Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tragedi Sang Jenius Pedang
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala Benua Langit Azure, mewarnai awan dengan semburat ungu dan jingga yang dramatis. Namun, di dalam Sekte Awan Mengalir, hari itu jauh dari kata berakhir. Kekacauan filosofis baru saja meledak, dan episentrumnya adalah sebuah kursi goyang rotan yang kini dikeramatkan.
Di Puncak Pedang Berkabut, salah satu dari lima puncak utama sekte yang terkenal dengan disiplin nerakanya, suasana malam itu terasa sangat ganjil. Biasanya, alun-alun puncak ini akan dipenuhi oleh dentingan logam—ribuan murid yang mengayunkan pedang mereka sepuluh ribu kali sebelum diizinkan beristirahat.
Namun malam ini, alun-alun itu sunyi senyap.
Di tengah lapangan batu putih, duduklah Jian Chen, Murid Inti Peringkat Kedua yang dijuluki "Si Gila Pedang". Jian Chen adalah antitesis dari Lin Fan. Jika Lin Fan bernapas untuk rebahan, Jian Chen bernapas untuk menebas. Pemuda dengan alis setajam pedang dan rahang tegas itu tidak pernah tidur lebih dari dua jam sehari sejak usianya sepuluh tahun.
Besok, takdir telah mengundi namanya untuk berhadapan dengan Lin Fan di Babak Unggulan hari kedua.
Saat ini, Jian Chen tidak memegang pedangnya. Senjata pusaka kelas menengah itu tergeletak begitu saja di lantai batu, seolah-olah telah dilupakan. Jian Chen sedang berbaring telentang di atas tanah, kedua tangannya disilangkan di atas dada, matanya tertutup rapat, dan dahinya berkerut dalam hingga membentuk tiga garis lipatan yang tegang.
Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Rahangnya mengeras. Seluruh otot di tubuhnya menegang layaknya tali busur yang ditarik maksimal.
"Rileks..." suara berat Tetua Puncak Pedang menggema di kegelapan. Pria tua itu berjalan memutari tubuh murid kesayangannya dengan tangan bersedekap, matanya memancarkan keseriusan yang mematikan. "Jian Chen! Kendurkan bahumu! Kau terlalu tegang! Jika kau membawa ketegangan ini ke atas arena besok, Master Lin akan menggunakan aliran Qi tegangmu untuk membalikkan seranganmu, persis seperti yang dia lakukan pada si idiot Chen Hu tadi siang!"
"Saya... saya sedang berusaha, Guru!" erang Jian Chen melalui gigi-giginya yang terkatup rapat. "Tapi... tanah ini terlalu keras! Dan saya belum menyelesaikan ayunan pedang harian saya! Meridian saya berteriak meminta saya untuk bergerak!"
Plaak!
Tetua Puncak Pedang memukul paha Jian Chen dengan sarung pedangnya sendiri. "Itu adalah iblis hatimu! Keinginanmu untuk bekerja keras adalah bentuk dari ego duniawi! Tidakkah kau melihat bagaimana Master Lin bertarung? Beliau bahkan tidak membuka mata! Beliau menyatu dengan kursi goyangnya, membiarkan gravitasi dan napas semesta yang menangkis kapak raksasa! Itu adalah 'Dao Kekosongan' tingkat dewa!"
Tetua itu berlutut di samping kepala Jian Chen, berbisik dengan nada konspirasi yang dramatis. "Dengarkan aku, muridku. Lawanmu besok bukan manusia biasa. Dia adalah perwujudan dari ketiadaan. Jika kau menyerangnya dengan niat membunuh, kau hanya akan membunuh dirimu sendiri. Satu-satunya cara untuk mengalahkan seorang Master Tidur... adalah dengan tidur lebih nyenyak darinya!"
Jian Chen membuka matanya yang merah karena frustrasi. Air mata keputusasaan menggenang di sudut matanya. Bagi seorang maniak latihan sepertinya, disuruh untuk tidak melakukan apa-apa dan tidur adalah siksaan yang lebih kejam daripada dicambuk seratus kali.
"Jadi... apa yang harus saya lakukan besok, Guru? Apakah saya juga harus membawa kasur ke panggung?" tanya Jian Chen, suaranya bergetar menahan harga dirinya yang hancur.
Tetua Puncak Pedang mengelus janggutnya, matanya menerawang ke langit malam seolah mencari wahyu. "Membawa kasur adalah menjiplak gayanya. Kau akan terlihat menyedihkan. Tidak, kau adalah pendekar pedang. Kau harus menunjukkan 'Tidur Pedang'. Besok, begitu wasit memulai pertandingan... kau jatuhkan pedangmu, berbaringlah di lantai arena, dan tidurlah dengan postur Bintang Jatuh. Biarkan napasmu sedalam lautan. Jika kau berhasil menahan niat bertarungmu sepenuhnya, auramu akan menjadi kosong. Saat itulah, Master Lin mungkin akan menganggapmu layak, dan kalian berdua bisa beradu pencerahan dalam alam mimpi!"
