Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benda keras didalam celana
Mario bersandar di kursi mobil sambil menahan gatal di lehernya yang mulai kemerahan.
“Gi, kamu masih lapar nggak? Kalau masih, makan aja di dalam. Aku tunggu di mobil aja,” ucapnya pelan.
Anggika langsung menatapnya tajam.
“Emangnya aku setega itu ninggalin kamu sendirian terus makan enak? Kamu alergi malah disuruh nunggu? Tunggu sini, aku bayar dulu.”
Mario menghela napas kecil.
“Ambil kartu di dompetku aja. Bayar pakai itu.”
“Mana dompetnya?” tanya Anggika.
“Di kantong celana. Ambilin, ya.”
Anggika mendekat. Saat tangannya menyentuh paha Mario untuk mengambil dompet, ia tiba-tiba tersentak.
“Istighfar…” gumamnya dalam hati. Pandangannya tak sengaja tertuju ke bagian depan celana Mario yang jelas memperlihatkan reaksi spontan.
Mario yang menyadari perubahan ekspresinya langsung ikut salah tingkah.
“Kenapa berhenti, Gi?”
“Kamu aja yang ambil!” Anggika buru-buru memalingkan wajahnya, pipinya memerah.
Mario tersadar sepenuhnya.
“Ya Allah… maaf, maaf. Ini refleks doang…”
gumamnya canggung sambil cepat-cepat mengambil dompet sendiri.
“Kenapa harus sekarang sih…” batinnya panik.
Ia menyerahkan kartu hitamnya.
“Nih.”
Anggika menatap kartu itu.
“Kamu yakin pakai kartu ini? Nggak usah segitunya.”
“Mau pakai QRIS? Transfer? Aku nggak bawa cash,” jawab Mario santai.
“Pakai uang aku aja deh.”
Mario mengernyit.
“Loh, kenapa? Aku nggak mau dibilang mokodo. Pakai aja. HP-ku juga di sini. Password m-banking, PIN kartu, bahkan password HP pakai tanggal lahir kamu.”
Anggika membelalak.
“Serius kamu kasih semua itu ke aku?”
“Iya lah. Uangku ya uang kamu juga. Kamu bebas pakai.”
Anggika menatapnya beberapa detik, masih tak percaya.
“Kerja apa sih kamu sebenarnya… tiap hari kelihatannya cuma jailin aku, tapi kartunya black card,” gumamnya dalam hati.
“Gi?” Mario melambai kecil.
“Kenapa bengong? Nanti dikira kita kabur belum bayar.”
“Iya, iya,” sahut Anggika cepat.
Ia turun dari mobil dan masuk kembali ke restoran menuju kasir.
“Mbak, seafood-nya dibungkus ya. Pacar saya alergi,” katanya.
Kasir tersenyum.
“Baik, Mbak.”
“Totalnya berapa?”
Kasir menyebutkan nominalnya.
“Cash atau kredit, Mbak?”
“QRIS aja,” jawab Anggika sambil membuka ponsel Mario.
Setelah transaksi berhasil, ia kembali ke mobil sambil membawa kantong makanan.
Mario tersenyum kecil saat Anggika kembali ke mobil membawa kantong makanan.
“Udah?” tanyanya.
“Udah. Ini aku take away aja. Di rumah masih banyak makanan, sayang kalau kebuang,” jawab Anggika sambil duduk dan menutup pintu.
Mario terkekeh pelan.
“Hadeuh… kamu tuh udah kayak ibu-ibu banget. Cocok jadi ibu dari anak-anakku.”
Anggika melirik tajam tapi pipinya sedikit memerah.
“Ayo pulang. Kalau kamu masih pusing atau gatalnya kambuh, biar aku yang nyetir.”
Mario langsung menegakkan badan.
“Aku bisa nyetir, tenang aja. Cuma alergi ringan, bukan amnesia.”
“Ya udah. Kita makan di rumahku aja. Aku masakin yang spesial buat kamu.”
