Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kedatangan di Benua Tengah
Setelah melewati sisa-sisa Hutan Kematian yang kini sunyi, Lu Chen dan Yue Bing akhirnya menginjakkan kaki di tanah Benua Tengah. Perbedaan energinya terasa seketika; udara di sini tidak hanya lebih bersih, tetapi juga jenuh dengan energi spiritual yang sepuluh kali lebih padat dibandingkan wilayah Utara. Namun, kepadatan energi ini membawa serta keangkuhan yang sama padatnya.
Di depan mereka berdiri Kota Angin Puyuh, gerbang utama yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan jantung peradaban Benua Tengah. Kota ini tidak dibangun dari batu biasa, melainkan dari blok-blok kuarsa yang diperkuat dengan formasi angin abadi. Di atas gerbangnya, bendera-bendera dari berbagai sekte besar berkibar, menunjukkan dominasi mereka atas jalur perdagangan ini.
"Ingat," Lu Chen berbicara sambil menyesuaikan jubah hitamnya. Penyamarannya sebagai pedagang antik 'Lin Feng' telah ia lepas, kini ia tampil sebagai kultivator pengelana dengan aura yang ditekan hingga Tahap Inti Emas tingkat rendah. "Di Benua Tengah, kekuatan adalah identitas, tetapi latar belakang adalah segalanya. Tanpa lencana sekte besar, kita hanyalah 'semut' di mata mereka."
Yue Bing mengangguk, ia mengenakan cadar perak yang menutupi kecantikannya yang mencolok. "Aku mengerti, Tuan Lu. Namun, tekanan di sini... bahkan para penjaga gerbangnya pun berada di Tahap Inti Emas."
Lu Chen melirik ke arah gerbang. Benar saja, empat penjaga dengan zirah perunggu berdiri tegak, menatap setiap pendatang dengan pandangan menghina. Mereka adalah murid luar dari Sekte Awan Langit, sekte kelas dua yang bertugas menjaga ketertiban perbatasan.
Saat giliran Lu Chen dan Yue Bing tiba, salah satu penjaga mengangkat tangannya, menghentikan langkah mereka dengan kasar.
"Berhenti. Tunjukkan tanda pengenal sekte atau surat jaminan dari klan perdagangan," ucap penjaga itu dengan suara ketus. Matanya menatap Yue Bing dari atas ke bawah dengan tatapan yang tidak sopan.
"Kami hanya pengelana mandiri yang ingin mencari peruntungan di pasar kota," jawab Lu Chen dengan nada datar, menjaga suaranya tetap rendah.
Penjaga itu tertawa mengejek, menoleh ke arah rekan-rekannya. "Pengelana mandiri? Lihatlah pakaian mereka. Dari wilayah Utara yang miskin, ya? Dengar, sampah dari pinggiran tidak diizinkan masuk tanpa membayar biaya 'keamanan' tambahan. Seratus Batu Roh Tingkat Menengah per orang."
Yue Bing tersentak. "Seratus?! Itu sepuluh kali lipat dari harga normal!"
"Untuk orang-orang seperti kalian, harganya memang berbeda," penjaga itu menyeringai, mulai mendekati Yue Bing dengan tangan yang tampak ingin menyentuh bahunya. "Atau, jika Tuan Putri di sampingmu ini bersedia membuka cadarnya dan menemaniku minum di pos jaga, mungkin aku bisa memberikan diskon."
Lu Chen merasakan getaran di bahunya. Ignis, yang sedang dalam proses mencerna Inti Kehidupan Kuno dalam bentuk kepompong kecil di dalam pakaiannya, mengeluarkan hawa panas yang berbahaya.
"Lu Chen... izinkan aku keluar dan membakar mulut manusia kotor ini..." bisik suara serak Ignis di benak Lu Chen.
"Belum saatnya, Ignis," balas Lu Chen dalam hati. Namun, matanya berkilat dingin.
Lu Chen tidak mengeluarkan batu roh. Alih-alih, ia mengeluarkan sebuah koin perak kuno yang ia temukan di reruntuhan Pohon Keramat Pemakan Dewa. Koin itu tidak memiliki nilai mata uang, tetapi memiliki lambang Naga Terbalik yang sangat kuno.
"Aku tidak punya waktu untuk leluconmu," ucap Lu Chen. Ia menyentuh koin itu dengan sedikit energi Divine Core-nya, melepaskan gelombang tekanan spiritual yang hanya dirasakan oleh penjaga di depannya.
