Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Sepihak?
Tanpa ragu sedikit pun, Agus meraih pulpen mewah di atas mejanya. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena gairah kemenangan yang kembali membuncah, ia merasa seolah-olah baru saja memenangkan lotre di tengah badai.
Tanda tangan Agus tergores di atas materai pada setiap lembar dokumen tersebut, ia tidak membaca detail klausul berhuruf kecil di halaman lampiran yang menyatakan.
Apabila terjadi pembatalan proyek strategis nasional yang melibatkan debitur, maka seluruh aset jaminan akan berpindah kepemilikan kepada pihak Bank secara absolut dalam waktu 3x24 jam tanpa melalui proses pengadilan.
"Selesai!" Agus berseru sambil menyerahkan kembali map tersebut kepada Pak Darmawan.
"Kapan dana itu bisa cair?" tanya Agus.
Pak Darmawan tersenyum tipis, "Sistem kami sangat cepat, Pak Agus. Dalam dua jam, limit kredit anda akan aktif. Selamat, anda baru saja menyelamatkan perusahaan anda," ucap Pak Darmawan.
Setelah Pak Darmawan keluar, Agus langsung memeluk Sabrina dengan erat. "Sayang, kamu benar-benar malaikat pelindungku! Setelah ini beres, kita akan pindah ke rumah yang lebih besar dari rumah yang dulu ditempati si wanita tua itu!" ucap Agus.
Sabrina tertawa manja, matanya berkilat menatap logo Bank Artha Wijaya di salinan dokumen. "Tentu saja, Mas. Kita berhak mendapatkan yang terbaik," ucap Sabrina.
Dua jam kemudian, di kantor pusat Grup Wijaya. Yessi masuk ke ruangan Karina dengan langkah ringan, "Nona, ikan sudah memakan umpannya. Seluruh aset Agus, termasuk rumah mewah yang ia ambil dari anda, kini secara legal terikat pada Bank Artha Wijaya dan pemilik manfaat akhir dari Bank Artha Wijaya melalui struktur perusahaan berlapis adalah anda," ucap Yessi.
Karina menoleh dari jendela dan matanya berkilat dingin, "Ayahku membangun bank itu sebagai benteng terakhir keluarga Wijaya, Agus sangat bodoh karena tidak pernah tahu bahwa Artha Wijaya bukan sekadar nama, tapi simbol kepemilikan," ucap Karina.
"Lalu, apa langkah selanjutnya, Nona?" tanya Yessi.
"Sekarang hubungi Pak Juan di kementerian. Berikan dia hadiah yang sudah kita siapkan agar dia segera menandatangani surat pembatalan keterlibatan Agus Materialindo dalam proyek Mega City dengan alasan risiko reputasi akibat kasus Jake," ucap Karina.
"Baik, Nona. Selain itu ada yang ingin saya sampaikan tentang mantan mertua anda," ucap Yessi ragu.
"Kenapa dengan dia?" tanya Karina.
"Mantan mertua anda baru saja terlihat di sebuah toko emas dan mencoba menjual beberapa perhiasan yang anda belikan dulu, sepertinya dia mulai panik karena Agus mulai membatasi uang belanjanya," ucap Yessi.
Karina tersenyum sinis, "Biarkan dia menjualnya, uang itu tidak akan bertahan lama. Besok pagi, saat surat pembatalan proyek turun, aku ingin seluruh akses perbankan Agus ditutup total dan dengan begitu kita akan mengeksekusi jaminannya di hari ketiga," ucap Karina.
"Baik, Nona," jawab Yessi.
Keesokan paginya, langit Jakarta tampak mendung, seolah memberi sinyal akan adanya kehancuran besar. Agus sedang berada di ruang rapat bersama para pemegang saham yang mulai tenang setelah mendengar kabar adanya kucuran dana dari Bank Artha Wijaya. Namun, tiba-tiba Haris berlari masuk tanpa mengetuk pintu, wajahnya pucat pasi, lebih putih dari kertas yang ia pegang.
"Pak... Pak Agus...," panggil Haris terengah-engah.
"Ada apa lagi?! Kamu tidak lihat saya sedang rapat?" bentak Agus.
"Proyek Mega City, Pak... Kementerian baru saja mengeluarkan surat resmi. Perusahaan kita didiskualifikasi secara permanen dari seluruh proyek strategis nasional karena keterlibatan dalam skema tindak pidana korupsi Jake dan... dan..." Haris gemetar hebat.
