Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1: Api yang Memakan Malam
Angin musim penghujan menusuk tulang belulang saat langit berkobar dengan kilatan petir yang menyambar bumi Tanah Seribu Pegunungan. Di lereng Gunung Tianwu, sebuah desa kecil bernama Chenjia Cun tenggelam dalam kegelapan pekat, hanya diterangi oleh nyala api yang memakan setiap rumah seperti ular api yang lapar.
Chen Feng, berusia lima belas tahun, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak bersuara menangis. Badannya menggigil bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan dan kemarahan yang membakar dada hingga rasanya akan meletus. Di tengah lautan api itu, dia menyaksikan sosok ayahnya—Chen Wei, pemimpin desa yang dikenal adil dan kuat—sedang berjuang melawan sekelompok pria berpakaian hitam dengan lambang ular berbisa di dada mereka.
“Jangan datang dekat padanya!” teriak ibu Feng, Liu Mei, yang sedang meraih tangannya sambil berlari menuju arah hutan belakang desa. Tapi sepasang tangan besi yang dingin menyambar dari sisi kanan, menusuk perutnya hingga darah merah pekat menyembur ke tanah basah.
“Bu!” Feng menerjang ke depan, tapi tubuhnya tiba-tiba terangkat dari tanah. Seorang pria tinggi dengan wajah seperti batu kapur menatapnya dengan mata yang penuh dengan dendam. “Anak lelaki Chen Wei… tepat yang kita cari,” ujar pria itu dengan suara yang kasar seperti gergaji menyayat kayu. “Dengan membunuhmu, kita akan memastikan garis keturunan pemburu naga benar-benar punah.”
Sebelum tangan pria itu bisa meraih lehernya, bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik awan mendung. Suara menggelegar seperti guntur menghantam bumi membuat seluruh penjajah terkejut dan melihat ke atas. Seekor naga putih bersayap dengan mata berwarna biru kebiruan melayang di langit, tubuhnya memancarkan cahaya samar yang membuat nyala api desa terlihat redup.
“Naga Putih Tianwu…” bisik salah satu penjajah dengan suara gemetar. “Kita dikatakan bahwa makhluk itu sudah hilang selama ratusan tahun!”
Naga itu mengeluarkan seruan yang menusuk telinga, lalu meniup hembusan udara dingin yang membekukan sebagian lautan api. Pada saat yang sama, sosok pria tua berpakaian jubah abu-abu muncul dari balik rerumputan tinggi. Dia mengangkat tongkat kayu yang bertatahkan batu permata biru, dan dalam sekejap, beberapa penjajah terlempar ke udara oleh gelombang energi tak terlihat.
“Jangan sentuh anak itu, Hei Yu!” teriak pria tua itu sambil melangkah maju. “Kutahu rahasiamu—kamu bukan hanya pembunuh bayaran dari Sekte Ular Hitam, melainkan juga pengkhianat yang telah mengkhianati perjanjian antara manusia dan naga!”
Hei Yu, pemimpin kelompok pembunuh itu, mengeluarkan senyum sinis. “Perjanjian itu sudah usang, Guru Zhang. Dunia harus berada di tangan mereka yang kuat, bukan pada sekelompok pemburu naga yang hanya bisa bersembunyi di desa terpencil!” Dia mengangkat pedangnya yang berwarna hitam pekat, lalu menyerang dengan kecepatan luar biasa. Guru Zhang menanggapi dengan gerakan tongkatnya yang lincah, tapi jelas terlihat bahwa dia sudah tua dan tidak bisa bertahan lama melawan kekuatan Hei Yu.
Sementara itu, Feng berhasil melepaskan diri dan berlari ke arah ibu yang terbaring di tanah. Darah terus menyembur dari luka di perut Liu Mei, wajahnya sudah memucat seperti kain kapas basah. “Feng… nak…” bisiknya dengan suara yang lemah, tangan kanannya mencoba meraih pipi anaknya.
“Bu, jangan tinggalkan aku!” jerit Feng dengan mata penuh air mata. “Aku akan mencari bantuan—akan menyembuhkanmu!”
Liu Mei menggeleng perlahan, kemudian mengambil sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk kepala naga dari lehernya. “Ini… kunci untuk menemukan Warisan Pedang Naga. Hanya keturunan Chen yang bisa mengeluarkannya dari tempat persembunyiannya. Ayahmu dan aku… kita tahu bahwa hari ini akan datang. Sekte Ular Hitam ingin mengambil pedang itu untuk menguasai seluruh Tanah Seribu Pegunungan.” Dia menekan kalung itu ke tangan Feng. “Jangan biarkan mereka mendapatkannya. Cari… cari Keluarga Ye di Kota Yunlong. Mereka adalah satu-satunya yang bisa membantumu.”
