NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Strategi di Balik Ketenangan

Pagi itu, aula besar SMA Garuda Kencana dipenuhi oleh atmosfer persaingan yang mendidih. Perlombaan sains tahunan antar kelas dan beberapa sekolah undangan akhirnya dimulai. Para peserta lomba tampak tegang dengan seragam khusus yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Sorak-sorai pendukung memenuhi tribun, menciptakan gemuruh yang memacu adrenalin.

​Lomba dilakukan secara bergiliran, dimulai dari Matematika, lalu Fisika, dan terakhir adalah Kimia bidang yang menjadi keunggulan Karline. Saat pembawa acara memanggil nama Karline Dharmawijaya sebagai perwakilan kelas XI-IPA 2, seluruh teman sekelasnya langsung berdiri dan berteriak heboh. Karline berjalan dengan tenang menuju meja nomor empat, membawa aura anggun yang tidak tergoyahkan meski ratusan pasang mata menatapnya.

​Waktu mulai berjalan. Soal demi soal ditampilkan di layar besar. Suasana menjadi sunyi saat para peserta mulai berkutat dengan angka dan rumus molekul. Di sinilah keunikan Karline terlihat. Peserta dari meja lain tampak terburu-buru, tangan mereka gemetar saat berusaha menekan bel paling cepat. Namun, Karline berbeda. Ia hanya duduk santai, menggoreskan pena di kertas coretannya dengan gerakan yang sangat teratur.

​Setiap kali soal muncul, peserta dari meja dua atau meja lima selalu menekan bel terlebih dahulu. Karline sering kali menjadi yang terakhir, atau bahkan tidak menekan bel sama sekali jika ia merasa lawannya sudah yakin. Teman-teman sekelas Karline di tribun, terutama Faras dan Bimo, sampai gemas sendiri.

​"Karline! Ayo cepat! Jangan santai begitu!" teriak Bimo dengan wajah frustrasi.

​Namun, Karline tidak mau terburu-buru. Ia justru sedang menilai lawan-lawannya. Ia memperhatikan bahwa mereka yang terburu-buru sering kali terjebak pada angka desimal yang salah atau konversi unit yang keliru. Dan benar saja, berkali-kali juri menyatakan jawaban lawan-lawannya salah, yang justru memberikan poin penalti bagi mereka.

​Masuk ke babak terakhir, skor sedang sangat tipis. Juri memberikan satu soal pamungkas yang harus dijawab secara tertulis oleh semua peserta. Soal itu tentang reaksi kimia kompleks yang melibatkan beberapa tahap oksidasi. Seluruh aula menjadi tegang. Karline menulis dengan tenang, sementara peserta lain tampak berkeringat dingin, menghapus dan menulis ulang jawaban mereka berkali-kali.

​"Waktu habis! Silakan angkat papan jawaban kalian!" perintah Juri.

​Semua peserta mengangkat papan mereka. Aula mendadak riuh dengan bisikan. Jawaban Karline berbeda sendiri dari seluruh peserta lainnya. Peserta lain kompak menuliskan hasil akhir +5, sementara Karline menuliskan -5. Teman-teman Karline menahan napas, merasa lemas karena mengira Karline melakukan kesalahan fatal di saat terakhir.

​Juri terdiam sebentar, menatap layar kunci jawaban, lalu menatap Karline. "Jawaban yang benar adalah... minus lima! Itu adalah pertanyaan jebakan mengenai arah aliran elektron. Meja nomor empat, Karline Dharmawijaya, mendapatkan poin penuh!"

​Aula seketika meledak. Teman-teman sekelas Karline berteriak paling keras, melompat-lompat di tribun hingga hampir menjatuhkan pagar pembatas. Wali kelas Karline, Bu Rina, bertepuk tangan dengan bangga melihat kecerdasan muridnya. Di sudut lain, Dean berdiri dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Ia merasa sangat bangga, seolah-olah dialah yang baru saja memenangkan dunia.

​Setelah acara perlombaan selesai dan kerumunan mulai bubar, Dean segera mencari keberadaan Karline. Ia menemukan gadis itu sedang merapikan tasnya di area belakang aula yang lebih sepi. Tanpa banyak bicara, Dean menarik lembut tangan Karline dan mengajaknya duduk berdua di bangku taman samping aula yang tertutup tanaman rambat.

​Meskipun mereka sudah membaik dan sering menghabiskan waktu bersama, Karline tetap pada pendiriannya; ia belum mau memulai sebuah hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Ia masih ingin menikmati proses kedekatan ini tanpa ikatan yang membebankan, dan Dean dengan sabar menghormati itu.

​"Ini, minum dulu. Kamu pasti haus setelah berduel otak tadi," ucap Dean sambil memberikan sebotol air mineral dingin yang sudah ia buka tutupnya.

​"Terima kasih," sahut Karline, meminumnya sedikit.

​Mereka pun mulai bercerita. Dean tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Karline saat gadis itu mulai berceloteh tentang soal-soal tadi. Karline tampak begitu bersemangat, tangannya bergerak menggambarkan reaksi kimia yang ia ceritakan.

​"Kamu tahu, Dean? Soal terakhir itu benar-benar jebakan. Mereka semua hanya fokus pada angka akhirnya saja, tanpa melihat tanda negatif di awal reaksi. Itulah kenapa kita jangan pernah terlalu cepat untuk menjawab sesuatu. Harus teliti, harus tenang," jelas Karline dengan mata yang berbinar-binar.

​Dean sangat terpana. Ia tidak mendengarkan teorinya, melainkan hanya menikmati cara Karline berbicara. Bagi Dean, Karline yang sedang cerdas begini adalah versi tercantik yang pernah ia lihat. Tanpa sadar, karena gemas yang tidak tertahankan, Dean memajukan wajahnya dan mengecup pipi lembut Karline dengan cepat.

​Cup.

​Karline langsung terdiam. Ceritanya terhenti seketika. Ia memberikan tatapan tajam yang mematikan pada Dean, namun pipinya yang putih perlahan berubah menjadi kemerahan.

​"Dean! Jangan kurang ajar!" desis Karline, meski suaranya tidak segalak biasanya.

​Dean justru tertawa kecil. Baginya, tatapan tajam Karline itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. "Maaf, habisnya kamu bicara serius begitu cantik sekali. Aku gemas."

​Dean kemudian meraih tangan Karline, menggenggamnya dengan lembut. Ia menggunakan ibu jarinya untuk mengelus pergelangan tangan Karline yang masih melingkar gelang putih pemberiannya. Di bawah sinar matahari sore yang menembus celah dedaunan, gelang diamond itu berkilauan indah, seolah menjadi saksi bisu bahwa meski Karline belum mau mengakui status mereka, hati gadis itu sudah mulai tertambat pada sang Kapten Voli.

​"Pokoknya, selamat ya untuk kemenangannya. Tuan Putriku memang yang paling pintar," bisik Dean lembut, membuat Karline hanya bisa menunduk malu sambil berusaha menahan senyumnya.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!