Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aula
Kemenangan di aula itu terasa seperti kemenangan di atas es tipis—indah namun siap retak kapan saja. Meski Pak Bramantyo secara mengejutkan berdiri di pihak Kenzo, aura di SMA Garuda tidak lantas menjadi tenang. Sebaliknya, udara sekolah kini beraroma konspirasi yang lebih luas.
Ibu Aris meninggalkan balkon dengan langkah yang begitu cepat hingga tumit sepatu mahalnya menciptakan irama kemarahan di lantai marmer. Ia tidak kalah; ia hanya sedang mengganti senjata.
Area Parkir Sekolah – Pukul 15.00 WIB
Setelah kegemparan di aula mereda, Kenzo berdiri di samping motornya, menatap ayahnya yang sedang bersiap masuk ke dalam mobil sedan hitamnya. Kenzo ingin berterima kasih, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Hubungan mereka selama belasan tahun terlalu keras untuk dicairkan oleh satu momen heroik.
"Kenapa, Yah? Kenapa Ayah membantu kami?" tanya Kenzo akhirnya.
Pak Bramantyo berhenti di depan pintu mobil. Ia tidak menoleh, hanya menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. "Jangan salah sangka, Kenzo. Aku tidak melakukannya untukmu atau untuk sekolah ini. Aku melakukannya karena aku benci pengkhianat di kantorku. Dan gadis itu... Reina... dia punya nyali yang jarang dimiliki orang dewasa."
"Tapi Ayah membiarkanku mengambil dokumen itu," desak Kenzo.
"Aku membiarkanmu mengambilnya karena aku ingin melihat sejauh mana kamu berani bertindak demi sesuatu yang kamu anggap benar," Pak Bramantyo masuk ke mobil, lalu menurunkan kaca jendela sedikit. "Tapi ingat satu hal: Ibu Aris tidak akan diam. Dia punya lebih banyak koneksi daripada yang bisa kamu bayangkan. Jaga gadismu baik-baik."
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan Kenzo dalam kepulan asap tipis dan perasaan yang campur aduk.
Rumah Reina – Malam Hari
Reina duduk di depan laptopnya, namun jemarinya tidak bergerak. Pikirannya masih terpaku pada kejadian di aula. Tiba-tiba, notifikasi di ponselnya meledak. Grup WhatsApp kelas, portal berita lokal, hingga media sosial sekolah dipenuhi oleh satu judul berita yang sama:
"SKANDAL SMA GARUDA: ANTARA PENGGELAPAN DANA FESTIVAL DAN HUBUNGAN GELAP PENGURUS SEKOLAH."
Wajah Reina memucat. Ibu Aris telah mulai bergerak. Sebuah portal berita online yang berafiliasi dengan perusahaan keluarga Aris merilis artikel yang memutarbalikkan fakta. Mereka tidak membahas soal penggusuran lahan, melainkan menyerang integritas Reina.
Foto-foto saat Kenzo menggendong Reina keluar dari gudang (Episode 9) dan foto mereka saat aksi basket di jalanan dipasang dengan narasi yang provokatif. Mereka menyebut bahwa "Aksi Jalanan" itu adalah bentuk eksploitasi siswa dan dana yang terkumpul tidak dilaporkan secara resmi ke yayasan.
Drrrt... drrrtt...
Sebuah panggilan masuk dari nomor asing. Reina mengangkatnya dengan ragu.
"Reina Calista?" suara seorang wanita, dingin dan tajam. "Saya dari tim hukum Yayasan Garuda Mas. Mengingat kegaduhan publik yang kamu ciptakan, kami secara resmi membekukan statusmu sebagai Ketua OSIS sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Besok pagi, serahkan semua inventaris sekolah. Jangan mencoba melawan, atau foto-foto lain yang lebih 'menarik' akan kami rilis ke media nasional."
Taman Kota – Pukul 21.00 WIB
Reina menemui Kenzo di taman yang sepi. Di bawah lampu taman yang temaram, Reina tampak sangat rapuh. Ia menyerahkan ponselnya kepada Kenzo.
"Mereka nggak cuma mau ambil sekolah kita, Ken. Mereka mau hancurin namaku," bisik Reina. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Ayahku baru saja menelepon. Dia marah besar karena berita itu sampai ke kantornya. Dia malu..."
