(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alessio Russo.
Waktu berlalu dengan cepat, kini perut Rania sudah membulat sempurna, usia kandungannya sudah memasuki delapan bulan, Rania dan anak-anak tinggal di mansion utama yaitu Mansion Moretti.
Bukan karna Marco meragukan dirinya, tapi dia memilih untuk tindakan pencegahan, Marco tak ingin mengambil resiko...
Rania kini duduk diruang tengah bersama dengan keluarga besar Moretti, Marco duduk disamping nya, ia lebih gendut seperti pertama kali ia sampai di Milan.
Namun kali ini bukan karena kebanyakan makan atau hidup susah. Kali ini karena ia sedang membawa kehidupan.
Marco menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara bangga, posesif, dan… takut.
“Jangan terlalu lama duduk,” gumamnya pelan, tangannya masih setia mengusap perut Rania yang membulat indah. “Kalau capek, kita naik ke kamar.”
Rania mendengus kecil. “Aku hamil, Hubby. Bukan pecah belah.”
Beberapa anggota keluarga Moretti tersenyum melihat keberanian Rania. Dulu, gadis itu bahkan tak berani menatap mata Marco. Sekarang? Ia bisa membalas ucapan pria itu tanpa ragu.
Di seberang ruangan, Moretti memperhatikan dalam diam. Tatapannya tajam namun tak lagi dingin pada Rania. Sejak kehamilan ini, posisi Rania di keluarga itu berubah drastis. Ia bukan lagi perempuan asing dari masa lalu Marco, Ia adalah calon ibu dua anak kembar.
Tiba-tiba Rania terdiam. Tangannya refleks mencengkeram lengan Marco.
Marco langsung menegang. “Kenapa?”
Rania menunduk, napasnya berubah. “Dia… nendang.”
Suasana ruangan mendadak hening.
Marco membeku sepersekian detik sebelum berlutut di depan Rania tanpa peduli wibawanya sebagai tuan keluarga Moretti. Tangannya berpindah, menekan lembut perut Rania.
“Hey… Nak…” bisiknya pelan. Dan tepat saat itu, tendangan kecil itu terasa lagi.
Marco terdiam. Untuk pertama kalinya, pria yang ditakuti banyak orang itu terlihat… rapuh.
Matanya menghangat Rania menatapnya, hatinya bergetar. Ia tak pernah menyangka akan melihat sisi ini dari Marco.
Namun momen hangat itu tak berlangsung lama. Salah satu pengawal masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang.
“Tuan… ada pergerakan mencurigakan di taman belakang"
Marco berdiri dalam satu gerakan halus. Aura hangatnya lenyap, tergantikan oleh ketegasan dingin yang biasa.
“Siapa?”
“Orang-orang Russo.”
Nama itu membuat beberapa anggota keluarga langsung saling pandang. Marco mengeratkan rahangnya.
Rania bisa melihat perubahan itu. Tatapan yang tadi lembut kini berubah menjadi tajam mematikan.
Marco menoleh pada istrinya. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Rania lembut kontras dengan suara dinginnya saat memberi perintah.
“Bawa semua ke ruang aman. Sekarang.”
“Aku tidak akan sembunyi seperti pengecut,” ucap Rania pelan, namun jelas.
Marco menatapnya lama. “Kau bukan pengecut,” katanya pelan. “Kau adalah segalanya yang harus kulindungi.”
Dan tanpa memberi ruang untuk bantahan, Marco mencium kening Rania sekilas sebelum berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah penuh kuasa.
Pintu tertutup Rania meremas perutnya hatinya berdebar tak karuan entah kenapa… firasatnya tidak baik. Dan di luar sana, malam di Milan terasa lebih gelap dari biasanya.
Angin malam berembus lebih tajam di halaman belakang kediaman keluarga Moretti. Langit di atas Milan kelabu tanpa bintang, seolah ikut menahan napas.
