Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKENALAN GANDA ANTARA UJANG, JAVIER, DAN GAYUNG BARU
Kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak terasa seperti sesak napas. Bukan karena sirkulasi udara yang buruk meskipun itu juga faktor pendukung, tetapi karena kehadiran sosok pria yang tingginya hampir menyentuh langit-langit plafon. Javier atau Ujang melangkah masuk dengan gaya yang sangat membingungkan, dia memakai jaket desainer seharga motor sport, sarung motif kotak-kotak yang melilit pinggangnya, dan kacamata renang biru yang bertengger gagah di dahinya.
Aruna menutup pintu dengan gerakan secepat kilat, lalu menguncinya dengan tiga putaran kunci tambahan ditambah pengganjal kursi.
"Kamu... kamu beneran gila ya, Javi?! Kamu itu Javier LUMINOUS! Kalau Manajer Han atau wartawan liat kamu masuk ke sini pake kostum gado-gado kayak gini, karir kamu tamat!"
Aruna berteriak dengan suara tertahan, takut Mbak Widya menempelkan telinga di dinding triplek.
Javi, mari kita panggil dia Javi untuk saat ini berdiri di tengah ruangan. Dia melihat sekeliling. Matanya berbinar saat melihat tumpukan piring kotor yang masih sama posisinya seperti saat dia pergi.
"Tenang, Majikan Aruna. Saya ke sini bukan sebagai Javier sang bintang dunia yang dikejar-kejar lampu panggung," ucapnya dengan suara bariton yang berat namun penuh nada konyol.
"Saya ke sini sebagai Ujang, yang ingin memperkenalkan teman saya kepada Anda."
Aruna mengernyit.
"Teman? Kamu bawa siapa lagi? Jangan bilang kamu selundupin Rian di dalam kantong jaket kamu?"
Javi menggeleng dramatis. Dia mengambil posisi berdiri tegak, membetulkan kacamata renangnya hingga menutupi mata, lalu berdeham.
"Aruna, perkenalkan. Ini adalah Javier. Pria yang di TV kemarin bicara soal daster pink."
Javi kemudian melepas kacamata renangnya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin, tajam, dan sangat Ice Prince.
"Halo, Aruna. Saya Javier. Senang bertemu kembali dengan Anda."
Dua detik kemudian, dia memasang lagi kacamata renangnya dan kembali menjadi cengengesan.
"Dan saya Ujang! Asisten yang jago nyikat WC!"
Aruna menepuk jidatnya keras-keras.
"Pusat kendali kamu beneran korslet ya, Jang? Kamu mau main sandiwara kepribadian ganda di kamar sempit ini?"
Javi tidak memedulikan ejekan Aruna. Dia berjalan menuju pojok kamar mandi, lalu mengeluarkan sebuah benda dari balik jaket mahalnya. Sebuah gayung plastik berwarna merah menyala dengan pegangan yang sangat kokoh.
"Ini adalah persembahan dari Javier dan Ujang," ucap Javi bangga.
"Gayung anti-patah dengan teknologi polimer tinggi. Saya membelinya di minimarket depan gang dengan menyamar sebagai pohon beringin agar tidak dikenali."
"Pohon beringin?!"
Aruna melongo.
"Pantesan tadi Mbak Widya bilang ada pohon jalan sendiri di depan pos ronda!"
"Demi keamanan gayung ini, saya rela menjadi flora," sahut Javi.
Dia meletakkan gayung itu di atas bak mandi dengan khidmat.
"Sekarang, karena utang kerusakan properti sudah lunas, apakah Javier boleh mendapatkan hak sinkronisasinya kembali?"
Aruna mundur selangkah sampai menabrak meja gambar.
"Sinkronisasi apa lagi?! Kemarin di TV kamu udah bikin malu dengan nyebut-nyebut daster sama es mambo! Kamu tau nggak, namaku hampir dicari-cari netizen gara-gara kode daster itu?!"
Javi mendekat. Dia melepas jaket mahalnya, menyisakan kaos oblong putih yang membentuk lekuk tubuh atletisnya yang Aruna akui secara batin sangat tidak ramah untuk kesehatan jantung. Dia duduk di lantai, di atas tikar mendong yang sama.
"Aruna," bisik Javi.
"Javier sangat merindukan Anda. Dia bilang, kasur di apartemen Menteng terlalu empuk sampai dia tidak bisa mendengar suara dengkuran Anda yang merdu seperti musik ambient."
"Aku nggak mendengkur, Javi!"
"Ujang juga merindu," lanjut Javi, mengabaikan protes Aruna.
