Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Mulai Menunjukkan Sinarnya
Suasana tenang di ruang rawat mendadak pecah menjadi hiruk-pikuk medis. Perawat dan dokter jaga berhamburan masuk setelah mendengar alarm darurat yang ditekan Aira. Mereka segera melakukan pemeriksaan refleks, menyinari mata Kara dengan penlight, dan memantau lonjakan aktivitas pada monitor otak.
Aira dipaksa mundur ke sudut ruangan. Ia berdiri mematung, meremas jemarinya sendiri yang masih merasakan sisa tekanan dari jari Kara. Di luar pintu, Ibu Kara dan Genta yang baru saja tiba tampak panik, menempelkan wajah mereka di kaca pembatas.
"Ada respons motorik yang kuat," suara dokter terdengar di sela kesibukan mereka. "Refleks pupilnya mulai bereaksi, meskipun sangat lambat."
Di atas ranjang, tubuh Kara mulai bereaksi lebih hebat. Dadanya naik turun dengan tidak beraturan, seolah ia sedang mencoba bernapas tanpa bantuan alat. Dan kemudian, sebuah momen yang terasa seperti keabadian terjadi.
Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata Kara terbuka.
Tidak ada binar cahaya di sana. Matanya yang merah dan berkabut menatap kosong ke langit-langit ruangan. Ia tidak mengerjap saat lampu operasi yang terang menyorotnya. Ia hanya diam, dengan napas yang mulai tersengal-sengal.
"Kara..." bisik Aira dari kejauhan.
Kara memutar kepalanya ke arah suara itu. Meskipun matanya tidak bisa menangkap bayangan Aira, telinganya menangkap frekuensi yang selama setahun ini menjadi satu-satunya jangkar jiwanya.
"A... i... ra..."
Suara itu sangat parau, lebih mirip gesekan amplas daripada suara manusia. Namun bagi semua orang di ruangan itu, suara itu lebih indah daripada simfoni mana pun.
Setelah prosedur pelepasan ventilator yang mendebarkan, Kara akhirnya bisa bernapas sendiri secara mandiri. Ia masih sangat lemah, namun ia sadar sepenuhnya. Dokter memberikan waktu lima menit bagi keluarga untuk masuk.
Ibu Kara langsung memeluk kaki anaknya sambil menangis sejadi-jadinya. Ayah Kara berdiri di sisi lain, memegang bahu putranya dengan bangga sekaligus pedih.
"Yasa... ini Ibu, Nak," isak Ibu Kara.
Kara mencoba menggerakkan tangannya, meraba udara di depannya. "Bu... gelap. Masih gelap."
Kalimat itu menghujam hati semua orang. Setahun telah berlalu, dan kenyataan bahwa matanya telah mati secara permanen kini harus ia hadapi dalam keadaan sadar. Namun, Kara tidak menangis. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terekam di monitor.
"Aira mana?" tanya Kara lagi.
Aira mendekat, ia meraih tangan Kara dan menempelkannya ke pipinya yang basah. "Aku di sini, Kara. Tepat di sampingmu."
Kara meraba pipi Aira, merasakan air mata yang mengalir di sana. Jemarinya bergerak perlahan, mengenali kontur wajah yang sudah sangat lama tidak ia sentuh.
"Kamu... menangis lagi," gumam Kara dengan senyum yang sangat tipis dan bergetar. "Aku denger semuanya, Ra. Semua surat, semua teori kalkulus yang kamu baca... aku denger. Maaf, aku tidurnya kelamaan."
"Nggak apa-apa," jawab Aira sambil mencium tangan Kara. "Mau tidur seribu tahun lagi pun, aku bakal tetap nunggu."
Kara terdiam sejenak, ia mencoba merasakan tubuhnya sendiri. Ia menyadari kakinya tidak bisa digerakkan, dan dunianya kini benar-benar hanya berupa suara dan sentuhan. Namun, saat ia merasakan kehangatan dari orang-orang yang mengelilinginya, ia menyadari satu hal.
"Eyang benar," bisik Kara. "Matahari tidak butuh mata untuk tahu kapan harus terbit. Dan sekarang aku tahu... aku sudah bangun di tempat yang tepat."
Penantian setahun itu berakhir bukan dengan kesembuhan yang ajaib, melainkan dengan sebuah awal yang baru. Sebuah kehidupan di mana mereka tidak lagi mengejar kesempurnaan fisik, melainkan merayakan setiap detak jantung yang masih diberikan Tuhan.
