NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Malam merayap seperti cairan hitam yang kental, menyelimuti kota kecil itu dalam kesunyian yang menipu. Di dalam kamar apartemennya, Kenzie berbaring telentang. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah langit-langit yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya lampu gedung lain yang masuk melalui celah gorden.

Seharusnya, seorang abadi yang telah melewati empat abad kehidupan memiliki kontrol penuh atas emosinya. Namun malam ini, Kenzie merasa seperti seorang amatir.

Kenzie memiringkan kepalanya ke samping, meraba bantalnya yang dingin. Setiap kali ia memejamkan mata, memori di atap sekolah itu terputar kembali dengan kejelasan yang menyiksa. Ia bisa merasakan tekstur kasar beton di bawah sepatunya, desis angin yang membawa aroma pinus dan yang paling parah, ia masih bisa merasakan bibir Julian yang melumat bibirnya.

Ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik. Bagi Kenzie, itu adalah sebuah penaklukan. Selama empat ratus tahun, ia telah membentengi dirinya dengan es yang tak tertembus. Sejak kehilangan kekasihnya di masa lalu, Kenzie telah hidup sebagai pengamat yang dingin. Ia melihat manusia lahir dan mati, ia melihat peradaban berganti dan ia selalu menjaga jarak agar hatinya tidak tersentuh.

Namun Julian, dengan segala keputusasaan dan kecemburuannya yang meledak-ledak, telah menghancurkan dinding itu dalam hitungan detik.

"Sialan kau, Julian." desis Kenzie pada kegelapan. Suaranya serak, sarat dengan kemarahan yang sebenarnya lebih tertuju pada dirinya sendiri.

Kenzie merutuki cara jantungnya yang sempat berkhianat dengan berdetak lebih cepat saat Julian mendekatkan wajahnya. Ia membenci kenyataan bahwa ia tidak langsung mendorong pria itu saat bibir mereka bertemu. Ada sesuatu yang sangat akrab dalam cara Julian menyentuhnya, sesuatu yang membuat jiwa abadi Kenzie merasa seolah-olah ia telah menunggu momen ini selama berabad-abad, meskipun logika manusianya menolak keras.

Kenzie bangkit dari tempat tidur, kakinya yang telanjang menyentuh lantai yang dingin. Ia berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Di dalam kegelapan, pantulan wajahnya tampak pucat, hampir seperti hantu. Kenzie menyentuh bibirnya, lalu beralih ke lehernya, tempat di mana Julian sempat membenamkan wajahnya. Sensasi terbakar itu masih ada di sana, seolah-olah Julian telah meninggalkan tanda kepemilikan yang tidak terlihat oleh mata, namun berdenyut di bawah kulit porselennya.

"Kau punya Elena, Julian. Dan aku tidak punya siapa-siapa. Seharusnya tetap seperti itu." gumamnya.

Kenzie memaksakan dirinya untuk kembali ke tempat tidur. Ia menarik selimut hingga ke dagu, mencoba mengatur napasnya dengan teknik meditasi kuno yang biasa ia gunakan untuk menenangkan energi di dalam tubuhnya. Perlahan, kesadarannya mulai memudar dan ia jatuh ke dalam tidur yang ia harapkan akan membawanya pada ketenangan.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Tidur Kenzie tidak membawanya pada kegelapan yang sunyi. Sebaliknya, ia terlempar ke dalam sebuah mimpi yang begitu hidup hingga ia bisa mencium aroma logam dan asap.

Kenzie mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah aula besar yang hancur. Langit-langitnya runtuh, memperlihatkan langit merah darah yang mencekam. Di sekelilingnya, api biru berkobar di atas reruntuhan pilar marmer, namun anehnya, ia tidak merasakan panas. Dingin yang menusuk justru merambat dari telapak kakinya.

Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghujam dadanya. Kenzie tersedak. Ia menunduk dan melihat sebuah bilah pedang perak yang berkilau menembus tepat di ulu hatinya. Pedang itu tampak kuno, dengan ukiran rune ungu di gagangnya. Darah merah pekat merembes keluar dari lukanya, membasahi gaun yang ia kenakan dalam mimpi itu.