“Masakin?” Mario menaikkan alis. “Gimana kalau kita cooking date aja? Masak bareng, terus makan berdua. Lebih romantis.”
Anggika menggeleng cepat.
“Nanti aja kalau sudah nikah. Di rumah ada bapak sama emak. Belum lagi tukang dekor lagi pasang-pasang. Bisa dimarahin aku.”
“Iya juga sih…” Mario mengangguk pelan. “Belum halal, belum bebas.
”
Anggika tersenyum tipis.
“Makan berdua sambil saling suap juga udah romantis kok. Nanti kalau sudah nikah, banyak waktu berdua.”
Mario meliriknya sambil menyetir.
“Aku juga sudah punya rumah sendiri. Jadi nanti nggak ada yang ganggu.”
Anggika merinding melihat senyum nakalnya.
“Aku kok jadi ngeri lihat senyum kamu barusan.”
Mario pura-pura polos.
“Loh, kan nanti kita sudah halal. Masa kamu nggak mau melayani suami?”
Anggika langsung memukul lengannya pelan.
“Mesum kamu, ya!”
“Bukan mesum,” Mario terkekeh, “itu pahala.”
“Ih, dasar!” Anggika menahan senyum.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit, suasana di dalamnya hangat—dipenuhi candaan, malu-malu, dan bayangan kehidupan baru yang tinggal menghitung hari.
Mobil berhenti agak jauh dari rumah Anggika. Tenda dan rangkaian dekorasi sudah memenuhi halaman sampai ke jalan depan.
Mario mematikan mesin lalu menatap ke arah rumah yang mulai ramai dihias.
“Sebenernya lebih praktis kalau resepsi di hotel atau gedung. Tapi orang tuaku maunya di rumah, biar lebih dekat sama warga desa. Kamu nggak keberatan, kan?”
Anggika tersenyum lembut.
“Aku nggak masalah, kok. Justru lebih hangat begini. Lebih terasa kekeluargaannya.”
Mario meliriknya, memastikan.
“Aku sempat kepikiran… kamu malu nggak kalau teman-teman kota datang ke sini?”
Anggika terkekeh kecil.
“Siapa yang bilang? Selama nikahnya sama kamu, mau di kebon juga aku mau.”
Mario menahan senyum lebar.
“Wah, ternyata kamu sekarang pinter gombal.”
Anggika mengangkat dagu sedikit.
“Siapa dulu yang ngajarin?”
Mario turun duluan, lalu berjalan memutar membuka pintu untuknya.
“Silakan, calon istri.”
“Malu tau diliatin orang,” gumam Anggika sambil turun.
Mereka berjalan melewati para pekerja dekorasi.
“Assalamu’alaikum,” sapa Anggika ramah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab beberapa orang bersamaan.
“Ibu saya ke mana, Pak?” tanya Anggika pada salah satu pekerja.
“Tadi Bu Kulsum sama Pak Herry ke pasar, Mbak. Di rumah cuma ada Bu Wati sama Erna.”
“Oh, baik. Terima kasih, Pak.”
Mereka masuk ke dalam rumah yang sudah setengah tertata.
Mario melihat sekeliling.
“Rumah kamu jadi beda banget ya. Rasanya udah kayak mau akad beneran.”
Anggika tersenyum gugup.
“Jangan bikin aku deg-degan.”
Ia menoleh ke arah Mario.
“Kamu mau minum apa? Teh atau kopi?”
“Air putih aja,” jawab Mario santai.
Anggika mengernyit.
“Kamu aku tawarin teh atau kopi, malah milih air putih.”
“Ya udah, kopi aja deh.”
“Dasar plin-plan,” Anggika menggeleng sambil berjalan ke dapur kecil.
Mario membela diri.
“Loh, kamu yang suruh milih. Aku udah milih kopi.”
Anggika kembali menatapnya dari ambang dapur.
“Lemonade aja ya. Kemarin kamu sempat kena asam lambung, kan?”
Mario menghela napas panjang.
“Iya deh, aku nurut aja. ”