Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 - Suddenly
Malam itu ibu kota terasa lebih dingin dari biasanya. Angin malam berembus melalui celah jendela ruang makan, membuatku sedikit menggigil meski AC sudah dimatikan sejak sore. Suasana seharusnya hangat, karena jarang sekali kami sekeluarga bisa duduk bersama di meja makan tanpa terganggu pekerjaan atau urusan lain. Namun, apa yang kuharapkan sebagai makan malam keluarga yang tenang justru berubah menjadi awal dari sebuah kabar yang menghantamku bagaikan petir di siang bolong.
“Apa? Coba Mama ulangi lagi.” ucapku tak percaya, suaraku bergetar meski kuusahakan terdengar tenang.
Mama meletakkan sendoknya, lalu menatapku dan kakakku, Ana, bergantian. Dengan wajah mantap, Mama kembali mengulang, “Mama dan Tante Cyntia mau jodohin Ana sama Henry.”
Sejenak, dunia seakan berhenti berputar. Suara sendok yang beradu dengan piring, dengungan kulkas, bahkan suara televisi dari ruang keluarga seolah menghilang. Yang tersisa hanya kalimat Mama yang terus bergema di kepalaku. Ana akan dijodohkan dengan Henry. Henry—pria yang selama ini diam-diam menempati ruang hatiku. Pria yang kusukai bahkan jauh sebelum aku mengenal oppa-oppa Korea yang jadi idolaku sekarang.
“Aku nggak mau!” suara Ana memecah keheningan.
Aku menoleh, menatap wajah kakakku yang penuh emosi.
“Kenapa?” tanya Mama dengan nada kecewa.
“Iya, Na, kenapa?” Papa ikut menimpali. “Henry itu laki-laki baik, dari keluarga baik, setara dengan kita.”
Ana mendengus kesal. “Baik? Setara? Aku nggak peduli itu semua. Aku nggak suka Henry. Aku nggak mau nikah sama cowok yang nggak aku suka.”
Aku menggenggam erat ujung rokku di bawah meja. Aku tahu alasan sebenarnya kenapa Ana begitu menolak. Ada seseorang yang selama ini disukai Ana, seorang pria sederhana yang pernah mengisi hari-harinya semasa kuliah. Pria itu bukan dari keluarga berada, bukan seseorang yang akan mudah diterima Mama dan Papa. Aku tahu itu semua karena aku sempat melihat sendiri tatapan Ana yang berbeda setiap kali pria itu hadir. Ana tak pernah berani jujur pada orang tua, hanya padaku ia mau bercerita—meski sebenarnya aku sudah lebih dulu menyadarinya.
Dan kini, Ana dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dia cintai. Ironisnya, laki-laki itu justru orang yang kucintai.
“Memangnya ada cowok yang kamu suka?” tanya Mama tiba-tiba.
Deg! Jantungku ikut berdegup keras.
Ana menegang. Ia terlihat terkejut dengan pertanyaan itu. Aku menahan napas, penasaran apakah kali ini Ana akan jujur. Namun, kakakku hanya terdiam, tampak bingung harus berkata apa.
“Tuh kan… nggak ada.” Mama tersenyum tipis. “Ya udah, mending sama Henry aja. Dia seumuran kamu, anak teman Mama, ganteng, baik, mapan, CEO muda pula. Mau cari apa lagi?”
Aku melirik Ana. Kakakku itu tetap terdiam, namun jelas dari raut wajahnya ia menolak keras. Tatapannya dingin, bahkan menusuk ke arah Mama.
Aku memberanikan diri angkat bicara. “Ma… apa harus Kak Ana menikah sama Kak Henry? Bukankah sebagai orang tua, Mama harusnya mendukung semua keputusan Kak Ana, merestui apa yang dipilih Kak Ana?”
Mama menghela napas. “Iya, tapi Henry adalah pilihan terbaik. Mama dan Tante Cyntia juga bisa jadi besan, bukan hanya sekadar teman.”
“Kalau Mama mau berbesanan sama Tante Cyntia, nggak harus aku yang nikah sama Henry, kan? Suruh Lia aja yang nikah sama Henry.” suara Ana lantang.
“Eh?”
“Apa?”
Aku, Mama, dan Papa hampir bersamaan mengucapkannya. Aku membeku, tak percaya mendengar kalimat itu. Mama dan Papa pun langsung menatapku bersamaan, membuat dadaku sesak.
“Nggak boleh!” ucap Mama cepat-cepat.
“Kenapa nggak boleh?” Ana balik bertanya, nada suaranya menantang.
“Karena Mama maunya kamu yang nikah sama Henry. Kamu yang pantas untuk Henry.”
