Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG KAYA BARU TURUN GUNUNG
Pria bertopeng perak itu terdiam kaku. Otaknya yang sudah terbiasa dengan skenario pembunuhan berdarah dingin butuh beberapa detik untuk mencerna pertanyaan absurd yang baru saja dilontarkan oleh pemuda tanpa energi Qi di depannya. Dua rekannya di belakang saling berpandangan dengan kening berkerut tajam di balik tudung merah darah mereka.
"Uang tunai?" ulang pria bertopeng perak itu, suaranya kini bergetar karena amarah yang direndahkan. "Kau sedang berhadapan dengan Tiga Bayangan Neraka. Kami adalah elit pembunuh bayaran tingkat Master yang telah memenggal ratusan kepala kultivator tangguh se-Benua Pedang... dan saat pedang kami sudah mengincar lehermu, kau malah bertanya apakah kami membawa uang saku?!"
"Ya, namanya juga usaha mencari peluang dalam kesempitan, Mas," jawab Feng santai sambil menggeser posisi batu hitam di ketiaknya agar tidak mudah jatuh. "Saya ini baru saja jatuh miskin karena bayar ongkos kirim paket COD yang sangat tidak masuk akal. Kalau kalian datang jauh-jauh dari neraka cuma buat membunuh tanpa bawa harta rampasan, itu namanya membuang waktu kita semua."
Garang dan dua premannya yang masih meringkuk di tanah saling berpelukan erat. Air mata ketakutan membasahi wajah mereka.
"Kakak Senior Feng sudah gila! Dia memalak pembunuh bayaran tingkat Master!" ratap Garang dengan suara berbisik. "Kita semua akan dicincang jadi pakan anjing hari ini!"
"Cincang mulut sombongnya! Sisakan tangannya yang memegang Telur Kosong itu utuh!" perintah si Topeng Perak yang sudah benar-benar kehabisan kesabaran.
Seketika itu juga, dua pembunuh berjubah merah melesat maju. Kecepatan mereka luar biasa, meninggalkan bayangan merah yang membuat udara di halaman paviliun berdesis tajam. Dua pasang belati beracun yang memancarkan aura hijau mematikan mengarah langsung ke ulu hati dan tenggorokan Feng.
SISTEM MENGHITUNG DENGAN CEPAT: DUA KULTIVATOR TINGKAT MASTER TAHAP MENENGAH TERDETEKSI. MENGGUNAKAN KEKUATAN FISIK MURNI UNTUK MENGHANCURKAN MEREKA AKAN MEMAKAN WAKTU HIDUP LIMA BELAS MENIT.
"Lima belas menit?! Mahal sekali! Diskon sedikit dong, Sistem!" protes Feng dalam hati.
SISTEM MEMBERIKAN ALTERNATIF TAKTIS: GUNAKAN OBJEK ANOMALI DENGAN KEPADATAN MUTLAK DI TANGAN TUAN SEBAGAI SENJATA TUMPUL. INI AKAN SANGAT MENGHEMAT ENERGI OTOT INANG KARENA MASSA BATU TERSEBUT AKAN MENGHASILKAN MOMENTUM MENGHANCURKAN DENGAN SENDIRINYA. BIAYA KALORI: HANYA DUA MENIT.
"Nah, ini baru solusi cerdas," batin Feng dengan senyum lebar.
Tepat saat dua belati beracun itu tinggal berjarak satu inci dari kulitnya, Feng menarik batu hitam berbentuk semangka itu dari ketiaknya. Dengan gerakan memutar pinggang yang sangat sederhana namun bertenaga ledak tinggi, Feng mengayunkan batu hitam pekat itu seperti raket nyamuk raksasa.
"Mas-mas, awas kepalanya benjol ya," ucap Feng dengan nada memperingatkan yang sangat terlambat.
Brak! Kraaak!
Batu hitam misterius itu menghantam tepat di sisi datar kedua belati beracun sang pembunuh secara bersamaan. Senjata pusaka tingkat tinggi yang terbuat dari baja spiritual itu hancur berkeping-keping seperti kerupuk kulit yang diremas anak kecil.
Namun, ayunan tangan Feng tidak berhenti di situ. Momentum batu berat itu terus melaju dan menghantam sisi kepala kedua pembunuh bayaran tersebut dalam satu garis lurus.
"GYAAAAAA!"
Jeritan ganda meledak di udara. Tubuh kedua pembunuh elit itu terlempar sejauh belasan meter bagaikan boneka kain yang ditendang kuda. Mereka menabrak batang pohon mati di sudut halaman hingga pohon itu tumbang. Keduanya langsung jatuh pingsan di atas tumpukan daun kering dengan rahang miring dan mulut mengeluarkan busa campur darah.
Di tengah halaman, si Topeng Perak tersentak mundur satu langkah. Matanya yang mengintip dari balik topeng membelalak ngeri melihat dua bawahan andalannya dirobohkan hanya dengan satu ayunan batu ganjalan pintu.