Penjaga itu tiba-tiba merasakan jantungnya seperti diremas oleh tangan raksasa. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena tertawa seketika menjadi pucat pasi. Ia mundur tiga langkah, napasnya tersengal-sengal. Di matanya, sosok Lu Chen yang tadinya tampak biasa saja, kini terlihat seperti dewa kematian yang sedang berdiri di atas tumpukan tengkorak.
"A-apa... siapa kau?!" penjaga itu tergagap, keringat dingin membasahi zirahnya.
"Hanya seorang pengelana yang tidak suka diganggu," Lu Chen melangkah maju, melewati penjaga yang kini mematung karena ketakutan yang tak terkendali. "Apakah ada masalah lagi?"
Tiga penjaga lainnya mencoba menghunus senjata, namun rekan mereka yang tadi digertak Lu Chen segera menahan mereka dengan tangan gemetar. "Biarkan... biarkan mereka lewat! Cepat!"
Lu Chen dan Yue Bing berjalan memasuki kota dengan tenang, meninggalkan kerumunan yang menatap mereka dengan penuh tanya. Begitu mereka berada di dalam keramaian pasar Kota Angin Puyuh, Yue Bing menghela napas lega.
"Tuan Lu, Anda benar-benar bisa membuat orang mati ketakutan hanya dengan tatapan," bisik Yue Bing.
"Orang-orang seperti mereka hanya berani pada mereka yang tampak lemah," jawab Lu Chen. "Namun, tindakan tadi pasti akan menarik perhatian intelijen sekte lokal. Kita harus segera menuju Paviliun Rahagia untuk mencari informasi tentang pergerakan menuju Makam Naga Kuno."
[Ding! Misi Sampingan Terdeteksi.]
[Tujuan: Dapatkan Identitas Penyamaran dari Paviliun Rahasia.]
[Peringatan: Wilayah ini berada di bawah pengawasan 'Sekte Pedang Suci' tingkat tinggi.]
Lu Chen menyipitkan mata saat melihat menara-menara tinggi di pusat kota yang memancarkan aura pedang yang tajam. Benua Tengah memang jauh lebih berbahaya. Di setiap sudut, ia bisa merasakan kehadiran ahli Tahap Nascent Soul yang sedang bermeditasi.
Saat mereka menyusuri lorong-lorong sempit menuju Paviliun Rahasia, Lu Chen menyadari bahwa ia diikuti. Bukan oleh penjaga gerbang tadi, melainkan oleh seseorang dengan teknik penyembunyian yang jauh lebih canggih.
"Yue Bing, tetaplah di dekatku," ucap Lu Chen pelan. "Sepertinya 'sambutan' kita di Benua Tengah baru saja dimulai."
Lu Chen berhenti di depan sebuah toko buku tua yang tampak sepi. Ia berbalik, menatap ke arah bayangan di balik sebuah pilar marmer. "Keluar. Jika kau ingin mengamati, lakukanlah di tempat yang terang. Aku tidak suka tikus yang bersembunyi di lubang."
Seorang pemuda dengan pakaian serba hijau dan kipas lipat di tangannya keluar dari bayangan. Wajahnya tampan dengan senyum yang tampak ramah, namun matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang manipulator ulung.
"Luar biasa," pemuda itu bertepuk tangan pelan. "Menekan murid Sekte Awan Langit dengan aura murni tanpa memicu formasi alarm kota... Kau bukan pengelana biasa, kawan. Namaku Gu Hai, seorang 'pengumpul informasi' mandiri. Dan aku punya tawaran yang tidak bisa kau tolak."
Lu Chen menatap Gu Hai dengan dingin. "Aku tidak tertarik pada tawaran dari orang yang mengikutiku seperti anjing."
Gu Hai tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung. "Bahkan jika tawaran itu berkaitan dengan kunci masuk ke Makam Naga Kuno yang baru saja ditemukan oleh Sekte Pedang Suci tiga jam yang lalu?"
Langkah Lu Chen terhenti. Ignis di bahunya bergerak sedikit. Kabar tentang Makam Naga telah bocor lebih cepat dari yang ia duga.
"Bicaralah," ucap Lu Chen pendek. "Tapi jika kau berbohong, kipas di tanganmu itu akan menjadi barang terakhir yang kau pegang."
Di tengah keramaian Kota Angin Puyuh, sebuah aliansi yang tidak terduga mulai terbentuk. Lu Chen tahu ia butuh "pemandu" di Benua Tengah, dan Gu Hai tampak seperti kunci yang ia butuhkan untuk menyusup ke dalam rencana besar para sekte raksasa.