Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIPLOMASI DI ATAS GUNUNG API
Dua hari setelah pertemuan dengan Klan Naga Hitam...
Wei Chen duduk di kantornya, menatap peta di depannya.
Peta wilayah timur, dengan tanda-tanda di beberapa tempat. Klan Naga Hitam di utara. Klan Bunga Naga di selatan. Desa Qinghe di tengah, seperti telur di antara dua batu besar.
Lim Xiu masuk dengan dua cangkir teh. Meletakkannya di meja.
"Kau belum tidur semalaman?" tanyanya.
Wei Chen menggeleng. "Tidak bisa."
"Pikiran soal klan-klan itu?"
"Ya."
Lim Xiu duduk di kursi seberang. Menyesap tehnya.
"Kalau aku jadi kau, aku pilih Klan Naga Hitam."
"Kenapa?"
"Mereka lebih kuat. Lebih kaya. Lebih punya pengaruh." Lim Xiu menatapnya. "Klan Bunga Naga besar, tapi tidak sebesar mereka."
Wei Chen menggeleng. "Kalau aku pilih Klan Naga Hitam, Klan Bunga Naga akan marah. Mereka bisa serang kita. Atau blokir jalur dagang kita di selatan."
"Tapi kalau pilih Klan Bunga Naga, Klan Naga Hitam bisa hancurkan kita."
"Makanya aku tidak pilih salah satu."
Lim Xiu mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Wei Chen tersenyum tipis. "Aku akan buat mereka saling butuh."
"Maksudmu?"
"Aku akan tawari Klan Naga Hitam harga lebih murah untuk produk tertentu. Dan Klan Bunga Naga harga lebih murah untuk produk lain. Mereka tidak bisa dapat semua dari satu tempat."
Lim Xiu diam. Mencerna.
"Kau mau main dua kaki?"
"Bukan main dua kaki. Tapi jembatan." Wei Chen menunjuk peta. "Lihat. Klan Naga Hitam punya tambang besi. Klan Bunga Naga punya perkebunan rempah. Mereka butuh satu sama lain, tapi tidak mau kerja sama karena persaingan."
"Jadi?"
"Aku bisa jadi perantara. Beli besi dari Klan Naga Hitam, jual ke Klan Bunga Naga. Beli rempah dari Klan Bunga Naga, jual ke Klan Naga Hitam. Dua-duanya untung. Dua-duanya butuh aku."
Lim Xiu menatapnya dengan kagum.
"Kau... kau benar-benar jenius."
"Bukan jenius. Hanya lihat peluang."
Lim Xiu tersenyum. "Aku senang jadi mitramu."
Wei Chen mengangguk. Tapi dalam hati, dia tetap waspada. Lim Xiu pintar. Terlalu pintar. Bisa jadi sekutu, bisa jadi ancaman.
---
Sore harinya, Wei Chen mengirim utusan ke dua klan.
Isi pesannya sama: "Aku punya proposal baru. Bisa untung kedua belah pihak. Mari bertemu."
Dua hari kemudian, jawaban datang.
Klan Naga Hitam setuju. Klan Bunga Naga juga setuju.
Tapi mereka minta tempat berbeda. Klan Naga Hitam minta di utara. Klan Bunga Naga minta di selatan.
Wei Chen memutuskan: pertemuan terpisah. Temui Klan Naga Hitam dulu, lalu Klan Bunga Naga.
---
Perjalanan ke utara memakan waktu tiga hari.
Kali ini Wei Chen tidak sendiri. Lim Xiu ikut. Juga dua karyawan Garuda yang level kultivasinya lumayan — Budi dan Joko.
Mereka berkuda melewati hutan, sungai, dan perbukitan. Semakin ke utara, udara semakin dingin. Salju mulai turun tipis.
"Mereka tinggal di daerah dingin?" tanya Lim Xiu.
"Tambang besi di pegunungan. Dingin terus." Wei Chen menunjuk ke depan. "Sebentar lagi sampai."
Markas Klan Naga Hitam terletak di lembah pegunungan. Dikelilingi tembok batu hitam. Di belakangnya, cerobong-cerobong asap mengepul — tempat pengolahan besi.
Mereka disambut oleh Tua Li — utusan yang dulu datang ke toko.
"Tuan Wei." Dia tersenyum. "Selamat datang kembali."
"Aku diundang Tuan Naga Hitam."
"Iya. Ayo."
---
Pertemuan kali ini di ruang yang lebih kecil. Lebih pribadi.
Naga Hitam Keempat duduk di kursi kayu ukir, ditemani dua tetua. Wajahnya ramah, tapi matanya tetap tajam.
"Wei Chen." Dia menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk."
Wei Chen duduk. Lim Xiu di sampingnya. Budi dan Joko berdiri di belakang.
"Aku baca proposalmu." Naga Hitam Keempat membuka dokumen. "Menarik. Tapi aku tidak mengerti satu hal."
"Apa, Tuan?"
"Kau mau beli besi dari kami. Tapi juga mau jual rempah dari Klan Bunga Naga." Matanya menyipit. "Bukankah kau jadi mata-mata mereka?"
Wei Chen tidak terkejut. Dia sudah menduga pertanyaan ini.
"Tuan, aku pedagang. Tugasku jual beli." Suaranya tenang. "Aku tidak memihak. Aku jembatan."