"Ilmu iblis macam apa ini?!" teriak si Topeng Perak, suaranya kini dipenuhi oleh kepanikan. "Tubuhmu kosong tanpa energi, tapi kekuatan fisikmu... mustahil!"
"Bukan ilmu iblis, Mas. Ini cuma prinsip gaya dan fisika dasar yang kebetulan diterapkan secara paksa," ucap Feng santai sambil menimbang-nimbang batu hitam itu di tangan kanannya. "Benda keras ditambah ayunan tangan yang sangat cepat, hasilnya sama dengan patah tulang. Masih mau lanjut atau mau langsung menyerahkan dompetnya sekarang?"
Harga diri si Topeng Perak sebagai elit pembunuh tercoreng habis. Dia menggertakkan giginya hingga berdarah, lalu menggigit ibu jarinya sendiri. Darah segar menetes, dan dia mengusapkannya ke bilah pedang panjangnya.
"Jangan sombong, Bocah Iblis! Rasakan Jurus Darah Mendidih Neraka!" raung pria itu. Seluruh tubuhnya kini memancarkan uap merah yang mendidih. Suhu di sekitarnya meningkat drastis. Dia melompat ke udara, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh yang bisa membelah sebuah bukit kecil menjadi dua.
Feng mendesah pelan melihat serangan itu. Dia memutar bahunya, mempererat genggamannya pada batu hitam tersebut.
"Mas, sudah saya bilang, ini cuma batu kali. Kenapa Mas malah marah-marah?"
Feng melangkah maju satu tindak, menyambut serangan dari udara itu tanpa rasa takut. Dia mengayunkan batunya dari bawah ke atas, layaknya seorang pelempar bola memukul bola kasti dengan tenaga penuh.
BOOOOM!
Batu hitam di tangan Feng berbenturan langsung dengan pedang berbalut energi Darah Mendidih. Suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar, menggetarkan seluruh fondasi Paviliun Teratai Hitam.
Pedang pusaka si Topeng Perak hancur seketika menjadi debu logam. Batu hitam itu melesat mulus menghantam dada pria tersebut dengan telak.
"GAAH!"
Tulang rusuk si Topeng Perak remuk ke dalam. Tubuhnya terpelanting ke belakang dengan kecepatan tinggi, menghancurkan pagar kayu paviliun, dan akhirnya terjerembap keras di jalan setapak tanah. Topeng peraknya pecah terbelah dua, memperlihatkan wajahnya yang kini penuh lebam dan keputusasaan.
Dia batuk darah hebat, mencoba mengangkat kepalanya menatap Feng yang sedang berjalan santai ke arahnya.
"K-Kau... Monster," rintih si pembunuh bayaran sebelum akhirnya matanya bergulir ke belakang dan dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Di dalam halaman, Garang dan kedua temannya masih memeluk satu sama lain dengan rahang jatuh menyentuh tanah. Mereka baru saja melihat tiga Master pembunuh dihabisi menggunakan sebongkah batu tumpul dalam waktu kurang dari satu menit.
Feng tidak mempedulikan ketakutan para preman itu. Matanya berbinar cerah. Dia berjongkok di samping tubuh si pemimpin pembunuh dan mulai menggeledah jubah merah darahnya dengan gerakan tangan yang sangat gesit dan profesional.
"Sistem, tolong scan isi kantong mereka," pinta Feng sambil menarik tiga buah kantong spasial dari sabuk para pembunuh yang pingsan itu.
SISTEM MERESPON DENGAN CEPAT: MEMINDAI KANTONG SPASIAL... PROSES SELESAI. TERDETEKSI DELAPAN RATUS KOIN EMAS MURNI, DUA PULUH BATU SPIRITUAL TINGKAT TINGGI, DAN BERBAGAI ARTEFAK JUALAN. TOTAL KEKAYAAN INANG MENINGKAT DRASTIS HINGGA ENAM RATUS PERSEN.
"Alhamdulillah! Puji syukur kepada dewa rezeki!" seru Feng sambil mencium ketiga kantong spasial itu dengan penuh keharuan. "Terima kasih banyak atas sumbangannya yang sangat dermawan, Tiga Bayangan Neraka! Kalau kalian mau datang lagi besok bawa uang lebih banyak, pintu rumah saya selalu terbuka lebar!"
Feng memasukkan semua harta rampasan itu ke dalam saku jubahnya. Dia bangkit berdiri, membersihkan debu di celananya, lalu menoleh ke arah Garang yang sedang gemetar di dekat gerbang yang hancur.
"Mas Garang," panggil Feng dengan nada ramah yang justru terdengar mengerikan di telinga preman itu.
"S-S-Siap, Kakak Senior Feng yang Agung dan Maha Kuat!" Garang langsung bersujud hingga dahinya menyentuh tanah berpasir. "Hamba siap melayani!"
