Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Terungkapnya Rahasia
Pagi harinya Vania pun diperbolehkan untuk pulang kerumah, dengan catatan harus banyak istirahat dan selalu dalam pengawasan. Dokter mengatakan kemungkinan akan ada sedikit trauma dalam diri Vania karena kejadian kebakaran itu.
Baskara membantu putrinya turun dari mobil, dia menuntun Vania dan membawakan tasnya.
"Ayo, Nak. Kita masuk!" ajak Baskara dengan penuh kelembutan.
Vania menghentikan langkahnya sejenak, dia merasa bimbang dengan keputusannya saat ini.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Vani? Papa ada disini untukmu dan tidak akan pernah menyalahkanmu seperti waktu itu lagi." mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam rumah mewah itu.
Risna menyambut dengan penuh kehangatan dan kasih sayang, dia bahagia karena pada akhirnya Vania kembali ke rumah itu lagi. Tanpa perlu izin, wanita paruh baya itu memeluk tubuh anak sambungnya. Ia sudah menganggap Vania seperti anak kandungnya sendiri.
"Mama senang karena kau kembali, Nak." Risna membelai lembut kepala Vania. "Mama akan menjaga kalian, tidak akan Mama biarkan keburukan mendekati anak dan cucu Mama ini." lanjutnya seraya mengelus perut Vania. Ada getaran aneh dalam diri Vani, dia merasa nyaman dan diperlakukan baik oleh Risna. Padahal sudah berulangkali ia menyakiti hati Risna dengan cara membentak, menuduh dan bahkan pernah mendorong hingga Risna hingga terjatuh.
Vania kembali memeluk Risna, hal tersebut membuat wanita paruh baya itu serta Baskara tersenyum bahagia.
"Detik ini juga, aku akan menganggapmu sebagai Mamaku. Maaf karena aku banyak bersalah, ku pikir kau hanya benalu yang menempel pada Papaku, dan ingin menguasai hartanya saja. Sudah hampir lima tahun kau tinggal dirumah ini, dan terus memperlakukan ku dengan baik seperti anak kandungmu sendiri. Tapi aku? Aku malah melakukan hal yang sebaliknya, aku berkata kasar, berprilaku tidak sopan padamu. Sekarang aku baru sadar, kesabaranmu itu tak terhingga. Maaf karena aku terlambat menyadari kebaikanmu, Ma." lagi-lagi Vania memeluk Sang Ibu sambung, mencari ketenangan disana. Rasanya sama seperti pelukan Ibu kandung Vania sendiri.
"Tak apa, Nak. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali." Risna mengurai pelukan, menyelipkan anak rambut Vania ke telinga. Senyumnya bisa menenangkan hati Vania yang memang masih diselimuti oleh ketakutan.
"Kalau begitu ayo masuk, Mama sudah masakkan makanan kesukaanmu. Pastinya juga bergizi untuk calon cucu Mama." mereka bertiga berjalan masuk sambil saling merangkul dengan Vania yang berada di tengah-tengah.
Dari atas balkon, Ratu menyaksikan drama pagi itu. Dia merasa kesal karena Vania, musuh bebuyutannya kembali ke rumah tersebut. Rencana-rencana jahat mulai terlintas dibenaknya.
"Aku tidak akan pernah membuat dia tenang tinggal dirumah ini, lihat saja." ucapnya menggenggam kedua tangan hingga bergetar.
****
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar dari dalam kamar milik Erlangga. Dia merasa murka ketika mengingat perkataan Baskara yang selalu merendahkan dia dan keluarganya. Sebelah tangan Erlangga terulur mengambil sesuatu, sementara tangan sebelahnya memegang sebotol alkohol yang sudah hampir habis. Beberapa botol kosong berserakan di atas lantai, ada yang masih utuh dan pecah.
"Kalian akan membayar semuanya." ucap Erlangga penuh penekanan sambil meremas selembar foto yang ada ditangannya.
Ada rahasia besar yang pria itu simpan dan harus bisa dia selesaikan. Kedua orangtuanya telah tiada, ia harus membalaskan dendam yang terpatri di hatinya. Erlangga bisa bernapas lega jika dendamnya sudah terbayar lunas.
...
Ratu berlari kecil menuju ke arah pintu utama, tadi ia melihat mobil milik Giorgino berhenti tepat di pekarangan rumahnya. Gadis itu pikir Gio ingin menemuinya, hingga membuat ia kegirangan dan segera membukakan pintu.
