NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 pesan singkat tengah malam

Malam semakin larut, namun bagi Bara, jam dinding yang berdetak di kamarnya terdengar seperti dentuman keras yang menghujam telinga. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Bayangan-bayangan kejadian siang tadi di sekolah kembali berputar tanpa ampun—tawa Brian, senyum Aluna, dan cara tangan mereka saling bertautan di atas motor.

​Setiap kali ia memejamkan mata, rasa sesak itu datang lagi. Bara bangkit dari tempat tidur, duduk di tepian kasur sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Luka di hatinya ternyata jauh lebih bernanah daripada luka fisik yang ia dapatkan tempo hari.

​Ia meraih ponselnya yang tergeletak diam.

Cahaya layar yang terang menyambar matanya yang merah. Jam menunjukkan pukul 00.30. Di saat seluruh dunia terlelap, Bara justru terjebak dalam pusaran penyesalan yang tak berujung. Dengan jari gemetar, ia membuka ruang obrolan dengan Aluna.

​Bara mulai mengetik, lalu menghapusnya lagi. Ia mengetik lagi, lalu kembali menghapusnya. Rasanya tidak ada kata yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa hancurnya ia saat ini. Hingga akhirnya, ia hanya mampu mengirimkan satu pesan singkat yang jujur.

​Bara: Lun, aku belum bisa tidur. Aku tahu ini salah, tapi aku kangen kita yang dulu.

​Pesannya terkirim. Satu centang berubah menjadi dua biru hampir seketika. Jantung Bara seolah berhenti berdetak. Ternyata Aluna juga belum tidur.

​Lama ia menunggu. Status typing di atas layar muncul dan menghilang berkali-kali, membuat Bara semakin tersiksa oleh harapan. Sampai akhirnya, ponselnya bergetar pelan.

​Aluna: Mau apa lagi, Bar? Semuanya udah jelas, kan?

​Bara menarik napas panjang, ia membalas dengan jemari yang terasa dingin.

​Bara: Enggak ada yang jelas buat aku, Lun. Aku menyesal. Aku gila liat kamu sama Brian tadi. Aku mau kita kayak dulu lagi.

​Di seberang sana, Aluna sedang duduk memeluk lutut di atas tempat tidurnya. Air matanya menetes pelan ke layar ponsel.

Pesan Bara terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang baru saja ia coba balut dengan keberadaan Brian. Dengan hati yang perih, Aluna mengetik balasannya.

​Aluna: Dulu? Dulu yang mana, Bar? Dulu saat kamu dorong aku ke Brian? Atau dulu saat kamu bilang di depan Brian kalau kita cuma teman?

Aluna: Kamu yang buat jarak ini, Bar. Kamu yang bangun tembok tinggi itu. Sekarang saat aku sudah mencoba berjalan bersama orang lain, kenapa kamu malah mau tarik aku balik?

​Bara membaca pesan itu dengan dada yang terasa seperti dihantam palu godam. Ia bisa merasakan kemarahan sekaligus luka di setiap kata yang diketik Aluna.

​Bara: Aku salah, Lun. Aku bodoh. Aku pikir aku bisa kuat liat kamu sama dia, tapi ternyata aku nggak sanggup. Kasih aku satu kali lagi kesempatan, aku bakal jelasin semuanya ke Brian.

​Aluna tertawa getir di dalam kamarnya yang sunyi. "Terlambat, Bar," bisiknya pelan pada udara kosong. Ia segera mengetik balasan terakhirnya untuk malam ini.

​Aluna: Jangan, Bar. Tolong jangan hancurkan semuanya lagi. Brian baik banget sama aku. Dia ada saat kamu justru pilih buat pergi. Dia menghargai aku saat kamu justru buat aku merasa nggak diinginkan.

Aluna: Tolong berhenti kirim pesan kayak gini. Brian sering cek HP aku, dan aku nggak mau dia sakit hati karena kamu. Selamat malam, Bara. Tolong biarkan aku tenang.

​Setelah mengirim pesan itu, Aluna langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke ujung kasur. Ia menelungkupkan wajahnya di bantal, menangis sejadi-jadinya.

​Sementara itu, di kamarnya, Bara hanya bisa terpaku melihat layar yang kini tak lagi menunjukkan aktivitas apa pun. Kalimat "Brian sering cek HP aku" seolah menjadi paku terakhir di peti mati harapannya. Aluna bukan lagi miliknya yang bisa ia hubungi kapan saja.