"Tolong bereskan tiga paket daging pingsan ini ya. Ikat saja mereka di pohon belakang pakai tali tambang tebal. Kalau ada Tetua sekte yang patroli, serahkan saja mereka. Bilang kalau ini tangkapan saya," perintah Feng sambil memutar batu hitam aneh itu di tangannya.
"S-Siap laksanakan! Kami akan mengikat mereka sekuat mungkin!" janji Garang tanpa ragu sedikit pun. Baginya, Feng saat ini jauh lebih menakutkan daripada hantu atau pembunuh bayaran mana pun.
"Bagus. Saya mau turun gunung dulu mencari sarapan mewah. Perut saya sudah meronta-ronta sejak tadi malam," ucap Feng sambil melangkah santai meninggalkan halaman paviliun.
Kini, langkah kaki Feng terasa sangat ringan. Beban pikirannya tentang ancaman kelaparan bulan ini musnah tak bersisa. Dia adalah orang kaya baru. Delapan ratus koin emas adalah jumlah yang cukup untuk membeli sebuah kedai makan elit beserta koki pribadinya.
Sepanjang jalan setapak menuruni Gunung Kematian, Feng bersenandung riang. Para murid luar yang melihatnya berpapasan di jalan langsung menepi, menundukkan kepala mereka ketakutan. Gosip tentang Feng yang meratakan Batu Pengukur Bakat dengan satu tamparan sudah menyebar ke seluruh penjuru sekte secepat api melahap jerami kering.
Tidak butuh waktu lama bagi Feng untuk tiba di pusat pasar sekte luar yang ramai. Aroma daging panggang, roti manis, dan kuah kaldu menyapanya dari berbagai arah, membuat air liur Feng nyaris menetes membasahi dagunya.
Dia melangkah penuh percaya diri memasuki "Kedai Naga Emas", restoran paling mewah di seluruh area sekte luar yang biasanya hanya dikunjungi oleh murid elit atau Tetua.
"Pelayan!" panggil Feng dengan suara lantang sambil menggebrak meja jati bundar di tengah ruangan. "Keluarkan buku menu paling mahal! Saya mau pesan lima porsi bebek panggang, sepuluh piring daging sapi asap, dan kuah kaldu tulang naga! Jangan pedulikan harganya, saya bayar tunai!"
Beberapa murid elit yang sedang makan di kedai itu langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan meremehkan pakaian kusamnya, namun segera membuang muka saat menyadari wajah pemuda monster itu.
Pelayan kedai berlari terbirit-birit menghampiri Feng dengan buku menu di tangan.
"B-Baik, Tuan Muda Feng! Kami akan segera menyiapkannya! Mohon tunggu sebentar!" ucap pelayan itu gugup.
Feng bersandar di kursinya dengan sangat nyaman. Dia meletakkan batu hitam misterius itu di atas meja makan, bersiap menunggu hidangan mewahnya datang.
Namun, tepat ketika Feng sedang mengusap perutnya yang keroncongan, sesuatu yang aneh terjadi.
Batu hitam pekat yang sedari tadi tenang layaknya benda mati itu mendadak bergetar pelan di atas meja kayu. Permukaannya yang halus mulai memancarkan pendar cahaya merah redup yang berdenyut seirama dengan detak jantung Feng. Suhu di sekitar meja itu langsung meningkat drastis, membuat gelas air teh di depannya mendidih dalam sekejap.
SISTEM MENGELUARKAN ALARM MERAH DARURAT: PERINGATAN KRITIS! PERINGATAN KRITIS! OBJEK ANOMALI DIAKTIFKAN! PROSES INKUBASI TELUR PURBA DIMULAI SECARA PAKSA!
"Inkubasi telur? Telur apa?!" panik Feng dalam hati sambil mencoba menarik tangannya dari meja, namun hawa panas dari batu itu seolah mengunci pergerakannya.
SISTEM MELANJUTKAN DENGAN NADA SANGAT MENDESAK: OBJEK INI MENYEDOT ENERGI KALORI INANG SECARA BRUTAL SEBAGAI BAHAN BAKAR PENETASAN! WAKTU HIDUP TUAN SEDANG DIKURAS DENGAN KECEPATAN SEPULUH MENIT PER DETIK! HARAP HENTIKAN PROSES INI SEKARANG JUGA ATAU TUAN AKAN MATI KELAPARAN DALAM WAKTU KURANG DARI TIGA MENIT!
Mata Feng melotot lebar. Perasaan lapar yang sangat ekstrem, seolah lambungnya sedang dibakar dari dalam, menyerangnya tiba-tiba hingga membuat pandangannya berkunang-kunang.
"Batu sialan!" jerit Feng tertahan sambil memegangi perutnya yang melilit menyakitkan. "Baru saja aku jadi orang kaya, kenapa kau malah mau membunuhku sebelum aku mencicipi daging bebekku?!"