Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Simfoni Penjaga Mimpi
SISI LAIN CERITA DARI SUDUT PANDANG RATRI
Angin laut berembus lembut, mengisi layar perahu kecil kami dan membawa kami meluncur meninggalkan pulau yang telah menjadi penjaraku selama berabad-abad. Rian, sang Pembangkit, akhirnya tertidur lelah di buritan, kepalanya bersandar pada sebuah karung. Eveline duduk di sampingnya, diam dan waspada bagaikan patung penjaga.
Dari tempatku di haluan, aku memandanginya. Ada sesuatu tentang manusia ini yang menarik perhatianku sejak awal. Kini, dengan kekuatanku yang telah pulih, naluriku sebagai dewi mendorongku untuk menyelami lebih dalam. Aku menutup mata, membiarkan kesadaranku menyentuh batas pikirannya yang sedang terlelap.
Lalu, aku melihatnya.
Lautan kenangan. Sebuah dunia yang sama sekali asing bagiku. Kota-kota dengan bangunan menjulang seperti kaca, kereta logam yang berlarian di jalan beraspal, dan benda-benda ajaib yang disebut 'teknologi'. Dunia Rian sangat berbeda, keras, dan... sibuk.
Aku menyelami lebih dalam, mencari sumber luka yang kurasakan memancar darinya. Dan aku menemukannya. Seorang wanita. Dia memanggilnya Neng Yuni.
Aku menyaksikan percakapan telepon mereka. Suara Yuni yang pelan dan penuh penyesalan. Rian, meski hancur, berusaha terdengar kuat. "Gak apa-apa, Neng. Semoga kamu bahagia sama dia. Mas ikhlas..."
Kebingunganku memuncak. Aku memeriksa wajah Yuni dalam ingatannya. Dia cantik, tapi... biasa saja. Tidak istimewa. Bahkan, dalam standarku, kecantikannya sangat jauh. Lalu, apa yang membuat Rian begitu hancur?
Aku menggali lebih dalam, menyusuri setiap kenangan yang terikat dengan nama Yuni. Dan di sanalah aku menemukan jawabannya. Bukan tentang kecantikan. Tapi tentang rasa diterima. Dalam dunia Rian yang keras, Yuni adalah oasis. Dia adalah satu-satunya yang melihatnya bukan sebagai seorang "buruh pabrik" atau "orang miskin", tapi sebagai Rian. Sifatnya yang penyayang, tawanya yang polos, dan caranya menerima Rian apa adanya—itulah yang dicintai Rian. Itulah yang membuat kepergiannya terasa seperti dicabut paksa dari satu-satunya sumber kehangatan dalam hidupnya.
Oh, Rian...
Hatiku, yang telah lama membeku, tiba-tiba terasa hangat dan sesak. Sebuah rasa ingin memeluknya, ingin menghibur luka yang begitu dalam dan tulus, mendesakku. Tapi aku menahannya. Itu tidak etis. Aku adalah dewi yang baru saja dibebaskannya, bukan teman lama yang berhak masuk ke dalam rasa sakitnya dengan mudah.
Aku merangkak mendekatinya. Eveline mengawasiku, tapi tidak menghalangi. Dengan hati-hati, kuulurkan tanganku dan dengan lembut mengusap rambutnya yang berantakan. Gerakanku pelan, penuh penghormatan.
"Manusia yang aneh," bisikku pelan, hanya untukku sendiri. "Kau bisa begitu kuat menghadapi kekaisaran dan dewi sepertiku, tapi hancur oleh kepergian seorang wanita biasa. Kau memilih kenyataan pahit daripada ilusi kebahagiaan, tapi rupanya ada satu ilusi—kenangan tentangnya—yang masih kau pertahankan erat-erat di dalam hatimu."
Aku menarik napas. Ada kekaguman yang dalam padanya. Di balik semua kekuatan anomali yang dia miliki, dia tetaplah manusia dengan hati yang bisa terluka. Dan justru itulah yang membuatnya... istimewa.
Kenangan lain mengalir. Aku melihatnya sebagai seorang buruh, dihina karena kemiskinannya. Aku melihatnya dibully di sekolah, dan guru yang tidak membelanya. Aku bahkan melihatnya dipenjara, disiksa, tapi tetap bungkam karena takut membahayakan keluarganya. Aku memeriksa kebenaran ingatan itu, dan itu nyata. Luka-luka itu membentuknya, tapi tidak mematahkannya.
Lalu, aku melihat satu momen penting. Seorang penjual kopi di pinggir jalan, di kota Jakarta-nya yang ramai. Seorang pria sederhana yang memberinya kopi gratis dan kata-kata penyemangat. "Laki-laki itu harus kuat, bukan berarti gak pernah sedih atau nangis. Tapi jangan biarkan kesedihan bikin kita jatuh."
