Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Permintaan Pak Arman
Satu unit mobil pick up tengah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Ibu kota, sesekali sang sopir bersenandung mengikuti lantunan musik dangdut koplo yang ia putar di mobilnya.
Septian Gunawan, biasa di panggil Asep. Dia baru saja pulang mengantarkan Sayuran dari pasar di Jakarta, berniat untuk kembali ke Desanya.
Namun saat tengah melihat-lihat jalan tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang ia kenali.
“Itu Neng Ziya kan, anaknya Pak Arman?” gumamnya sendiri, dia pun menepikan mobilnya di depan gadis bernama Ziya itu.
“Neng Ziya kan?” sapanya setelah dia turun dari Pickup-nya.
Dia mengernyitkan dahi, sambil menatap wajah Pria yang menyapanya barusan, “saya Asep, Neng. Cucunya Mang Wawan, Neng ingat?”
“Asep, sial kenapa harus ketemu dia segala sih,” gumamnya sembari menggeret kopernya berusaha menjauh dari Pria yang mengaku namanya Asep.
“Neng mau kemana pake bawa koper segala?” dia tak menyerah dan terus mengikuti langkah Ziya.
“Bukan urusan Lo, pergi sana!” ketusnya.
‘Wah ada yang gak beres nih pasti,’ batin Asep bergumam.
“Mau saya anter Neng? Kebetulan saya bawa mobil,” tawarnya sambil mengikuti langkah Ziya perlahan.
“Gak usah, kita gak searah.” Tolaknya keras, dia melihat sekitar seakan tengah menunggu seseorang.
“Searah pasti Neng, Neng mau pulang kan, ayo saya anter.”
“Gak mau, pergi sana Lo!” Kesalnya.
Karena tak kunjung mendapat respon baik dari Ziya, Asep merampas koper milik gadis itu dari tangannya. Asep tahu Putri Pak Arman ini agak sedikit nakal, sudah dipastikan kalau dia kabur dari rumah.
“Asep!” teriaknya penuh kekesalan, “balikin koper gue!”
“Iya nanti saya balikin, sok Neng Ziya naik ke mobil dulu, biar saya anter Neng pulang ke rumah.”
“Gue gak mau pulang, ya udah Lo ambil aja tuh koper,” kesalnya hendak berlalu, namun Asep langsung menyeretnya dan menjejalkannya kedalam mobil.
“Brengsek! Lepasin gue, tolong-tolong saya diculik!”
Asep menghela napas berat melihat tingkah Anak dari mantan majikan Kakeknya itu. Sejak dulu Ziya ini selalu saja membuat masalah untuk Kakeknya, dia sering kabur dari rumah jika keinginannya di tentang oleh Pak Arman.
Karena jalanan ini cukup jauh dari pemukiman belum lagi suara bisingnya kendaraan yang berlalu lalang tak ada yang merespon sama sekali teriakan dari Ziya, membuat gadis itu terpaksa diam.
“Udah teriaknya Neng? Bisa kita pulang sekarang?”
Ziya melengos membuang muka.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di kediaman Pak Arman yakni Ayahnya Ziya.
“Ziya! Kamu darimana aja Nak, kamu tahu Papah marah besar karena kamu minggat dari rumah,” cecar Bu Yulia Ibunya Ziya.
Sedang yang dimarahi ngeloyor begitu saja masuk kedalam rumah.
“Sep, makasih ya kamu udah nganter Ziya kesini, saya benar-benar khawatir takut Ziya kenapa-kenapa.” Ucap Bu Yulia.
“Iya sama-sama Bu, saya juga kebetulan lewat jalan itu pas liat Neng Ziya bawa-bawa koper.”
“Anak itu emang bener-bener Sep, saya sama Pak Arman sudah kewalahan bingung harus dengan cara apa lagi menghadapinya,” curhat Bu Yulia.
“Ah saya ko malah curhat sama kamu, ayo masuk dulu saya buatin kopi.”
“Makasih Bu, tapi saya harus pulang perjalanannya lumayan jauh juga,” tolak Asep dengan sopan.
“Ya udah kamu nginep aja disini, besok baru pulang,” usulnya.
“Iya tapi–,”
“Sep, ayo masuk dulu,” ajak Pak Arman kali ini Asep tak bisa menolaknya, dengan terpaksa dia pun ikut masuk ke rumah dua lantai itu.
Sejak Kakeknya meninggal Asep jarang datang ke rumah Pak Arman, dulu saat libur sekolah Asep akan datang kesini untuk membantu Kakeknya bekerja sebagai tukang kebunnya Pak Arman.
Asep dan Pak Arman duduk di ruang tengah, sambil menyesap kopi yang telah disajikan.
“Berhubung kamu disini, saya ingin minta bantuan kamu Sep,” ungkap Pak Arman membuka percakapan.
“Minta bantuan apa Pak, silahkan saja, selagi saya mampu saya pasti akan bantu Bapak,” jawab Asep penuh keyakinan.
“Kalau gitu, kamu mau menikahi Ziya?” pertanyaan itu membuat Asep tersentak, dia tak menyangka mantan majikan Kakeknya itu akan mengajukan permintaan seperti itu padanya.
