Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang untuk Jake
Selama seminggu penuh, Takara seolah tenggelam dalam dunianya sendiri. Di meja kerjanya, tumpukan sketsa dan maket digital mulai membentuk sebuah narasi visual yang emosional. Baginya, proyek ini bukan sekadar tugas profesional, melainkan sebuah surat cinta yang ia tuangkan dalam bentuk struktur bangunan.
Ia membayangkan Jake yang sering mengeluh pegal karena berlatih di lantai kayu yang keras, atau Jake yang merindukan aroma tanah basah setelah hujan di Brisbane.
Titik fokus dari desain Takara terletak di lantai dasar yang dibuat dengan konsep open-void. Ia merancang sebuah kolam air jernih di tengah area lobi utama yang dikelilingi oleh jembatan kayu yang unik. Jembatan itu memiliki lekukan asimetris, sebuah perpaduan antara modernitas Seoul dan kehangatan kanal-kanal di Amsterdam.
"Air memberikan ketenangan suara, dan kayu memberikan kehangatan visual," gumam Takara saat mematangkan detail materialnya. Ia ingin setiap artis yang masuk ke gedung ini merasa seolah-olah beban di pundak mereka luruh begitu mendengar gemericik air di kolam itu.
Takara sangat memahami bahwa kehidupan seorang idol adalah tentang privasi. Maka, ia mendesain area istirahat yang menghadap langsung ke taman belakang agensi. Taman itu bersifat private, tidak bisa diakses publik, namun tetap berkonsep terbuka.
Trik cerdas Takara adalah pada tembok pembatasnya. Alih-alih menggunakan beton polos yang kaku dan mengintimidasi, ia merancang tembok tinggi yang dilapisi aksen pepohonan vertikal dan tanaman rambat. Dari dalam, para artis akan merasa seperti berada di tengah hutan kecil yang terlindungi, bukan di dalam sangkar emas.
Puncak dari mahakaryanya adalah bagian rooftop. Bagi kebanyakan arsitek, rooftop hanyalah tempat meletakkan mesin pendingin ruangan atau area merokok. Namun bagi Takara, ini adalah Sky Sanctuary.
Ia mendesain rooftop dengan pepohonan rindang yang ditanam di dalam pot-pot raksasa yang terintegrasi dengan struktur gedung. Ada jalur setapak kecil di antara pepohonan itu, memungkinkan siapa pun untuk berjalan kaki sejenak menghirup udara segar tanpa harus keluar dari area gedung.
Saat tiba waktunya presentasi internal, Clara dan para senior lainnya terdiam menatap layar proyektor. Desain Takara sangat berbeda dengan estetika gedung Korea pada umumnya yang cenderung serba kaca dan metal kaku.
"Takara... ini gila," ucap Clara memecah keheningan.
"Jembatan kayu ini... ini sangat 'kamu'. Tapi yang paling saya suka adalah bagaimana kamu memikirkan kesejahteraan mental orang yang ada di dalamnya lewat taman-taman ini."
"Saya rasa bangunan bukan cuma soal tempat bekerja, Kak. Tapi soal tempat untuk kembali menemukan diri sendiri," jawab Takara mantap.
Clara mengangguk puas. "Pihak agensi akan melakukan sesi online meeting besok. Siapkan dirimu, Takara. Kamu yang akan mempresentasikan bagian ini langsung kepada mereka."
Malam itu, Takara pulang dengan perasaan yang sangat puas. Ia segera meraih ponselnya.
📲 Takara: Jake, gue baru aja selesai bikin desain buat gedung itu. Gue bikin rooftop yang penuh pohon. Lo bakal suka kalau beneran dibangun.
📲 Jake: Wah?! Beneran? Gue butuh banget tempat kayak gitu, Ra. Di sini kalau mau liat pohon gue harus pergi ke taman kota dan itu ribet banget sama masker dkk.
📲 Jake: Can't wait to see it! Oh ya, besok gue ada pemotretan seharian, jadi mungkin gue agak lambat bales ya. Good luck buat meeting-nya besok!
Takara tersenyum. Besok adalah penentuannya. Jika agensi setuju, maka impiannya untuk memberikan "ruang napas" bagi Jake akan menjadi kenyataan.
"Gue mau lo bisa lihat langit tanpa perlu takut difoto orang, Jake," bisik Takara sembari menyempurnakan pencahayaan di area rooftop tersebut.
