"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Gerbang Universitas Indonesia berdiri megah dengan warna kuning khasnya, menyambut ribuan mahasiswa baru yang datang membawa mimpi-mimpi besar. Di antara kerumunan mobil yang mengantre masuk dan koper-koper yang diseret di atas aspal, dua sosok yang kita kenal sedang berdiri di titik yang berbeda, menatap menara universitas dengan perasaan yang tak terlukiskan.
Aydan Al-Gazhi turun dari mobil ayahnya dengan ransel hitam di pundak. Tidak ada konvoi mewah, tidak ada perayaan berlebihan. Liam dan Ameera hanya mengantarnya sampai di depan asrama putra.
Aydan memilih Fakultas Teknik Mesin, mengikuti gairahnya pada dunia otomotif dan logika struktur. Sementara itu, di sisi lain kampus yang luasnya berhektar-hektar itu, Dayana turun dari taksi dengan jilbab berwarna cokelat susu yang rapi. Ia memilih Fakultas Psikologi, ingin mendalami jiwa manusia setelah ia sendiri mengalami transformasi jiwa yang hebat.
Namun, ada satu kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Universitas ini bagaikan kota kecil. Gedung Teknik dan Gedung Psikologi terletak di kutub yang berseberangan. Jaraknya dipisahkan oleh hutan kota yang rimbun, danau yang luas, dan rute bus kuning yang berputar jauh. Secara teknis, kemungkinan mereka berpapasan di koridor atau kantin fakultas adalah nol persen.
Kebijakan universitas mewajibkan mahasiswa baru untuk tinggal di asrama kampus pada tahun pertama. Bagi Aydan, asrama putra adalah tempat untuk menempa kemandirian. Kamarnya sederhana, berisi satu tempat tidur, meja belajar, dan lemari kayu. Di atas meja belajarnya, ia meletakkan sebuah foto kecil keluarganya dan sebuah mushaf saku.
Di malam pertama, Aydan duduk di tepi jendela asramanya, menatap lampu-lampu jalan yang temaram. Ia tahu Dayana ada di sini, di asrama putri yang jaraknya beberapa kilometer dari tempatnya berada. Pikiran tentang kecupan di pipi enam bulan lalu itu kembali muncul, sebuah ingatan yang kini ia kunci rapat-rapat di bawah label masa lalu, namun anehnya tetap terasa hangat setiap kali ia merasa lelah.
“Kita di bawah langit yang sama, namun di jalur yang berbeda,” batin Aydan. Ia sengaja tidak mengirim pesan. Ia ingin memberikan ruang bagi Dayana untuk menemukan jati dirinya sebagai seorang Muslimah tanpa bayang-bayang kehadirannya. Aydan ingin Dayana mencintai Tuhan karena kesadarannya sendiri, bukan karena ingin menarik perhatiannya.
Di sisi lain, di asrama putri, Dayana sedang merapikan mukena dan perlengkapan shalatnya. Kamarnya penuh dengan tawa mahasiswi lain, namun hatinya merasa sepi. Ia sering melihat ke arah jendela, membayangkan di mana posisi fakultas Teknik berada. Ia tahu Aydan adalah pria yang sangat disiplin, ia pasti sedang belajar atau sedang berada di masjid asrama.
Minggu-minggu pertama kuliah terasa sangat berat. Aydan tenggelam dalam kalkulus dan gambar teknik. Ia berangkat pagi sekali saat kabut masih menyelimuti danau, dan pulang saat langit sudah gelap.
Dunianya adalah bengkel, laboratorium, dan perpustakaan pusat. Di asrama, ia dikenal sebagai sosok yang religius namun tetap asyik diajak bicara soal mesin motor.
Dayana, di sisi lain, mulai menikmati perannya sebagai mahasiswa Psikologi. Ia aktif dalam kajian-kajian keislaman di kampusnya. Hijabnya yang dulu dipasang karena bimbingan Ameera, kini ia kenakan dengan penuh keyakinan diri. Ia sering membawa buku di taman fakultas, namun matanya selalu waspada, secara tidak sadar mencari sosok jangkung dengan langkah tegap yang sangat ia kenali.
