NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Berburu di Kegelapan

Panas.

Perut Lin Xuan terasa seperti tungku pembakaran. Daging mentah Serigala Gigi Baja yang baru saja ia telan telah terurai menjadi arus energi liar yang menyebar ke seluruh tubuhnya.

Biasanya, seorang kultivator butuh waktu berjam-jam untuk memurnikan energi dari daging binatang buas (Spirit Beast) agar tidak keracunan energi liar (berserk Qi). Tapi Cincin Jiwa Kuno di jarinya bertindak sebagai saringan mutlak. Cincin itu menyedot kotoran dari energi tersebut, menyisakan hanya esensi murni berwarna merah yang langsung disuntikkan ke meridian Lin Xuan.

DUM!

Terdengar suara dentuman pelan dari dalam tubuhnya.

Hambatan pada meridian ketiga berhasil ditembus paksa.

Qi Condensation Lapisan 4.

Lin Xuan membuka mata. Di kegelapan gua, matanya bersinar dengan kilat merah sesaat sebelum kembali hitam pekat. Dia mengepalkan tangan, merasakan aliran tenaga yang jauh lebih padat dari sebelumnya.

"Naik satu lapisan hanya dengan satu ekor serigala..." gumam Lin Xuan tak percaya. Dulu, dia butuh enam bulan meditasi siang malam hanya untuk naik dari Lapisan 2 ke 3.

"Jangan sombong," suara Gu Tianxie memotong euforianya. "Itu karena fondasimu sampah. Serigala itu setara Lapisan 4, wajar jika kau naik tingkat. Semakin tinggi kau mendaki, semakin banyak darah yang kau butuhkan. Nanti, membantai satu kota pun mungkin tidak cukup untuk menaikkan satu ranah."

Kata-kata itu mengerikan, tapi Lin Xuan hanya mengangguk datar. Moralitasnya sudah dia tinggalkan di atas tebing bersama mayat orang tuanya.

"Kau sekarang punya kekuatan dan pertahanan," lanjut Gu, nadanya berubah menjadi instruktur yang kritis. "Tapi gaya bertarungmu memalukan. Kau bergerak seperti beruang mabuk. Keras, tapi lambat."

Lin Xuan terdiam. Dia ingat pertarungan tadi. Dia menang karena nekat membiarkan bahunya digigit. Jika serigala itu mengincar lehernya, dia sudah mati.

"Dengan Tulang Asura, tubuhmu tiga kali lebih berat dari manusia biasa. Jika kau tidak belajar cara bergerak, kau hanya akan jadi target latihan berjalan bagi para pemanah Sekte Bayangan," cibir Gu.

"Ajari aku," kata Lin Xuan singkat.

Cincin bersinar lagi. Kali ini, informasi yang masuk ke otak Lin Xuan bukan tentang menempa tulang, melainkan diagram aliran Qi di kaki.

"Ini adalah teknik langkah dasar dari Sekte Iblis Langit kuno: Langkah Hantu Tanpa Jejak (Traceless Ghost Step)."

"Prinsipnya sederhana: Ledakkan Qi di telapak kaki untuk berpindah posisi secara instan. Tapi karena tulangmu berat, kau harus mematahkan persepsi keseimbanganmu. Kau harus bergerak melawan gravitasi, bukan mengikutinya."

Lin Xuan mencoba berdiri. Dia menyalurkan Qi merah ke telapak kakinya sesuai instruksi.

BOOM!

Dia melesat ke depan terlalu cepat, menabrak dinding batu dengan keras.

"Ukh!" Lin Xuan meringis. Rasa sakit akibat benturan itu dikalikan seratus membuat kepalanya pening.

"Lagi," perintah Gu dingin. "Sampai kau bisa berlari di dinding vertikal tanpa menimbulkan suara."

Tiga hari kemudian.

Suasana di dasar Jurang Maut sunyi senyap. Hanya ada suara tetesan air.

Di antara bebatuan yang licin dan berlumut, seekor Ular Kabut (Mist Snake) sepanjang lima meter sedang melata pelan. Sisiknya abu-abu, menyatu sempurna dengan kabut. Ular ini adalah pembunuh diam-diam, memiliki racun yang bisa melelehkan daging dalam hitungan detik. Tingkatannya setara Qi Condensation Lapisan 5.

Lidahnya menjulur, merasakan getaran udara.

Tiba-tiba, ular itu mengangkat kepala, mendesis waspada ke arah semak jamur di depannya.

