Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAPORAN MATA-MATA
Sementara itu Yura tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dia tidak tahu rencana mantan Ibu Suri, tapi dia bisa merasakan badai akan datang.
Yura melirik Pangeran kecil nya yang masih terlelap, setelah itu Yura memilih beranjak, dan dia kemabli memeriksa setiap sudut ruangan dengan sangat teliti.
Dia menemukan sebuah kotak kecil tersembunyi di balik lemari pakaian, kotak itu milik Calista yang asli.
Di dalam kotak itu terdapat beberapa surat usang dan sebuah kalung perak murah.
"Jadi ini alasan Calista yang asli selalu ketakutan," gumam Yura setelah membaca salah satu surat yang berisi ancaman dari pihak yang tidak dikenal untuk membunuh keluarganya di desa jika dia tidak memberikan informasi tentang gerak-gerik Jayden.
"Calista ternyata adalah mata-mata paksaan. Tapi dia terlalu lemah untuk melakukan tugasnya dengan benar," simpul Yura.
Yura membakar surat-surat itu di atas nyala lilin hingga menjadi abu, karena dia tidak butuh kelemahan seperti itu.
"Jika mereka mengira aku masih Calista yang bisa diancam melalui keluarga, mereka salah besar," batin Yura, tersenyum dingin.
"Keluarga Calista bukan keluargaku, tapi aku bisa menggunakan mereka sebagai umpan balik," batin Yura, lagi.
Tiba-tiba, telinga tajam Yura mendengar bisikan halus dari balik dinding kayu kamarnya, ada sebuah lubang intip kecil yang disamarkan dengan sangat rapi.
Yura tidak menoleh, dia justru berpura-pura sedang menimang bayi Lorenzo yang sudah tertidur, namun matanya melirik ke arah cermin rias untuk melihat pantulan lubang intip tersebut.
Di sana, sebuah mata sedang mengawasinya.
Yura sengaja menggumamkan sesuatu dengan nada rendah, seolah-olah sedang berbicara pada bayi itu.
"Jangan takut, Lorenzo... pamanmu Jayden akan segera memberikan tahta itu padamu, meskipun dia harus menyingkirkan siapa pun yang menghalangi, termasuk wanita tua itu..." gumam Yura, dengan sengaja.
Yura sengaja melemparkan umpan balik, dia tahu mata-mata itu akan melaporkan kata-katanya. Dia ingin mengadu domba Jayden dengan Ibu Suri lebih jauh lagi.
"Permainan dimulai, Ibu Suri. Mari kita lihat siapa yang lebih pandai menenun jaring laba-laba," batin Seringai tipis muncul di wajah Yura.
Mungkin semua orang tidak tahu, bahwa kekacauan yang terjadi di istana ini karena ulah wanita tua itu, mantan ibu suri yang sudah di copot gelar nya.
Tapi dari ingatan Calista yang Yura terima, Yura mengetahui semua kebusukan wanita tua itu selama ini.
"Aku tidak yakin, kalau Jayden tidak mengetahui hal ini, entah apa rencana pria itu, mengingat wanita tua itu adalah ibu kandung nya sendiri," batin Yura, duduk di pinggir ranjang.
Yura memandangi bayi kecil itu, Pangeran Lorenzo masih berumur lima bulan, tapi tubuh nya masih kecil, seperti nya Calista yang asli sulit memberikan Asi pada bayi ini, mengingat setiap detik selalu ada ancaman yang ingin membunuh nya.
Di ruang kerja nya, Jayden saat ini sedang mengerjakan beberapa laporan istana dan wilayahnya sendiri sebagai Grand Duke.
Walaupun Jayden tidak naik tahta, tapi dia yang bertanggung jawab atas istana dan kerajaan Florist, sampai nanti Pangeran Lorenzo siap naik tahta.
Sementara ini posisi Raja kosong, hal itu banyak pro kontrak yang terjadi antara para bangsawan, yang meminta posisi Raja harus segera di isi.
Seperti yang kalian tahu, Jayden bukan orang yang haus akan kekuasaan, dia dengan keras menolak untuk naik tahta, karena itu memang bukan haknya.
