NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Merah di Puncak Merapi

Lereng Merapi terasa seperti napas gunung yang hidup. Abu halus beterbangan di udara setiap kali angin bertiup, membawa bau belerang dan tanah panas. Mereka berempat mendaki jalur tersembunyi di sisi timur—jalur yang hanya diketahui oleh anggota klan Phoenix—melewati hutan pinus yang semakin jarang, digantikan oleh bebatuan hitam dan retakan tanah yang mengeluarkan uap tipis.

Kirana memimpin jalan. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara, tapi matanya terus waspada. Ia tahu setiap batu, setiap celah di sini adalah wilayah klan. Dan ia tahu Dewi Lara pasti sudah merasakan kedatangan mereka.

“Kuillnya tersembunyi di balik aliran lava kuno,” kata Kirana pelan, tanpa menoleh. “Hanya Phoenix yang bisa melewati penghalang api tanpa terbakar. Kalau kalian ikut… kita harus berhati-hati.”

Jatayu berjalan di belakangnya, golok di pinggang. “Dewi Lara tidak akan membiarkan kita masuk begitu saja. Dia pasti sudah mengirim penjaga.”

Banda berjalan di samping Jatayu, kristal biru masih dibungkus kain di tasnya. Setiap langkah membuatnya merasakan getaran dari gunung—bukan getaran biasa, tapi seperti denyut nadi yang selaras dengan denyut di dadanya. Sejak kontak malam tadi, ikatan itu semakin nyata: ia bisa merasakan emosi Jatayu seperti ombak kecil yang menyentuh pantai jiwanya—ketakutan, keraguan, dan di balik itu, kehangatan yang semakin sulit disembunyikan.

Bayu mengikuti paling belakang, tas ranselnya penuh bekal sederhana. “Ini gunung berapi aktif, kan? Kalau meletus tiba-tiba…”

“Merapi tidak meletus karena marah,” jawab Kirana. “Tapi kalau klan marah… api bisa muncul di mana saja.”

Mereka mencapai celah sempit di antara dua batu besar. Di depannya, dinding api tipis membara—api Phoenix murni, berwarna merah keemasan, tidak menghasilkan asap tapi panasnya terasa hingga tulang.

Kirana mengulurkan tangan. Api itu membelah seperti tirai, membiarkannya lewat. Ia menoleh ke belakang. “Ikuti aku tepat di belakang. Jangan sentuh api kalau tidak ingin terbakar.”

Jatayu melangkah maju, tangannya menyentuh punggung Kirana sebentar—sentuhan sahabat yang penuh rasa syukur. Lalu ia menoleh ke Banda. “Pegang tanganku.”

Banda menggenggam tangan Jatayu tanpa ragu. Saat mereka melangkah masuk, api membungkus tubuh mereka. Panas menyengat, tapi bukan menyakitkan—lebih seperti pelukan yang terlalu erat. Di dalam api, Banda merasakan api Phoenix Jatayu menyatu dengan air dingin di nadinya, menciptakan uap emas tipis yang melindungi mereka berdua.

Bayu ragu sejenak, tapi Kirana mengulurkan tangan yang lain. “Aku lindungi kau.”

Bayu menggenggam tangan Kirana. Api membungkusnya, tapi tidak membakar—hanya hangat seperti selimut tebal. Ia tersenyum gugup. “Ini… aneh banget.”

Mereka keluar di sisi lain. Di depan mereka terbentang dataran tinggi kecil yang tersembunyi: reruntuhan kuil batu hitam dengan atap setengah runtuh, dikelilingi lingkaran api abadi. Di tengah altar, kristal merah besar berdiri tegak, menyala seperti matahari kecil yang terperangkap di batu.

Tapi mereka tidak sendirian.

Dewi Lara berdiri di depan altar, rambut merah menyala panjangnya berkibar tanpa angin. Di sampingnya, enam Phoenix lain—pria dan wanita berpakaian hitam-merah—berdiri siaga, api kecil menari di telapak tangan mereka.

“Kau akhirnya kembali, Jatayu,” kata Dewi Lara dengan suara dingin tapi penuh otoritas. Matanya menyala merah terang. “Dan kau bawa musuh ke rumah kita.”

Jatayu melangkah maju, melepaskan tangan Banda. “Dia bukan musuh. Dia keponakanku. Darah Garini mengalir dalam tubuhnya.”

Dewi Lara tertawa kecil. “Keponakan? Kau berani menyebutnya begitu setelah membiarkan Garini mati? Kau pengkhianat sejak hari itu. Dan sekarang kau bawa darah campuran yang bisa menghancurkan kita semua.”

Kirana maju setengah langkah. “Dewi… izinkan kami mengambil kristal merah. Kami ingin mematahkan kutukan, bukan memperkuatnya.”

Dewi Lara menatap Kirana dengan tatapan kecewa. “Kau juga ikut dalam pengkhianatan ini? Aku pikir kau setia.”