Sreeet!

Angin berhembus dari belakang.

Bukan dari depan.

Sebuah bayangan hitam melesat dari dinding tebing di atas ular itu, bergerak tanpa suara sedikitpun, seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

Itu Lin Xuan.

Dia tidak jatuh lurus, melainkan meluncur zigzag di dinding batu vertikal menggunakan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Kakinya menempel di batu sekejap, lalu meledakkan Qi untuk berpindah ke pijakan berikutnya, lebih cepat daripada mata ular itu bisa mengikuti.

Saat ular itu menyadari bahaya dan memutar kepalanya, Lin Xuan sudah berada di udara, tepat di atas titik butanya.

Tangan kanan Lin Xuan, yang kini memiliki jari-jari dengan tulang sekeras besi hitam, membentuk cakar.

"Mati."

CRAAAK!

Lin Xuan mendarat tepat di leher ular itu. Tangannya menusuk masuk menembus sisik keras, merobek daging, dan langsung mencengkeram tulang belakang ular tersebut.

Ular itu meronta gila-gilaan, ekornya menyabet ke segala arah, menghancurkan bebatuan di sekitarnya. Racun ungu nyaris menyembur dari mulutnya.

Tapi Lin Xuan tidak memberi kesempatan.

Dengan satu sentakan brutal, dia meremukkan tulang leher ular itu hingga putus total.

Tubuh raksasa itu kejang sesaat, lalu terkulai lemas.

Lin Xuan mendarat di tanah dengan mulus. Tidak ada suara langkah kaki. Napasnya teratur, matanya tenang.

Tidak ada pertarungan berdarah seperti saat melawan serigala. Ini adalah pembunuhan yang bersih.

"Lumayan," komentar Gu. "Tiga detik. Masih terlalu lambat untuk standar pembunuh bayaran, tapi cukup untuk bertahan hidup di sini."

Lin Xuan tidak menjawab. Dia langsung berlutut di samping bangkai ular itu, meletakkan tangannya di atas luka yang menganga.

Cincin menyala merah.

Darah ular dan energi inti (Beast Core) yang ada di dalam tubuhnya disedot habis-habisan.

Sensasi hangat kembali mengalir. Qi di dalam tubuh Lin Xuan bergolak, semakin padat menuju puncak Lapisan 4. Rasa sakit di otot-otot kakinya akibat latihan ekstrem perlahan pulih.

Lin Xuan tidak lagi merasa jijik. Dia melihat bangkai kering di depannya hanya sebagai tumpukan 'Batu Roh' yang bisa dimakan.

Setelah menyerap habis energinya, Lin Xuan, membelah perut ular itu dan mengambil kantung racunnya.

"Racun Kabut," gumam Lin Xuan, memasukkan kantung ungu itu ke dalam saku jubahnya yang robek. "Ini bisa berguna."

Dia berdiri, menatap ke atas.

Sudah seminggu dia berada di dasar neraka ini. Dia sudah membunuh lima Serigala Gigi Baja, dua Ular Kabut, dan seekor Kalajengking Batu.

Kultivasinya sudah stabil di Puncak Qi Condensation Lapisan 4, selangkah lagi menuju Lapisan 5. Tubuhnya sudah terbiasa dengan berat tulang barunya. Gerakannya sudah sunyi.

Dan yang paling penting, hatinya sudah dingin.

Dia menatap tebing curam yang menjulang menembus kabut, tempat dia jatuh seminggu yang lalu.

"Sudah waktunya," kata Lin Xuan pelan.

"Kau yakin?" tanya Gu. "Di atas sana ada dunia manusia. Lebih berbahaya daripada jurang ini. Di sini, binatang buas membunuh karena lapar. Di atas sana, manusia membunuh karena tersenyum."

Lin Xuan menyentuh dadanya, di mana dia menyimpan sisa potongan kain baju ibunya yang berlumuran darah.

"Biarkan mereka mencoba," jawab Lin Xuan.

Dia menekuk lututnya, menyalurkan Qi ke kakinya.

WOOSH!

Sosoknya melesat ke atas, melompati batu demi batu, meninggalkan kegelapan abadi jurang itu untuk kembali ke dunia yang telah membuangnya.

Hantu Klan Lin telah bangkit dari kuburnya.

1
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
iwakali
gas terus thooor
Sutono jijien 1976 Sugeng
mantap apex predator 😁👍👍👍
iwakali
bertambah kuat terus liiiii
✞👁️👁️✞
lanjut🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!