Jian Chen menelan ludah. Kepalanya pusing. Tiga puluh tahun ajaran pedang keras yang ia anut baru saja dihancurkan dan diganti dengan kurikulum kompetisi tidur.
"Baik, Guru," bisik Jian Chen pasrah. Ia memejamkan matanya lagi, mencoba memaksa otaknya untuk memproduksi hormon kantuk. "Aku... aku akan mencoba tidur sekarang."
"Bagus. Ingat, jangan memikirkan kemenangan. Pikirkan betapa nyamannya bantal," instruksi Tetua itu dengan sangat serius, sebelum akhirnya berjalan pergi, meninggalkan jenius pedang itu bergulat dengan insomnia kultivasi yang paling parah dalam sejarah.
Sementara Puncak Pedang sedang bereksperimen dengan seni kemalasan ekstrem, di Dapur Luar, sang pelopor "Dao Kekosongan" baru saja membuka matanya secara perlahan.
Tandu kayu raksasa yang membawa kursi goyangnya telah diletakkan kembali di sudut dapur, tepat di balik tirai sutra biru yang baru. Dapur Luar kembali dalam mode "Keheningan Suci".
Lin Fan menguap lebar, meregangkan kedua tangannya hingga terdengar bunyi gemeretak dari tulang punggungnya. Ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan, tapi entah mengapa otot-ototnya terasa lebih padat dan penuh energi. Tentu saja, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menerobos ke Tingkat 8 Pemurnian Tubuh hanya karena terganggu suara wasit beberapa jam yang lalu.
"Perutku keroncongan..." gumam Lin Fan sambil mengelus perutnya.
Mendengar suara serak itu, bayangan Wang Ta langsung muncul di balik tirai.
"Tuan Lin! Syukurlah Anda sudah kembali dari alam meditasi astral Anda!" suara Wang Ta bergetar karena emosi pemujaan yang tertahan. "Apakah Anda berhasil menemukan pencerahan baru dari alam semesta setelah mengalahkan Chen Hu tadi siang?"
Lin Fan mengernyitkan alis. Otaknya yang baru booting perlahan mengingat kejadian di arena. "Oh, si pria besar berisik itu? Aku tidak melakukan apa-apa. Dia tersandung angin atau semacamnya."
Di mata Wang Ta, jawaban itu semakin mengukuhkan kebesaran Lin Fan. Tersandung angin? Beliau mengendalikan angin hanya dengan lambaian tangan kecil dan menyembunyikannya sebagai ketidaksengajaan! Kesopanan yang sangat menakutkan!
"Tuan Lin terlalu rendah hati," Wang Ta membungkuk dalam. "Sesuai janji hamba kemarin, hamba telah menyiapkan Iga Babi Asam Manis dengan Kualitas Tertinggi. Hamba menggunakan api pelan selama enam jam agar dagingnya hancur lumer hanya dengan sentuhan lidah, jadi Tuan tidak perlu lelah mengunyah."
Mata Lin Fan mendadak berbinar samar. Tidak perlu mengunyah? Ini baru yang namanya pelayanan bintang lima.
"Bawa kemari," ucap Lin Fan.
Wang Ta segera menyodorkan sebuah nampan kayu berlapis perak menembus celah tirai. Aroma asam manis yang terkaramelisasi dengan sempurna langsung menyerbu penciuman Lin Fan. Daging iga itu berwarna merah kecokelatan yang menggoda, dengan saus kental yang memantulkan cahaya.
Biasanya, Lin Fan akan dengan enggan duduk tegak, mengambil sumpit, dan menyuapkan makanan itu. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
[Peringatan Sistem: Teknik 'Langkah Bayangan Malas' telah menyatu dengan memori otot Host. Gunakan imajinasi spasial untuk memindahkan tubuh tanpa usaha fisik yang berarti.]
Lin Fan menatap nampan yang dipegang Wang Ta, yang berjarak sekitar dua meter dari kursi goyangnya. Jika ia merentangkan tangan, ia harus mengangkat punggungnya dari sandaran kursi yang sangat nyaman ini. Itu adalah pemborosan energi sebesar 5 kalori yang tidak bisa dimaafkan.
Langkah Bayangan Malas, ya? batin Lin Fan. Mari kita coba.
Lin Fan tidak mengerahkan Qi sedikit pun. Ia hanya menatap nampan itu dengan intensitas kemalasan absolutnya, dan di dalam pikirannya, ia "menarik" posisi nampan itu ke arahnya sambil secara pasif membiarkan hukum fisika di sekitarnya sedikit bengkok.
Bagi Wang Ta, apa yang terjadi selanjutnya adalah sihir tingkat dewa yang akan menghantuinya seumur hidup.