“Menikah, sama Neng Ziya?” Asep mengulangi ucapan Pak Arman takut jika apa yang dia dengar itu hanya kesalahan.
“Iya Sep, kamu mau kan nikahin Ziya?” Pak Arman mengulang kembali pertanyaannya.
“Tunggu, tapi Pak Neng Ziya pasti gak bakal setuju atuh nikah sama saya.”
“Cukup kamu yang setuju Sep, soal Ziya biar saya yang urus.”
“Tapi Pak–,”
“Saya tahu apa yang kamu pikirkan, Saya juga sudah menyelidiki siapa pacar Ziya dan saya benar-benar tidak bisa merestui hubungan mereka, selain hidupnya yang tak karuan dia juga pecandu alkohol, haruskah saya melepas putri saya pada Pria seperti itu. Saya tahu ini gak adil buat kamu Sep, tapi cuma kamu harapan saya satu-satunya. Hanya ini yang saya minta Sep, anggap ini sebagai balasan untuk budi saya dahulu sama kamu dan keluarga kamu,” ucapnya penuh permohonan.
Suara di kerongkongan Asep tiba-tiba menghilang, benar dia banyak berhutang budi pada Pak Arman, dari mulai biaya hidup dan sekolahnya Pak Arman yang menanggungnya, lalu sang Kakek juga pernah bilang jika bukan karena Pak Arman mungkin dia sudah dipenjara karena tak mampu melunasi hutang-hutangnya dulu.
Asep menarik napas dalam kemudian berkata dengan mantap, “baiklah Pak, saya mau menikahi Neng Ziya. Tapi ijinkan saya bicara dulu berdua sama Neng Ziya.”
“Baiklah, kamu boleh bicara sama Ziya.”
Malam harinya, apa yang Asep duga benar terjadi, Ziya menolak mentah-mentah usul sang Ayah agar dia menikah dengan Asep.
“Papah udah gila ya, kenapa Papah ingin aku nikah sama Si Asep, sampai kapan pun Ziya gak bakal mau nikah selain sama Regan!” teriaknya, Asep yang mendengar itu semua hanya bisa menghela napas berat, entah apa yang ada di pikiran Pak Arman sehingga dia ingin Pria biasa yang datang dari Desa seperti Asep menikahi putrinya.
“Papah sudah mengambil keputusan Ziya, suka atau tidak suka kamu akan tetap Papah nikahkan sama Asep!”
“Papah jahat, tega ya Papah sama anak sendiri!”
“Ini semua Papah lakuin demi kebaikan kamu Ziya, suatu hari kamu pasti akan berterimakasih karena keputusan Papah hari ini.”
“Berterimakasih, mimpi saja.”
Asep yang semula duduk kini bangkit, “Neng, boleh saya bicara berdua sama Neng?”
“Mau apa Lo, nggak gue gak mau,” tolaknya keras, matanya menatap sengit kearah Asep.
“Sebentar saja Neng, saya janji gak akan lama, lima menit juga udah cukup.”
“Lima menit, oke, awas kalau lu bohong.”
“Janji hanya lima menit.”
Ziya dan Asep pun pergi ke ruangan yang lain untuk bicara empat mata.
“Buruan kalau mau ngomong, waktunya dimulai dari sekarang,” nada suaranya ketus dan angkuh.
“Neng bener gak mau nikah sama saya?” pertanyaan yang keluar dari mulut Asep sontak mengundang gelak tawa dari Ziya.
“Lu udah gila, ya jelas jawabannya enggak lah, pake nanya lagi. Lagian lu kenapa pake setuju sama ide gila Papah soal pernikahan ini.”
“Saya udah janji sama Papahnya Neng, selama saya bisa saya akan melakukan apa pun yang dia minta, kalau Neng kekeh mau nolak pernikahan ini silahkan, saya akan ikutin semua yang Papah Neng minta saya lakukan,” tegasnya.
“Parah lu Sep, sumpah.” Ziya menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir dengan pemikiran pria di depannya itu bisa-bisanya dia mau menerima pernikahan yang dipaksakan begini.
“Kalau cuma itu yang mau Lo bilang ke gue, mending kita akhiri percakapan kita sekarang juga, karena gak akan ada hasilnya.” Ziya hendak berlalu namun perkataan Asep membuatnya kembali menghentikan langkahnya.
“Tiga bulan, hanya tiga bulan, saya akan menepati janji saya sama Pak Arman dan Neng bisa mengajukan satu permintaan sama Pak Arman.”
“Maksud lo?” Ziya belum bisa mencerna maksud dari perkataan Asep barusan.
“Ayo kita menikah hanya selama tiga bulan, setelah itu terserah Neng mau bagaimana,” usulnya.
“Maksudnya, kita nikah kontrak?”
“Bukan atuh Neng, nikahnya tetep beneran hanya waktunya cuma tiga bulan, setelah tiga bulan terserah Neng mau pisah atau gimana saya akan terima.”
“Oke, gue setuju tapi dengan syarat kita gak akan saling mencampuri urusan masing-masing dan satu lagi yang paling penting gak akan ada kontak fisik di antara kita,” jelas Ziya.
Asep mengangguk tanda mengerti.
“Hanya tiga bulankan, siapa takut.”
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