Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Yang Salah Arah
Setengah sekte Kultus Demonic lenyap dalam satu tebasan sunyi.
Yang tersisa hanyalah reruntuhan hitam dan para kultivator yang berdiri gemetar di antara debu. Tidak ada yang melihat asal serangan itu. Tidak ada jejak qi yang bisa dilacak—hanya garis kehampaan yang membelah markas mereka.
Seorang tetua Kultus Demonic berlutut di tepi jurang bekas potongan itu, tangannya gemetar.
“Ini… ini bukan kekuatan manusia biasa…” bisiknya.
Pemimpin Kultus, seorang pria berjubah merah gelap, menatap langit dengan mata dipenuhi amarah.
“Aliansi Murim,” katanya pelan.
Para tetua menoleh serempak. “Pemimpin… belum tentu—”
“Siapa lagi?” potongnya dingin. “Siapa lagi yang berani menyerang kita sebesar ini selain mereka?”
Hening jatuh. Dalam dunia yang sudah tegang, kecurigaan lebih mudah diterima daripada kebenaran.
Pemimpin Kultus mengangkat tangannya.
“Ini adalah deklarasi perang untuk kita.”
Aura gelap meledak memenuhi aula. Para tetua tersenyum kejam.
“Musnahkan Aliansi Murim.”
Di pusat Aliansi Murim, Wuhan, kepanikan meletus.
Seorang utusan berlari masuk ke aula utama, napasnya tersengal. “Laporan darurat! Pasukan Kultus Demonic bergerak menuju kita dalam jumlah besar!”
Para pemimpin sekte bangkit dari tempat duduk mereka.
“Apa?”
“Kita tidak menyerang mereka!”
Tetua tertua memukul meja. “Ini gila! Kita bahkan sedang fokus pada perang dengan Sekte Pedang Surgawi!”
Komandan pasukan mengepalkan rahang. “Pasukan utama kita sudah setengah jalan menuju wilayah Sekte Pedang Surgawi. Jika Kultus menyerang sekarang—”
“Kita terjepit,” gumam seseorang.
Keheningan mencekam ruangan. Untuk pertama kalinya, Aliansi Murim terlihat benar-benar goyah.
Rumor perang menyebar seperti api yang disiram minyak.
Di Lembah Sunyi, Ci Lung sedang memancing saat layar sistem muncul dengan suara ceria.
[Notifikasi: Konflik skala benua terdeteksi.]
“Hah?”
[Reputasi pengguna meningkat drastis. Poin diterima: 8.400.]
Pancing Ci Lung jatuh ke air.
“DELAPAN RIBU?!”
[Selamat. Pengguna naik ke Meridian Opening layer kelima.]
Energi hangat mengalir melalui tubuhnya. Ci Lung menatap tangannya dengan campuran senang dan curiga.
“Aku bahkan nggak ngapa-ngapain.”
[Sistem menghargai efisiensi.]
“…Aku mulai takut sama kamu sistem.”
Yan Yu berlari mendekat. “Guru! Langit di luar rame banget! Semua orang ngomongin perang!”
Ci Lung menelan ludah. Perasaan tidak enak merayap di dadanya.
“Semoga bukan gara-gara aku…” gumamnya.
[Sistem memilih diam.]
“Itu bukan jawaban yang menenangkan!”
Di perbatasan benua, Zhao Ming berhenti mendadak.
Udara di depannya membeku.
Seorang pria berjubah sederhana berdiri di tengah jalan, ekspresinya datar.
Zhao Ming menyipitkan mata. “Minggir.”
Pria itu tidak bergerak. “Mengapa dirimu terlihat gelisah dan terburu buru adik kecil.”
Aura menekan jatuh seperti langit runtuh. Zhao Ming terjatuh berlutut seketika. Namun dia masih berusaha melawan tekanan itu.
Zhao Ming melangkah maju, auranya meledak melawan tekanan itu. “Siapa kamu?”
“Orang yang sedang kesal,” jawab pria itu dengan nada tenang.
Sebelum Zhao Ming bisa menyerang, ruang di samping mereka bergetar. Yi Sheng muncul dengan senyum tipis.
“Sepertinya aku terlambat ke pesta,” katanya santai.
Pria berjubah itu menoleh perlahan. Mata mereka bertemu.
Udara menjerit.
Yi Sheng tertawa kecil. “Oh… jadi kau sumber gangguan itu.”
“Kau juga,” jawab pria itu. “Kalian membuat muridku tidak bisa hidup tenang.”
Zhao Ming mengerutkan kening. “Murid?”
Yi Sheng mengangkat alis. “Menarik. Jadi dia punya pelindung.”
Pria itu menghela napas pendek. “Pergi. Sekarang.”
Yi Sheng menggeleng. “Aku tidak suka diperintah.”
Mereka bergerak bersamaan.
Benturan pertama membelah tanah. Gelombang energi menyapu horizon. Zhao Ming mundur beberapa langkah, matanya melebar saat menyadari skala pertarungan di depannya.
Yi Sheng menyerang dengan rangkaian pukulan halus yang memutar ruang. Pria itu membalas dengan gerakan minimal—setiap sentuhan membatalkan serangan seperti menghapus tulisan di udara.
“Apa ini?” gumam Yi Sheng sambil melompat mundur. “Kau bahkan tidak menggunakan teknik penuh.”
“Tidak perlu,” jawab pria itu. “Kau belum sampai.”
Senyum Yi Sheng menipis. “Hah....Dasar pria tua sombong.”
Dia melepaskan domainnya. Dunia di sekitar mereka berubah menjadi lautan cahaya perak. Tekanan menghancurkan jatuh dari segala arah.
Pria itu mengangkat satu tangan.
Domain itu retak.
Yi Sheng membeku sepersekian detik—cukup bagi lawannya untuk muncul di depannya dan mendorongnya mundur dengan satu telapak tangan.
Darah menyembur dari mulut Yi Sheng. Dia tertawa pelan meski terhuyung.
“Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini.”
“Ini bukan permainan,” jawab pria itu dingin.
Pertarungan berlanjut selama setengah hari. Langit berubah warna berkali-kali. Gunung-gunung di sekitar mereka runtuh menjadi debu.
Akhirnya, Yi Sheng berlutut, napasnya berat. Domainnya hancur total.
Pria itu berdiri di depannya, aura tenang namun absolut.
“Pergi,” katanya. “Kali ini aku membiarkanmu hidup.”
Yi Sheng menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Kita akan bertemu lagi.”
Dia menghilang tanpa menoleh.
Zhao Ming menatap pria itu dengan ekspresi gelap, lalu mundur tanpa sepatah kata.
Pria berjubah itu muncul di Lembah Sunyi saat senja.
Dia mengangkat tangannya, memperbaiki retakan halus pada barrier lembah. Energi mengalir mulus, menutup celah yang tak terlihat.
Dari kejauhan, Ci Lung hanya merasakan angin hangat lewat.
“Barriernya kok rasanya lebih enak?” gumamnya.
[Sistem: pembaruan lingkungan terdeteksi.]
“Hah?”
Tidak ada jawaban.
Di luar lembah, pria itu melirik ke arah cakrawala—ke tempat Mo Cil bergerak.
Matanya menyipit sedikit.
Lalu dia menghilang, meninggalkan dunia yang semakin dekat dengan perang total.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