NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Blood and Throne

Berita tentang kehamilan Jennie menyebar seperti api di dalam mansion Vincentius. Ny. Maurel menangis bahagia sambil memeluk Jennie, sementara Kenzhi melompat-lompat kegirangan karena mimpinya memiliki adik akan segera terwujud. Namun, di balik tawa dan perayaan itu, Jennie merasakan sebuah belati imajiner yang terus mengintai punggungnya.

Ia tahu, Dante tidak sedang menggertak.

Insting Sang Ratu

Dua hari setelah pengumuman kehamilan, Jennie duduk di ruang makan, memperhatikan Limario yang tampak begitu protektif. Pria itu bahkan menyewa koki khusus nutrisi dan menambah sepuluh pengawal elit hanya untuk menjaga pintu kamar mereka.

"Lim," panggil Jennie pelan. "Aku ingin kau memeriksa ulang semua laporan audit dari kantor cabang di Singapura yang dikelola Dante."

Limario meletakkan sendoknya, menatap Jennie dengan dahi berkerut. "Kenapa tiba-tiba kau tertarik pada Dante? Dia memang licik, tapi dia masih darah Vincentius, Jennie. Dia baru saja kembali."

"Justru karena dia baru kembali, Lim," Jennie mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar paranoid. "Aku melihat cara dia menatapmu di pemakaman. Itu bukan tatapan rindu seorang sepupu. Itu tatapan seorang pria yang ingin menggantikan posisimu."

Limario terdiam. Insting mafianya sebenarnya mengatakan hal yang sama, namun rasa hormatnya pada keluarga besar seringkali menjadi titik butanya. "Aku akan menyuruh Hans menyelidikinya secara diam-diam. Puas?"

Jennie mengangguk, namun dalam hatinya ia tahu Hans saja tidak cukup. Ia harus bergerak sendiri sebelum Dante melakukan langkah pertamanya.

Serangan Tak Terlihat

Sore harinya, saat Jennie hendak meminum susu kehamilan yang disiapkan oleh pelayan baru, ia mencium aroma yang sedikit aneh. Aroma itu sangat samar, menyerupai bunga lili yang terlalu manis—aroma yang di masa depannya dikenal sebagai bahan dasar obat pengencer darah yang sangat kuat.

Jika seorang wanita hamil meminumnya, keguguran hebat akan terjadi dalam hitungan jam.

Jennie segera menuangkan susu itu ke dalam pot bunga, lalu memanggil pelayan tersebut. "Siapa yang menyiapkan susu ini?"

"T-tuan Dante yang membawakannya dari dapur, Nyonya. Katanya itu susu organik khusus dari Singapura," jawab pelayan itu gemetar.

Darah Jennie mendidih. Dante sudah mulai bertindak terang-terangan di dalam rumahnya sendiri. Tanpa menunggu sedetik pun, Jennie melangkah menuju paviliun tamu tempat Dante menginap.

Konfrontasi Berdarah

Jennie membanting pintu paviliun. Dante sedang duduk santai sambil membaca buku, seolah-olah dia adalah pria paling tidak berdosa di dunia.

"Kau mencoba membunuh anakku, Dante?" desis Jennie, melemparkan gelas kosong ke arah meja pria itu hingga pecah berkeping-keping.

Dante menutup bukunya, tersenyum dingin. "Itu bukan pembunuhan, Jennie. Itu adalah eliminasi risiko. Jika anak itu lahir, Limario akan menjadi lemah karena dia punya terlalu banyak hal untuk dilindungi. Di masa depan yang aku lihat, Limario mati karena dia mencoba menyelamatkanmu dan anak haram yang kau kandung saat itu."

"Ini bukan anak haram! Ini anak Limario!" teriak Jennie.

"Sama saja! Dia tetap akan menjadi beban!" Dante berdiri, auranya mendadak sangat mengintimidasi. "Kenapa kau begitu keras kepala? Pergilah dengan tenang, ambil uang yang kau mau, dan biarkan Limario menjadi raja yang sesungguhnya."

"Aku tidak akan pergi," Jennie mendekat, menatap tepat ke mata Dante. "Dan jika kau mencoba menyentuh anak ini lagi, aku bersumpah... aku akan mengirimmu kembali ke kematian lebih cepat daripada yang kau alami di kehidupan sebelumnya."

Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka kembali. Limario berdiri di sana, wajahnya gelap seperti badai yang siap meledak. Ia melihat pecahan gelas dan wajah Jennie yang memerah karena marah.

"Limario..." Dante mencoba bicara, namun Limario meluncurkan satu pukulan telak ke rahang Dante hingga pria itu tersungkur ke lantai.

"Aku sudah mendengar semuanya dari balik pintu, Dante," suara Limario terdengar seperti bisikan iblis. "Kau mencoba menyentuh istri dan calon anakku?"

Limario menarik kerah baju Dante, mengangkatnya dengan satu tangan. "Darah Vincentius yang mengalir di tubuhmu adalah satu-satunya alasan kenapa kepalamu belum lepas dari lehermu sekarang. Tapi itu tidak akan melindungimu lebih lama lagi."

Pengusiran dan Ancaman Baru

Limario menyeret Dante keluar dari mansion di depan seluruh pelayan dan pengawal. "Mulai detik ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga ini. Jika aku melihat wajahmu dalam radius satu kilometer dari keluargaku, aku sendiri yang akan mengantarmu ke liang lahat."

Dante mengusap darah di bibirnya, tertawa kecil sambil menatap Limario dan Jennie. "Kau membuat kesalahan besar, Lim. Kau lebih memilih wanita yang pernah mengkhianatimu daripada saudaramu sendiri. Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa di akhir."