Kenzo menarik Reina ke dalam pelukannya. Ia merasakan bahu gadis itu gemetar. "Ini salahku, Rein. Seharusnya aku nggak menyeretmu ke dalam duniaku yang berantakan ini."
"Nggak," Reina mendongak, matanya merah namun berkilat marah. "Ini bukan salahmu. Ini cara mereka bekerja. Mereka pakai media untuk bikin kita kelihatan seperti penjahat. Tapi mereka lupa satu hal..."
"Apa?"
"Mereka menyerang kita di dunia mereka—dunia korporat dan media formal. Tapi mereka nggak punya kuasa di dunia kita."
Reina menghapus air matanya. "Ken, kamu punya teman-teman konten kreator, kan? Anak-anak yang biasa bikin video basket dan vlog sekolah? Kita akan buat media tandingan. Kalau mereka pakai berita palsu, kita pakai kebenaran yang viral."
Tepat saat mereka sedang menyusun rencana, sebuah mobil putih berhenti di dekat taman. Aris turun dari mobil. Penampilannya berantakan, dasinya lepas, dan matanya tampak sembab.
"Reina, Kenzo... kalian harus lari," ucap Aris dengan suara parau.
"Mau apa lagi kamu, Ris? Belum puas lihat kita hancur?" bentak Kenzo, pasang badan di depan Reina.
"Ibuku... dia benar-benar gila," Aris menggelengkan kepala, tangannya gemetar. "Dia baru saja menyewa orang untuk merusak gudang arsip sekolah malam ini. Dia mau membakar semua bukti laporan keuangan festival yang asli agar kalian benar-benar tertuduh melakukan penggelapan. Kalau bukti itu hilang, kalian nggak akan punya pembelaan di pengadilan."
Kenzo dan Reina saling pandang. Jam tangan menunjukkan pukul 21.45 WIB. Jika mereka tidak segera bertindak, sejarah SMA Garuda akan berakhir dengan abu dan fitnah.
Udara di taman kota malam itu mendadak terasa lebih tipis. Pengakuan Aris bagaikan petir di tengah malam yang sunyi. Reina bisa merasakan denyut nadinya berdetak kencang di ujung jari, sementara Kenzo menatap Aris dengan tatapan yang beralih dari kemarahan menjadi kecurigaan yang mendalam.
Taman Kota – Pukul 21.50 WIB
"Kenapa kamu kasih tahu kami, Ris?" tanya Kenzo, suaranya rendah dan penuh selidik. "Bukankah kalau kami hancur, kamu yang jadi pahlawan di mata ibumu? Kamu bisa dapatkan posisi Ketua OSIS kembali tanpa perlawanan."
Aris menunduk, menatap sepatu kulitnya yang kini ternoda debu taman. "Karena aku tidak mau menang dengan cara pengecut, Ken. Dan karena..." ia melirik Reina sekilas, "aku tidak mau melihat Reina menangis karena ulah ibuku. Aku memang mencintai sekolah ini, tapi aku tidak ingin memilikinya di atas puing-puing fitnah."
Reina melangkah maju, melepaskan pegangannya pada lengan Kenzo. "Gudang arsip... itu ada di lantai bawah gedung administrasi, kan? Di sana tidak ada CCTV karena sedang dalam perbaikan."
"Tepat," jawab Aris cepat. "Ibuku tahu itu. Orang-orangnya sudah bergerak. Mereka menyamar sebagai petugas teknis listrik. Kalau mereka berhasil memutus arus pendek dan membakar ruangan itu, semua kuitansi asli, buku besar, dan bukti fisik donasi kita akan habis."
Kenzo segera memakai jaketnya. "Kita nggak punya waktu buat lapor polisi. Sampai polisi datang, sekolah kita sudah jadi arang."
Misi Penyusupan di SMA Garuda – Pukul 22.15 WIB
Gerbang SMA Garuda tertutup rapat, namun Kenzo tahu setiap sudut sekolah ini seperti punggung tangannya sendiri. Mereka bertiga—Kenzo, Reina, dan Aris (yang bersikeras ikut)—menyelinap melalui celah pagar di dekat lapangan basket yang rimbun oleh pohon beringin.