———
Pertemuan virtual itu dimulai dengan suasana yang sangat formal. Di layar monitor besar, Takara bisa melihat deretan pria dan wanita bersetelan jas gelap duduk di sebuah ruang rapat futuristik di Seoul. Namun, begitu Takara mulai memaparkan desainnya, suasana kaku itu perlahan mencair.
Takara menjelaskan setiap sudut dengan lugas. Ia berbicara tentang bagaimana jembatan kayu itu bukan sekadar estetika, tapi tentang transisi mental dari kesibukan menuju ketenangan. Saat ia menampilkan visualisasi rooftop yang rindang, para petinggi di Seoul tampak saling berbisik dan mengangguk kagum.
Namun, kejutan sesungguhnya baru muncul saat sesi tanya jawab.
"Kami sangat membutuhkan area private yang nyaman seperti desain Anda, karena artis-artis kami, termasuk grup utama kami, ENHYPEN, seringkali merasa kelelahan di dalam gedung yang lama," ujar salah satu perwakilan agensi lewat penerjemah.
Jantung Takara nyaris melompat keluar. Konfirmasi itu datang begitu saja. Ini benar-benar gedung untuk Jake. Semua garis yang ia gambar, semua pohon yang ia letakkan di maket digitalnya, akan menjadi tempat Jake berpijak. Rasa senang yang membuncah membuatnya harus berusaha keras menjaga ekspresi profesionalnya.
"Konsep 'ruang bernapas' ini adalah prioritas saya, karena saya percaya produktivitas dimulai dari kesehatan mental para penggunanya," jawab Takara mantap.
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan setelah Takara mengakhiri presentasinya. Kemudian, seorang pria paruh baya yang tampaknya adalah kepala departemen infrastruktur agensi tersebut tersenyum lebar.
"Oke! Saya sangat senang dengan desain ini. Terbuka, hijau, dan itu sangat baik bagi talent kami. Ini adalah pendekatan yang belum pernah kami lihat sebelumnya di Seoul," ucapnya dengan nada puas.
Ia kemudian menoleh ke arah asistennya. "Jadwalkan survey lokasi sesegera mungkin. Kita tidak bisa menunda ini."
Tatapan pria itu kembali ke arah kamera, tertuju pada Takara. "Miss Takara, karena Anda adalah otak di balik konsep ini, kami meminta tim dari Brisbane untuk mengirimkan Anda langsung ke Seoul. Kami ingin Anda melihat lokasi aslinya dan memastikan setiap detail taman dan airnya bisa diimplementasikan dengan sempurna."
Setelah sambungan video berakhir, ruangan kantor di Brisbane meledak dalam sorak-sorai. Clara langsung memeluk Takara dengan heboh. "Takara! Kamu dengar itu?! Kita dapat proyeknya, dan mereka minta kamu terbang ke Seoul!"
Takara tersenyum lebar, namun tangannya sedikit gemetar di bawah meja. Ia akan kembali ke Seoul. Bukan sebagai turis, bukan sebagai orang asing yang mengintip dari kejauhan, tapi sebagai arsitek yang akan mengubah dunia tempat Jake tinggal.
Malam itu, di bawah langit Brisbane yang bertabur bintang, Takara duduk di teras rumahnya. Ia menimang ponselnya, ragu apakah harus memberi tahu Jake sekarang atau menjadikannya kejutan.
📲 Takara: Jake... sepertinya doa lo terkabul. 'Ruang rahasia' buat makan donat itu mungkin bakal beneran ada. Gue bakal ke Seoul buat survey lokasi agensi lo minggu depan.
Hanya butuh sepuluh detik sampai ponselnya berdering kencang. Itu bukan pesan singkat. Itu adalah panggilan suara dari Jake. Begitu Takara mengangkatnya, suara Jake terdengar hampir kehabisan napas, antara baru selesai latihan atau karena terlalu antusias.
"Ra?! Lo serius?! Lo nggak lagi bercanda kan?!" teriak Jake di seberang sana. "Lo bakal ke sini? Ke agensi gue?!"
"Iya, Jake. Desain gue diterima," jawab Takara sambil tertawa kecil, air mata bahagia sedikit menggenang di sudut matanya.
"Gue nggak tahu harus bilang apa... tapi Ra, I'll wait for you. Kali ini, lo nggak perlu cari tempat sembunyi buat ketemu gue. Kita bakal ada di gedung yang sama."