***
Tahap awal setelah bangun dari koma selama setahun ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Tubuh Kara tidak lagi sekuat dulu; otot-otot kakinya mengalami atrofi (penyusutan), dan sistem sarafnya masih sering memberikan sinyal rasa sakit yang datang tiba-tiba. Namun, yang paling menantang adalah bagaimana Kara harus beradaptasi dengan kegelapan total yang kini menjadi rumah permanennya.
Satu minggu setelah sadar, sesi rehabilitasi pertama pun dimulai.
"Pelan-pelan, Kara. Rasakan tumpuannya di tangan Aira," ujar terapis fisik yang mendampingi mereka di ruang fisioterapi.
Kara duduk di kursi roda, mencoba berdiri dengan bertumpu pada palang besi dan bahu Aira. Keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya. Wajahnya memerah karena menahan beban tubuhnya sendiri yang terasa asing.
"Kaki kananku... aku tidak bisa merasakannya, Ra," bisik Kara, suaranya mengandung nada frustrasi yang tertahan. "Rasanya seperti menginjak awan, tidak ada pijakan."
Aira menggenggam jemari Kara yang gemetar di bahunya. "Itu karena kakimu juga sedang belajar 'berkenalan' lagi dengan lantai, Kara. Jangan dipaksa. Satu detik saja kamu berdiri tegak, itu sudah kemenangan besar buat kita hari ini."
Kara memejamkan matanya—tindakan yang kini ia lakukan secara alami karena tidak ada bedanya dengan membuka mata. Ia menarik napas panjang, membayangkan akar-akar pohon yang menghujam bumi. Dengan satu sentakan tenaga yang tersisa, ia berhasil berdiri tegak selama tiga detik sebelum akhirnya jatuh terduduk kembali ke kursi roda dengan napas terengah-engah.
"Tiga detik," Aira berbisik bangga sambil menyeka keringat di dahi Kara dengan handuk kecil. "Besok kita coba lima detik."
Sore harinya, mereka berada di taman rumah sakit. Aira ingin membantu Kara melatih indra pendengaran dan perabanya—indra yang sekarang menjadi jendela Kara untuk melihat dunia.
Aira mengambil sebuah benda dari saku celemeknya dan meletakkannya di telapak tangan Kara. "Tutup matamu—maksudku, fokus pada sentuhanmu. Coba tebak ini apa?"
Kara meraba benda itu. Teksturnya kasar di luar, namun ada bagian yang tajam dan sedikit berbulu. "Ini... kelopak bunga yang sudah kering?"
"Hampir benar. Itu bunga pinus dari pohon di dekat gerbang panti," jawab Aira.
Aira kemudian mengarahkan tangan Kara ke arah wajahnya sendiri. "Kalau yang ini?"
Kara meraba perlahan. Ia merasakan helai jilbab Aira yang halus, lalu turun ke dahi, dan berhenti di sudut mata Aira. Ia merasakan ada sisa kelembapan di sana.
"Ini... air mata yang belum kering?" tanya Kara lirih.
Aira tertegun, lalu tertawa kecil untuk menutupi harunya. "Bukan. Itu tetesan embun dari dahan pohon tadi. Aku nggak nangis lagi, Kara. Aku sudah janji, kan?"
Kara tersenyum, sebuah senyuman yang jauh lebih tenang dari Kara yang dulu. "Ra, aneh ya. Dulu aku harus melihat warna untuk tahu keindahan. Sekarang, aku bisa 'melihat' kebaikanmu hanya dari nada suaramu yang bergetar. Aku bisa melihat ketulusanmu dari caramu memegang tanganku supaya aku nggak jatuh."
"Kamu belajar banyak ya selama 'tidur' kemarin?" canda Aira.
"Aku belajar kalau dunia ini terlalu bising untuk dilihat hanya dengan mata," sahut Kara. "Aku ingin mulai menulis lagi, Ra. Bukan lewat pena, tapi lewat suara. Aku ingin mencatat semua yang aku rasakan lewat kamu."
Aira menatap Kara dengan penuh kekaguman. Meski fisiknya terbatas, jiwa Kara seolah sedang berevolusi menjadi sesuatu yang lebih indah dan bijaksana. Takdir memang telah mengambil penglihatannya, tapi sebagai gantinya, Takdir memberikan penglihatan hati yang jauh lebih tajam.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