Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Setelah sarapan yang penuh drama itu, mobil kembali melaju menuju area perbukitan tempat proyek vila berdiri.
Jalanan mulai menanjak dan berkelok, membuat Rangga beberapa kali memegang dadanya karena guncangan mobil memperparah rasa nyerinya.
Sesampainya di lokasi proyek, udara segar pegunungan menyambut mereka. Namun, kondisi Rangga justru tampak kian menurun setelah perjalanan tadi.
Saat Linggar memarkirkan mobil di bawah pohon pinus yang rindang, Rangga tampak kesulitan untuk sekadar membuka pintu mobil.
Linggar yang menyadari hal itu segera turun dan memutari mobil.
Ia membuka pintu penumpang dan dengan sigap menyandarkan lengan Rangga ke bahunya.
"Sudah kubilang, kalau belum kuat jangan dipaksa," bisik Linggar cemas sambil memapah tubuh tegap Rangga yang terasa berat.
Dari kejauhan, Pak Surya, sang mandor bangunan yang bertubuh kekar dengan kulit gelap terbakar matahari, melihat kedatangan mereka. Ia segera berlari kecil menghampiri.
"Loh, Pak Rangga kenapa, Mbak Linggar? Kok dipapah begini?" tanya Pak Surya dengan logat Jawa yang kental, wajahnya tampak sangat khawatir melihat sang bos besar terlihat begitu lemas.
"Kondisinya belum stabil, Pak Surya. Tadi baru saja keluar dari rumah sakit tapi nekat mau cek lokasi," jawab Linggar sambil terus berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
"Walah, Pak... Pak. Sini, Mbak, biar saya yang bantu. Badan Pak Rangga ini besar, Mbak Linggar bisa keberatan nanti," ucap Pak Surya sigap.
Pak Surya langsung mengambil alih sisi lain tubuh Rangga.
Dengan tenaga mandornya yang kuat, ia menyangga berat badan Rangga sehingga Linggar bisa sedikit bernapas lega.
Rangga hanya bisa memberikan senyum tipis yang dipaksakan sebagai tanda terima kasih kepada Pak Surya, meskipun dalam hatinya ia merasa sedikit kesal karena momen "dekatnya" dengan Linggar harus terinterupsi.
"Terima kasih, Pak Surya," gumam Rangga pelan.
"Sama-sama, Pak. Kita ke gubuk pemantauan dulu ya, di sana lebih teduh dan ada kursi panjang supaya Bapak bisa istirahat sebentar sebelum kita mulai laporannya," ajak Pak Surya sambil menuntun Rangga dengan sangat hati-hati.
Linggar mengikuti dari belakang, matanya menatap punggung Rangga dengan perasaan yang campur aduk antara kesal, cemas, dan sebuah rahasia yang ia sendiri belum berani mengakuinya.
Gubuk pemantauan itu terasa sejuk, aroma kayu jati dan tanah basah khas pegunungan meresap masuk melalui celah-celahnya.
Pak Surya segera menggelar beberapa gulungan cetak biru di atas meja kayu panjang yang permukaannya sudah kasar karena debu proyek.
"Nah, ini dia Pak Rangga, Mbak Linggar. Bisa dilihat, pondasi untuk area sayap kiri sudah selesai 100 persen. Kita pakai sistem bore pile seperti permintaan pusat agar bangunan tetap kokoh di kemiringan ini," jelas Pak Surya dengan penuh semangat, jarinya menunjuk-nunjuk detail teknis di atas kertas.
Namun, Rangga yang duduk bersandar di kursi panjang kayu hampir tidak mendengar sepatah kata pun.
Meskipun matanya mengarah ke cetak biru, fokusnya ada pada Linggar yang berdiri di samping Pak Surya.
Cahaya matahari yang menerobos celah gembok pintu memantul di wajah Linggar, memperlihatkan raut seriusnya yang selama ini selalu menjadi favorit Rangga.
"Ide Pak Richard untuk membangun Resort Wellness berbasis alam di sini benar-benar brilian, Mbak," lanjut Pak Surya, suaranya sedikit meninggi karena antusias.
"Apalagi bagian balkon yang menjorok ke arah jurang itu. Kalau pagi, kabutnya pasti cantik sekali."
Linggar mengangguk-angguk, sesekali membetulkan letak kacamatanya.
"Iya, Pak Surya. Konsepnya memang ingin menyatukan kemewahan dengan ketenangan hutan. Tapi pastikan pengolahan limbahnya tidak mengganggu mata air di bawah ya."
Rangga tersenyum tipis sambil memperhatikan bagaimana bibir Linggar bergerak saat berbicara secara profesional, bagaimana tangannya yang ramping menunjuk koordinat bangunan, dan bagaimana helai rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin gunung.
"Pak Rangga? Bagaimana menurut Bapak soal material atapnya?" tanya Pak Surya, menyadari bosnya itu tampak melamun.
Rangga tersentak kecil, lalu berdehem. "Ah, ya. Atapnya, saya setuju dengan ide Pak Richard yang menggunakan sirap kayu agar menyatu dengan alam. Tapi tetap harus dilapisi bahan anti api."