Lututnya lemas. Kenzie terjatuh ke belakang, namun sebelum punggungnya menghantam lantai marmer yang keras, sepasang lengan yang kuat menangkapnya.

Kenzie didekap seseorang. Dipeluk dengan kekuatan yang seolah-olah ingin menyatukan kembali jiwanya yang hancur. Seseorang itu memangku tubuhnya, memposisikan kepala Kenzie di atas lengannya yang kokoh. Kenzie bisa merasakan napas orang itu di keningnya, napas yang memburu, penuh dengan isakan yang tertahan.

Kenzie mencoba memfokuskan pandangannya yang mulai kabur. Ia ingin melihat wajah pria yang sedang mendekapnya. Namun, sebuah cahaya putih yang menyilaukan dan kabut merah darah menutupi wajah orang tersebut. Kenzie hanya bisa melihat tangan orang itu, tangan yang besar dengan urat-urat yang menonjol karena tekanan emosional sedang menekan luka terbuka di dada Kenzie.

Orang itu menekan dadanya dengan sangat keras, mencoba menghentikan aliran darahnya. Tekanan itu sangat menyakitkan, membuat Kenzie ingin berteriak, namun di balik rasa sakit itu, ada sebuah energi yang mengalir masuk. Energi yang terasa sangat familiar. Energi yang berbau pinus dan hujan.

"Bertahanlah... kumohon, bertahanlah." suara pria itu terdengar seperti gema dari jarak jutaan mil, pecah oleh keputusasaan yang tak terlukiskan.

Kenzie merasa dunianya mulai gelap. Rasa dingin mulai mengambil alih ujung-ujung jarinya. Namun, tepat saat kesadarannya akan padam sepenuhnya, sebuah suara lain membelah sunyinya kematian yang mungkin akan segera datang. Suara tangisan seorang wanita.

Kenzie memaksakan matanya untuk terbuka sedikit lagi. Pria yang tadi memangkunya sudah menghilang, digantikan oleh sosok ibunya. Sang wanita yang seharusnya sudah lama tiada. Wajah ibunya tampak hancur oleh duka, air mata mengalir deras di pipinya yang bercahaya.

Ibunya berlutut, menyentuh wajah Kenzie dengan tangan yang gemetar. Ibunya mendekatkan wajahnya ke telinga Kenzie, seolah ingin membisikkan sebuah rahasia terakhir yang akan menentukan takdir seluruh dunia.

Bibir ibunya bergerak. Kenzie bisa melihat gerakan itu dengan jelas, namun pendengarannya mendenging hebat. Suara ibunya yang kini memangkunya, suara api yang berderak dan kesadarannya sendiri yang semakin habis menelan suara ibunya.

T... d... k... h... m... nya..

Hanya itu yang tertangkap oleh batinnya, namun makna sepenuhnya hilang ditelan kegelapan. Ibunya terus berbisik, tampak sangat mendesak, seolah-olah pesan ini adalah alasan mengapa Kenzie diberikan keabadian selama empat ratus tahun ini.

Rasa sakit di dadanya mendadak menghilang. Bukan karena lukanya sembuh, tapi karena Kenzie mulai kehilangan rasa pada tubuhnya sendiri. Ia merasa ringan, seolah-olah jiwanya sedang ditarik keluar dari cangkang fisiknya. Hal terakhir yang ia rasakan sebelum semuanya menjadi hitam adalah setetes air mata hangat yang jatuh dari wajah ibunya, mendarat tepat di pipi Kenzie.

Kenzie tersentak bangun. Tubuhnya membusur di atas tempat tidur, napasnya keluar dalam satu tarikan panjang yang menyakitkan seolah-olah ia baru saja kembali dari kedalaman air. Kenzie segera mencengkeram dadanya, tepat di tempat pedang itu menancap dalam mimpinya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan liar.

Kenzie meraba kulitnya. Tidak ada darah, tidak ada luka terbuka. Hanya keringat dingin yang membasahi piyama tipisnya.

Kenzie melirik jam di atas nakas. Angka digital berwarna merah menyala menunjukkan pukul 03:15. Jam tiga pagi, waktu di mana batas antara dunia nyata dan dunia roh dikatakan paling tipis.