Rania berdiri terpaku beberapa detik setelah pintu tertutup.
Di dalam dadanya, jantungnya berdentam terlalu keras. Bukan hanya karena ancaman di luar sana. Tapi karena cara Marco menatapnya barusan.
Cara seorang mafia memandang Kekuasaan nya,dan cara seorang pria memandang seluruh dunianya.
“Nyonya, mari,” ujar salah satu pengawal wanita dengan hormat namun tegas.
Rania menggeleng pelan. “Aku akan ke ruang aman. Tapi aku tidak akan bersembunyi.”
Ia berjalan sendiri, satu tangan tetap berada di perutnya. Bayinya bergerak lagi lebih lembut kali ini. Seolah merasakan kegelisahan ibunya. Lorong rumah besar itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu kristal memantulkan bayangan tegang para pengawal yang berlari cepat ke posisi masing-masing.
Di luar, suara langkah kaki terdengar. Lalu satu letusan senjata. Tajam. Memecah malam Rania berhenti, tubuhnya membeku,bukan karena takut pada peluru.
Tapi karena pria yang dicintainya sedang berdiri di antara bahaya itu.
Sementara itu, di taman belakang Marco berjalan tenang, Jas hitamnya tertiup angin. Di belakangnya, beberapa orang kepercayaannya dan para pria Moretti mengikuti dalam diam.Gerbang belakang sudah terbuka setengah.Dan di sana, berdiri sekelompok pria bersenjata.
Di antara mereka, satu sosok melangkah maju. Senyum miring menghiasi wajahnya.
Alessio Russo.
Nama keluarga itu sudah menjadi duri dalam daging selama bertahun-tahun. Rival lama keluarga Moretti. Dendam yang tak pernah benar-benar padam.
“Marco…” suara pria itu terdengar santai, terlalu santai untuk situasi seperti ini. “Kudengar kau akan segera menjadi ayah.”
Marco berhenti beberapa meter darinya. Tatapannya datar. Dingin.
“Jika kau datang hanya untuk memberi ucapan selamat, kau salah alamat.”
Russo tertawa kecil. “Ah, selalu formal. Selalu dingin. Tapi malam ini aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
“Pastikan cepat.”
Russo memiringkan kepala. “Aku ingin tahu… seberapa jauh kau akan melindungi apa yang kau cintai.”
Keheningan turun. Angin berhenti. Dan dalam satu detik yang nyaris tak terlihat salah satu pria Russo mengangkat senjatanya.
Namun Marco lebih cepat, satu tembakan dilepaskan, tubuh pria itu roboh sebelum sempat menarik pelatuk sepenuhnya.
Kekacauan meledak,suara tembakan bersahutan. Kaca jendela pecah. Lampu taman padam satu per satu. Marco bergerak seperti bayangan. Presisi. Tanpa ragu.
Tak ada keraguan di wajahnya. Tak ada belas kasihan. Karena satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanya satu, Rania.
Sementara didalam ruang aman, Rania terduduk di kursi, napasnya memburu. Dentuman samar dari luar terdengar seperti badai jauh.
Air matanya mengalir tanpa suara.
“Dia akan baik-baik saja…” bisiknya pada perutnya. “Ayahmu terlalu keras kepala untuk kalah.”
Tiba-tiba satu ledakan lebih besar mengguncang dinding, lampu berkedip,dan suara alarm darurat berbunyi. Pengawal di depan pintu menerima pesan dari earpiece-nya. Wajahnya berubah pucat.
“Apa yang terjadi?” tanya Rania.
Pria itu ragu sepersekian detik.
“Sebagian dari mereka berhasil masuk ke dalam rumah.”Jantung Rania serasa jatuh.
Masuk?
Bagaimana mungkin pintu lorong terdengar dibuka paksa di kejauhan,langkah kaki. Cepat. Mendekat.
Rania berdiri perlahan,ketakutan merambat, tapi bukan untuk dirinya.
