! Ini nyamuknya banyak banget, Kang!" keluhnya.
"Makanya jalannya cepet, Neng!" sahut Ogi.
"Katanya bentar lagi, tapi kok belum sampai juga," keluh Arisa sambil meringiskan wajah. Menahan rasa pegal di kakinya.
"Kita sudah sampai!" kata Ogi.
Arisa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dahinya berkerut karena tak menemukan ada kebun bunga di sana.
"Mana kebun bunganya?" tukas Arisa.
"Sini!" Ogi tampak berjalan lebih dulu dan naik ke pinggir tebing. Arisa lantas mengikuti, dan saat itulah dia bisa melihat hamparan kebun bunga milik Eyang Imas. Ternyata kebun itu cukup luas dan terlihat subur.
"Ya ampun... Cantik banget, Kang..." Arisa menyatukan kedua tangannya sambil menatap kagum. Matanya sampai berkaca-kaca karena mengagumi keindahan itu. Jelas itu adalah pemandangan yang jarang dirinya temui di kota.
Dari samping, Ogi justru terpesona pada Arisa. Jantungnya lagi-lagi berdetak kencang. Perlahan Ogi memegangi dadanya. 'Kenapa kok aku jadi deg-degan ya?' batinnya.