NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Pernikahan

Di Balik Kontrak Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Ujian di Tengah Badai

Benteng pertahanan yang dibangun Kiki dengan penuh susah payah selama seminggu terakhir, runtuh hanya dalam satu getaran ponsel di pagi buta. Saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Kabut tebal masih menyelimuti taman belakang rumah, menciptakan suasana mencekam yang seolah menjadi pertanda buruk. Sebuah telepon dari ibunya menghancurkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki. Ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung mendadak.

​Kabar itu seperti hantaman godam tepat di ulu hati, membuat dunia Kiki seketika berguncang hebat. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi wajah sang ayah yang selama ini selalu menjadi penguatnya.

​Kiki berlari keluar kamar dengan langkah tertatih. Ia mengabaikan rasa nyeri yang masih sesekali berdenyut di pergelangan kakinya akibat insiden tangga tempo hari. Ia tidak lagi peduli pada penampilannya, hanya mengenakan piyama tipis bermotif bunga dan rambut yang berantakan karena baru bangun tidur. Namun, saat ia sampai di puncak tangga dengan napas memburu, ia mendapati Fikar sudah berdiri di sana. Pria itu tampak siaga, seolah memiliki indra keenam yang tahu bahwa sesuatu yang sangat buruk baru saja meledak di kediaman mereka.

​“Ada apa, Kiki?” tanya Fikar. Suaranya berat khas orang baru bangun tidur, namun penuh dengan nada kewaspadaan yang tidak bisa disembunyikan.

​“Ayah, Mas, Ayah masuk rumah sakit. Serangan jantung. Aku harus pergi sekarang,” suara Kiki pecah, nyaris menjadi isakan yang tak tertahankan. Ia mencoba merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil dengan tangan yang bergetar hebat. Saking paniknya, tas itu terlepas dari genggamannya, menumpahkan isinya, ponsel, dompet, dan lipstik, berantakan di atas lantai kayu.

​Fikar segera menghampiri. Ia tidak marah melihat kekacauan itu, melainkan memegang kedua bahu Kiki dengan mantap untuk menenangkannya. “Tenanglah. Ambil napas. Aku yang akan menyetir. Kamu tidak dalam kondisi stabil untuk membawa mobil sendiri dalam keadaan seperti ini.”

​“Tapi Mas, ini bukan urusanmu. Ini bukan bagian dari,”

​“Hentikan bicara soal kontrak gila itu, Kiki! Ini tentang keluargamu,” potong Fikar dengan nada tegas yang tidak memberikan celah untuk membantah. Tatapannya yang tajam namun stabil seolah menjadi jangkar bagi Kiki yang sedang terombang-ambing badai. Tanpa menunggu persetujuan lagi, Fikar menyambar jaket di dekat sofa dan menuntun Kiki menuju garasi.

​Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kiki hanya bisa terisak pelan sambil menatap kosong ke jalanan Jakarta yang masih sepi dan gelap. Pikirannya melayang pada sosok ayahnya, pria tua yang rela mengorbankan sisa harga dirinya demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris karam, pria yang menjadi alasan utama mengapa ia mau menerima pernikahan tanpa cinta ini. Ada rasa bersalah yang menghimpit dadanya, ia merasa telah mengorbankan kebahagiaannya sendiri untuk ayahnya, namun tetap saja ia merasa gagal melindungi pria itu dari rasa sakit.

​Fikar menyetir dengan kecepatan tinggi namun sangat terkendali. Ia menyalip beberapa truk besar dengan lincah tanpa membuat guncangan berarti di dalam mobil. Sesekali, ia melirik ke arah Kiki yang tampak sangat rapuh di kursi samping. Tangannya yang bebas sesekali terjulur, meraih tangan Kiki yang dingin dan gemetar di atas pangkuannya.

​Kali ini, Kiki tidak menarik tangannya. Ia tidak punya kekuatan untuk bersikap angkuh atau menjaga jarak. Ia sangat membutuhkan pegangan, dan entah mengapa, genggaman tangan Fikar terasa begitu kokoh dan hangat. Seolah-olah melalui sentuhan itu, Fikar sedang memindahkan sebagian kekuatannya ke dalam tubuh Kiki yang sedang melemah.

​Sesampainya di rumah sakit, Fikar segera mengambil kendali keadaan. Ia tidak membiarkan Kiki yang sedang linglung berurusan dengan birokrasi yang rumit. Fikar memastikan ayahnya mendapatkan penanganan di ruang VIP terbaik dan berbicara langsung dengan dokter spesialis jantung paling senior di rumah sakit itu dengan nada bicara yang penuh otoritas namun tetap sopan. Kiki hanya bisa duduk lemas di bangku ruang tunggu, menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat dengan lampu merah yang masih menyala.

​Beberapa jam kemudian, Ibu Kiki datang dengan langkah gontai dan langsung memeluk putrinya sambil menangis histeris. “Fikar, terima kasih sudah ada di sini. Ibu benar-benar bingung harus bagaimana kalau tidak ada kamu,” ucap ibunya di sela tangis.