"Yang Mulia, ini sudah sangat larut malam, sebaiknya Anda istirahat," ucap Owen, untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak punya waktu untuk itu Owen, ke keamanan Lorenzo dan kestabilan Istan jauh lebih penting dari pada istirahat yang kau sebutkan itu," jawab Jayden dingin, tanpa mengalihkan pandangan nya.
Jayden memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati hitam, tumpukan perkamen dari Dewan Penasihat Kerajaan menuntut hal yang sama. Penobatan Raja Baru.
"Berapa lama lagi mereka akan mendesak ku, Owen?" tanya Jayden, suaranya parau karena kurang tidur.
"Para bangsawan itu seperti burung pemakan bangkai, Yang Mulia," jawab Owen, yang sedang menuangkan air ke dalam gelas perak, berhenti sejenak.
"Mereka mencium kekosongan kekuasaan dan mereka ingin segera hinggap, dan sebagian besar dari mereka khawatir jika tahta terlalu lama kosong, pemberontakan di wilayah perbatasan akan pecah," lanjut Owen, meletakkan gelas berisi air itu, ke atas meja Jayden.
"Atau mereka hanya ingin aku naik tahta agar mereka bisa menjilat kakiku untuk mendapatkan konsesi pajak," ucap Jayden, mendengus sinis.
Jayden sudah sangat hapal dengan orang-orang seperti mereka, yang hanya memikirkan tahta dan kekuasaan, bahkan dengan cara kotor sekalipun.
Sangat menjijikan!.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba, pintu ruang kerja diketuk dengan terburu-buru.
"Masuk!" perintah Jayden, dingin.
Ceklekk.
Seorang prajurit bayangan, prajurit intelijen pribadi Jayden masuk dan membungkuk hormat.
"Salam Yang Mulia Grand Duke Jayden," ucap prajurit itu, membungkuk sopan.
"Hem"
Gumam Jayden, mengibaskan tangannya.
"Lapor, Yang Mulia, mata-mata kita yang berada di dinding paviliun Ibu Susu baru saja kembali," ucap pria itu, tegas.
Jayden seketika menegakkan punggungnya. Ketertarikannya pada, Calista yang baru ini jauh melampaui rasa curiganya.
"Katakan!" perintah Jayden, dingin.
"Nona Calista, dia menyadari keberadaan pengintai. Namun, alih-alih melapor atau merasa takut, dia sengaja menggumamkan sesuatu yang kami yakini sebagai pesan untuk Anda atau untuk..." jawab prajurit itu, sedikit ragu.
"Untuk siapa? Katakan dengan jelas!" perintah Jayden, menatap pria itu, tajam.
Pria itu menunduk kan kepala nya, karena dia juga tidak tahu siapa yang di maksud oleh Calista.
Mulai sekarang kita panggil Yura. Calista.
"Apa yang dia katakan?" tanya Jayden, dingin.
"Nona Calista berkata. Jangan takut, Lorenzo, pamanmu Jayden akan segera memberikan tahta itu padamu, meskipun dia harus menyingkirkan siapa pun yang menghalangi, termasuk wanita tua itu," jawab pria itu, sesuai laporan dari mata-mata yang dia terima.
Hening seketika menyelimuti ruangan itu, suhu di ruangan itu tuba-tiba berubah drastis, dingin dan mencekam.
Glek
Owen menelan ludah dengan susah payah, sementara Jayden perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah tawa dingin keluar dari tenggorokannya.
"Wanita tua itu?" gumam Jayden.
"Dia merujuk pada ibuku?" gumam Jayden, tidak yakin.
Apa mungkin Iya Calista mengetahui Ibu nya, pikir Jayden, karena sejauh yang dia tahu Calista tidak pernah bertemu dengan ibu nya.
"Yang Mulia, ini berbahaya, jika kata-kata itu sampai ke telinga para pengikut Ibu Suri, mereka akan menuduh Anda merencanakan makar terhadap Ibu Suri sendiri, atau lebih buruk lagi, mereka akan menganggap Calista sedang menghasut Anda," ucap Owen menyela dengan nada khawatir.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.