NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Gawai Hana bergetar, memaksakan dirinya berhenti diambang pintu. Senyum kecil menyamai wajah cantiknya. Nama sang Kakak tertera jelas dalam layar gawainya.

"Hallo, iya ada apa, Mas?" Hana memilih duduk di teras terlebih dulu.

"Ibu sama Sanas tadi ke rumah, Han?" tanya Madha memastikan.

Hana menarik napas dalam. Wajahnya sedikit tertekuk. "Pasti Mas Madha 'kan yang udah kasih tahu Ibu?"

Terdengar suara tawa kecil dari sebrang. Madha yang baru saja keluar dari kantor berniat mencari makan siang, kini berhenti di teras lobi terlebih dulu. "Nggak bilang, tapi Ibu nebak aja. Lagian, sejak dulu pun Ibu sudah curiga sama suamimu itu."

Hana melipat kedua bibirnya. Wajahnya kembali sendu. "Ternyata benar, Mas... Aku tadi bertemu Mas Dzaki dan Mona di rumah sakit."

Madha cukup tersentak. Sorot matanya berubah kuat, masih tak menyangka seorang Mona-wanita yang pernah dirinya tolak 2 tahun yang lalu, kini tega menghianati sahabatnya sendiri.

Ingatan Madha terlempar, saat bagaimana dulu sahabat adiknya itu menggilai dirinya.

"Mas... Mas Madha, ini aku bawain makan siang, kita makan bareng yuk!" Mona tersenyum, mengangkat tentengan paper bag dengan senyum lebar.

Madha memang pada saat itu sama sekali tidak pernah tertarik, ataupun bersikap basa basi. Pria berusia 30 tahun itu menghela napas dalam, bangkit dari kursi kebesarannya mendekat kearah Mona, wajahnya datar.

"Mona... Kamu tidak perlu berbuat seperti ini. Aku sudah menganggap kamu sebagaimana adiku sendiri. Jadi, stop melakukan hal-hal yang hanya membuatmu sakit!" Suara Madha pelan, namun cukup memporak porandakan hati Mona.

Wanita berusia 24 tahun itu terpaku. Matanya memanas, namun bibirnya mengulas senyum paksa. "Mas... Katakan... Aku harus seperti apa agar kamu bisa mencintaiku? Atau...." air mata Mona luruh tanpa dapat ia tahan. Dadanya terasa sesak, hingga suaranya nyaris pecah. "Atau... Kamu suka wanita berjilbab? Baik, aku akan belajar memakai jilbab mulai hari ini, asal... Asal kamu bisa melihatku bukan hanya sekedar adik," Mona menggapai tangan Madha.

Madha menghela napas panjang. Ia lepaskan tangan Mona dari tanganya, lalu kembali berkata. Namun kali ini bukan hanya sekedar kalimat penolakan. Tapi sebagai alarm, bahwa sampai kapan pun Madha tidak akan bisa memberikan cinta itu.

"Aku sudah memiliki kekasih, Mona! Jadi, aku harap kamu dapat mengerti."

Dan dari situlah, hubungan Madha dan Mona mulai renggang. Setiap pertemuan, atau acara apapun yang menyangkut Madha, Mona selalu menghindar. Bahkan hingga kini, seperti waktu lalu, acara pemakaman bayi Hana, Mona dengan cepat bergegas pulang ketika Madha datang.

"Mas... Kok malah diem aja sih? Denger kan tadi Hana cerita?" tanya Hana disebrang.

Madha tersadar. Wajah yang semula tegang, kini berangsur mencair. "Iya, Mas denger kok. Ya udah, kamu baik-baik di rumah. Mas mau cari makan dulu."

Panggilan terputus. Madha kembali memasukan gawainya kedalam saku. Ia lanjutkan jalanya, namun langkahnya berhenti ketika melihat sebuah mobil berhenti didepanya.

Seorang dibalik kemudi segera turun, lalu membukakan pintu bagian belakang. "Silahkan, Pak Danish!"

"Madha, kamu mau kemana? Kaya buru-buru gitu?" tanya Danish sambil melepas kacamata hitamnya.

Dan ternyata, Madha dan Danish sudah cukup kenal dengan baik sewaktu keduanya duduk dibangku fakultas dulu.

"Pak Danish...." sapa Madha tertunduk. Meskipun berteman cukup baik, namun selama kerja, Madha akan bersikap lebih profesional.