Tubuh Lin Fan di atas kursi goyang itu tampak berkedip sejenak, seperti ilusi optik yang terdistorsi oleh panas. Tidak ada suara kepakan jubah, tidak ada hembusan angin gerakan. Tiba-tiba saja, tanpa sedikit pun lutut Lin Fan menekuk atau kakinya melangkah, tubuh pemuda itu sudah bergeser sejauh dua meter, duduk miring di udara (karena ia tidak memindahkan kursinya), tepat di depan nampan.
Tangannya sudah memegang sepotong iga, dan ia sudah menggigit dagingnya.
Lalu, dalam kedipan mata berikutnya, tubuh Lin Fan kembali berkedip dan ia sudah kembali bersandar dengan sempurna di atas kursi goyangnya di posisi semula, mengunyah daging iga yang luar biasa lembut itu.
Waktu yang berlalu: kurang dari setengah tarikan napas.
Wang Ta menjatuhkan nampan itu dari tangannya yang gemetar. Beruntung, ia memiliki reflek koki elit dan berhasil menangkap nampan itu dengan perut gempalnya sebelum hidangan itu tumpah ke lantai.
Lutut Wang Ta lemas. Matanya melebar penuh horor dan kekaguman.
Itu bukan sekadar gerakan cepat. Gerakan cepat akan menghasilkan suara angin dan sisa bayangan (afterimage). Apa yang Lin Fan lakukan adalah 'Pemindahan Ruang Hampa'—sebuah teknik legendaris yang kabarnya hanya bisa dicapai oleh kultivator Alam Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir) ke atas, di mana seseorang melipat ruang untuk melangkah tanpa benar-benar berjalan!
Dan pemuda Tingkat 8 Pemurnian Tubuh di depannya ini menggunakannya... hanya untuk mengambil sepotong iga agar tidak perlu beranjak dari kursinya?!
"Dagingnya enak," komentar Lin Fan datar, menelan daging yang memang lumer di mulutnya itu. Ia menatap Wang Ta yang wajahnya pucat pasi. "Kenapa kau gemetar? Angin malam terlalu dingin?"
"T-T-Tuan Lin..." Wang Ta terbata-bata, nyaris menangis bersujud. "T-teknik barusan... membelah ruang untuk mengambil makanan... hamba... mata hamba yang kotor ini benar-benar tidak layak menyaksikannya!"
Lin Fan mengedipkan matanya perlahan, menjilat sisa saus di bibirnya. Membelah ruang? Bukankah ini cuma jalan pintas sistem biar aku tidak perlu beranjak? Ah, biarlah si gemuk ini berimajinasi.
"Jangan berlebihan, Koki Wang. Berjalan adalah bentuk aktivitas fisik yang sangat tidak efisien," kata Lin Fan, menggunakan alasan malasnya yang biasa. Ia menguap, merasa kenyang hanya dengan satu potong karena daging itu mengandung nutrisi energi yang tinggi. "Besok aku masih harus pergi ke arena menyebalkan itu. Siapa lawanku besok?"
Wang Ta, yang masih berusaha mengatur napasnya yang putus-putus, menunduk dalam-dalam. "Melapor, Tuan Lin. Lawan Anda besok adalah Jian Chen dari Puncak Pedang Berkabut. Dia adalah salah satu jenius paling ganas di sekte. Pedangnya tidak pernah ragu, dan dia tidak pernah berhenti menyerang sampai lawannya tumbang. Dia dijuluki 'Mesin Pembunuh Tanpa Lelah'."
Lin Fan mendesah berat. Hatinya mencelos.
Mesin pembunuh tanpa lelah? Sialan. Orang-orang yang terlalu rajin adalah musuh alami dari orang-orang sepertiku. Jika dia terus melompat dan berteriak di arena, suara kursiku akan tenggelam dan aku tidak bisa tidur.
Lin Fan menyandarkan kepalanya kembali ke bantal sutra es. "Baiklah. Besok, siapkan kapas penutup telinga untukku. Jika dia ingin berlarian seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri, biarkan saja. Selama dia tidak membangunkanku, aku tidak peduli."
"Dimengerti, Tuan Lin! Hamba akan menyiapkan kapas dari kepompong ulat sutra langit agar tidur Tuan benar-benar kedap suara!"
Wang Ta mundur perlahan dari balik tirai, matanya memancarkan tekad yang membara. Dia merasa bahwa besok, Master Lin akan menunjukkan teknik pamungkas untuk menghancurkan mental seorang jenius pedang.
Di atas kursinya, Lin Fan mulai mengantuk lagi. Perut kenyang, kursi yang bergoyang otomatis, dan suhu udara yang pas adalah resep racun yang paling mematikan bagi kesadarannya.
Semoga si Jian Chen itu langsung kelelahan dan menyerah di menit pertama, harap Lin Fan sebelum benar-benar tenggelam dalam dengkuran halusnya.
Ia tidak tahu bahwa nun jauh di sana, "Mesin Pembunuh" yang ia khawatirkan itu sedang menangis darah karena mencoba memaksakan matanya terpejam di atas tanah batu yang dingin, bersumpah untuk memenangkan kompetisi "Tidur" besok hari.