Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Kamu nggak bakalan berubah pikiran, kan, Mas...." Gita memeluk lengan Dewa.
Tanpa sungkan bermanja-manja dan bermesraan di ruang keluarga. Papanya sedang pergi bekerja. Mamanya ke supermarket terdekat.
Dewa menarik dagu Gita, mengecup bibir kekasihnya.
"Nggak, Sayangku."
"Aku senang mendengarnya," ucap Gita dengan nada mendayu-dayu.
"Kita akan segera mengurus berkas nikah." Dewa yang sange, melumat bibir Gita. Tangannya menggerayangi paha di balik rok.
Gita melenguh, tidak peduli dipergoki mamanya. Kedua tangan berpindah merangkul leher Dewa.
"Sudah bisa dipake?" bisik Dewa, mencium leher Gita.
"Belum bisa, Mas. Baru seminggu yang lalu aku kuret. Tetapi aku bisa membantumu."
Gita tersenyum centil, mengusap-usap kepunyaan Dewa yang mengeras.
Terdengar suara pintu terbuka. Gita segera membenahi roknya. Duduk agak menjauh. Begitupun dengan Dewa yang segera mengambil kue.
"Sudah lama, Dewa? Kok nggak ada motornya?" tanya Yuni.
"Tadi diantar teman sepulang dinas." jawab Dewa.
"Oh, gitu. Terus kapan lamarannya?" Yuni duduk di kursi tunggal.
"Nanti ibuku yang akan datang terlebih dahulu. Membicarakan tanggal lamaran." Dewa masih memegang kue bolu keju.
"Kapan ibumu datang? Aku butuh kepastian." desak Yuni.
Tetangga-tetangga mulai membicarakan Gita yang keguguran, nanti dibuang Dewa karena tidak ada yang mengikat lagi. Yuni juga jengkel, karena masih banyak tetangga yang bicara buruk tentang Gita. Para tetangga memuji-muji Nara dan Rama
"Kapan?!" ulang Yuni tidak sabaran.
"Mama ini jangan bentak Mas Dewa," ucap Gita.
"Besok, Bu. Besok sore." jawab Dewa.
"Maaf, jika ibu galak. Tapi kamu tidak boleh lari dari tanggung jawab. Kamu udah ngambil mahkota Gita. Hamil lalu keguguran." kata Yuni agak-agak sedih. Putrinya seperti janda saja, padahal belum menikah.
Dewa meletakkan kue di piring. Tambah tidak selera makan karena sikap Yuni.
"Aku pulang dulu, Gita, Bu Yuni...." pamitnya.
"Aku antar, Mas. Kamu yang bawa motor." kata Gita, bergegas mengambil jaket dan kunci motor.
"Aku tunggu besok ya...." Yuni tersenyum penuh intimidasi.
Dewa hanya mengangguk.
****************
Risna dan Rahmat menyambangi rumah kontrakan Nara. Membawa album foto pernikahan. Sebenarnya Nara sudah menerima file foto-fotonya. Tetapi tidak minat melihatnya.
Biasanya pengantin baru sangat antusias dengan foto-foto pernikahan. Tidak dengan Nara maupun Rama. Bahkan mereka tidak membicarakan bukti kenangan sakral.
"Fotomu cemberut semua." kata Risna yang duduk di sofa dua dudukan. Memperhatikan ruang tamu yang minimalis. Di depannya hanya ada televisi dan meja kecil.
"Ibu mau berharap apa? Aku terlihat bahagia? Udah tahu anaknya ini dikhianati." tukas Nara bersungut-sungut duduk di bawah beralas karpet.
"Iya sih. Ibu berlebihan. Lain kali foto ulang pernikahan, yang full senyum." Selain membawa album foto, Risna juga membawakan masakan matang yang dibungkus plastik. Ayam goreng, terong balado, sambel teri, dan peyek kacang.
"Rama ngojek, Nara?" tanya Rahmat.
"Iya, Pak." sahut Nara seraya membuka bungkusan peyek. "Bikin sendiri, Buk?"
"Peyeknya beli." Risna menyetel televisi. Kedua kakinya diluruskan. "Rama cerita tentang orang tuanya nggak?"
"Enggak."
"Tanyain dong, Nara. Ibu penasaran dengan keluarganya Rama." kata Risna tanpa mengalihkan perhatian dari layar televisi.
"Cincin nikahnya belum jadi ya?"
"Iya.... Cincin kawin belum jadi, Bu." Nara melahap peyek yang gurih.
"Mudah-mudahan kamu segera hamil, Nara. Pingin momong cucu," celetuk Rahmat.
Nara terbatuk-batuk. Tersedak peyek yang sedang dikunyah. Tidur saja saling memunggungi dan berjauh-jauhan. Mana mungkin bisa jadi bayi.
"Minum sana." suruh Risna.
"Nggak ditunda, kan?" Rahmat bertanya.
"Nggak, Pak." Nara menggeleng. Meraih botol air mineral ukuran kecil, diminum sampai habis. Nara juga menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Ditunda juga nggak apa-apa. Kalian masih muda. Nikmati pacaran halal." kata Rahmat.
"Bapak nggak akan tanya-tanya lagi soal anak."
Nara lega mendengarnya. Rahmat ternyata sangat perhatian dan pengertian.