Danish mendekat. Lenganya terangkat memapah bahu Madha. Lalu sedikit berbisik, "Brengsek... Aku nggak setua itu!"

Madha tertawa kecil, "Aku kan hanya bersikap profesional, Dan! Nggak enak sama karyawan lainnya."

Danish sudah menurunkan lenganya. Dahinya kembali mengerut dalam. "Emangnya, kamu mau kemana sih?"

"Ini urgent! Pokoknya ini menyangkut masalah keluarga adiku saja. Udah ya, aku buru-buru...." Madha menepuk keras bahu temanya itu, hingga membuat Danish meringis.

Asisten Jim dari dalam datang menyambut. Wajahnya kaku, namun sikapnya cukup sopan. "Tuan, Anda ingin makan siang? Biar saya pesankan."

Danish menolak. "Tidak usah! Tadi saya habis sarapan. Sekarang, ikut saya ke ruang meting!"

Asisten Jim mengangguk. Lalu berbalik arah mengikuti Bosnya masuk kedalam.

Sementara Madha, setelah mendapat informasi dari anak buahnya yang bekerja di Perusahaan Sidney, kini langsung bergegas datang ke sana.

Selama itu menyangkut permasalahan adiknya, ia akan maju paling depan sebagai pengganti sang Ayah. Sebagai kakak, Madha tidak ingin melihat adiknya di rendahkan, apalagi menderita.

Madha mengeratkan setir mobilnya seolah kini sedang mengcengkram kuat leher Dzaki. Betapa kecewanya ia, sebagai orang yang dulu pernah di mintai restu oleh keduanya.

"Mas... Saya berjanji akan membahagiakan Hana dengan segala cara saya."

Kalimat Dzaki 3 tahun yang lalu berputar dalam ingatanya kini. Madha merasa sesal sudah memberikan restu, jika pada akhirnya adiknya lah yang paling menderita.

"Brengsek! Awas saja kamu Dzaki!" Kedua mata Madha semakin terhunus tajam, hingga rahangnya ikut mengeras.

Setelah menempuh perjalanan 20 menit, kini mobil Madha akhirnya memasuki halaman luas ~Perusahaan Sidney.

Sebagai Manager di perusahaan Morez yang di pimpin Danish, citra Madha cukup dikenal baik di berbagai kalangan Perusahaan.

Madha segera turun. Langkah jenjangnya teratur, masuk ke dalam dengan sikap penuh wibawa. Wajah Madha terangkat, setiap jengkal lagkahnya menunjukan amarah besar yang siap dirinya ledakan.

Sementara di dalam ruangan yang berpoisisikan 'Direktur' Dzaki duduk dengan kalut sekembalinya mengantarkan Istri sirinya pulang ke rumah. Bahkan, Dzaki sampai membelikan rumah baru untuk Mona, agar Hana tidak dapat mengetahui pasti dimana sahabatnya itu.

Namun kini, setelah tadi melihat wajah kecewa Hana, entah mengapa pikiran pria itu mejadi kalut.

"Apa yang terjadi pada diriku? Padahal, selama ini Hana tidak pernah berbuat kesalahan. Kenapa aku sampai menumbuhkan luka yang cukup dakam?" Dzaki cukup berperang kuat dengan pikiranya. Entah mengapa, setelah melihat Istrinya habis melahirkan, hasratnya mendadak hilang.

Dibawah siluet sinar matahari yang menembus dinding kaca, Dzaki hanya mampu termenung melihat beberapa pertanyaanya melayang seolah tengah mengejeknya.

Tiba-tiba pintu terbuka dari luar.

Deg!

Wajah Dzaki shock bukan main melihat kedatangan Madha.

Dirinya reflek bangkit, mencoba tersenyum kaku demi mencairkan suasana.

"Ma-Mas Madha... Ada apa ya?" tanyanya terbata.

Tangan Madha sudah terkepal kuat. Pandanganya lurus tajam, seolah banteng yang tertuju dengan kain merah didepannya. Langkah Madha berhenti didean meja kayu mengkilat itu.

Tanpa aba-aba, tangan Madha langsung terulur menarik kerah kemeja Dzaki, dan....

Bugh!

"BRENGSEK! APA SALAH HANA SAMA KAMU?!" Sentak Madha dengan bahu yang sudah terguncang hebat. Napasnya bahkan terengah, hingga sorot matanya bak api yang tersulut gas.

