NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Ujian untuk Asisten Misterius

Atyasa berdiri di sana. Tatapannya turun ke tangan Zelia yang melingkar di lengan Are, lalu kembali naik ke wajah mereka.

Sudut bibirnya terangkat samar, bukan senyum ramah. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan celah.

“Jadi…” suaranya tenang namun tajam, cukup keras untuk membuat beberapa orang terdiam sepenuhnya.

“Ini orang yang akan membantumu melampauiku?”

Ruangan terasa dingin dari yang seharusnya.

Zelia belum sempat menjawab ketika Are melangkah setengah maju, berdiri sedikit di depan Zelia tanpa terlihat mencolok.

Tatapan mereka bertemu, dan udara perlahan terasa menekan, seperti tanda sebelum badai.

Atyasa tersenyum sekilas. “Menarik,” katanya pelan. “Semoga kau tidak menyesal membawanya masuk ke medan perang ini, Zelia.”

Zelia mengepalkan jarinya tanpa sadar. Sementara di sampingnya, Are justru tersenyum samar… seolah menunggu momen ini sejak lama.

Tatapan pria itu bertemu dengannya. Dan entah mengapa, Atyasa merasa situasi tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Atyasa akhirnya melangkah lebih dulu menuju lift.

Are tanpa sadar menggenggam jemari Zelia, seolah berkata tanpa kata: aku di sini. Di pihakmu.

Zelia menoleh. Tatapan mereka bertemu dan tanpa sadar ia tersenyum. Are hanya menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

Karyawan mulai berbisik begitu pintu lift tertutup.

“Kelihatan tegang banget ya tadi… hubungan Bu Zelia sama Pak Atyasa memang gak akur.”

“Dulu gak gini. Semua berubah setelah malam pernikahan itu.”

“Apa karena adik tirinya yang selingkuh sama tunangannya?”

“Entahlah. Sekarang malah kayak musuh.”

“Pak Atyasa kayak gak rela kursi CEO diambil.”

“Menurutku Bu Zelia terlalu cepat sih. Umurnya juga masih muda.”

“Direksi aja banyak yang ragu.”

Suara lain menyela lebih pelan.

“Tapi kalian lihat gak pria yang bareng dia?”

“Suaminya 'kan? Yang tiba-tiba muncul itu?”

“Iya. Gak ada yang tahu dia dari mana.”

“Aku denger sih pernikahannya cuma formalitas.”

“Masa sih? Kalau pura-pura mesra gak mungkin se-natural itu.”

“Bu Zelia aja dulu gak pernah sedekat itu sama Pak Fero.”

Tawa kecil terdengar.

“Jangan-jangan dia udah tahu Pak Fero selingkuh.”

“Apa bener, mereka cuma akting?”

“Akting atau bukan… chemistry mereka keliatan banget.”

Beberapa orang terdiam.

“Yang jelas… pria itu bukan orang biasa.” Seorang karyawan senior tiba-tiba berkata pelan, “Kalau aku jadi kalian, aku lebih khawatir sama pria itu daripada drama mereka.”

Tak ada yang membantah, seolah mereka membenarkan perkataan karyawan senior itu.

***

Pintu ruang CEO tertutup pelan saat Zelia masuk lebih dulu, diikuti Are beberapa langkah di belakangnya.

Ruangan itu luas, sunyi, namun terasa terlalu kecil untuk menampung kegelisahan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Zelia meletakkan map di meja, lalu mulai merapikan berkas untuk rapat. Jemarinya bergerak cepat, tapi napasnya sedikit tidak beraturan.

Ia berhenti sejenak.

“Re…” panggilnya pelan.

Are yang berdiri di dekat meja menatapnya.

“Aku deg-degan,” ucap Zelia jujur. Ia menarik napas panjang, seolah mencoba menenangkan diri. “Ini pertama kalinya aku rapat dengan dewan direksi sebagai CEO.”

Are tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hangat.

“Kau adalah pemimpin,” katanya tenang. “Jadi kau harus percaya diri.”

Zelia menatapnya.

“Tunjukkan kompetensimu. Jika kau berhasil, mereka akan menghormatimu dan berpihak padamu tanpa perlu kau minta.”

Nada suaranya tetap rendah, stabil, seperti jangkar di tengah ombak.

“Karena dewan direksi hanya berpihak pada orang yang mampu membawa keuntungan besar.”

Zelia mendengarkan tanpa menyela.

“Dan jangan khawatir,” lanjut Are. “Mereka tidak akan bisa menjatuhkanmu.”

Entah kenapa, kata-kata itu terasa menenangkan sekaligus menyalakan sesuatu di dalam diri Zelia.

Ia menarik napas sekali lagi. Kali ini lebih dalam. Perlahan, senyuman muncul di wajahnya.

“Oke,” katanya pelan. “Aku mengandalkanmu kalau aku jatuh.”

Are menatapnya beberapa detik. “Kau tak akan jatuh,” balasnya tenang.

Zelia hanya tersenyum, tidak menyadari kalimat yang tidak pernah Are ucapkan dengan suara.

"Karena aku akan berdiri di belakangmu… dan tidak akan membiarkan kau jatuh."

***

Pintu ruang rapat terbuka pelan. Suara percakapan langsung mereda ketika Zelia melangkah masuk lebih dulu, diikuti Are di belakangnya.

Belasan pasang mata langsung tertuju pada pria asing itu. Sebagian penasaran. Sebagian menilai. Sebagian terang-terangan meremehkan.

Kursi utama di ujung meja panjang masih kosong. Kursi CEO.

