Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sisi Yang Sama Beratnya
Kebun singkong di belakang masjid selalu lebih sunyi dari bagian desa yang lain.
Pohon-pohon bambu di sekelilingnya menyaring suara dari jalan besar menyisakan tonggeret, angin yang menggerakkan daun singkong pelan-pelan, dan bayangan yang jatuh tidak merata di tanah basah. Tempat yang cukup terbuka untuk tidak mencurigakan. Cukup tersembunyi untuk bicara.
Aisyah berhenti di bawah pohon besar yang rindang. Menoleh kiri-kanan sekali, tidak ada siapa-siapa. Lalu ia mengeluarkan kertas dari tas kecilnya dan menyerahkannya ke Fariz.
"Baca dulu."
Fariz menerima kertas itu. Tulisan tangan Aisyah rapi di awal, lalu semakin tidak beraturan di baris-baris terakhir, seperti seseorang yang menulis semakin cepat karena takut sempat lupa.
Matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya.
Anak itu. Sang Dewi Kuasa. Suguhan sudah siap sebelum tengkulak datang.
Ia membaca ulang baris terakhir itu dua kali.
"Ini..." Suaranya tidak keluar sempurna.
"Semalam," kata Aisyah. "Aku dengar sendiri."
Fariz menatap kertas itu lebih lama dari yang dibutuhkan untuk membaca.
Pikirannya berputar, menyambungkan catatan ini dengan mimpi yang tidak berhenti, dengan panas di tangannya di ladang jagung, dengan kabut di sawah Bu Karsih yang tidak bisa dilihat siapa pun selain dirinya. Semua potongan itu kini berjejer dalam satu baris yang tidak bisa ia pura-pura tidak lihat.
Tapi Aisyah adalah putri Darma Wijaya.
Satu-satunya orang yang paling dipercaya ayahnya. Yang selama ini berjalan setengah langkah di belakang, mencatat, melapor, mengikuti. Kalau ini jebakan, kalau catatan ini hanya cara untuk membuat Fariz mengaku sesuatu agar bisa dibawa kembali ke Darma Wijaya.
"Iz."
Aisyah melangkah satu langkah lebih dekat.
Fariz mendongak dan menemukan perempuan itu menatapnya langsung, tidak melepaskan pandangannya, dengan cara yang tidak memberi ruang untuk menghindar atau berpura-pura tidak melihat. Tidak ada kata tambahan. Tidak ada nada yang naik. Hanya jarak yang sekarang lebih kecil dari yang pernah ada di antara mereka, dan tatapan yang mengatakan: aku sudah mengambil risiko lebih besar dari yang kamu bayangkan untuk bisa berdiri di sini.
Fariz menelan ludah.
Lalu ia bicara.
"Kemarin..." ia menunduk sebentar, mengumpulkan kata-kata yang selama ini hanya ia simpan sendiri. "Di sawah Bu Karsih. Aku melihat kabut. Tebal, bukan kabut biasa, lebih seperti sesuatu yang sengaja ada di sana."
Aisyah tidak bergerak. Mendengarkan.
"Ada anak-anak kecil." Suara Fariz lebih pelan. "Wajahnya... tidak berbentuk. Mereka menggantung di tubuh para pemilik sawah, berbisik di telinga mereka. Tapi tidak ada yang sadar."
Ia berhenti sebentar. Bagian ini yang paling berat.
"Dan aku melihat bapak." Matanya ke tanah. "Berdiri bersama Pak Kades. Bapakku memegang rantai besi di ujungnya ada anjing. Tapi bukan anjing biasa. Tubuhnya tidak stabil, seperti sesuatu yang belum selesai dibentuk."
Kebun itu sunyi sebentar. Hanya tonggeret dan angin.
"Dan di belakang Bapakmu," lanjutnya, "berdiri bayangan putih tinggi menjulang. Tidak bergerak. Tapi auranya..." Ia menggeleng pelan. "Menekan semua yang ada di sana."
Aisyah diam cukup lama setelah Fariz selesai bicara.
Lalu ia mengulurkan tangannya, telapak menghadap ke atas.
Di sana, garis merah tipis melintang di telapak dan beberapa jari, seperti bekas terkena sesuatu yang panas tapi tidak melepuh. Warnanya tidak segar, sudah mulai memudar tapi masih jelas.
"Aku menyentuh karung jagung di lumbung kemarin," kata Aisyah. "Karung yang berasal ladang jagung."
Fariz menatap bekas itu.
Lalu ia membuka telapak tangannya sendiri, membaliknya, memeriksa dari satu sisi ke sisi lain.
Tidak ada apa-apa. Hanya guratan telapak tangan yang biasa, tidak ada merah, tidak ada bekas, tidak ada tanda bahwa tangannya pernah menyentuh sesuatu yang berbahaya.
"Kenapa kamu..." Fariz menatap telapak tangannya sendiri, lalu ke tangan Aisyah, lalu kembali ke miliknya. "Kenapa di tanganmu ada bekasnya tapi di tanganku tidak?"
Aisyah menarik tangannya kembali. Tidak menjawab, karena ia tidak punya jawabannya. Tapi cara ia menarik tangannya, cara jari-jarinya menutup rapat di atas bekas itu, seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri yang tidak ia minta untuk diketahui.
Fariz menatap kertas catatan Aisyah lagi.
Sang Dewi Kuasa. Suguhan. Anak itu.