Kata-kata itulah, kurasa, yang menyelamatkannya. Kata-kata dari seorang manusia biasa kepada manusia biasa lainnya. Sebuah kebaikan kecil di tengah keputusasaan.
"Jadi itulah rahasiamu," gumamku, masih membelai rambutnya. "Kau kuat bukan karena kekuatanmu, tapi karena kau memilih untuk bangkit setiap kali terjatuh. Kau memilih untuk merasakan sakitnya, lalu berdiri lagi."
Aku memandang wajahnya yang tidur. Ada kedamaian di sana, meski aku tahu badai selalu mengintai di pikirannya.
"Tenanglah, Rian," bisikku, dengan suara yang kuharap menembus alam mimpinya. "Aku, Ratri Nirmayasha, berjanji akan melindungi hatimu yang telah terluka ini. Bukan sebagai dewi pada pengikut, tapi... sebagai seseorang yang mulai memahami arti menjadi manusia, darimu."
Perjalanan masih panjang. Tapi untuk pertama kalinya dalam 250 tahun, aku merasa memiliki tujuan yang lebih dari sekadar bertahan hidup. Aku ingin melindungi manusia aneh dan kuat ini, dan menemukan jawaban yang dia cari, bersama-sama.
Tanganku masih terasa hangat usai mengusap rambut Rian yang berantakan. Sebuah perasaan anah menyergapku, sesuatu yang belum pernah kurasakan dalam berabad-abad. Bukan belas kasihan, bukan pula rasa berutang budi. Ini... lebih dalam. Seperti seutas benang tak terlihat yang tiba-tiba mengikat jiwaku yang abadi pada jiwa fana-nya.
Dan kemudian, tanpa kusadari, kelembapan menghangatkan sudut mataku. Satu tetes, lalu dua. Cairan itu mengalir lancar di pipiku, namun bukan air mata bening seperti manusia. Cahaya keemasan, cair dan berkilauan seperti madu yang dicairkan, menetes dan jatuh.
Satu tetes mengenai punggung tangan Rian yang tergenggam lemah dalam tidurnya. Psst. Suara desis halus. Cahaya keemasan itu seakan hidup, menyerap ke dalam kulitnya yang terbakar matahari dalam sekejap, meninggalkan jejak samar seperti tato emas sesaat sebelum menghilang.
Ini adalah air mata kesedihan sejati seorang dewi. Bukan karena penderitaanku sendiri, tapi karena aku akhirnya mengerti. Aku telah menyaksikan penderitaan tak terhitung manusia yang terdampar di pulauku, tapi aku hanya melihatnya sebagai penonton, sebagai algojo yang memberi mereka ilusi sebelum kematian. Rian... dialah manusia pertama yang kubiarkan masuk begitu dalam ke dalam diriku. Dan melalui ingatannya, untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasakan betapa pedihnya menjadi manusia. Betapa rapuhnya, betapa berharganya, dan betapa pahitnya perjuangan mereka untuk sekadar bertahan dan mencinta.
Dalam tidurnya, Rian bergumam pelan, suaranya parau dan penuh ratap. "Pulang... aku ingin pulang... tolong..."
Kata-kata itu menusukku lebih dalam daripada pedang mana pun. "Pulang." Ke dunia di mana dia dihina, dicampakkan, dan berjuang sendirian. Ke dunia tanpa sihir, tanpa Eveline, tanpaku. Apakah itu yang terbaik untuknya? Atau... apakah aku menjadi egois karena ingin menjaganya di sini, di dunia di mana dia setidaknya memiliki kami, memiliki kekuatan, memiliki tujuan?
Hatiku tercabik. Di satu sisi, keinginannya yang tulus. Di sisi lain, bayangan dia kembali menjadi " bukan siapa-siapa", seorang buruh pabrik yang terluka dan sendirian, membuat dadaku sesak. Aku tidak ingin pembebasku, manusia yang telah memberiku nama dan pengertian baru, kembali ke kehidupan yang menyedihkan itu.
Tapi, siapakah aku—seorang dewi yang telah berbuat kesalahan dengan mempermainkan mimpi orang—untuk memutuskan apa yang terbaik baginya? Menahannya di sini demi kenyamananku sendiri, bukankah itu sama buruknya dengan Kekaisaran yang memaksakan kehendaknya?
Dengan hati berat, aku menengadahkan wajah ke langit malam yang bertabur bintang. Lautan luas membentang, tapi langit terasa lebih luas lagi, mengingatkanku pada betapa kecilnya diriku.