"Apa itu tadi?" gumam Kenzie. Suaranya gemetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Kenzie menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Mimpi itu terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar bunga tidur. Kenzie masih bisa merasakan tekanan tangan pria itu di dadanya. Ia masih bisa merasakan kehangatan air mata yang jatuh di pipinya.

Dan ibunya. Mengapa ibunya muncul sekarang? Setelah berabad-abad ia merasa rindu pada sosok ibunya dan berharap datang ke mimpinya, mengapa wanita itu muncul dalam mimpi berdarah di mana Kenzie terlihat sekarat?

Kenzie turun dari tempat tidur, kakinya terasa sedikit lemas. Ia berjalan menuju jendela, membukanya lebar-lebar hingga angin dini hari kota Mandala yang dingin menusuk tulang masuk ke dalam kamarnya. Kenzie menatap ke arah kejauhan, ke arah rumah tempat Julian tinggal.

Pria dalam mimpinya. Meskipun wajahnya tertutup cahaya, Kenzie tahu. Postur tubuh itu, aroma yang samar-samar ia rasakan dan cara pria itu mendekapnya itu adalah Julian.

"Apakah itu masa depan? Atau masa lalu yang terulang?" bisiknya pada kegelapan malam.

Kenzie berdiri mematung di depan jendela, membiarkan angin malam yang membekukan menyapu kulit lehernya, dimana tempat beberapa jam yang lalu menjadi saksi bisu emosi Julian yang tak terkendali. Pikirannya kini benar-benar terbelah.

Jika pria dalam mimpi itu adalah Julian, maka ada lubang besar dalam sejarah yang selama ini ia yakini. Selama ini, Kenzie menganggap Julian hanyalah seorang Aethern yang ia temui di zaman modern ini, seseorang yang memiliki kemiripan energi dengan masa lalunya, namun tetap saja orang baru. Tapi pelukan dalam mimpi tadi, dekapan itu terasa begitu menyakitkan. Rasa sakit yang dirasakan pria itu saat menekan luka di dadanya bukan sekadar rasa sakit kehilangan teman, melainkan rasa sakit dari jiwa yang separuhnya baru saja dicabut paksa.

"Kalau itu benar kau, Julian, mengapa kau tidak pernah mengatakannya?" bisik Kenzie pada kegelapan. "Apakah kau melupakanku? Atau kau sengaja mengubur memori itu agar kau bisa hidup tenang dengan Elena?"

Kenzie meremas bingkai jendela kayu itu hingga terdengar bunyi retakan halus. Pikiran bahwa Julian mungkin sedang memainkan peran sebagai orang asing yang baru jatuh cinta lagi padanya membuat dadanya terasa sesak. Namun, ada kemungkinan lain yang lebih mengerikan, bagaimana jika Julian sendiri tidak tahu? Bagaimana jika memori itu telah disegel dan ciuman di atap sekolah tadi adalah kunci pertama yang mulai membuka gerbang yang seharusnya tetap tertutup?

Rasa sakit di dadanya dalam mimpi tadi menyisakan rasa pegal yang nyata di tubuh fisiknya. Kenzie menyadari satu hal, keberadaannya di Arcandale bukan hanya untuk bersembunyi dari Stefanny atau mengamati Julian. Ada sebuah takdir besar yang melibatkan pedang perak, bisikan ibunya yang hilang dan seorang pria yang siap menghancurkan segalanya hanya untuk mendekapnya.

Kenzie memejamkan mata, membiarkan angin menghapus sisa-sisa keringat di wajahnya. Ia tahu, setelah malam ini, ia tidak akan pernah bisa memandang Julian dengan cara yang sama lagi. Ada sebuah ikatan yang lebih dalam dari sekadar ciuman di atap sekolah, sebuah ikatan darah dan pengorbanan yang tampaknya telah tertulis bahkan sebelum Kenzie dilahirkan.

Di luar sana, di bawah cahaya bulan yang pucat, kota London tetap sunyi. Namun bagi Kenzie, perang sebenarnya baru saja dimulai di dalam kepalanya sendiri.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!