NovelToon NovelToon
Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mom_cgs

Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.

...

​Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.

​"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.


​Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."

...

​Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.

​"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menggoda Banget

Evander sempat tertegun mendengar kejujuran Yumna yang nyeleneh itu, tapi bukannya menjauh, ia justru semakin menipiskan jarak. Tangan yang tadinya hanya mengusap tali baju Yumna, kini perlahan turun menyentuh pundaknya yang polos. Kulit mereka yang bersentuhan seolah memercikkan aliran listrik.

​"Kalau begitu, khilaf saja, saya persilahkan," suara Evander terdengar parau dan dalam. "Karena saya juga sedang berjuang setengah mati untuk tidak melakukan hal yang sama."

​Yumna memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa merasakan hangatnya napas Evander di permukaan kulit wajahnya. Detik-detik berlalu dengan sangat lambat. Keheningan kamar itu hanya diisi oleh suara detak jantung mereka yang saling berpacu, seolah sedang berlomba siapa yang akan menyerah duluan pada gairah yang membuncah.

​Tepat saat bibir Evander nyaris menyentuh kening Yumna, tiba-tiba suara Vera memecah keheningan dengan nada alarm yang mendesak.

​"Maaf mengganggu, Tuan Evander. Ada panggilan darurat dari Mahesa. Beliau mengatakan ini menyangkut insiden sabotase di gudang distribusi pusat. Haruskah saya sambungkan ke speaker kamar?"

Suasana panas itu mendadak buyar seperti tersiram air es. Evander menjauhkan wajahnya dengan sentakan napas frustrasi. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki Mahesa, merutuki gudang, dan merutuki waktu yang sama sekali tidak berpihak padanya.

​Yumna langsung membuka mata, merasa separuh lega tapi separuh lagi... kecewa? Ia cepat-cepat lompat ke ranjang, kemudian menarik selimut di dekatnya dan membungkus tubuhnya rapat-rapat seperti kepompong.

​"K-kantor sana, Mas! Kerja! Cuan lebih penting!" seru Yumna dengan nada panik yang dibuat-buat, mencoba menutupi kegugupannya.

Evander menatap Yumna sejenak, lalu ia mendengus rendah sambil mengusap wajahnya. "Vera, sambungkan ke ponsel saya saja. Saya ke ruang kerja sekarang."

Sebelum keluar, Evander berbalik sekali lagi di ambang pintu. Ia menatap Yumna yang sudah terbungkus selimut hingga ke leher.

​"Tidurlah, Yumna. Lain kali jangan lagi mencoba untuk menggoda saya dengan berpakaian seperti itu. Sekarang ganti dulu bajumu dengan yang lebih... tertutup. Sebelum saya benar-benar memutuskan untuk mengabaikan panggilan Mahesa dan kembali ke kamar ini."

​Blam!

​Pintu tertutup. Yumna langsung ambruk ke atas kasur, menenggelamkan wajahnya ke bantal sambil berteriak tanpa suara.

​"Gila! Gila! Hampir aja aku jadi Nyonya Moreno beneran! Kira-kira kalau nikah kontrak begini, boleh khilaf gak sih?"

Yumna berguling-guling di atas kasur, menendang-nendang udara seperti orang kesurupan. Wajahnya disembunyikan di balik bantal yang sudah tidak berbentuk lagi karena ia remas saking gemasnya.

​"Tapi untung aku gak khilaf! Tuh CEO beneran menggoda... Aaaah! Kembalikan kewarasanku!" teriaknya teredam bantal.

​Bayangan dada bidang Evander yang sedikit basah dan tatapan matanya yang seperti mau melahap Yumna hidup-hidup terus menari-nari di pelupuk matanya. Yumna mengusap wajahnya kasar, mencoba menghilangkan sensasi panas yang masih tertinggal di pundaknya bekas sentuhan jari Evander tadi.

​"Ingat Yumna, ingat! Dia itu kulkas dua pintu! Dia itu bos galak yang nikahin kamu dengan kontrak! Jangan sampai kamu lupa dan terpesona," gumamnya pada diri sendiri, mencoba melakukan prosedur brainwashing darurat.

"Tapi... kulkas begitu, tadi kok jadi microwave? Panas banget!"

​Yumna langsung bangun dan duduk tegak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia harus segera berganti pakaian sebelum "setan khilaf" datang lagi mengetuk pintu otaknya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar daster batik lengan panjang yang paling tebal dan paling tidak estetik yang ia punya dari dasar lemari.

"Nah, begini kan aman. Mau Mas Evan masuk lagi pun, dia bakal ilfil lihat aku kayak ibu-ibu mau ke pasar begini," ucapnya puas sambil bercermin.

Meskipun hatinya masih berdegup kencang, Yumna akhirnya bisa sedikit tenang. Namun, di balik kelegaan itu, ada secuil perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Sebagian dirinya merasa bersyukur Mahesa menelepon, tapi sebagian kecil lainnya... ah, Yumna tidak berani mengakuinya.

Sementara itu, di ruang kerja yang letaknya hanya beberapa meter dari kamar Yumna, Evander berdiri di depan jendela besar sambil memegang ponsel di telinganya. Suara Mahesa di seberang sana sedang menjelaskan detail kerusakan di gudang, tapi pikiran Evander masih tertinggal di kamar sebelah.

"Tuan? Anda masih di sana?" tanya Mahesa setelah menyadari bosnya terdiam cukup lama.

