Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Serpihan Kristal dan Bayangan di Koridor
Keheningan yang mencekam menyusul suara denting kristal yang pecah. Cairan merah anggur merembes ke karpet beludru krem yang mahal, tampak seperti noda darah di tengah kemewahan ruang kerja Tuan Tri Alangkara. Kella tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, membiarkan sepercik cairan dingin mengenai punggung kakinya yang hanya terlindung gaun biru dongker tipis.
Gala terengah-engah. Napasnya memburu, bahunya naik turun seiring dengan emosi yang meluap-luap. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Kella, mencari setitik ketakutan yang biasanya ia nikmati dari para korbannya. Namun, yang ia temukan di mata sayu Kella adalah sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: pemahaman.
"Keluar," desis Gala. Suaranya rendah, bergetar di ujung tenggorokan.
Kella masih diam. "Gala, gelasnya pecah. Biar aku bersihkan dulu—"
"GUE BILANG KELUAR!" teriak Gala hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia memukul meja kayu jati itu dengan kepalan tangannya, menciptakan bunyi gedebuk yang berat. "Keluar dari ruangan ini, keluar dari rumah gue! Sekarang!"
Kella mundur selangkah. Ia tahu kapan harus berhenti menekan. Jika ia tetap di sana, Gala mungkin benar-benar akan meledak. Dengan gerakan yang sangat tenang, Kella membungkuk sedikit, mengambil nampan yang masih kosong, lalu berbalik menuju pintu.
"Jangan lupa, besok jam tujuh di gerbang sekolah. Jangan sampai telat," tambah Gala dengan nada yang kembali dingin dan ketus, seolah ledakan emosinya tadi hanyalah sebuah halusinasi. Topeng angkuhnya telah kembali terpasang dengan sempurna.
Kella tidak menjawab. Ia membuka pintu ganda yang berat itu dan melangkah keluar ke koridor lantai dua yang sunyi. Begitu pintu tertutup, Kella menyandarkan punggungnya di dinding kayu. Jantungnya berdegup kencang. Pengakuan Gala tentang nama "Gabriel" tadi benar-benar mengguncang jiwanya.
Gabriel Tri Alangkara.
Nama itu terus berputar di otaknya. Gabriel yang ia kenal adalah anak laki-laki dengan kaos lusuh yang selalu membawakannya roti sisa dari panti asuhan.
Gabriel yang ia cintai adalah sosok yang tidak memiliki apa-apa selain senyuman hangat.
Bagaimana mungkin nama itu terhubung dengan kemegahan istana yang sedang ia pijak sekarang?
Kella mulai melangkah menyusuri koridor panjang lantai dua, berusaha mencari tangga untuk turun.
Namun, rumah ini terlalu besar. Ia melewati deretan pintu kamar yang tertutup rapat. Di sepanjang dinding koridor, terdapat banyak lukisan minyak dan foto-foto keluarga dalam bingkai emas yang megah.
Langkahnya melambat saat ia sampai di depan sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Cahaya lampu dari dalam kamar itu redup, namun cukup untuk menerangi sebuah meja nakas di dekat pintu.
Di atas meja itu, terdapat sebuah bingkai foto perak.
Kella berhenti. Dorongan rasa ingin tahu yang besar mengalahkan rasa takutnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada pelayan yang lewat. Dengan tangan gemetar, ia mendekati meja itu.
Napasnya tertahan di kerongkongan.
Dalam foto itu, terdapat dua anak laki-laki yang sangat mirip. Mereka mengenakan seragam polo yang sama, berdiri di depan sebuah kolam renang besar. Yang satu terlihat lebih tinggi, merangkul adiknya dengan senyum yang begitu cerah—senyum yang sangat Kella kenali. Di bawah foto itu tertulis sebuah tanggal: 12 Juli 2015 - Gabriel Galaksi.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Kella tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan nampan di tangannya. Ia berbalik dengan cepat dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna hitam, wajahnya cantik namun tampak sangat pucat dan layu, seolah-olah seluruh kebahagiaan telah diperas keluar dari hidupnya.
"S-saya... maaf, Nyonya. Saya sedang mencari jalan turun," ucap Kella terbata-bata.
Wanita itu, Nyonya Alangkara—Ibu Gala—tidak marah. Matanya yang sembab menatap Kella dengan pandangan kosong, lalu beralih ke foto yang tadi dilihat Kella. Ia mendekat, jemarinya yang lentur menyentuh kaca bingkai foto itu dengan sangat lembut.
"Dia sangat tampan, bukan?" bisik Nyonya Alangkara.
"Gabriel selalu menjadi cahaya di rumah ini. Sejak dia pergi, rumah ini hanya berisi bayangan dan amarah."
Kella tidak tahu harus menjawab apa. "Maafkan saya, Nyonya. Saya turut berduka."
Nyonya Alangkara menatap Kella lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih fokus. "Kamu... kamu temannya Galaksi? Dia jarang sekali membawa teman ke rumah ini. Apalagi seorang gadis."
"Saya asistennya di sekolah, Nyonya."
Wanita itu tersenyum pahit. "Asisten. Galaksi selalu butuh seseorang untuk diperintah, agar dia merasa punya kendali. Itu cara dia bertahan hidup dari ayahnya. Jangan simpan dendam padanya, Nak. Dia hanya anak laki-laki yang kesepian yang sedang mencoba membuktikan bahwa dia ada."