"Ujang merindukan momen saat Anda memandikannya dengan alkohol karena luka jotosan. Rasanya perih, tapi sistem saya merasa dicintai."
Suasana mendadak menjadi hening dan berat. Radiasi salting kembali memenuhi ruangan. Javi meraih tangan Aruna, menariknya lembut agar ikut duduk di lantai.
"Kenapa kamu balik lagi?" tanya Aruna pelan.
"Kamu punya segalanya di sana."
"Karena di sana saya hanya punya cermin," jawab Javi jujur.
Matanya yang tanpa kacamata renang menatap Aruna dengan kedalaman yang bisa menenggelamkan satu benua.
"Di sini, saya punya Majikan yang menganggap saya manusia, bukan sekadar produk kloningan premium berharga miliaran."
Javi perlahan memajukan wajahnya. Aruna bisa merasakan napas pria itu yang berbau mint pasti habis sikat gigi di agensi sebelum kabur. Ingatan tentang ciuman kedua yang seperti mesin cuci itu kembali berputar di otak Aruna.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan untuk ketiga kalinya jaraknya mungkin hanya setebal kertas tugas Layouting ada sebuah suara melengking memecah suasana.
TETTTTTTTTTTT!
Bukan suara megafon Mbak Widya, tapi suara alarm dari jam tangan canggih di pergelangan tangan Javi. Jam tangan itu berkedip merah terang.
"Gawat," gumam Javi.
"Sensor pelacak Manajer Han sudah mendekat dalam radius lima ratus meter. Sepertinya chip GPS di jaket saya sudah terdeteksi."
"APA?! MANAJER KAMU KE SINI?!"
Aruna panik setengah mati.
"Mampus! Aku bakal masuk berita sebagai penculik idol!"
"Cepat! Kamu harus sembunyi!"
Aruna mendorong Javi ke arah kamar mandi.
"Jangan kamar mandi! Javier tidak mau sinkronisasi dengan aroma sabun cuci piring lagi!" protes Javi.
"Terus ke mana?! Di bawah kasur udah penuh sama tumpukan kardus mi instan!"
Tiba-tiba terdengar suara mobil van berhenti di depan kosan. Suara pintu geser terbuka dengan keras.
Sreeeeet!
"JAVIER! SAYA TAHU KAMU DI DALAM! KELUAR ATAU SAYA BELI KOS-KOSAN INI SEKARANG JUGA!" teriak suara Manajer Han yang terdengar sangat stres.
Aruna melihat sekeliling dengan panik. Matanya tertuju pada sebuah tangga bambu milik tukang bangunan yang kebetulan tertinggal di lorong depan kamarnya. Dia menarik tangga itu masuk.
"Pake ini! Pake masker! Pura-pura benerin AC!"
"Aruna, AC di kamar ini bahkan tidak ada! Hanya ada kipas angin berkarat itu!" Javi menunjuk kipas angin yang sedang berputar tek-tek-tek.
"Ya udah, pura-pura benerin plafon! Cepet!"
Aruna menyambar kemeja flanel kumal, memakaikannya pada Javi di atas kaos putihnya. Dia juga memasangkan masker hitam dan topi proyek yang entah dari mana asalnya. Javi kini terlihat seperti tukang bangunan paling tampan dan paling mencurigakan di dunia.
TOK TOK TOK!
Pintu digedor. Aruna membukanya dengan tangan gemetar. Di depan pintu berdiri Manajer Han dengan wajah merah padam, diikuti oleh dua bodyguard berbadan lemari dan Mbak Widya yang sedang memegang piring berisi gorengan.
"Mana Javier?!" bentak Manajer Han.
"Javier? Siapa itu Pak? Artis ya? Di sini nggak ada artis, adanya cuma tukang plafon," ucap Aruna dengan akting yang sangat payah.
Manajer Han menerobos masuk. Dia melihat seorang pria tinggi sedang berdiri di atas tangga bambu, kepalanya mendongak menatap plafon yang sudah berjamur, tangannya memegang tang dengan posisi terbalik.
"Heh, kamu! Turun!" perintah Manajer Han.
Javi perlahan menoleh.
"Maaf, Pak. Saya sedang melakukan sinkronisasi dengan kelembapan plafon. Jika saya turun sekarang, atap ini akan mengalami kegagalan sistem dan menimpa daster Ibu ini."
Mbak Widya langsung memeluk piring gorengannya.
"Aduh! Jangan dong Mas Tukang! Itu plafon emang udah lama nggak dimandiin!"
Manajer Han menyipitkan mata. Dia mengenali suara itu. Suara bariton yang mahal.