Wajah Dzaki terhempas kesamping mendapat pukulan dari Iparnya. Ia membeku, tak berpikir jauh jika saja Madha tahu.

1
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
mahaaapp ... koreksi, kak othooorr 🙋‍♀️🤭
"stand by" sbg kata kerja
"standby" sbg kata sifat

dan bukan "stand bay"
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ardan ODGJ nih ...
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Tuh kaaaaaaannnn ....
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ardan gosah jadi arogan gitu dehh... malah jadi nyebelin keleeuuss ... 🙄
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ternyata Nayla kerreeennnzzz .... berjiwa besar ... 😍
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Maksudnya dokter penyakit dalam kalik yaaa ... 🤔
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Lhah ... emang semenjak kapan Danish sakit ?
Kalo emang udah tau sakit parah .. kenapa kmrn rencana melamar ?
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya Happy semua.👍
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
owalaaaaaaaa ..... itu mah bukan adat ... tapi "bisnis" balas budi" ..... sampe segala menjelekkan orang kota ...
betul2 orang2 tua dgn pemikiran yg picik dan t0l0l !!!
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
adat desa yg aneh ... merendahkan wanita, sama sekali gak mempunyai hak suara dan hak memilih ... cuma bisa nrimo...
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Apa iya ada aturan adat spt itu ?
Kebetulan aja sejauh ini Ardan orang nya baik.
Kalo yg ngelamar tukang mabok dan main p3l4cur ... apa iya tetap harus diterima lamarannya demi adat ? Sbg pihak perempuan ga bisa menolak ? Kasian banget jadi perempuan ...
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Emang ada aturan begitu ya ?
Bukannya Hana bisa menolak lamaran Ardan ?
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Halah ... bu Laksmi juga gak tau kejadian sebenernya kaaannn ....????
Danish tuh nolaknya juga gak ngotot .. soalnya dia lapar, buuuuuu .... dan tau kalo bubur yg dibawa Rani tuh emang enak. Jadi ... akhirnya mau2 aja di suapin .. 🤪
Itu bukan khilaf kalliiikkkk .... 🤪
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Danish ini CEO nya preman . 🙄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lagi di situasi darurat tapi masih sempet²nya ada dialog bahas panggilan pada staf hotel... maaf Thor harusnya kalau lagi di situasi kayak gitu mending tetap konsisten pake panggilan formal saja karna kurang pas saja.🙏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Perasaan makin mlngedeketin End kok kondlik ceritanya malah makin² ya... awal bab sampe beberapa bab Aku sempet berhwnti baca karna lupa di tinggal terus nyambung lagi dan sekarang bukannya harusnya masalah mereda tapi masih ada saja masalahnya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ini niĥ akibat suka ngambil keputusan sembrono dan ga belajar dari kepahitan di awal jadinya ya begini lagi, biarpun Ardan kamu kenal dulu tapi sekarang belum tentu sifatnya ba9k ngganya Hana dan menikah untuk seumur... masa maen langsung ter8ma tanpa minta waktu untuk berpikir biar ga gagal lagi dengan perceraian.
Keluarganya kok juga sama ga ada yang tegas sama sekali seolah hidup mereka ga punya hak untuk diri mereka.😤
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga belajar dari pernikahan sebelumnya Hana, kenapa ga bisa ambil sikap menolak dan bu Laksmi juga sebagai ibu ga lihat pernikahan Sanas kayak gimana karna selalu memaksa anak untuk nurut tanpa ga tau perasaan mereka.

Bude dan pakde'nya juga kok seolah punya wewenang penuh dengan hidup keponakannya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lah aneh, si ibu masa kalah sama adat tapi anda sebagai orang tua, penduduk sana juga punya keputusan sendiri untuk memutuskan jalan hidup anak anda bukan dengan iyain saja tanpa bertindak membela harga diri anda sebagai manusia juga punya kuasa bu.. emang jalan hidup anda mau di atur adat tanpa mau membela diri sendiri, terus kalau seumpama kehidupan kalian gak bahagia mereka yang punya aturan adat mau bertanggung jawab kah?! kan ngga.
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
owalaaaa .... orang tua nya Rani toh ....
ternyata mereka kerjasama ....
Rangga p3bin0r
Rani dj4l4n9
Ortu Rani .... mmmm ... apa ya ? keknya mak lampir dan gendruwo deh .... 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!