Kirana menunduk. “Aku setia pada Jatayu. Dan pada kebenaran.”

Dewi Lara menggeleng pelan. “Kebenaran yang kau lihat hanyalah ilusi cinta terlarang. Darah campuran itu akan membunuh Phoenix terakhir—atau membunuh naga yang bangkit. Tidak ada jalan tengah.”

Ia mengangkat tangan. Api merah menyala di sekitar altar, membentuk dinding yang memisahkan mereka dari kristal.

Banda merasakan kemarahan naik di dadanya. Air di dalam dirinya bergolak. “Kami tidak datang untuk bertarung. Kami datang untuk mencari jawaban.”

Dewi Lara menatapnya. “Jawabanmu ada di darahmu sendiri. Kau adalah bukti kegagalan Garini. Dan kegagalan Jatayu.”

Jatayu maju lagi. “Kalau kau ingin menghentikan kami, kau harus membunuhku dulu.”

Dewi Lara tersenyum tipis. “Aku tidak perlu membunuhmu. Aku cukup membiarkan kutukan menyelesaikannya.”

Ia menjentikkan jari. Api di sekitar altar menyala lebih terang, dan tiba-tiba—dari retakan tanah—muncul api hitam. Bukan api Phoenix biasa, tapi api yang tercemar: api Naga Tanah yang merembes melalui kutukan.

Api hitam itu meluncur ke arah Banda.

Banda mengulurkan tangan insting. Ombak air muncul dari tanah, bertabrakan dengan api hitam. Uap meledak, tapi api hitam tidak padam—malah menjalar ke tubuh Banda, menyusup ke sisik samar yang muncul lagi di lengannya.

Ia meringis kesakitan. “Ini… kutukan…”

Jatayu berlari ke depannya. Goloknya menyala merah terang. Ia menusuk api hitam itu, api Phoenix-nya bertabrakan langsung dengan api tercemar.

Percikan emas dan hitam beterbangan. Jatayu terdorong mundur, tapi api hitam surut sementara.

Dewi Lara mengernyit. “Kau masih melindunginya? Bodoh.”

Banda jatuh berlutut, napasnya tersengal. Di dadanya, bara itu semakin panas—seperti api Jatayu dan airnya sendiri saling bertarung dari dalam.

Kirana berlutut di sampingnya, tangannya menyentuh dada Banda. Api penyembuh emas lembut mengalir dari telapaknya. “Tahan… aku bantu stabilkan.”

Tapi saat Kirana menyentuh, visi singkat muncul lagi—untuk mereka bertiga: Jatayu, Banda, dan Kirana melihat masa lalu yang sama. Garini berdiri di altar Merapi, memegang kristal merah, dan berbisik pada bayi kecil di pelukannya: “Kalau suatu hari kau kembali… jangan biarkan api dan air saling membunuh. Biarkan mereka menyatu.”

Visi pudar. Kirana menarik tangan dengan cepat, wajahnya pucat. “Garini… dia tahu. Dia tahu kalau ikatan ini bisa mematahkan kutukan… kalau kita bertiga bekerja sama.”

Dewi Lara tertawa dingin. “Ilusi. Tidak ada penyembuhan untuk kutukan ini.”

Tapi api hitam sudah surut sepenuhnya. Kristal merah di altar berdenyut lebih terang—seolah merespons kehadiran darah campuran.

Jatayu berdiri, golok masih menyala. “Kami tidak akan pergi tanpa kristal itu. Dan kalau kau menghalangi… aku akan lawan kau, Dewi.”

Dewi Lara menatap mereka bertiga lama. Lalu ia menghela napas—bukan marah, tapi lelah.

“Pergi,” katanya tiba-tiba. “Ambil kristal merah. Tapi ingat: kalau kutukan tidak terpatahkan… aku sendiri yang akan memburu kalian. Demi klan. Demi Garini yang seharusnya tidak pernah jatuh cinta pada naga.”

Api penghalang padam.

Banda bangkit pelan, dibantu Jatayu dan Kirana. Mereka bertiga melangkah ke altar.

Saat tangan Banda menyentuh kristal merah, cahaya merah dan biru bertabrakan—menghasilkan kilau emas yang menyilaukan.

Dan di dalam kilau itu, suara Garini terdengar samar:

“Anakku… jangan takut. Api dan air bukan musuh. Mereka adalah satu.”

Kristal merah terlepas dari altar, masuk ke tangan Banda.

Dewi Lara memandang mereka pergi tanpa menghalangi lagi.

Tapi di matanya, ada sesuatu yang baru: bukan kemarahan, tapi ketakutan.

Karena ia tahu—kalau kutukan benar-benar bisa dipatahkan, maka seluruh keseimbangan empat raja akan berubah.

Dan dunia mungkin tidak siap untuk perubahan itu.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!