"Lusa nenekmu ulang tahun, Nara. Ada acara syukuran kecil-kecilan. Kalau bisa datang." papar Rahmat.
"Aku nggak mau datang, Pak. Pasti ada keluarganya Gita." tolak Nara.
"Nenek udah sepuh kok pingin ulang tahun segala."
"Ibu juga nggak mau datang. Biar bapakmu sendiri...." timpal Risna.
"Tapi mending datang deh, Nara. Buktikan kalau kamu nggak terganggu oleh Gita."
"Nanti aku pikir-pikir dulu." Nara menghela napas.
"Kalau mau datang, beritahu ibumu ini....."
Rahmat dan Risna tidak berlama-lama. Nara mengamati kedua orang tuanya yang berboncengan motor. Ingin sekali membahagiakan kedua orang tuanya.
****************
Rama menerima pesan dari Gita. Setelah tidak ada hubungan, dan sekarang dirinya telah menikah sang mantan pacar masih mengirim pesan.
Salah satu ujung bibir Rama bergerak ke atas. Senyum miring terbit, kepalanya menggeleng pelan, lalu mendengus jengkel.
Gita mengirim foto seksi. Memakai baju tidur merah tua, menampakkan belahan dada.
[Aku yang bening dan seksi gini nggak kamu apa-apain. Aku yakin kamu nggak selera dengan Nara yang tepos. Jangan-jangan kamu gay.] Begitu isi pesannya.
Rama membalas: [Sakit kamu. Coba periksa kejiwaanmu.] Lantas diblokirnya nomor ponsel Gita.
Pernah sekali, Gita sengaja merayu waktu mampir ke rumah kontrakan. Sebagai lelaki yang normal tentu saja hampir tergoda. Untung saja benteng imannya kuat.
"Nggak capek jadi tukang ojek?"
Rama menoleh ke samping. Menatap perempuan cantik berkacamata hitam.
"Nggak capek." Rama menonaktifkan aplikasi driver karena ingin pulang.
"Hatimu keras banget. Apa atau siapa yang bisa melumerkan hatimu?"
Rama mengedikkan kedua bahunya.
"Jauh-jauh ke sini hanya untuk tanya itu?? Kalian memata-matai aku selama setahun terakhir?"
"Aku sedang ada perjalanan bisnis. Aku melihatmu dari balik jendela restoran." Perempuan cantik itu menunjuk restoran di belakangnya.
"Walaupun kulitmu lebih gelap, aura kegantengan mu tidak pudar. Btw, nggak ada yang memata-matai."
"Dan kau, masih sama seperti dulu. Selamat tinggal." Rama memacu kendaraannya dan melihat dari kaca spion kanan perempuan itu melambaikan tangan kanannya.
Rama mampir membeli martabak telur. Saat menunggu pesanan, dia mengedarkan pandangan. Tidak ada yang mencurigakan.
Ketika melewati penjual buah-buahan, dia membeli nanas madu dan pepaya. Juga ke warung kelontong membeli teh celup.
Menjelang malam, Rama sampai di kontrakannya. Tersenyum lebar karena Nara membukakan pintu. Istrinya memakai daster tanpa lengan warna ungu muda motif bunga. Rambutnya digelung. Memperlihatkan leher jenjang yang indah.
"Motornya masuk sekalian nggak?" tanya Nara.
"Nggak, nanti aja." sahut Rama. "Aku belikan martabak."
Nara mengambil kantong plastik yang diberikan Rama. Masuk rumah terlebih dahulu.
Pintu dibiarkan setengah terbuka karena motor masih di luar. Rama melihat tumpukan pakaian yang baru selesai di setrika. Kaus dan celana tertata rapi, termasuk celana dalam.
"Aku sudah siapkan makan. Ibuk sama bapak tadi mampir, ngasih lauk." ucap Nara.
"Aku mandi dulu." Rama melepas jaket ojol. Dicantolkan di dinding teras belakang karena kotor dan bau asap.
"Mas, dalemannya merek semua." Nara agak meringis. Lucu juga wajahnya.
"Oh, dikasih teman. KW itu, Nara. Termasuk kaos dan sepatu...." Rama melepas kaus putih, dimasukkan di keranjang pakaian.
"Mas, nama bapak ibunya Mas Rama siapa? Maaf, aku hanya ingin tahu. Mas bilang nggak punya keluarga, tapi, kan...."
Rama meraih handuk di jemuran kecil.
"Sekar Mariana dan Restu Atmaja, bukankah di fotokopi KK udah tertera?" jawabnya tanpa menoleh ke belakang, kemudian masuk ke kamar mandi.
Nara terpaku di dekat meja makan. Dirinya belum tahu siapa nama orang tua Rama.
Masalah fotokopian KK, dia tidak sempat membacanya karena langsung diberikan ke Rahmat. Untuk mengurus pengajuan isbat nikah supaya pernikahan mereka tercatat.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Nara. Salah situasi karena bertanya ketika Rama baru pulang kerja. Seharian di jalan pasti lelah.
Nara ke ruang tengah, memasukkan pakaian ke dalam lemari. Melipat meja khusus setrika, yang ditaruh di dekat meja kecil. Dia kembali menghela napas. Lebih baik tidak bertanya tentang keluarga Rama.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