"Yang Maha di Atas Segalanya," bisikku, suaraku lirih dihembus angin laut. "Aku tidak meminta untuk dirinya tinggal. Aku juga tidak meminta untuk dia pergi. Aku hanya... memohon. Lindungilah hatinya yang telah begitu banyak terluka. Tempatkan dia di mana pun dia berada, di dunia mana pun pilihannya, biarkan dia akhirnya menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Biarkan senyumnya yang tulus itu bukan lagi topeng, tapi kebahagiaan yang sejati."
Air mata emasku kembali menetes, menyiratkan penyerahan total. Ini bukan tentang keinginanku lagi. Ini tentang doa untuk kebahagiaan manusia luar biasa yang telah mengajarkuku arti empati setelah 250 tahun kebekuan.
Aku memandangi Rian sekali lagi, lalu menatap Eveline. "Kita akan melindunginya, bukan?" kataku padanya. "Sampai saat terakhir, apapun pilihannya nanti."
Eveline, dengan mata birunya yang kosong, mengangguk perlahan. "Itu tugasku."
Dan dalam kesunyian malam, kami berdua—dewi dan revenant—berjaga untuk manusia yang sama-sama kami ikuti, masing-masing dengan ikatan yang berbeda, namun dengan satu tujuan yang sama: memastikan perjalanannya, ke mana pun itu berakhir, tidak lagi disertai rasa sakit yang sendirian.
Sebuah garis samar mulai membentang di ujung cakrawala. Daratan. Lampu-lampu kecil dari pelita dan obor berkedip seperti kunang-kunang di kejauhan, menandai tepian Frostwind Expanse yang membeku. Biasanya, ini saatnya untuk membangunkan Rian, untuk bersiap menghadapi bahaya dan ketidakpastian baru.
Tapi tidak sekarang. Tidak saat dia masih terlelap dengan wajah yang akhirnya tenang, setelah mimpi buruk "pulang"-nya reda.
Dengan seulas kehendak halus, kurenungkan kekuatan anginku. Layar perahu "Si Bandel" yang tadinya mengembung penuh, kini mengempas lemah. Kecepatan kami pun melambat, seolah-olah waktu sendiri yang berhenti sejenak di tengah lautan ini. Biarlah. Biar dunia menunggu. Biarkan dia memiliki mdam penuh kedamaian ini.
Aku meraih sebuah daun kering yang tersangkut di tepi perahu. Kudekatkan ke bibirku, dan dengan napas lembut, kusenandungkan sebuah melodi. Bukan mantra, bukan sihir ilusi. Hanyalah "Nyanyian Bunga Tidur", lagu pengantar tidur yang dulu sering kunyanyikan untuk anak-anak di pulau ini, sebelum segalanya berakhir.
"Tidurlah, wahai pengembara, di atas buaian ombak,
Bulan adalah lentera, bintang adalah penjagamu.
Lupakanlah sejenak, duka yang kau bawa,
Dalam mimpi, kau boleh lemah, tanpa beban dunia."
Suaraku mungkin tidak semenawan dulu, tapi nadanya mengalir pelan dan hangat, membungkus Rian dalam selimut nada yang menenangkan. Kulihat kerut di dahinya perlahan menghilang. Napasnya yang tadinya tersendat-sendat, kini menjadi dalam dan teratur.
"Biarkan angin malam membelai rambutmu,
Biarkan desau laut menjadi cerita pengantar tidurmu.
Esok akan datang dengan ceritanya sendiri,
Tapi untuk malam ini, istirahatkanlah jiwa yang lelah."
Aku menyanyikan ini bukan untuk menidurkannya lebih dalam, tapi untuk menjaga tidurnya. Memberinya mimpi yang tenang, tanpa bayang-bayang Yuni, tanpa beban menjadi "Pembangkit", tanpa ketakutan akan Kekaisaran. Biarkan dia, untuk beberapa jam saja, hanyut dalam kehampaan yang damai.
Eveline duduk tegak di sampingnya, matanya yang biru memandangiku. Tidak ada curiga, hanya pengamatan diam-diam. Mungkin dia pun merasakan niat tulus di balik nyanyian ini.
Perahu kami hampir tidak bergerak, terombang-ambing lembut di pangkuan laut. Kota dengan lampu-lampunya masih jauh, tapi biarlah. Malam ini, tugas terpentingku bukanlah mencapai tujuan, tapi memastikan sang pembebasku mendapatkan hadiah paling berharga yang bisa kuberikan: satu malam tidur nyenyak.
Dan sementara bintang-bintang berkelip di atas, nyanyianku terus mengalun, menjadi jembatan antara dunia dewi dan mimpi seorang manusia, di atas perahu tua yang mengarungi lautan kegelapan, menuju fajar yang tak terelakkan.