"Dan apa?" tanya Agus sambil merampas surat itu.
"Dan karena pembatalan itu, Bank Artha Wijaya baru saja mengirimkan notifikasi eksekusi jaminan. Mereka menganggap kita gagal bayar secara instan karena hilangnya sumber pendapatan utama yang dijaminkan, Pak... semua rekening kita dibekukan untuk proses sita jaminan!" ucap Haris.
Seluruh ruangan rapat seketika riuh dengan makian para pemegang saham, Agus merasa telinganya berdenging dan menatap Sabrina yang juga tampak terkejut di pojokan.
"Nggak mungkin... Pak Darmawan bilang jaminan itu cuma formalitas!" Agus berteriak histeris dan mencoba menelepon Pak Darmawan, namun nomor tersebut sudah tidak aktif.
Ditengah kekalutannya, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka lebar. Bukan Pak Darmawan yang muncul, melainkan seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang sangat dikenal di kalangan hukum Jakarta.
"Selamat pagi, Pak Agus," ucap pria itu dengan tenang.
"Anda siapa?" tanya Agus.
"Saya Pandu, saya adalah pengacara dari Bank Artha Wijaya," ucap Pandu.
Agus menatap Pandu dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya, "Pengacara bank? Untuk apa? Saya baru saja tanda tangan kemarin! Ini pasti ada kesalahan! Saya masih punya waktu untuk membereskan ini!" tanya Agus dengan histeris.
Pandu tidak bergeming, ia meletakkan sebuah koper kulit di atas meja rapat yang dingin lalu mengeluarkan selembar dokumen dengan stempel emas yang berkilau.
"Tidak ada kesalahan, Pak Agus. Berdasarkan klausul percepatan yang anda tanda tangani di bawah kesadaran penuh, hilangnya kontrak Mega City merupakan pelanggaran fundamental dan pihak bank telah melakukan eksekusi sepihak," ucap Pandu.
"Eksekusi sepihak? Apa maksudmu?!" teriak Agus, suaranya melengking hingga ke koridor luar.
"Maksud saya, mulai detik ini, gedung ini, seluruh aset perusahaan, bahkan rumah yang anda tempati, secara hukum telah beralih kepemilikannya. Kami sudah mengirimkan tim penyitaan ke kediaman anda untuk melakukan pengosongan," ucap Pandu.
Mendengar perkataan Pandu, Sabrina yang sejak tadi diam langsung berteriak. "Apa! Kalian tidak bisa melakukan itu! Itu rumahku sekarang! Mas Agus, lakukan sesuatu!" ucap Sabrina.
Namun Agus tidak bisa melakukan apa pun, tubuhnya terasa lemas, bahkan lututnya sampai membentur kursi kayu jati yang kini bukan lagi miliknya.
"Beri saya waktu, saya pasti akan memperbaiki semuanya dan proyek Mega City akan saya dapatkan lagi," ucap Agus.
Pandu menatap Agus dengan tatapan dingin tanpa simpati sedikit pun, "Waktu adalah kemewahan yang tidak lagi anda miliki, Pak Agus. Keputusan kementerian bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat dan segala bentuk negosiasi telah ditutup," ucap Pandu.
Di tengah keributan itu, ponsel Sabrina berdering dan ia melihat layar ponselnya dengan wajah panik lalu mengangkatnya.
^^^Halo, Ibu?^^^
Sabrina,cepat pulang! Di rumah sekarang banyak polisi! Dan mereka menyuruh Ibu keluar dari rumah!
^^^Apa? Polisi?^^^
Sabrina berteriak histeris dan membuat seluruh orang di ruang rapat menoleh ke arahnya.
"Mas! Mas Agus! Ibu telepon, dia bilang ada banyak polisi di depan rumah mewah kita! Mereka memasang garis kuning dan menyuruh Ibu keluar sekarang juga!" teriak Sabrina lalu Agus pun merampas ponsel dari tangan Sabrina
^^^Ibu! Halo, Ibu! Jangan keluar dulu! Itu pasti salah paham!^^^
Agus! Mereka bilang rumah ini sudah disita! Mereka mengeluarkan semua barang-barang Ibu ke teras! Cepat pulang, Agus! Ibu malu dilihat tetangga!
Setelah mengatakan itu, sambungan terputus.
.
.
.
Bersambung.....