Bibirnya bergerak, hampir membentuk kalimat, lalu berhenti. Dicoba lagi. Berhenti lagi.
"Berarti..." ia akhirnya bicara, pelan, seperti seseorang yang sedang menguji apakah kata-kata ini aman untuk diucapkan. "Semua ini, panen yang bagus, sawah yang subur, desa yang selalu tenang..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Bahkan tidak perlu.
Karena Aisyah sudah mengangguk pelan, satu kali, dengan cara orang yang sudah lama tahu tapi baru sekarang berani mengakuinya di luar kepala.
Keduanya terdiam. Di antara mereka, sesuatu yang selama ini hanya berupa pertanyaan kini mulai terbentuk, belum penuh, belum jelas, tapi cukup untuk tidak bisa diabaikan lagi.
Suara langkah dari arah jalan besar.
Fariz menoleh dari celah pohon bambu, terlihat dua orang berjalan. Tidak mendekat, tapi cukup dekat untuk membuat kehadiran mereka di sini menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan kalau ketahuan.
"Aisyah." Suaranya turun jadi bisikan. "Kita nggak bisa berlama-lama."
Aisyah sudah bergerak sebelum ia selesai bicara, mengambil kertas catatannya kembali, memasukkannya ke tas. Lalu berhenti.
"Iz." Ia menatap Fariz sekali lagi. "Hati-hati. Mereka mengawasi kamu."
"Aku tahu."
"Bukan hanya kamu." Matanya tidak lepas dari wajah Fariz. "Bapakmu juga."
Kalimat itu jatuh di antara mereka dengan berat yang berbeda dari semua yang tadi dibicarakan.
Fariz membuka mulut tapi Aisyah sudah berbalik, menghilang ke balik semak-semak dengan langkah yang tidak berbunyi.
Fariz menunggu beberapa detik setelah Aisyah pergi.
Ia mengeluarkan lembar-lembar kertas lusuh dari balik bajunya, tulisan tangan Kyai Salman, tinta yang sudah memudar, beberapa kata yang dicoret dan ditulis ulang. Menyimpannya kembali. Lalu berjalan keluar dari kebun singkong lewat jalan utama, langkahnya santai, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang jatuh.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Atau begitulah yang terlihat.
Ratna sudah berdiri di depan pintu ketika Fariz tiba di rumah.
Wajahnya muram dengan cara yang sudah Fariz kenal sejak kecil, bukan marah yang meledak, tapi marah yang sudah menunggu terlalu lama dan kini tidak mau menunggu lebih lama lagi. Serbet di tangannya dikibaskan ke bahunya sebelum ia sempat bilang apa-apa.
"Kamu udah berani melawan perintah bapak!"
"Maaf, Bu, aku cuma—"
"MASUK."
Fariz masuk. Ratna mengikuti, pintu ditutup lebih keras dari yang diperlukan.
"Ibu bakal bilangin kamu ke bapak."
Sore itu Sucipto pulang dengan wajah yang sudah tahu sebelum Ratna selesai bercerita.
Ia berdiri di ambang pintu kamar Fariz, tangannya di kusen, badannya mengisi seluruh lebar pintu itu.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh ke masjid." Suaranya tidak keras tapi justru itu yang membuatnya lebih berat. "Apalagi keluar sendirian."
Fariz menunduk. Tidak ada yang bisa ia katakan yang tidak akan membuat semuanya lebih buruk.
"Bapak serius, Iz."
"Iya, Pak."
Sucipto berdiri di sana beberapa detik lebih lama, seperti ada sesuatu yang ingin ia tambahkan tapi tidak menemukan caranya. Lalu ia pergi.
Pintu kamar tertutup.
Fariz menunggu sampai rumah sepenuhnya sunyi.
Suara Ratna yang mengaduk di dapur berhenti. Suara Sucipto yang berbalik di kasur berhenti. Satu per satu suara itu tak terdengar lagi, dan yang tersisa hanya jangkrik dan angin yang masuk dari celah jendela.
Ia mengeluarkan lembar-lembar kertas lusuh dari balik kasurnya.
Cahaya lampu minyak yang redup cukup untuk membaca, asal matanya tidak terlalu jauh dari tulisan itu. Tinta Kyai Salman yang sudah memudar di beberapa bagian, tapi di halaman pertama, tulisannya masih jelas. Seperti yang ditulis pertama kali, dengan tangan yang belum gemetar.
"Dewi Kuasa, dialah yang membuat semua sistem ini. Aku sudah berusaha menghalau, tapi ini sudah mendarah daging, hingga aku perlu mencari penerusku ketika tubuh ini sudah tak mampu menahan beban."
Fariz membaca baris itu dua kali. Tiga kali.
Penerus.
Bukan murid. Bukan pengikut. Penerus kata yang bukan hanya mewariskan pengetahuan, tapi mewariskan beban yang datang bersamanya.
Ia meletakkan kertas itu di dadanya, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Di luar, desa tidur dalam diam yang selama ini selalu terasa seperti ketenteraman.
Sekarang Fariz tahu diam itu berbeda teksturnya.
Dan ia tahu untuk pertama kalinya dengan cara yang tidak bisa ia tepis, bahwa beban itu sudah ada di tangannya sejak malam Kyai Salman menggenggam tangannya. Bukan karena ia memintanya. Bukan karena ia siap.
Tapi karena tidak ada orang lain lagi selain dirinya..