"Nyonya..."
"Pergilah. Pelayan di ujung koridor akan mengantarmu ke pintu belakang. Jangan lewat ruang tamu lagi, suamiku tidak suka orang asing berkeliaran saat dia sedang menjamu tamu penting," ucap Nyonya Alangkara sembari kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu perlahan, meninggalkan Kella dalam kebingungan yang semakin dalam.
Kella keluar melalui pintu belakang sesuai instruksi.
Udara malam Emerald Hills yang dingin menusuk gaun tipisnya. Ia berjalan menuju gerbang utama, namun saat sampai di sana, ia teringat bahwa ia tidak punya uang lebih untuk naik taksi, dan bus terakhir dari area ini sudah lewat satu jam yang lalu.
Ia terpaksa berjalan kaki menuju jalan raya utama yang jaraknya hampir dua kilometer. Sepatu pinjamannya mulai membuat tumitnya lecet, namun Kella terus melangkah. Pikirannya melayang pada foto tadi.
Jika Gabriel yang ia kenal adalah Gabriel Alangkara, kenapa dia berada di panti asuhan? Kenapa dia meninggal dalam keadaan miskin dan sendirian? Dan kenapa Gala seolah-olah tidak tahu kalau kakaknya memiliki kehidupan lain di luar sana?
Tiba-tiba, sebuah mobil Audi hitam melambat di sampingnya. Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah Gala yang masih terlihat kesal.
"Naik," perintahnya singkat.
Kella berhenti berjalan, namun tidak mendekat. "Aku bisa jalan sendiri."
"Jangan sok jagoan. Ini jam sebelas malam. Lo mau dirampok di depan komplek gue? Naik, atau gue turun dan seret lo masuk!" Gala membentak.
Kella tidak ingin ada keributan lagi. Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Aroma di dalam mobil itu sama seperti aroma jaket Gala—parfum mahal yang dingin. Gala melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah kesunyian malam.
Selama sepuluh menit, tidak ada yang bicara. Keheningan di dalam mobil terasa begitu berat.
"Lo liat foto itu, kan?" tanya Gala tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Kella terdiam sejenak sebelum menjawab, "Iya."
"Jangan pernah bahas itu lagi. Jangan pernah tanya soal dia ke nyokap gue. Beliau belum sembuh, dan gue nggak mau lo jadi pemicu dia histeris lagi," suara Gala terdengar sangat lelah, bukan lagi suara seorang perundung, melainkan suara seorang anak yang memikul beban dunia di pundaknya.
"Gala... apa kamu tahu kalau kakakmu pernah tinggal di panti asuhan?" Kella memberanikan diri bertanya. Pertanyaan itu sudah di ujung lidahnya sejak tadi.
Gala menginjak rem secara mendadak hingga ban mobil berdecit di aspal. Mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi. Gala menoleh ke arah Kella dengan tatapan yang seolah ingin menembus jantungnya.
"Apa lo bilang? Panti asuhan? Jangan ngaco!" Gala tertawa sinis, namun ada keraguan di matanya.
"Kakak gue meninggal dalam kecelakaan mobil bareng supir pribadinya saat pulang sekolah. Dia nggak pernah ke panti asuhan. Dia anak kesayangan Alangkara. Mana mungkin dia ada di tempat kumuh kayak gitu?"
Kella menatap Gala dengan serius. "Gabriel yang aku kenal... dia meninggal karena sakit di rumah sakit umum daerah. Dia tidak punya keluarga. Dia dimakamkan di pemakaman umum tanpa nisan yang layak. Wajahnya... persis seperti anak di foto itu. Persis seperti kamu."
Gala mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Lo... lo bohong. Lo cuma mau bikin gue bingung, kan? Biar gue lepasin lo?"
"Aku tidak punya alasan untuk bohong, Gala. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Dan setiap kali aku melihatmu, rasanya seperti melihat hantunya."
Gala memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Kella melihat ekspresi wajahnya yang terguncang. Selama bertahun-tahun, ia diberitahu bahwa kakaknya meninggal secara tragis namun terhormat. Jika apa yang dikatakan Kella benar, berarti ada sebuah kebohongan besar yang disembunyikan orang tuanya.
"Turun," ucap Gala lirih.
"Gala—"
"GUE BILANG TURUN!" Gala berteriak lagi.
Kella turun dari mobil dengan hati yang hancur. Mobil Gala langsung melesat pergi, meninggalkan debu dan asap knalpot. Kella berdiri di pinggir jalan raya yang gelap, memeluk dirinya sendiri.
Malam itu, rahasia yang ia simpan mulai beradu dengan rahasia keluarga Alangkara. Kella menyadari bahwa perannya sebagai asisten Gala mungkin bukan sekadar paksaan, tapi sebuah jalan yang dibuka takdir agar ia bisa menemukan kebenaran tentang cintanya yang hilang.
Di sisi lain, di dalam mobilnya, Gala memukul stir berkali-kali. Air mata yang selama ini ia tahan di depan ayahnya akhirnya jatuh. Nama Gabriel kembali menghantuinya, tapi kali ini bukan sebagai beban ekspektasi, melainkan sebagai teka-teki gelap yang mengancam untuk menghancurkan apa yang tersisa dari keluarganya.
Mulai besok, dinamika di sekolah tidak akan sama lagi. Perang antara Gala dan Kella telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi dan berbahaya.