Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
Mobil mewah hitam milik Fandi itu sudah sampai di depan lobby rumah sakit. Dia terburu-buru turun dan segera bertanya pada resepsionisnya dimana tempat imunisasi anak.
Karena selama ini, bukan dia tidak mau ikut. Ratih selalu menolak, kalau Fandi ingin ikut mengantarkan Rafa imunisasi.
Dengan map biru di tangannya, dia masuk ke dalam lift. Menuju ke lantai dimana poli anak berada.
Ting
Tak lama pintu lift terbuka. Fandi keluar dengan cepat. Dia melihat ada koridor dimana memang sangat ramai orang tua yang membawa anak balitanya.
Fandi bergegas menuju ke tempat itu. Tapi dia tidak melihat Ratih atau bibi Asih. Fandi pun pergi ke resepsionis yang ada di sana.
"Permisi, apa atas nama Rafa sedang berada di dalam ruangan?" tanya Fandi.
"Sebentar ya tuan!"
Resepsionis poli anak itu pun segera memeriksa di komputernya.
"Mohon maaf, atas nama Rafa sudah masuk di antrian nomor 9 tadi. Sekarang sudah antrian nomor 47"
Fandi terkejut, tanpa berbasa-basi pada resepsionis itu dia segara berbalik dan kembali melangkah menuju ke arah pintu lift sambil menghubungi Ratih.
Namun panggilan itu tidak langsung di terima oleh Ratih. Sudah empat kali dia menghubungi Ratih tapi tidak di jawab. Dengan perasaan kesal, Fandi pun keluar dari rumah sakit itu menuju ke rumah.
Masih di restoran, Ratih hanya menatap ponselnya yang ada di atas meja. Dia hanya melihat saja ke arah ponselnya ketika ponselnya itu berdering dan nama pemanggilnya adalah Fandi. Tak ada sedikit pun niat Ratih menerima panggilan telepon itu.
Dia sengaja, paling-paling Fandi akan protes, kenapa Ratih sudah tidak ada di rumah sakit tapi tidak menghubungi Fandi.
"Kamu, tidak mau pulang?" tanya Ben pada Ratih.
"Aku mau ke rumah ayah dan ibu saja. Sudah lama tidak kesana!"
"Aku akan mengantarmu!"
Ratih mengangguk, bukannya kalau ada Ben. Keselamatan mereka lebih terjamin. Dan sebenarnya ada hal lain juga yang ingin Ratih katakan pada Ben.
Tadi, dari dinding kaca restoran itu. Ratih melihat ada dua anak kecil dengan pakaian compang-camping mengais sesuatu di kotak sampah. Entah kenapa hatinya menjadi sedih.
Mungkin, mungkin saja dulu Rafa seperti itu. Anak di depan itu tadi sungguh masih kecil. Yang satu mungkin sekitar 7 tahunan, tapi yang satu lagi, benar-benar masih kecil. Mungkin sekitar 4 atau 5 tahunan. Bukankah itu sesuai Rafa dulu ketika Ratih mengetahui kalau Naufal bukan anak kandungnya.
Hidup sebagai pengemis di luar sana pasti sangat sulit. Pakaiannya yang sangat tipis dan robek di sana-sini, pasti sangat dingin di malam hari. Air mata Ratih hampir mengalir tadi. Rafa, dulunya pasti sangat menderita.
Mereka sudah berada di dalam mobil Ratih. Sedang Ben, minta anak buahnya yang membawa mobilnya ke kantor.
"Rafa masih tidur" kata Ben yang menatap bayi mungkin menggemaskan itu.
"Ben, bagaimana kalau kita buat sebuah yayasan atau rumah singgah untuk anak-anak terlantar di jalan itu!" kata Ratih tiba-tiba.
"Bukannya perusahan memang sudah punya yayasan?" tanya Ben.
"Khusus anak-anak jalanan Ben. Hanya anak-anak! aku mau mereka tetap bisa makan. Lihat pakaian mereka! mereka pasti kedinginan saat malam!" Ratih mengatakan itu, tapi pandangannya tertuju pada Rafa.
Ratih sungguh tak bisa membayangkan, bagaimana Rafa dulu menghadap setiap malamnya yang dingin itu.
"Aku akan mengurusnya!" kata Ben.
**
Sementara itu di rumah, Fandi sudah salah di rumah besar itu. Tapi, dia masih tidak melihat mobil yang di pakai Ratih ada di garasi. Tangannya memukul ke udara karena kesal. Dihubungi, nomor Ratih juga tidak di angkat.
Dari dalam rumah, bibi Erma yang mendengar suara mobil Fandi malah cepat-cepat keluar. Pikir wanita tua itu, rencana mereka sudah berhasil.
Wajah bibi Erma terlihat begitu antusias.
"Fandi, bagaimana. Kamu sudah dapatkan uangnya kan? sekarang telepon Jacky dan..."
"Aku tidak bertemu Ratih, bi!" kesal Fandi.
Wajah bibi Erma yang tadinya sangat bersemangat. Mendadak terheran-heran.
"Bagaimana tidak bertemu? kamu susul dia ke rumah sakit kan?"
"Iya, tapi dia sudah tidak ada di rumah sakit!"
"Telepon lah!"
Fandi makin jengkel.
"Bi, apa menurut bibi aku bodohh? tentu saja aku sudah menghubungi Ratih. Sudah berkali-kali, tidak di angkat. Entah apa yang dia lakukan?"
Dan mendengar itu, bibi Erma malah tampak senang.
"Heh, benarkah? tumben? biasanya kan dia selalu menerima telepon kamu, dia tidak mungkin tidak menerima telepon dari kamu. Jangan-jangan dia kenapa-kenapa?"
Bibi Erma mulai menduga-duga. Karena selama ini Ratih itu bucin parah pada suaminya, Fandi.
Fandi mengernyitkan keningnya.
"Jangan-jangan apa, Bi?"
"Jangan-jangan dia kecelakaan atau mengalami sesuatu. Makanya sampai tak bisa mengangkat panggilan darimu. Bagus dong! kita gak usah susah-susah melakukan sesuatu. Iya kan?"
Bibi Erma sungguh berpikir, Ratih tidak mungkin mengacuhkan Fandi. Makanya dia berpikir, pasti terjadi sesuatu pada Ratih. Jika tidak, mana mungkin wanita yang sangat bucin pada suaminya itu mengabaikan panggilan telepon dari Fandi.
"Bibi benar! dia itu mana pernah mengabaikan panggilanku. Ya sudah, kita tunggu saja kabar baik!" kata Fandi yang berpikir, kalau hal buruk yang terjadi pada Ratih. Adalah kabar baik bagi mereka.
"Iya, kita tunggu saja" sahut bibi Erma yang juga begitu percaya diri.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Mengira kalau akan ada kabar baik untuk mereka. Ya, mereka tidak tahu saja. Sebentar lagi mereka akan dikejutkan oleh sesuatu, tapi bukan sesuatu yang baik untuk mereka.
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..