Tangan Gio mengambang di udara, belum juga menekan tombol bel, tetapi pintu sudah terbuka. Pria itu menatap Ratu datar, sementara yang ditatap malah tersipu malu.
"Kau—"
"Saya datang untuk menemui Vania." ucap Gio memotong perkataan Ratu, membuat senyum gadis itu luntur seketika.
"Dia di kamarnya." sungut Ratu seraya bergeser, memberikan jalan pada Gio agar pria tampan itu bisa masuk. Tidak ada balasan, Gio melenggang pergi tanpa melihat ke arah Ratu.
"Cih! Sial! Kenapa sih Vania mulu? Dia selalu saja jadi pusat perhatian. Aku benci!" geram Ratu menghentakkan kakinya di lantai.
Gio bertemu dengan Baskara dan Risna yang baru saja keluar dari kamar Vania, dia tersenyum ramah, berusaha bersikap sopan.
"Tuan Abraham, kenapa datang tanpa memberitahu?" tanya Baskara merasa tidak enak.
"Kebetulan saya lewat sini, dan sekalian mampir. Apa Vania sudah tidur?"
"Belum, dia baru selesai makan malam. Silakan masuk," Baskara memberikan ruang pada Gio, dia dan Risna pergi dari sana, tidak ingin menganggu keduanya.
Vania yang sedang bermain ponsel kaget karena kedatangan Gio. Dia mengerutkan dahinya, meletakkan kembali ponsel di atas meja.
"Saya bawakan bunga dan buah untukmu." ucap Gio sambil meletakkan bingkisannya di atas meja.
"Terima kasih. Seharusnya tidak perlu repot-repot," suara yang biasanya ketus dan penuh amarah kini sudah berubah menjadi lembut.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah membaik. Terima kasih sekali lagi karena kau sudah menolongku. Aku punya hutang Budi padamu. Jika kau tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi padaku." Vania menunduk, tidak berani menatap mata Gio.
"Tidak perlu risau, dan jangan anggap punya hutang Budi seperti itu." Gio duduk di kursi yang ada disana. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." keputusannya sudah bulat, Gio harus mengatakan yang sejujurnya pada Vania, jika dia adalah Ayah kandung dari anak yang ada di dalam rahim Vania saat ini.
"Bicaralah," sekarang mata Vania beralih menatap Gio.
"Sebenarnya —"
Suara pintu terbuka membuat ucapan Gio melayang di udara, dia terdiam saat melihat siapa yang masuk ke dalam sana. Suasana pun seakan berubah ketika kedua pria itu saling menatap tanpa ekspresi. Erlangga, ya, dia nekat datang kerumah Vania meksipun sudah di larang keras oleh Baskara. Pria paruh baya itu berhasil diluluhkan oleh sang istri agar mengizinkan Erlangga masuk ke dalam menemui Vania.
"Elang," panggil Vania, raut wajahnya seketika berubah menjadi sumringah.
"Bagaimana kondisimu sekarang, Vania?" Elang duduk di sebelah kiri Vania, sementara Gio duduk di sebelah kanannya.
"Kenapa waktu dirumah sakit kau pergi begitu saja tanpa berpamitan?" bukannya menjawab, Vania malah melayangkan pertanyaan pada Erlangga.
"Maaf, Van. Aku buru-buru, ada urusan. Jadi ceritanya kau marah? Hm," Erlangga terkekeh kecil sambil menarik hidung mancung milik Vania.
"Elang ..." Vania tertawa pelan. Gio merasa seperti obat nyamuk, melihat keakraban keduanya. Dia merasa ada yang mengganjal pada Erlangga.
"Saya pamit pulang," akhirnya Gio mengalah, dia melupakan niatnya untuk mengatakan yang sejujurnya pada Vania tentang anak yang Vania kandung.
Baskara yang melihat Gio keluar dari kamar Vania langsung menghampiri. "Loh, kenapa keluar Tuan Abraham? Sudah selesai membesuknya?"
"Saya ada urusan, besok saya kembali lagi." sahut Gio beralasan.
Setelah pengusaha muda dan terkenal itu menjauh, Baskara melihat ke arah pintu kamar Vania.
"Ini semua pasti gara-gara anak sia*lan itu! Dasar tidak tahu malu, sepertinya aku harus bermain kasar." Baskara berjalan ke lantai bawah.
...
BERSAMBUNG
PANTENGIN TERUS YA .. JANGAN LUPA LIKE LIKE NYA 😍 BESOK PAGI UP TERBARUNYA. PAPAYYYY