Sementara di sisi kiri meja, Atyasa sudah duduk dengan tenang, jemarinya bertaut di atas meja, ekspresinya datar namun sorot matanya tajam mengamati setiap langkah Zelia.

“Silakan,” ucapnya singkat.

Zelia berjalan tanpa ragu menuju kursi utama dan menariknya dengan tenang sebelum duduk.

Are berdiri di belakangnya, posisi seorang asisten pribadi, tegak dan tanpa ekspresi.

Atmosfer ruangan terasa berubah, seolah garis kekuasaan baru saja ditegaskan tanpa satu kata pun.

Namun entah kenapa, kehadiran Are terasa terlalu… dominan untuk sekadar berdiri di sana.

Rapat dimulai dengan laporan divisi keuangan. Beberapa menit pertama berjalan normal.

Lalu Atyasa bersandar, matanya melirik ke arah Are.

Dan suasana langsung berubah.

“Ngomong-ngomong,” katanya santai, tapi suaranya cukup keras untuk menguasai ruangan, “kita punya wajah baru hari ini.”

Beberapa direksi saling pandang.

Atyasa tersenyum tipis. “Perkenalkan diri dulu. Supaya semua tahu… kualifikasi apa yang membuatmu layak berdiri di ruangan ini.”

Ruangan menjadi hening. Semua mata beralih ke Are.

Zelia langsung menoleh, rahangnya sedikit menegang. Ia tahu ini bukan sekadar perkenalan. Ini ujian. Atau lebih tepatnya, jebakan.

Are tidak langsung bicara.

Ia melangkah setengah langkah ke depan, cukup untuk terlihat jelas oleh semua orang, tapi tetap tanpa kesan menantang.

“Saya Are,” ucapnya tenang. Suaranya rendah dan stabil. “Asisten pribadi Ibu Zelia.”

Beberapa orang terlihat menunggu kelanjutan… tapi tidak ada.

Alis Atyasa sedikit terangkat. “Hanya itu?” tanyanya ringan. “Biasanya orang akan menyebutkan pendidikan, pengalaman, atau… setidaknya alasan kenapa mereka pantas berada di sini.”

Beberapa direksi tersenyum samar. Jelas mereka menikmati situasi.

Zelia membuka mulut, tapi Are sedikit menggeleng nyaris tak terlihat. Ia menjawab sendiri.

“Saya di sini bukan untuk duduk di kursi direksi,” katanya tenang. “Jadi saya rasa kualifikasi saya tidak terlalu relevan untuk rapat ini.”

Beberapa orang langsung terdiam. Jawaban itu sopan. Tapi jelas tidak tunduk.

Sudut bibir Atyasa bergerak tipis. “Menarik,” katanya pelan. “Tapi tetap saja… perusahaan ini bukan tempat belajar sambil jalan.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Bagaimana kalau kita uji sedikit saja.”

Zelia langsung menegang. “Pa—”

“Ini hanya diskusi,” potong Atyasa santai. Ia mengambil dokumen di depannya lalu mendorong ke tengah meja. “Kasus merger dengan Orion Logistics. Kita sedang menghadapi kebuntuan negosiasi valuasi.”

Beberapa direksi mulai memerhatikan serius.

Atyasa menatap Are lurus. “Kalau kamu di posisi kami… apa yang akan kamu lakukan?”

Ini bukan pertanyaan ringan. Ini pertanyaan level direksi. Ruangan benar-benar menjadi sunyi.

Zelia bisa merasakan beberapa orang menunggu Are gagal. Beberapa bahkan sudah tampak yakin.

 

...✨“Di ruang ini, bukan jabatan yang menentukan siapa yang berkuasa… tapi siapa yang paling tidak bisa diprediksi.”...

...“Orang paling berbahaya di ruangan itu… biasanya yang tidak berusaha terlihat penting.”...

...“Kepercayaan diri bukan berarti tidak takut… tapi tetap duduk di kursi itu meski semua orang meragukanmu.”✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
rencana apa lagi nih, yang sedang dimainkan Atyasa , Dian,dan Desti,,
Kyky ANi
bagus Are,, berikan bukti yang lebih kuat lagi,,
abimasta
belum terima juga kekalahannya fero
Kyky ANi
semoga Zelia, bisa menang dalam kasus ini,,
Anitha Ramto
sayangnya Zelia dan Are hanya Akting karena ada si Desti yang ngintip,,terobsesi kamu Desti sama Are..

Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Cicih Sophiana
hati hati Zelia ada dua manusia licik bersatu jgn lengah sedikit pun...
love_me🧡
iya orang yg percaya diri mudah dijatuhkan & contohnya itu seperti kalian 😀
Cicih Sophiana
Are mulai menelan ludah nya tuh... saking gemes nya mau gigit bibir Zelia 🤭😂😂
Cicih Sophiana
Desti iri dengki akhir nya memfitnah...
Dek Sri
tetap waspada ya zelia dan are
love_me🧡
gantung terus thooorrr gantuuuuuung, udah gak Imlek iniiih udah panas gak hujan lagi jemurannya tolong jangan digantung mulu 😀😀
abimasta
gagal lagi rencana atyasa
Dek Sri
lanjut
Puji Hastuti
Are akankah kamu tega meninggalkan istri mu
Anitha Ramto
sepertinya Are sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melahap bibirnya Zeliaa wkwkwkwk🤣
tse
aduh apa yang di lakukan Are ya.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
phity
hati2 dian lgi merekam
Puji Hastuti
Dan..... Zelia tidak jadi tanda tangan.
abimasta
desti mau ngerayu are
Anitha Ramto
diiih si Desti niatnya mau jelekin Zelia dan menarik Perhatian Are tapi nyatanya Are tidak peduli huh dasar wanita murahan

Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!