Sayangnya, takdir seolah sedang bermain petak umpet. Setiap kali Dayana menaiki Bus Kuning, dari halte Psikologi, Aydan baru saja turun di halte Teknik. Saat Aydan sedang shalat Dzuhur di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Dayana sedang ada kelas tambahan di gedung paling ujung. Jarak fakultas mereka benar-benar menjadi tembok pemisah yang nyata.
Suatu malam di kantin asrama yang ramai, Aydan sedang duduk bersama teman-teman barunya dari Teknik. Mereka membicarakan tentang gadis-gadis tercantik di angkatan mereka. Nama Dayana dari Psikologi sempat muncul dalam percakapan itu.
"Katanya ada maba Psikologi yang cantiknya luar biasa, tapi tertutup banget. Namanya Dayana," celetuk salah satu teman Aydan.
Tangan Aydan yang sedang memegang sendok sempat berhenti sejenak. Ia hanya mendengarkan dalam diam, ada rasa cemburu kecil yang menggelitik, namun ia segera menepisnya dengan istighfar. Ia tahu Dayana adalah permata, dan permata memang akan selalu menarik perhatian, namun ia bersyukur Dayana kini tahu bagaimana cara menjaga dirinya sendiri.
Sementara itu, Dayana sering kali merasa ingin menyerah dan mengirim pesan pada Aydan.
“Ay, aku di halte Psikologi. Kamu di mana?” Namun ia selalu menghapus draf pesan itu. Ia ingat perkataan Bunda Ameera:
“Wanita yang berharga adalah dia yang berani bersabar menanti waktu yang tepat.”
Dayana ingin membuktikan pada Aydan bahwa ia bisa berdiri sendiri. Ia ingin saat mereka bertemu nanti, ia bukan lagi gadis nakal yang butuh diselamatkan, melainkan wanita tangguh yang siap menjadi pendamping yang setara.
Suatu sore yang hujan, Aydan terpaksa berteduh di sebuah halte yang jarang ia kunjungi karena motornya sedang diservis. Di seberang jalan, ia melihat sebuah bus kuning melintas pelan. Melalui kaca bus yang berembun, ia seperti melihat sosok wanita dengan jilbab cokelat susu sedang menatap ke luar jendela dengan pandangan melamun.
Jantung Aydan berdegup kencang. Ia tahu itu Dayana. Ia ingin melambaikan tangan, atau setidaknya memanggil namanya. Namun bus itu terus melaju, membawa Dayana pergi menuju dunianya yang jauh di seberang hutan kampus.
Aydan tersenyum pahit. Ia menyadari bahwa di universitas ini, mereka sedang menjalani ujian yang lebih besar daripada ujian akhir sekolah: ujian konsistensi. Jarak gedung yang jauh hanyalah simbol dari jarak yang harus mereka jaga demi menjaga kesucian niat mereka.
Di dalam bus, Dayana menyeka embun di kaca. Ia tidak melihat Aydan di halte itu, namun ia merasakan sebuah getaran aneh yang membuatnya teringat pada jaket balap kulit milik Aydan. Ia merapatkan sweater yang ia kenakan, membayangkan bahwa suatu hari nanti, jarak antar fakultas ini tidak akan lagi berarti saat takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di gerbang yang sesungguhnya, bukan gerbang universitas, melainkan gerbang pernikahan yang pernah dilalui Liam dan Ameera.
Malam itu, di asrama masing-masing, dua orang mahasiswa baru itu menekuni buku-buku mereka dengan semangat yang sama. Aydan dengan mimpinya membangun mesin masa depan, dan Dayana dengan mimpinya menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka.
Mereka terpisah oleh ribuan langkah dan puluhan gedung, namun doa-doa mereka bertemu di langit yang sama, di waktu yang sama, memohon pada Zat yang memegang hati manusia agar jarak ini adalah cara terbaik untuk mereka saling memantaskan diri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