Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin Yang Meminta ingatan
Dunia bagi Kala Danuarta adalah rangkaian angka yang tidak pernah sinkron. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam mekanik kuno dengan sasis titanium berdenyut—bukan berdetak. Jam itu tidak menunjukkan waktu Jakarta atau London; jam itu menunjukkan sisa kewarasan yang ia miliki.
Kala duduk di sudut kafe remang-remang, menatap pantulan dirinya di jendela yang basah karena hujan. Wajahnya lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tajam. Di hadapannya, seorang gadis tertawa sambil mengaduk latte. Nama gadis itu adalah Arumi. Setidaknya, itu yang tertulis di catatan kecil di saku jaket Kala.
Kala sudah melupakan suara tawa Arumi. Kemarin, ia menukar ingatan tentang suara itu dengan sepuluh menit di masa lalu untuk mencegah Arumi tertusuk pecahan kaca saat kecelakaan beruntun.
"Kala? Kamu melamun lagi," suara Arumi memecah keheningan.
Kala tersenyum pahit. "Hanya memikirkan... betapa cepatnya waktu berlalu."
"Dasar puitis gadungan," canda Arumi.
Tepat saat itu, jam di tangan Kala bergetar hebat. Jarum detiknya berputar berlawanan arah jarum jam. Sensor Anomali. Dalam hitungan mundur 300 detik, sebuah truk kontainer akan mengalami rem blong di persimpangan depan kafe ini. Arumi akan keluar untuk mengambil payungnya yang tertinggal di mobil, dan... duarr.
Kala harus pergi. Sekarang.
Ia berdiri tanpa pamit, membuat Arumi terheran-heran. Kala berlari ke arah gang sempit di samping kafe, tempat persembunyiannya. Ia membuka tutup jam sakunya, memutar tuas kecil di sampingnya. Logam dingin itu mulai panas, membakar kulit pergelangan tangannya.
"Tukar," bisik Kala. "Ingatan tentang hari pertama kami bertemu di perpustakaan... ambil saja. Berikan aku sepuluh menit di tubuh orang lain."
Kilatan cahaya biru elektrik menghantam saraf matanya. Kesadaran Kala seperti ditarik keluar dari lubuk tengkoraknya dengan paksa. Rasa mual menghantam, dunia berputar, dan tiba-tiba—
Hap.
Pandangannya berubah. Ia tidak lagi setinggi 180 cm. Tangannya kasar, berbau rokok dan oli. Ia melihat ke spion. Ia berada di dalam kabin truk. Ia adalah si sopir truk itu sendiri.
"Sial," umpat Kala dengan suara yang bukan miliknya. Berat, serak, dan tua.
Ia menginjak rem. Kosong. Pedal itu ambles ke lantai kabin. Truk kontainer seberat puluhan ton ini meluncur deras menuruni aspal basah menuju persimpangan kafe. Di sana, ia melihat sosok Arumi baru saja melangkah keluar pintu kafe, membuka payung kuningnya.
"Minggir, Arumi! Minggir!" Kala berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan si sopir asli yang kini jiwanya entah ada di mana.
Kala membanting setir ke kanan. Ia harus menabrakkan truk ini ke pembatas jalan beton sebelum mencapai persimpangan. Tapi ada masalah: seorang pedagang kaki lima sedang menyeberang di sana. Jika ia membanting setir sekarang, pedagang itu mati. Jika ia lurus, Arumi mati.
Sepuluh menit. 600 detik.
Kala berkeringat dingin. Otak teknisinya bekerja cepat. Ia mengganti gigi transmisi secara paksa ke gigi rendah. Bunyi logam beradu yang memilukan telinga terdengar dari bawah kabin. Truk terguncang hebat. Kecepatannya melambat sedikit, tapi tidak cukup.
"Ayo, sedikit lagi!"
Ia melihat tuas rem tangan. Ia menariknya sekuat tenaga hingga otot lengannya—lengan si sopir ini—terasa hampir putus. Truk itu mulai melintir. Ban belakangnya menjerit, menciptakan asap putih di tengah hujan.
BRAKKKK!
Bagian belakang truk menyapu lampu jalan dan berhenti tepat satu meter sebelum persimpangan. Arumi berdiri mematung, payung kuningnya jatuh ke aspal. Ia selamat.
Pandangan Kala mulai kabur. Waktunya habis. Kesadarannya mulai ditarik kembali ke tubuh aslinya di gang sempit. Sebelum benar-benar pergi, ia melihat Arumi berlari ke arah truk, wajahnya penuh ketakutan.
Zapp.
Kala tersungkur di tanah gang yang becek. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang seolah habis lari maraton. Ia melihat jam tangannya. Jarum detiknya kembali normal.
Ia mencoba mengingat sesuatu. Sesuatu tentang perpustakaan. Ia ingat ia pernah ke sana. Ia ingat ada rak buku yang tinggi. Tapi... siapa yang ia temui di sana? Wajah siapa yang duduk di depannya saat itu?
Kosong. Memori itu terhapus bersih, digantikan oleh abu-abu yang hampa.
Kala berjalan keluar dari gang dengan gontai. Ia melihat kerumunan orang di depan kafe. Arumi di sana, sedang ditenangkan oleh orang-orang. Kala mendekat, hendak memastikan ia baik-baik saja.
Arumi menoleh. Matanya bertemu dengan mata Kala.
"Mas... Mas nggak apa-apa?" tanya Arumi.
Kala terdiam. Ada yang aneh. Arumi menatapnya seolah Kala adalah orang asing yang kebetulan lewat.
"Kamu... kamu kenal saya?" tanya Kala lirih.
Arumi mengernyitkan dahi, tertawa kecil yang terdengar canggung. "Nggak, Mas. Tapi Mas kelihatan pucat banget habis liat kecelakaan tadi. Mau saya panggilkan minum?"
Dunia Kala runtuh. Mesin itu tidak hanya mengambil ingatannya tentang Arumi. Mesin itu juga menghapus keberadaan Kala dari ingatan Arumi.
Kala Danuarta menyelamatkan nyawa Arumi, tapi ia baru saja membunuh eksistensinya sendiri di hati gadis itu.
Ia berbalik, berjalan menjauh di bawah hujan tanpa payung. Di sakunya, jam mekanik itu bergetar lagi. Seolah berbisik bahwa ini baru permulaan. Masih ada sisa waktu yang harus ia tebus, dan masih banyak hal yang harus ia lupakan.