​Fikar mengangguk sopan, merangkul bahu ibu mertuanya dengan gerakan yang sangat lembut, jauh dari kesan pria dingin yang Kiki kenal di rumah. “Jangan khawatir, Bu. Saya sudah pastikan semua tim medis melakukan yang terbaik. Ayah orang yang kuat, dia pasti bisa melewati ini.”

​Kiki memperhatikan interaksi itu dari kejauhan. Ia melihat sisi lain dari suaminya yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Fikar begitu cekatan mengurus segala administrasi, menenangkan ibunya, bahkan memesankan makanan hangat dan kopi agar mereka tetap memiliki tenaga. Tidak ada tanda-tanda keterpaksaan di wajah pria itu. Tidak ada raut wajah pria yang sedang melakukan “transaksi bisnis” atau sekedar menjaga citra. Fikar benar-benar ada di sana, hadir sepenuhnya untuk keluarganya yang sedang berduka.

​Malam mulai merayap naik saat dokter akhirnya keluar dan mengabarkan bahwa kondisi Ayah Kiki sudah stabil, meski masih harus diobservasi secara ketat dalam 24 jam ke depan. Ibu Kiki sudah tertidur di sofa ruang tunggu karena kelelahan yang teramat sangat. Fikar kemudian mendekati Kiki yang masih terduduk kaku di kursi koridor rumah sakit yang dingin dan berbau disinfektan.

​“Makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh Makananmu sejak pagi tadi,” ucap Fikar sambil menyodorkan segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul.

​Kiki mendongak, menatap mata Fikar. Di bawah cahaya lampu neon koridor yang pucat, Fikar tampak sangat lelah, ada bayangan hitam di bawah matanya, namun tatapannya terasa teduh. “Kenapa kamu melakukan semua ini, Mas? Ini benar-benar tidak ada di dalam perjanjian kita. Kamu tidak perlu melakukan sejauh ini hanya untuk membuat Ibu Sofia senang. Beliau bahkan tidak ada di sini untuk melihat semua kebaikanmu.”

​Fikar menghela napas panjang. Ia ikut duduk di samping Kiki, membiarkan bahu mereka bersentuhan, menciptakan sedikit kehangatan di tengah udara rumah sakit yang beku. “Kiki, ada saatnya hidup ini bukan Cuma soal hitam di atas putih. Ayahmu adalah keluargaku juga sekarang, terlepas dari bagaimana hubungan kita dimulai. Aku mungkin pria yang brengsek dalam banyak hal, tapi aku tidak sekejam itu untuk membiarkan istrinya berjuang sendirian di saat dunianya sedang runtuh.”

​Kiki menatap cairan teh di dalam gelasnya, merasa tenggorokannya mendadak sesak. “Aku pikir, kamu akan menggunakan momen ini untuk mengingatkanku betapa aku berutang banyak padamu. Untuk membuatku semakin merasa kecil di hadapanmu.”

​Fikar terdiam sejenak. Ia menoleh, menatap Kiki dengan intensitas yang begitu dalam hingga Kiki merasa tidak bisa berpaling. “Luka yang aku berikan padamu selama ini sudah lebih dari cukup, Kiki. Aku tidak ingin menambahnya lagi dengan kesombongan yang tidak berguna. Malam ini, lupakan soal kontrak itu. Anggap saja aku hanyalah seorang pria yang ingin menemani wanitanya yang sedang bersedih.”

​Kata “wanitanya” meledak di telinga Kiki, membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang aneh. Di koridor rumah sakit yang sunyi dan hanya menyisakan suara mesin monitor dari kejauhan itu, Kiki merasakan dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama seminggu terakhir mulai goyah, retak, dan perlahan runtuh.

​Ternyata, Fikar yang paling berbahaya bukanlah Fikar yang dingin, kasar, atau yang memuja masa lalunya bersama Clara. Fikar yang paling berbahaya adalah Fikar yang menunjukkan sisi manusianya, pria yang menawarkan pundak di saat ia merasa paling hancur. Pernikahan ini memang dimulai dengan segala alasan yang salah, namun malam ini, di tengah ujian yang berat, Kiki menyadari satu hal yang menakutkan, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika hukum maupun kontrak bisnis mana pun.

​Kiki menyerupit tehnya, merasakan hangatnya menjalar ke seluruh tubuh, sementara di sampingnya, Fikar tetap diam, menjaga kesunyian itu agar tetap terasa aman. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bukan lagi dua orang asing yang berbagi atap, melainkan dua jiwa yang mulai saling bersandar di tengah badai.

1
SHLDC’s Company
kalau pernikahan sama kiki sdh 2 th,harusnya anak clara sdh lahir ya.
aku kok bingung bacanya...
Murni Dewita
👣
Hunk
Apakah ini yang di sebut Cinta karena terbiasa. Atau Aris hanya khawatir jika Arini terluka sandiwara nya bakal terbongkar atau ibu nya akan khawatir.💪🙏
Val07
sok2an kai aris, ntar kmu yg ga bsa lepas dr arini.😡
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
Serena Khanza
udahlah arini mending abaikan aris aja gak usah berharap banyak sama dia. ego nya aris lebih besar tertutup ego yang segede gunung salju😌
Panda
kak kok kayanya aku pernah baca yaaaaa
Kaka's: baca di mana hayoo... 🤭🤭🤭
total 1 replies
deepey
kasihan aris
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!