NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Begitu roda pesawat menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta, senyum yang sempat menghiasi wajah Regas seketika memudar, digantikan oleh topeng dingin yang biasa ia kenakan di hadapan publik. Di pintu kedatangan, Abimana sudah berjalan disampingnya dengan wajah pucat, dikawal oleh dua orang pria berbadan tegap yang diperintahkan langsung oleh Ibu Regas.

"gas , kita tidak bisa ke apartemen. Nyonya Besar memerintahkan aku membawamu langsung ke Rumah Sakit Medika," ujar Abimana dengan nada mendesak. "Keadaan Elena kritis, pendarahannya belum berhenti sepenuhnya."

Regas menggendong Ghea yang masih mengantuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, ia menatap gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang mulai menyala, namun ingatannya terus menariknya kembali ke gubuk bambu Lia. Rasanya seperti ditarik paksa dari surga kembali ke dalam penjara emas.

Sesampainya di rumah sakit, suasana di lantai VIP terasa mencekam. Nyonya Adhitama, ibunya, berdiri tegak di depan ruang ICU dengan tatapan yang seolah bisa membunuh.

"Bagus, kamu akhirnya pulang, Regas," ucap ibunya dengan suara tajam dan penuh penekanan. "Istrimu sedang bertaruh nyawa karena suaminya lebih memilih mengejar mahasiswi sastra miskin itu ke ujung pulau."

Regas menyerahkan Ghea kepada pengasuhnya dan berdiri tegak menghadapi ibunya. "Aku pulang karena janjiku pada Elena, bukan karena perintah Ibu."

Ia melangkah masuk ke dalam kamar perawatan. Di sana, Elena terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang biasa penuh riasan kini pucat pasi. Saat melihat Regas, Elena mencoba tersenyum getir.

"Kamu... kamu menemukannya, kan?" bisik Elena lirih, napasnya tersengal di balik masker oksigen. "Wajahmu berbeda, Regas. Kamu terlihat... hidup."

Regas duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangan Elena yang dingin. Ada rasa bersalah yang menghimpit, namun hatinya tetap milik wanita di Bali. "Istirahatlah, Elena. Jangan bicara dulu."

"Ingat janji kita, Regas," Elena memegang tangan Regas lebih erat, matanya menatap tajam namun penuh permohonan. "Aku membiarkanmu memilikinya, asal kamu tidak meninggalkanku saat aku melahirkan nanti. Anak ini... dia tidak boleh punya ayah yang hanya ada di atas kertas."

Regas hanya terdiam, membiarkan jemari Elena yang dingin tetap menggenggam tangannya. Di balik wajah tenangnya, pikirannya berkecamuk. Ia merasa seperti ditarik oleh dua dunia; satu dunia yang menawarkan napas dan cinta di pesisir Bali, dan dunia lain yang penuh dengan kewajiban serta sandiwara di Jakarta.

Tiba-tiba pintu kamar perawatan terbuka. Dokter spesialis kandungan, diikuti oleh seorang suster, melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat serius. Ia segera memeriksa grafik monitor dan kondisi fisik Elena sebelum beralih menatap Regas.

"Pak Regas, bisa kita bicara sebentar?" tanya Dokter tersebut sembari memberi kode untuk menjauh sedikit dari tempat tidur agar Elena bisa beristirahat.

Regas melepaskan tangan Elena perlahan dan mengikuti Dokter ke sudut ruangan.

"Kondisi kandungan Ibu Elena sangat rentan sekarang. Terjadi placenta previa yang memicu pendarahan hebat tadi siang," Dokter menjelaskan dengan suara rendah. "Janinnya masih berjuang, tapi jika ada guncangan emosional atau kelelahan sedikit saja, kita bisa kehilangan keduanya. Saya minta, dalam dua bulan ke depan, Ibu Elena harus total bed rest. Dan yang paling penting... dia harus dalam kondisi psikis yang tenang. Kehadiran Anda di sini adalah obat terbaik baginya saat ini."

Regas menarik napas berat. Kata-kata dokter itu seolah menjadi rantai baru yang mengikat kakinya untuk tetap berada di Jakarta. Menjaga Elena agar tetap sehat berarti ia harus menunda kepulangannya ke Bali. Ia harus memainkan peran sebagai suami siaga di depan ibunya dan publik, sementara hatinya menjerit ingin memberi kabar pada Lia.

"Lakukan yang terbaik untuk mereka, Dok," jawab Regas singkat, meski hatinya terasa sesak.

Setelah Dokter keluar, Regas kembali duduk di kursi samping tempat tidur. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang gelap. Ia ingin mengirim pesan pada Lia, mengatakan bahwa ia sudah sampai, atau sekadar mengucapkan rindu. Namun, ia teringat ancaman ibunya di depan pintu tadi. Jika ia ketahuan berhubungan dengan Lia sekarang, ibunya pasti akan menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan sekolah pesisir yang baru saja dibangun Lia dengan sisa tabungannya.

Regas menyimpan kembali ponselnya tanpa mengirim satu kata pun.

Di tempat tidurnya, Elena memejamkan mata, namun setetes air mata jatuh di sudut matanya. "Regas... jangan pergi lagi malam ini. Aku takut," bisiknya lemah.

Regas hanya mengangguk pelan, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ia tidak tahu bahwa di Bali, Lia sedang duduk di depan gubuknya, menatap ponselnya yang bisu, menanti sebuah kabar yang mungkin tak akan pernah datang karena permainan takdir yang kembali memisahkan mereka.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!