"Jembatan?"
"Klan Naga Hitam punya besi. Tapi tidak punya rempah. Klan Bunga Naga punya rempah. Tapi tidak punya besi." Wei Chen menatapnya. "Kalau kalian kerja sama, dua-duanya untung. Tapi kalian musuh. Jadi butuh perantara."
Naga Hitam Keempat diam. Lalu tersenyum.
"Kau berani bilang kami musuh di depan muka?"
"Aku bilang fakta, Tuan. Bukan hinaan."
Naga Hitam Keempat tertawa. "Kau benar-benar berani." Dia mengangguk. "Baik. Aku setuju dengan proposalmu. Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
"Kau harus buka kantor cabang di wilayah kami. Di sini, di utara."
Wei Chen berpikir. Buka cabang di utara berarti investasi besar. Tapi juga berarti akses langsung ke tambang besi.
"Setuju," katanya.
Naga Hitam Keempat mengangguk puas. "Bagus. Besok kau bisa lihat lokasi."
---
Dua hari kemudian, Wei Chen dan rombongan melanjutkan perjalanan ke selatan.
Kali ini cuaca lebih hangat. Hutan hijau. Sawah terasering di lereng bukit.
Lim Xiu bertanya, "Kau yakin Klan Bunga Naga akan setuju?"
"Mereka harus. Kalau tidak, mereka hanya dapat setengah keuntungan."
"Tapi mereka bisa curiga."
"Mungkin." Wei Chen menatap ke depan. "Tapi aku punya argumen."
---
Markas Klan Bunga Naga terletak di perbukitan dekat perkebunan teh. Suasananya asri, berbeda dengan benteng hitam di utara.
Lim Shi — pemimpin klan — menyambut mereka di ruang tamu yang hangat. Teh wangi disajikan.
"Tuan Wei." Lim Shi tersenyum. "Lama tidak jumpa."
"Tuan Lim." Wei Chen membungkuk hormat. "Terima kasih sudah menerima."
"Tentu. Aku penasaran dengan proposalmu."
Wei Chen menjelaskan hal yang sama. Beli rempah dari Klan Bunga Naga. Jual besi dari Klan Naga Hitam.
Lim Shi mendengar dengan serius. Wajahnya tidak terbaca.
Selesai bicara, Lim Shi diam lama.
"Wei Chen," akhirnya dia berkata, "kau tahu kami dan Klan Naga Hitam tidak akur."
"Aku tahu."
"Dan kau minta kami beli besi dari mereka?"
"Aku minta Tuan beli besi dari saya. Besi itu dari Klan Naga Hitam, tapi Tuan tidak perlu berurusan langsung dengan mereka."
Lim Shi tersenyum tipis. "Kau pintar."
"Aku pedagang, Tuan. Mencari untung."
"Tapi ini berisiko. Kalau Klan Naga Hitam tahu kita beli besi mereka, mereka bisa naikkan harga seenaknya."
"Aku sudah buat kesepakatan harga tetap dengan mereka. Berapa pun, harga untuk Tuan tidak akan berubah."
Lim Shi mengangkat alis. "Kau bisa jamin?"
"Aku jamin dengan asetku."
Lim Shi diam. Lalu tertawa.
"Kau benar-benar pedagang sejati." Dia mengangguk. "Baik. Aku setuju."
Wei Chen lega. Tapi tidak menunjukkan.
"Ada syarat?" tanyanya.
"Ada. Kau harus buka cabang di selatan. Seperti di utara."
Wei Chen tersenyum. "Sudah kuduga."
Mereka berjabat tangan. Kesepakatan baru.
---
Perjalanan pulang, Lim Xiu bertanya.
"Kau tahu mereka akan minta cabang?"
"Tentu. Mereka ingin mengawasi."
"Dan kau setuju?"
"Iya. Cabang di utara dan selatan. Garuda Trading jadi jembatan."
Lim Xiu menggeleng. "Kau benar-benar gila."
"Mungkin." Wei Chen menatap langit. "Tapi orang gila kadang berhasil."
---
Seminggu kemudian, kabar baik datang.
Kedua klan puas. Transaksi pertama berjalan lancar. Besi dari utara sampai ke selatan. Rempah dari selatan sampai ke utara.
Garuda Trading resmi jadi mitra dagang dua klan besar.
Toke Wijaya menghitung keuntungan. Matanya melebar.
"Nak Wei... bulan ini kita untung 5.000 koin perak."
Wei Chen mengangguk. "Bagus."
"Kau tidak terkejut?"
"Sudah kuhitung."
Toke Wijaya tertawa. "Kau memang aneh."
---
Malam harinya, Wei Chen duduk di samping Mei Ling.
Gelang baru sudah tiba. Dipasang. Batu gioknya berkilau lagi.
Mei Ling tersenyum. "Enakan."
Wei Chen mengusap rambutnya. "Syukurlah."
"Chen, aku dengar kau berhasil buat kesepakatan dengan dua klan."
"Ya."
"Kau hebat."
"Aku hanya kerja."
Mei Ling memeluknya. "Aku bangga padamu."
Wei Chen diam. Tapi di dalam hatinya, hangat.
Untuk Mei Ling, dia akan lakukan apa saja.
---
Chapter 16 END.
---