​Evander berdehem, mencoba memulihkan otoritas suaranya yang sempat goyah. "Ya. Pastikan tim keamanan mengecek CCTV. Saya curiga ini bukan sabotase biasa. Jika ada keterlibatan orang dalam, langsung amankan."

​"Baik, Tuan. Oh, satu lagi... Tuan Desta terlihat meninggalkan rumah sakit satu jam sebelum insiden gudang terjadi."

​Rahang Evander mengeras. "Sudah saya duga, dia tidak akan betah berlama-lama melayani Cindy. Pantau terus pergerakannya. Jangan biarkan dia mendekati Yumna besok. Jika terlihat meresahkan, laporkan ke saya."

​Setelah menutup telepon, Evander menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kerja yang dingin. Ia memejamkan mata, namun yang muncul justru wajah Yumna dengan baju tidur tipisnya tadi.

​Evander mendesah frustrasi. Ia melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul satu pagi. "Sepertinya saya butuh mandi air dingin lagi," gumamnya pasrah.

...

​Pagi harinya, Yumna turun ke dapur dengan langkah penuh percaya diri. Ia sengaja tetap memakai daster batik favoritnya yang bermotif bunga-bunga besar untuk "menetralkan" suasana semalam.

​Namun langkahnya terhenti di ambang pintu dapur.

​Evander sudah di sana. Ia mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tangannya yang maskulin. Di tangannya ada sebuah teko kopi, dan aroma kafein yang harum sudah memenuhi ruangan.

"Pagi," sapa Evander tanpa menoleh, suaranya terdengar segar seolah kejadian "hampir khilaf" semalam tidak pernah terjadi.

Yumna berdehem, mencoba bersikap biasa saja. "Pagi, Mas. Wah... beneran dibuatkan kopi nih? Jadi enak banget aku-nya. Seorang Ceo Tergalak, menyempatkan waktu berharganya untuk membuatkan istrinya kopi."

​Evander berbalik, meletakkan secangkir kopi hitam di depan Yumna. Matanya menyapu penampilan Yumna dari atas ke bawah, dari daster batik kedodoran sampai rambut yang dicepol asal-asalan.

​"Itu pakaian apa, Yumna? Kamu mau demo atau mau ke sawah? Kenapa terbungkus aneh begitu?" tanya Evander dengan alis terangkat.

​Yumna nyengir lebar, merasa sudah menang selangkah. "Ini namanya gaya 'Anti-Khilaf', Mas. Gimana? Masih nafsu nggak lihat aku kalau begini? Aku udah effort banget loh, supaya terlihat aneh."

​Evander meletakkan cangkirnya perlahan, lalu melangkah mendekati Yumna. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan, membuat Yumna refleks mundur menabrak meja dapur.

​"Yumna, kamu sengaja membahas hal semalam untuk mengingatkan saya kembali?" tanya Evander berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk Yumna berdiri kembali berdiri. "Buat saya, batik atau sutra tidak ada bedanya. Masalahnya bukan di pakaianmu, tapi di mata saya."

1
Bunda
seikat 🌹 untukmu kak,💪 berkarya😘
Mom_cgs: Makasih Kakak Say☺️🫰
total 1 replies
Bunda
akhirnya belah duren🤭🤭🤭
Mom_cgs: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
kheai🐝
akhirnyaagolll🤣
Mom_cgs: wkwkwk😄
total 1 replies
Bunda
jangan mimpi ketinggian,awas kalau jatuh sakit🤣🤣🤣🤣
Mom_cgs: Ck, masih pede aja tuh cecurut ya Kak😄
total 1 replies
Bunda
muka badak😂
Bunda
idihhhh,g tahu malu si desta
Mom_cgs: Defenisi si muka tembok itu Kak
total 1 replies
Bunda
nah gitu g usah panggil Mas😃
Bunda
jangan cari2 kesempatan ya mas van😃😃
Mom_cgs: Manfaatin banget nih Ceo😄
total 1 replies
Bunda
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mom_cgs: Ternodai harga diri ceo ya Kak😅
total 1 replies
kheai🐝
akhirnya pemirsa penasaran 😄
Mom_cgs: hahaha
total 1 replies
Bunda
seikat 🌹 dan 1 vote untuk pengantin baru kita/Angry//Angry//Angry/
Mom_cgs: Jangan lupa doanya Kak😄
total 1 replies
Bunda
sakit ya🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda
bilang aja masih gengsi😃😃😃
Mom_cgs: Gengsinya segede gaban itu Kak🤣
total 1 replies
Bunda
tetangga kepo😂😂😂
Mom_cgs: Defenisi tetangga pada umumnya ya Kak😄
total 1 replies
Kayla Callista
🤣🤣🤣tragedi aroma teraphi
Mom_cgs: Ada-ada aja si Yumna ini😄
total 1 replies
Kayla Callista
puas banget🤣🤣🤣🤣
Mom_cgs: Sama Kak😄
total 1 replies
Kayla Callista
🤣🤣bau kemewahan
Mom_cgs: Paket komplit itu Kak😄
total 1 replies
Bunda
nyimak🙏
Mom_cgs: Makasih Kak, lanjuut yaa☺️🫰
total 1 replies
Greenindya
desta pengen aku hantam kepalanya sampai copot deh daripada punya kepala tapi ga dipakai
Greenindya: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Shyfa Andira Rahmi
yayasan kucing terlantar🤪🤪🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!