Untuk anaknya,untuk Marco. Dan tepat saat gagang pintu ruang aman bergetar,suara tembakan terdengar lagi. Sangat dekat,seseorang berteriak.
Lalu…
Sunyi.
Detik terasa seperti jam,gagang pintu bergerak pelan dan pintu terbuka. Rania menahan napas,sosok tinggi berdiri di ambang pintu, wajahnya sedikit berlumur darah bukan darahnya sendiri.
Marco.
Matanya langsung mencari Rania,begitu melihatnya utuh, bahunya sedikit turun. Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengembuskan napas panjang.
Namun sebelum Rania sempat melangkah mendekat suara lain terdengar dari belakang Marco.
Klik.
Dingin moncong pistol menempel di pelipis Marco. Alessio Russo muncul dari bayangan, tersenyum tipis.
“Permainan belum selesai, Marco.” Rania merasa dunianya runtuh dalam satu detik.
Marco tidak bergerak,tidak gentar,tatapannya justru tetap pada istrinya.
Tenang.
Terlalu tenang.
“Sayang,” suaranya rendah namun stabil, “lihat aku.” Air mata Rania jatuh deras.
“Jangan,” bisiknya.
Russo terkekeh pelan. “Kau tahu, Marco mungkin aku tak perlu membunuhmu. Mungkin cukup membuatmu melihat semuanya hancur.” Tangannya bergeser, mengarahkan pistol ke arah Rania.
Waktu seolah berhenti,dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai Marco kehilangan ketenangannya, matanya berubah. Bukan lagi dingin, tapi mematikan,sangat mematikan.
“Sentuh mereka,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan maut, “dan kau tidak akan mati cepat.”
Suasana menegang sampai ke tulang,dan di detik itulah Rania merasakan tendangan kuat lagi dari dalam perutnya, lebih keras. Seolah kehidupan kecil itu menolak tunduk pada ancaman Rania mengangkat wajahnya. Air matanya berhenti,entah dari mana datangnya keberanian itu.
“Kau...,” suaranya gemetar namun jelas, “kau pikir dengan menodongku kau menang?”
Pria itu tersenyum sinis. “Bukankah kau sedang gemetar?”
“Ya,” Rania mengangguk. “Tapi bukan karena takut padamu.”
Tatapannya beralih pada Marco lalu kembali pada pria di hadapannya. “Aku gemetar karena kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan.”
Detik berikutnya terjadi begitu cepat,satu kilatan,satu gerakan kecil dari tangan Marco.
Satu tembakan meledak sangat dekat dan tubuh Russo terhuyung mundur. Ternyata, sejak tadi salah satu pengawal Marco yang terluka masih sadar… dan menembak dari sudut lorong.
Russo jatuh berlutut Marco berbalik dalam sepersekian detik dan melumpuhkannya sepenuhnya.
Sunyi.
Benar-benar sunyi, hanya napas berat yang terdengar Marco berdiri beberapa detik, memastikan tak ada ancaman lain.
Lalu ia berbalik, langkahnya kini tak lagi seperti pemimpin perang,tapi seperti seorang pria yang baru saja hampir kehilangan segalanya. Ia berlutut di depan Rania,tangannya gemetar saat menyentuh wajah istrinya.
“Apa kau terluka?”
Rania menggeleng, lalu memeluknya erat Marco membalas pelukan itu tanpa menjaga wibawa,tanpa topeng, hanya seorang suami,hanya seorang calon ayah.
Di luar, puluhan mobil mulai terdengar mendekat di kejauhan kota Milan.
Namun di dalam ruangan itu, dunia mereka menyempit menjadi satu pelukan.
Dan di antara detak jantung yang masih berdebar kencang Marco menempelkan dahinya pada perut Rania.
“Daddy di sini,” bisiknya tidak ada suara tembakan,hanya satu tendangan kecil yang menjawabnya.