Aluna sekarang punya pelindung, dan orang itu adalah sahabatnya sendiri.

​Bara merebahkan tubuhnya kembali, memeluk guling dengan erat. Di bawah temaram lampu kamar, seorang cowok yang dulunya terlalu gengsi untuk mengakui cinta, kini hanya bisa meratapi kesendiriannya dalam tangis yang tak bersuara. Ia baru sadar, kehilangan Aluna adalah hukuman terberat yang harus ia jalani seumur hidupnya.

Pagi itu, Bara berangkat ke sekolah dengan mata yang terasa panas dan berat. Kurang tidur dan tangisan tengah malam tadi meninggalkan jejak kelelahan yang nyata di wajahnya. Ia berharap hari ini akan berjalan biasa saja, namun harapannya pupus saat ia memasuki kelas dan melihat Brian serta Aluna sudah duduk berdampingan di bangku Aluna.

Langkah Bara tertahan di ambang pintu. Jantungnya mencelos melihat pemandangan di depan matanya. Brian sedang memegang ponsel milik Aluna, ponsel yang semalam ia kirimi pesan penuh penyesalan itu.

"Ini siapa, Lun? Kok ada nomor nggak dikenal jam satu malam?" suara Brian terdengar menginterogasi, meski nadanya masih terdengar lembut.

Bara membeku. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia teringat pesan singkatnya tadi malam. Jika Brian membacanya, hancur sudah semuanya. Persahabatannya, reputasinya, dan mungkin nyawanya.

Aluna tampak tenang, meski matanya sempat melirik ke arah pintu dan menangkap sosok Bara yang sedang mematung. Dengan gerakan anggun, ia mengambil kembali ponselnya dari tangan Brian.

"Oh, itu paling spam atau orang iseng, Bri. Udah aku hapus dan aku blokir kok," jawab Aluna santai, suaranya terdengar sangat meyakinkan. "Kan aku udah bilang, sejak kita jadian, aku nggak mau simpan hal-hal yang nggak penting."

Brian tersenyum puas, ia mengacak rambut Aluna dengan sayang. "Bagus deh. Aku cuma nggak mau ada cowok lain yang ganggu kamu lagi. Aku posesif ya? Maaf ya, sayang."

"Nggak apa-apa, aku malah suka kalau kamu peduli," sahut Aluna sambil tersenyum manis ke arah Brian. Namun, sedetik kemudian, ia menatap lurus ke arah Bara. Tatapannya dingin, seolah sedang memperingatkan: Lihat, Bar? Aku benar-benar sudah menghapus kamu.

Bara berjalan menuju bangkunya dengan kaki yang terasa lemas. Ia duduk tepat di belakang mereka, dipaksa menjadi penonton setiap interaksi manis yang mereka pamerkan.

"Eh, Bara! Baru datang lo?" sapa Brian tanpa rasa curiga sedikit pun. "Sini deh, liat. Gue lagi cek foto-foto di HP Luna, ternyata dia banyak simpan foto candid gue pas lagi tanding basket. Lucu banget kan?"

Bara hanya bisa memaksakan tawa kering. "Iya, Bri. Bagus."

"Oh iya, Bar," Brian tiba-tiba menatap Bara dengan intens, membuat nyali Bara menciut.

"Lo tau nggak? Luna sekarang udah kasih semua password sosmed-nya ke gue. Katanya biar nggak ada rahasia di antara kita. Keren banget kan transparansi hubungan kita?".

Bara merasa seperti ditampar. Password. Rahasia. Hal-hal yang dulu menjadi privasi antara dirinya dan Aluna, kini telah menjadi konsumsi Brian. Aluna benar-benar telah menyerahkan seluruh kuncinya pada orang lain.

Bara hanya bisa menunduk, pura-pura membuka buku pelajaran yang halamannya terbalik. Di balik buku itu, ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia melihat bagaimana Aluna membiarkan Brian memeriksa galeri fotonya, menghapus foto-foto lama yang mungkin masih ada sangkut pautnya dengan Bara, dan menggantinya dengan swafoto mereka berdua yang baru.

Setiap kali Brian tertawa melihat isi HP Aluna, setiap kali itu pula Bara merasa harga dirinya diinjak-injak oleh kenyataan.

Bersambung......

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!