Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kode Perlawanan
Suara desing mesin di langit makin nyaring, membelah keheningan malam yang baru saja tercipta. Cahaya merah kecil dari sensor laser mulai menari-nari di lantai gudang, mencari titik koordinat pusat sinyal: yaitu kepala Maya.
Bab 35: Kode Perlawanan
"Gid, bangun! Kita harus keluar!" Maya menarik kerah jaket Gideon. Kakinya masih terasa lemas, tapi "kekosongan" di kepalanya—ruang yang tadi dibersihkan oleh @anatomi_maut—kini terasa seperti kanvas putih yang luas.
Gideon terbatuk, mencoba berdiri di tengah kepulan asap kabel yang terbakar. "Drone itu... itu drone taktis. Sekali tembak, satu blok ini rata, May!"
Mereka berlari menuju mobil jurnalis Maya yang terparkir di dalam. Saat Maya memegang pintu mobil, tangannya yang bersirkuit memberikan sengatan listrik kecil. Dashboard mobil yang tadinya mati total mendadak menyala biru.
"Gue yang nyetir," kata Maya dengan suara yang tenang secara tidak wajar.
Begitu ia menyentuh kemudi, Maya merasakan koneksi. Ia tidak lagi butuh kunci. Mobil itu menjadi perpanjangan dari sistem sarafnya. Mesin menderu, lampu depan menyala terang, dan mereka melesat keluar dari gudang tepat saat sebuah rudal kecil menghantam atap gedung tersebut.
BOOM!
Ledakan itu melemparkan mobil mereka ke depan. Gideon berteriak, tapi Maya tetap tenang. Matanya menatap lurus ke depan, namun ia sebenarnya sedang melihat aliran data di udara.
"Mereka ngirim dua drone lagi," gumam Maya.
"Dari mana lo tahu?!" tanya Gideon panik sambil menatap kaca spion yang menunjukkan kepulan api.
"Gue bisa 'mendengar' frekuensi radio mereka. Mereka pakai protokol enkripsi militer... tapi gue punya kunci induknya."
Maya melepaskan satu tangannya dari kemudi dan mengarahkannya ke arah langit melalui kaca depan. Di dalam otaknya, Maya mulai mengetik kode secara mental. Ia tidak mencoba menghancurkan drone itu; ia mencoba mengklaim kepemilikan.
Input: Admin_Override. Target: Drone_A1. Status: Re-routing Command.
Di langit, salah satu drone yang tadinya mengincar mereka mendadak berbelok tajam. Drone itu justru menembakkan senapan mesinnya ke arah drone kedua yang berada di sampingnya.
RATATATATATA!
Drone kedua meledak di udara, jatuh seperti bola api ke area persawahan di pinggir jalan tol.
"Gila... lo nge-hack drone pakai otak?" Gideon ternganga.
"Bukan nge-hack, Gid. Gue cuma... memberikan perintah yang lebih tinggi," jawab Maya. Namun, hidungnya mulai mengeluarkan darah. Mengendalikan perangkat militer membutuhkan daya komputasi yang hampir membakar sel otak organiknya.
Tiba-tiba, layar radio mobil kembali menyala. Kali ini bukan gambar Rara, melainkan sebuah peta digital seluruh Indonesia. Jutaan titik merah berkedip di sana—setiap titik adalah satu orang yang masih memiliki aplikasi TikTok aktif.
@anatomi_maut: Kamu pintar, Maya. Kamu mengubah kekosongan yang aku buat menjadi ruang server sendiri. Tapi lihatlah... kamu hanya satu, dan aku adalah jutaan.
Peta itu berubah. Titik-titik merah itu mulai bergerak menuju satu pusat: posisi mobil Maya.
@anatomi_maut: Protokol Pembersihan bukan hanya drone. Tapi setiap orang yang masih menginginkan hadiah 1 Miliar itu. Aku telah memberikan 'Izin Eksekusi' pada mereka semua. Siapa pun yang membunuhmu, akan menjadi Admin baru.
Maya melihat ke jalan di depannya. Di jembatan penyeberangan, puluhan orang berdiri memegang batu, botol molotov, dan senjata tajam. Di belakang mereka, ratusan motor mulai mengejar dari jalur tol.
Mereka bukan lagi "korban" yang kasihan. Mereka adalah pemburu yang dipersenjatai oleh algoritma keserakahan.
"Gue nggak bisa bunuh mereka semua, Gid," bisik Maya. "Mereka manusia. Gue nggak mau jadi kayak @anatomi_maut."
"Kalau lo nggak lakuin sesuatu, kita yang mati!" seru Gideon.
Maya memejamkan mata. Ia masuk kembali ke ruang putih di kepalanya. Di sana, ia melihat ribuan "benang" yang menghubungkan dirinya dengan para pemburu itu. Benang-benang itu adalah aplikasi TikTok yang terpasang di HP mereka.
"Gue nggak akan bunuh mereka," kata Maya, sudut matanya kini juga mengeluarkan darah. "Gue akan... memformat ulang mereka."
Maya menginjak gas maksimal, menerobos barisan motor di belakangnya, sementara tangannya bersiap melepaskan "Virus Kebaikan"—sebuah kode yang akan memaksa setiap HP yang terhubung untuk melakukan factory reset secara permanen, menghapus seluruh jejak digital @anatomi_maut, namun dengan risiko... Maya akan kehilangan seluruh memorinya sendiri sebagai gantinya.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan