Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Maplewood City dan Pertemuan Kembali yang Tak Terhindarkan
Satu minggu lagi berlalu. Jiang Chen telah menempuh lebih dari separuh perjalanannya. Pegunungan yang terjal perlahan berganti menjadi perbukitan yang landai dan hutan yang lebih lebat. Ia akhirnya tiba di sebuah kota besar yang ramai bernama Maplewood City, sebuah pusat perdagangan penting yang terletak di persimpangan beberapa rute utama.
Skala Maplewood City jauh melampaui Kota Awan Bambu. Jalanannya lebar, dipenuhi oleh para pedagang dari berbagai penjuru, tentara bayaran dengan senjata berkilauan, dan para kultivator dengan aura yang jelas lebih kuat daripada yang biasa ia lihat.
Jiang Chen memutuskan untuk beristirahat di sini selama satu atau dua hari untuk mengisi perbekalan dan mendengarkan berita. Ia menjual beberapa inti monster tingkat rendah di sebuah toko lokal untuk mendapatkan mata uang dan memesan kamar di penginapan terbesar di kota, "Penginapan Awan Tenang".
Saat ia sedang menikmati makanan hangat pertamanya dalam seminggu di aula makan penginapan yang ramai, sekelompok orang masuk dan langsung menarik perhatian banyak orang.
Itu adalah karavan Paviliun Harta Karun.
Jiang Chen langsung mengenali mereka. Paman Zhong, yang lengannya sudah diperban, berjalan di depan, sementara gadis muda yang ia selamatkan berjalan di sampingnya. Mereka tampak lelah tetapi selamat. Mereka mengambil meja besar tidak jauh dari tempat Jiang Chen duduk.
Jiang Chen sedikit mengernyit. Dunia ini terkadang terasa kecil. Ia menundukkan kepalanya, berharap tidak dikenali, dan berencana untuk segera menghabiskan makanannya lalu pergi ke kamarnya.
"Nona, kita aman sekarang di Maplewood City. Kita akan beristirahat selama dua hari sebelum melanjutkan perjalanan ke ibukota," kata Paman Zhong kepada gadis itu.
"Aku mengerti, Paman Zhong," jawab gadis itu. Namanya Lin Ziyan. "Aku masih tidak percaya kita berhasil lolos. Jika bukan karena ahli misterius itu..."
Ia berhenti, matanya menyapu aula makan dengan harapan samar. Sejak hari itu, ia terus mencari sosok penyelamat mereka di setiap keramaian, meskipun ia tahu itu sia-sia.
Saat itulah, keributan terjadi di pintu masuk penginapan. Tiga pemuda berpakaian mewah dengan lambang pedang bersilang di dada mereka masuk dengan angkuh. Mereka adalah murid dari sekte lokal Maplewood City, Sekte Pedang Maple.
"Wah, wah, lihat apa yang kita punya di sini," kata pemimpin kelompok itu, matanya yang congkak langsung tertuju pada Lin Ziyan. Kecantikan dan pakaian sutranya yang halus membuatnya menonjol. "Seorang peri telah turun ke penginapan kumuh kita."
Mereka berjalan mendekati meja Paviliun Harta Karun.
Paman Zhong segera berdiri, menempatkan dirinya di antara para pemuda itu dan Lin Ziyan. "Tuan-tuan muda, kami adalah pedagang yang sedang lewat. Kami tidak ingin mencari masalah."
"Masalah? Kami hanya ingin berkenalan dengan nona cantik ini," kata pemimpin itu sambil menyeringai, mengabaikan Paman Zhong sepenuhnya. "Namaku Zhao Feng, murid inti dari Sekte Pedang Maple. Bolehkah aku tahu nama nona?"
Lin Ziyan menatapnya dengan dingin. "Maaf, aku tidak tertarik."
Penolakan yang blak-blakan itu membuat wajah Zhao Feng menjadi kaku. "Kau berani menolakku? Apa kau tahu siapa ayahku?"
Jiang Chen, yang sedang mendengarkan dari mejanya, hanya bisa menghela napas dalam hati. 'Apa kau tahu siapa ayahku?', dialog klise yang selalu muncul di mana-mana.