Rangga kembali melirik Linggar, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam.
"Pastikan di area balkon utama itu dibuatkan sudut kecil yang nyaman. Saya ingin tempat itu menjadi tempat favorit seseorang untuk melihat matahari terbit."
Linggar menoleh ke arah Rangga, merasa ada nada lain di balik kalimat pria itu.
"Sudut itu sudah ada di rencana, Rangga. Itu untuk area meditasi tamu."
"Bukan untuk tamu saja, Linggar," sahut Rangga pelan, nyaris tak terdengar oleh Pak Surya.
"Tapi untuk bidadari yang menemani saya pagi ini."
Linggar langsung membuang muka, pura-pura kembali fokus pada dokumen Pak Surya untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Gubuk pemantauan yang tadinya tenang seketika berubah mencekam.
Suara gemuruh rendah yang berasal dari perut bumi terdengar seperti raungan monster yang lapar.
Pak Surya yang sedang menjelaskan detail material mendadak terdiam, wajahnya pucat pasi.
"Tanah gerak! Mbak Linggar, Pak Rangga, keluar!!" teriak Pak Surya histeris.
Belum sempat mereka mencapai pintu, lereng di bawah pondasi yang belum sempurna itu amblas.
Hujan yang turun semalam rupanya telah menjenuhkan tanah di bawah mereka.
Dengan kecepatan yang mengerikan, tanah yang mereka pijak runtuh. Gubuk pemantauan hancur berkeping-keping.
"Linggar!!" Rangga berteriak sekuat tenaga.
Ia tidak peduli dengan rasa sakit di dadanya. Dengan sisa tenaganya, ia menerjang ke arah Linggar, mendekap tubuh wanita itu erat-erat saat mereka mulai terseret arus tanah dan puing-puing bangunan.
Mereka berguling-guling menuruni lereng yang terjal.
Tubuh mereka menghantam dahan pohon, bebatuan, dan material kayu.
Rangga terus memeluk kepala Linggar, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai agar Linggar tidak terkena benturan fatal.
Dunia seolah berputar hingga akhirnya semuanya menjadi gelap saat mereka terhenti di dasar cekungan yang tertutup tumpukan kayu dan tanah.
Di atas sana, Pak Surya yang berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada akar pohon besar, berteriak sekencang mungkin.
"Pak Rangga!! Mbak Linggar!!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara tanah yang sesekali masih berjatuhan.
Pak Surya segera merogoh ponselnya dengan tangan gemetar.
"Bantuan! Saya butuh bantuan di sektor 4! Longsor! Ada korban tertimbun!"
Di dasar jurang, suasana sunyi mencekam. Cahaya matahari hanya masuk sedikit melalui celah reruntuhan kayu.
Rangga membuka matanya perlahan-lahan dan merasakan rasa sakit yang luar biasa menghujam jantungnya, jauh lebih hebat dari serangan mana pun yang pernah ia rasakan.
Ia melihat Linggar tergeletak di pelukannya. Wajah cantik itu kini penuh debu dan ada luka di keningnya yang mengeluarkan darah.
"Linggar! Bangun!!" Rangga mengguncang bahu Linggar dengan tangan yang gemetar hebat. Suaranya serak dan pecah. "Linggar, jangan bercanda! Bangun!"
Linggar mengerang pelan. Kelopak matanya bergerak sedikit, lalu perlahan terbuka, menatap wajah Rangga yang kini bersimbah peluh dan air mata.
"Ngga..." desis Linggar lemah.
Ia mencoba menarik napas, namun dadanya terasa sesak.
"Iya, ini aku. Aku di sini. Bertahanlah, bantuan akan datang," ucap Rangga sambil membelai pipi Linggar.
Namun, penglihatan Linggar mulai kabur. Rasa lelah yang luar biasa menarik kesadarannya kembali ke dalam kegelapan.
Ia tidak mampu lagi menahan berat kelopak matanya.
"Ngga... dingin..." gumam Linggar sebelum akhirnya matanya terpejam kembali. Kepalanya terkulai di dada Rangga.
"Linggar? Linggar!! Jangan tidur! Buka matamu!!" Rangga berteriak putus asa.
Ia mendekap tubuh Linggar yang mulai mendingin.
Di saat yang sama, ia merasakan jantungnya seolah diremas oleh tangan raksasa. Ia terbatuk, dan darah segar keluar dari mulutnya, menetes di atas pakaian Linggar.
"Tolong... siapa pun... tolong dia..." bisik Rangga sebelum akhirnya ia ikut ambruk di samping wanita yang sangat dicintainya itu.
mengharukan 👍
dan juga penuh pembelajaran agar lebih menghargai orang lain, bukan dari cover nya saja 👍👍👍
Good....sukses selalu 👍👍👍👍
buat linggar bersatu dengan rangga
menikah beranak cucu sampai maut memisahkan
kak thor sehat swmangat terus yaaa
crazy upnya ditunggu selalu💪🙏👍