Aku terdiam, dan entah kenapa ucapan itu begitu menusuk hatiku. Rasanya seperti pengakuan yang terang-terangan: bahwa aku, Lilia, tak pernah dianggap cukup berharga di mata mereka. Mama dan Papa memang selalu lebih menyayangi Ana. Ana adalah kebanggaan keluarga—cantik, pintar, lulusan kedokteran, calon dokter hebat seperti Papa. Sedangkan aku? Selalu berada di bawah bayang-bayangnya.
“Pokoknya aku nggak mau nikah sama Henry! Selama ini aku selalu nuruti apa yang Mama dan Papa mau, tapi untuk kali ini aku nggak mau nuruti lagi!” seru Ana.
Tanpa menunggu jawaban, Ana bangkit dari kursinya lalu melangkah cepat menuju tangga.
“Ana!” panggil Mama, namun Ana tak menggubris. Aku hanya bisa melihat punggungnya menghilang di balik tangga menuju lantai dua.
“Kenapa Ana jadi kayak gitu sih?” Mama mengeluh sambil menatap Papa.
“Kita bicarain besok lagi, Ma. Mungkin sekarang Ana masih terkejut, jadinya ngomongnya kayak gitu.” ucap Papa berusaha menenangkan.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menyuarakan pikiranku. “Ma, Pa, kalau Kak Ana nggak mau, nggak usah dipaksa.”
“Nggak bisa! Ana harus nikah sama Henry.” suara Mama terdengar mantap, tanpa celah untuk dibantah.
Aku terdiam. Kata-kata itu kembali membuat dadaku perih. Bayangan Henry—pria yang selama bertahun-tahun kusukai diam-diam—sekarang justru kian menjauh dariku. Rasanya menyesakkan. Bagaimana mungkin aku bisa merelakan laki-laki yang kuimpikan selama ini jatuh ke pelukan kakakku sendiri?
Setelah makan malam, aku masuk ke kamar.
Kabar yang Mama sampaikan benar-benar membuatku sakit. Bertahun-tahun aku menyukai Henry, tapi berakhir seperti ini—dia dijodohkan dengan Kakakku sendiri.
Jika Henry menikah dengan wanita lain, wanita yang tak kukenal, mungkin aku tidak akan sesakit ini. Tapi dengan Kakakku sendiri? Benar-benar menyakitkan.
Aku hidup selama 28 tahun di bawah bayang-bayang Ana, kini aku harus merelakan pria yang aku sukai bersama dengan Kakakku sendiri.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dengan air mata yang menetes, menumpahkan semua rasa sakit ini. Semua ini terlalu mendadak, terlalu mengejutkan.
Kamar ini terasa begitu sunyi. Lampu meja belajar masih menyala, menyinari tumpukan dokumen dari kantor. Di sisi rak, ada album foto lama yang entah kenapa justru menarik perhatianku.
Aku menariknya dengan tangan gemetar, membuka halaman demi halaman. Di salah satu foto, terlihat aku, Ana, dan Henry saat masih sekolah dasar. Waktu itu kami tersenyum ceria di halaman rumah Tante Cyntia. Aku masih ingat betapa aku hanya menganggap Henry sebagai kakak laki-laki biasa, sebagai kakakku.
Namun semua berubah ketika Henry kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan kuliahnya. Aku masih ingat jelas hari itu—aku baru saja pulang kuliah, dan dia datang berkunjung bersama Tante Cyntia. Henry berdiri di ruang tamu dengan setelan jas sederhana, tapi caranya menyapa, caranya menatap, membuatku merasa gugup. Dadaku berdebar dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sejak saat itu, perasaan itu tumbuh. Saat keluarga kami bertemu untuk makan bersama, aku selalu mencuri pandang. Saat Henry menyapa, suaranya terdengar menenangkan, seakan seluruh dunia ikut diam mendengarnya. Hingga ketika akhirnya aku diterima bekerja di perusahaannya, aku tahu hatiku tak lagi bisa berpaling.
Tapi aku juga tahu, di mata orang lain, aku hanyalah Lia—anak kedua yang jarang diperhatikan, yang selalu dibandingkan dengan Ana. Di rumah, aku terbiasa melihat Mama dan Papa memuji Ana, sementara aku hanya menjadi bayangan. Dan kini, bahkan dalam hal cinta pun, aku harus kalah dari Ana.
Air mataku kembali jatuh deras. Aku menutup wajah dengan bantal, mencoba meredam isak yang semakin keras.
“Kenapa harus Kak Ana?” bisikku lirih. “Kenapa selalu dia?”
Malam itu terasa panjang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tidak tahu ke mana harus berlari. Yang kutahu, mulai malam ini, hatiku resmi hancur.
Namun di balik rasa sakit itu, satu pertanyaan terus menggema di kepalaku—
Apakah aku harus merelakan Henry begitu saja?