Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sindrom Penebusan Dosa
Perjalanan balik ke Jakarta terasa jauh lebih cepat, tapi sepuluh kali lipat lebih menegangkan. Bukan karena Genta nyetir kayak pembalap F1, tapi karena tingkah lakunya yang mulai masuk tahap... aneh. Aneh banget.
Sepanjang jalan, Genta nggak lagi ngeritik cara duduk gue atau ngeluh soal lagu-lagu galau di radio. Dia justru ngelakuin hal-hal yang biasanya cuma dilakuin tokoh utama cowok di novel-novel Kaka’s, sejenis sindrom penebusan dosa yang mencolok banget.
Pas kami mampir di rest area karena hujan deras, Genta nggak bolehin gue keluar buat beli kopi. "Tetap di sini. Udara di luar nggak bagus buat paru-paru kamu," ucapnya singkat, terus dia lari nembus hujan cuma buat bawain secangkir kopi panas sama roti bakar cokelat.
"Dia beneran mau jadi Kaka's ya?" gumam gue sambil merhatiin Genta yang basah kuyup pas balik ke mobil.
Sesampainya di Jakarta, badai skandal plagiarisme itu sudah nunggu kami. Kantor Aksara Muda terasa mencekam. Pak Hermawan sudah nunggu di ruang rapat utama dengan wajah yang gelap.
Tapi di tengah tekanan itu, Genta justru makin protektif. Pas AC kantor dinyalain terlalu dingin dan gue mulai menggigil sambil meluk naskah, Genta yang lagi debat panas sama tim hukum tiba-tiba berhenti bicara. Tanpa sepatah kata pun, dia jalan ke panel kontrol dan matiin AC di area meja gue.
"Dingin bisa merusak konsentrasi kerja," dalihnya pas semua orang natap dia bingung. Gue cuma bisa nunduk, nyembunyiin pipi gue yang mulai panas.
Puncaknya pas jam pulang kerja. Hujan turun deras banget di Jakarta, bikin macet menggila dan ojek online hampir mustahil didapetin. Gue berdiri di lobi kantor dengan wajah lesu, natap layar HP yang terus nampilin tulisan "Mencari Pengemudi".
Tiba-tiba, ada notifikasi masuk ke HP gue.
"Taksi Premium warna hitam dengan plat nomor B 1234 GNT sedang menuju ke lokasi Anda. Biaya telah dibayar di muka."
Gue mengernyit. Taksi premium? Siapa yang pesenin?
Gue melirik ke arah pintu keluar. Di sana, Genta baru saja masuk ke mobil pribadinya, tapi dia sempet berhenti sejenak, natap gue lewat kaca spion sebelum meluncur pergi.
"Dia pikir gue bisa dibeli pakai kenyamanan?" gumam gue sambil melangkah masuk ke taksi mewah itu. Gue nyenderin punggung di kursi kulit yang empuk, ngehirup aroma pengharum mobil yang mahal.
Hati gue sedikit meleleh, kayak cokelat lumer di dalam kue balok tempo hari. Tapi gue segera nepis perasaan itu. Gue buka akun NovelToon, lihat ribuan komentar yang nuduh gue sebagai plagiator.
Senyum gue hilang. Kesenangan kecil dari perhatian Genta tiba-tiba tertutup sama awan hitam skandal yang ngancem karier kami berdua. Gue tahu Genta lagi usaha nebus dosa, tapi apa "sindrom penebusan dosa" ini cukup kuat buat ngelawan dunia yang mulai benci kami?
Gue ngetik DM terakhir sebelum taksi itu sampai di rumah.
Senja_Sastra: “Kaka’s, taksinya nyaman. Makasih. Tapi lo tahu kan, seberapa mahal pun taksinya, tujuannya tetep sama, kita lagi menuju kehancuran kalau masalah plagiarisme ini nggak selesai. Lo siap buat kehilangan segalanya?”
Gue nunggu jawaban, tapi kali ini Kaka’s diam. Dan keheningan itu... jauh lebih menakutkan daripada omelan Genta yang paling keras sekalipun.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