Sebelum Feng bisa menjawab, suara ledakan keras terdengar dari arah pertempuran. Guru Zhang terlempar ke dinding rumah yang sudah terbakar, tubuhnya terluka parah. Hei Yu berbalik dan melihat Feng dengan senyum jahat. “Sekarang, waktunya untuk mengakhiri segalanya!”
Liu Mei mengumpulkan kekuatan terakhirnya, lalu mengeluarkan teriakan keras. Cahaya keemasan menyala dari tubuhnya, dan dalam sekejap, dia membentuk dinding energi yang melindungi Feng. “Lari, Feng! Lari sekarang!” teriaknya sebelum dinding energi itu pecah dengan suara seperti kilat.
Tanpa bisa melakukan apa-apa, Feng melihat ibunya terbawa oleh ledakan yang menghancurkan seluruh area di sekitarnya. Kemarahan yang sudah lama terkubur dalam dirinya meledak seperti gunung berapi. Api merah menyala di matanya, dan kalung di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang menyatu dengan tubuhnya. Dia merasakan kekuatan tak dikenal mengalir di dalam dirinya, membuat tangannya terasa panas seperti sedang memegang bara api.
“Hei Yu!” teriak Feng dengan suara yang lebih dalam dari biasanya. “Aku akan membunuhmu! Aku akan membalas dendam bagi ayah dan ibu ku!”
Hei Yu tertawa keras. “Anak kecil yang sok berani! Kamu bahkan tidak bisa mengangkat pedang yang sesungguhnya!” Dia mengangkat pedangnya untuk menyerang, tapi tiba-tiba gemetar mendadak. Cahaya keemasan dari tubuh Feng semakin kuat, dan bayangan besar naga emas muncul di belakangnya.
“Bagaimana mungkin… dia sudah bisa menyatu dengan warisan naga pada usianya yang muda?” bisik Hei Yu dengan suara tak percaya.
Pada saat yang sama, suara berkuda datang dari kejauhan. Sekelompok pasukan berpakaian merah dengan lambang naga emas di dada mereka menghampiri dengan cepat. Pemimpin mereka, seorang wanita muda dengan rambut cokelat yang terikat dengan jepit rambut berbentuk bunga, mengangkat tombaknya yang berkilauan.
“Sekte Ular Hitam! Kamu telah melanggar peraturan kerajaan dengan menyerang desa warga biasa!” teriak wanita itu dengan suara yang jelas dan tegas. “Surrender atau mati!”
Hei Yu melihat sekelilingnya. Pasukan kerajaan sudah mengelilinginya dari segala arah, dan kekuatan yang datang dari tubuh Chen Feng semakin mengkhawatirkannya. Dengan senyum sinis, dia mengeluarkan bola asap hitam besar yang menutupi seluruh area. Ketika asap itu hilang, dia sudah tidak ada lagi.
Wanita muda itu turun dari kudanya dan mendekati Feng, yang masih berdiri dengan tubuh menggigil dan mata penuh dengan air mata serta kemarahan. Dia melihat tubuh Liu Mei yang terbaring tak bernyawa, lalu melihat ke arah Feng dengan ekspresi penuh belas kasihan. “Aku adalah Ye Linglong, putri dari Keluarga Ye. Aku kira kamu adalah Chen Feng—anak dari Chen Wei dan Liu Mei, bukan?”
Feng menatapnya dengan mata yang masih penuh kemarahan, tapi dia bisa merasakan bahwa wanita ini tidak memiliki niat jahat. Dia mengangguk perlahan, masih menyimpan kalung di tangannya erat-erat.
“Kamu harus datang dengan aku ke Kota Yunlong,” ujar Ye Linglong dengan lembut. “Sekte Ular Hitam tidak akan berhenti sampai mereka membunuhmu dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Selain itu, ada banyak hal tentang dirimu dan warisan keluarga mu yang perlu kamu ketahui.”
Feng melihat ke arah desa yang sudah terbakar habis, melihat sisa-sisa rumah tempat dia tumbuh dan tempat kedua orang tuanya meninggal. Api di matanya semakin menyala, dan dia mengangguk dengan tegas. “Baiklah. Aku akan pergi denganmu. Tapi ingat—satu hari nanti, aku akan menemukan Hei Yu dan membunuhnya. Aku akan membalas dendam bagi ayah dan ibu ku, tidak peduli apa yang harus kulakukan!”
Di langit yang masih mendung, bayangan Naga Putih Tianwu muncul sekali lagi sebelum menghilang ke balik awan. Seolah-olah dia sedang mengawasi langkah pertama perjalanan balas dendam seorang pemuda yang akan menjadi legenda di Tanah Seribu Pegunungan.