Suasana sekolah sangat mencekam. Lampu-lampu koridor sengaja dimatikan, hanya menyisakan sorot lampu keamanan yang berputar di area parkir depan.
"Tunggu," bisik Kenzo, menahan dada Reina saat mereka hampir mencapai gedung administrasi. "Lihat itu."
Dua orang pria bertubuh tegap dengan seragam teknis abu-abu terlihat sedang membongkar panel listrik di dekat gudang arsip. Salah satu dari mereka membawa botol jeriken plastik yang baunya sangat menyengat bahkan dari jarak sepuluh meter. Bensin.
"Biadab..." desis Reina. Ia meraba tasnya, mencari ponsel untuk merekam, namun Aris menahan tangannya.
"Cahayanya bisa ketahuan, Rein. Biar aku yang alihkan perhatian mereka. Kalian masuk lewat jendela ventilasi belakang dan ambil kotak arsipnya," bisik Aris.
"Kamu gila? Mereka itu orang suruhan ibumu, mereka bisa celakain kamu kalau tahu kamu berkhianat!" cegah Kenzo.
Aris tersenyum pahit, senyum yang sarat akan penyesalan. "Mereka nggak akan berani pukul anak dari bos mereka sendiri. Percayalah padaku kali ini saja, Kenzo."
Aksi di Dalam Gudang – Pukul 22.30 WIB
Aris melangkah keluar dari kegelapan, sengaja menjatuhkan tempat sampah besi untuk menciptakan suara gaduh. "HEI! SIAPA ITU?" teriak Aris dengan suara lantang, berakting seolah-olah ia adalah siswa yang kebetulan ada di sana.
Kedua pria itu terlonjak kaget dan segera mengejar Aris yang berlari ke arah lapangan parkir depan.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Kenzo membantu Reina memanjat jendela ventilasi yang sempit. Di dalam gudang, udara terasa pengap dan berdebu. Dengan bantuan senter kecil, Reina mencari kotak kayu berlabel "LAPORAN FESTIVAL GARUDA 2026".
"Ketemu!" bisik Reina penuh kemenangan.
Namun, tepat saat Reina hendak menyerahkan kotak itu kepada Kenzo yang menunggu di luar jendela, bau asap mulai tercium. Rupanya, salah satu pria itu sempat menyalakan sumbu kecil di dekat kabel yang terkelupas sebelum mengejar Aris.
Percikan api mulai merambat ke tumpukan kertas koran lama di sudut ruangan.
"Ken! Apinya mulai besar!" teriak Reina panik.
"Keluar sekarang, Rein! Kasih kotaknya ke aku!" Kenzo mengulurkan tangannya, menarik kotak itu, lalu dengan sekuat tenaga menarik tubuh Reina keluar tepat saat ledakan kecil dari panel listrik terjadi.
BOOM!
Mereka berdua terjatuh ke rumput, terengah-engah dengan kotak arsip yang selamat di pelukan Kenzo. Namun, saat mereka hendak melarikan diri, lampu tembak dari arah pos satpam menyala terang, mengunci posisi mereka.
"BERHENTI DI SITU!"
Bukan polisi yang datang, melainkan sekelompok wartawan dari media milik Ibu Aris yang tiba-tiba muncul seolah sudah diatur. Di belakang mereka, Sarah berdiri dengan senyum licik, memegang ponsel yang sedang melakukan siaran langsung.
"Lihat semuanya!" teriak Sarah ke arah kamera. "Ketua OSIS dan kekasihnya tertangkap basah sedang berada di lokasi kebakaran sekolah! Mereka mencoba menghilangkan bukti penggelapan dana dengan membakar gudang arsip!"
Reina menatap kotak di pelukannya, lalu menatap kerumunan wartawan yang mulai mengambil foto mereka dengan membabi buta. Aris muncul dari kegelapan dengan napas tersengal, wajahnya pucat melihat bagaimana ibunya telah menyiapkan jebakan ganda yang sempurna.
Mereka memegang bukti kebenaran, tapi dunia kini melihat mereka sebagai pembakar sekolah.