"Kami tidak peduli siapa ayahmu," kata Paman Zhong dengan tegas, meskipun auranya yang berada di tingkat enam jelas lebih lemah daripada Zhao Feng yang berada di puncak tingkat enam. "Tolong tinggalkan kami dengan damai."
"Orang tua, kau mencari mati!" teriak Zhao Feng, kesabarannya habis. Ia mendorong Paman Zhong dengan keras.
Paman Zhong, yang masih dalam kondisi terluka, terhuyung mundur dan hampir jatuh.
Tindakan ini membuat marah para penjaga Paviliun Harta Karun lainnya, yang segera bangkit dan menghunus senjata mereka. Suasana di aula makan menjadi tegang dalam sekejap.
Zhao Feng hanya tertawa. "Kalian pikir sekelompok penjaga bayaran bisa melawanku dan saudara-saudaraku?"
Saat ia hendak memerintahkan teman-temannya untuk menyerang, sebuah suara yang tenang dan sedikit malas terdengar dari sudut ruangan.
"Sebagai murid dari sekte yang terhormat, bukankah seharusnya kau menunjukkan perilaku yang lebih baik? Menindas pedagang yang lewat dan seorang wanita... benar-benar memalukan."
Semua mata langsung tertuju pada sumber suara itu. Jiang Chen masih duduk di mejanya, dengan santai menyeruput tehnya seolah-olah ia sedang mengomentari cuaca.
Zhao Feng menyipitkan matanya. "Siapa kau berani menceramahiku?"
Jiang Chen meletakkan cangkirnya. "Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang tidak suka melihat sampah merusak nafsu makannya."
"Kau...!" Wajah Zhao Feng memerah karena marah. "Kau mencari mati!"
Ia meninggalkan kelompok Paviliun Harta Karun dan melangkah menuju Jiang Chen, pedang di tangannya sudah terhunus.
Lin Ziyan dan Paman Zhong menatap Jiang Chen dengan cemas. Mereka berterima kasih atas pembelaannya, tetapi pemuda ini tampak sendirian. Melawan tiga murid Sekte Pedang Maple adalah tindakan bunuh diri.
Saat Zhao Feng mengangkat pedangnya, hendak menebas Jiang Chen, ia tiba-tiba membeku.
Ia tidak bisa bergerak.
Sebuah tekanan yang tak terlihat, sedingin es dan seberat gunung, telah menguncinya di tempat. Tekanan itu tidak berasal dari Qi, tetapi sesuatu yang jauh lebih fundamental dan menakutkan. Itu adalah tekanan dari Jiwa Spiritual.
Jiang Chen bahkan tidak berdiri. Ia hanya menatap Zhao Feng, dan di kedalaman matanya, ada jurang ketidakpedulian yang sedingin es.
Keringat dingin membasahi dahi Zhao Feng. Ia merasa seperti seekor semut yang sedang ditatap oleh seekor naga surgawi. Ketakutan primal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mencengkeram hatinya.
"Pergi," kata Jiang Chen, hanya satu kata.
Tekanan itu lenyap seketika. Zhao Feng terkesiap, terhuyung mundur beberapa langkah, dan jatuh terduduk di lantai, napasnya terengah-engah. Ia menatap Jiang Chen dengan ngeri, seolah-olah baru saja melihat hantu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia bangkit dan lari terbirit-birit keluar dari penginapan, diikuti oleh kedua temannya yang kebingungan namun ketakutan.
Seluruh aula makan kembali hening. Semua orang menatap Jiang Chen, lalu pada Zhao Feng yang melarikan diri, tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tidak ada pertarungan, tidak ada benturan Qi. Musuh hanya melarikan diri ketakutan.
Hanya Lin Ziyan yang menatap Jiang Chen dengan mata terbelalak. Metode yang tak terlihat dan tak terduga ini... kekuatan yang menakutkan tanpa perlu bergerak...
Sebuah kesadaran yang luar biasa menghantamnya.
Ia berdiri dan berjalan perlahan ke meja Jiang Chen. Ia membungkuk dalam-dalam.
"Tuan muda," katanya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. "Kaulah yang menyelamatkan kami di jalur pegunungan, bukan?"