Setelah Dante pergi, Limario memeluk Jennie yang masih gemetar. "Maafkan aku... aku seharusnya mendengarkanmu sejak awal."

Jennie membenamkan wajahnya di dada Limario. Ia menang, tapi ia tahu ini hanya permulaan. Dante memiliki sekutu yang tidak terduga.

Malam itu, di sebuah tempat

persembunyian, Dante mengangkat teleponnya. "Rencana A gagal. Limario sudah tahu. Sekarang kita gunakan rencana B. Aktifkan semua agen di perusahaan. Kita buat Vincentius Group bangkrut dalam semalam."

Di ujung telepon, sebuah suara wanita yang sangat familiar menjawab, "Dengan senang hati, Dante."

Itu suara Sarah, yang ternyata tidak tertangkap sepenuhnya dan kini bekerja untuk Dante.

Limario tidak melepaskan dekapannya. Ia bisa merasakan detak jantung Jennie yang tidak beraturan di balik dadanya. Amarahnya masih meluap, namun melihat Jennie yang sedang mengandung anaknya membuat Limario berusaha keras menekan sisi monster dalam dirinya agar tidak menakuti sang istri.

Sumpah Sang Mafia

"Lim, dia tidak akan berhenti," bisik Jennie parau. "Dante bukan hanya sekadar ingin mengusirku. Dia merasa dirinya adalah juru selamatmu. Pria seperti itu lebih berbahaya daripada musuh terang-terangan."

Limario mengelus rambut Jennie, lalu mengecup keningnya lama. "Dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, Jennie. Dia menganggap cintaku padamu sebagai kelemahan, padahal kau adalah alasan kenapa aku masih ingin tetap menjadi manusia."

Limario memanggil Hans yang berdiri kaku di ambang pintu. "Hans, kumpulkan semua kepala divisi keamanan. Mulai malam ini, status mansion dan kantor pusat adalah Red Alert. Dan kau..." Limario menunjuk salah satu pengawal paling senior, "...pergi ke kediaman keluarga Choi yang sudah disita. Cari tahu apakah ada jejak Dante atau Sarah di sana. Aku tidak percaya Sarah bisa bergerak sendirian."

Malam yang Gelisah

Setelah konfrontasi itu, Jennie tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun Dante sudah diusir, ia tahu bahwa di kehidupan sebelumnya, Dante memiliki jaringan koneksi di pasar gelap yang bahkan Limario pun sulit melacaknya.

Jennie beranjak dari ranjang dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan Limario yang baru saja terlelap setelah menjaganya berjam-jam. Ia pergi ke ruang kerja, menyalakan laptop rahasianya yang sudah terenkripsi.

Ia mulai mengetik nama-nama perusahaan cangkang yang dulu digunakan Dante untuk mencuci uang keluarga Vincentius di masa depan. “Jika alurnya masih sama, Dante akan mulai menyerang saham Vincentius Group melalui perusahaan-perusahaan ini,” gumamnya.

Namun, saat matanya fokus pada layar, sebuah jendela pop-up muncul. Sebuah pesan terenkripsi masuk:

"Selamat atas kehamilanmu, Jennie. Tapi tahukah kau? Di hari kau melahirkan nanti, adalah hari yang sama Limario akan kehilangan takhtanya. Aku akan memastikan ramalanku menjadi kenyataan." - D

Jennie mengepalkan tangannya. "Tidak kali ini, Dante. Tidak kali ini."

Langkah Balasan Sang Ratu

Alih-alih takut, Jennie justru membalas pesan itu dengan satu kalimat singkat:

"Takhta Limario bukan berasal dari harta, tapi dariku. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Jennie segera menghubungi kontak rahasia yang ia bangun selama beberapa bulan terakhir—sekelompok peretas elit yang ia bayar dengan perhiasan mewahnya sendiri.

"Aktifkan protokol 'Shadow Fall'. Alihkan semua dana dari perusahaan cangkang atas nama Dante Vincentius ke rekening yayasan panti asuhan Ibu Maurel secara anonim. Biarkan dia bangkrut sebelum dia sempat menyerang."

Pagi yang Mengejutkan

Keesokan paginya, Limario terbangun dan menemukan Jennie sudah rapi dengan pakaian kerja yang elegan. Ia tampak segar, seolah ketakutan semalam hanyalah mimpi.

"Kau mau ke mana?" tanya Limario, menarik tangan Jennie agar kembali ke pelukannya di tempat tidur.

"Aku akan ikut ke kantor pusat hari ini, Lim. Ada sesuatu yang harus aku tunjukkan padamu tentang sistem keamanan finansial kita," jawab Jennie sambil mencium pipi suaminya.

Saat mereka sampai di kantor, suasana sangat tegang. Para pemegang saham sedang berkumpul karena ada rumor tentang penarikan dana besar-besaran secara ilegal. Namun, saat rapat dimulai, seorang kurir masuk membawa dokumen resmi.

"Tuan Vincentius, ada laporan bahwa seseorang mencoba meretas sistem kita semalam, namun semua dana yang mereka coba curi justru dialihkan ke rekening yayasan amal keluarga Anda oleh sistem otomatis yang tidak dikenal," lapor asisten Limario dengan wajah bingung.

Limario melirik Jennie yang sedang duduk dengan tenang sambil menyesap tehnya. Ia menyadari sesuatu. Istrinya bukan hanya sekadar wanita yang kembali untuk bertaubat, tapi dia adalah sekutu paling mematikan yang pernah ia miliki.

Limario tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan yang mengerikan bagi musuh-musuhnya. "Sepertinya tikus kita terjepit perangkapnya sendiri bahkan sebelum sempat mencicit."

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!