Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 – BISNIS DAN ASMARA
Saat tiba di Shehua, para pelayan dan pengawal Liu Xiang yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala. Langkah mereka melambat, napas mereka ditahan, seolah tak ingin menarik perhatian sedikit pun.
"P-Pagi kak Ken.",ucap salah satu pengawal yang bersimpangan dengan Kenzo
"(Ada apa dengan mereka?)"
Pikirnya bingung melihat tingkah laku mereka yang berbeda dari biasanya. Tatapan mereka bukan hanya hormat, tapi juga takut. Seakan ada kabar yang sudah lebih dulu beredar.
"Tuan Kenzo bagaimana kabar mu."Sapa Liu Xiang saat melihat Kenzo masuk ke ruangannya. Kenzo langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa tanpa basa-basi, tanpa senyum, tanpa formalitas.
"Tak perlu basa-basi nona Liu."
Liu Xiang tersenyum tipis lalu mendekat dan duduk di samping Kenzo. Jarak mereka sangat dekat. Aroma parfumnya lembut tapi menusuk.
"(Tuan Kenzo... aku menyukaimu.)"
Liu Xiang memeluk Kenzo lalu berbisik di telinganya dan memainkan jari-jarinya di tubuh Kenzo dengan gerakan lambat dan sengaja. Ujung kukunya menekan ringan, menggoda, menguji.
Kenzo menangkap jari Liu Xiang dan menghentikan aksinya dengan tegas.
"Nona jaga sikap mu."
Liu Xiang membetulkan posisinya dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa, lalu menuangkan anggur ke dalam dua gelas kristal."Kenapa?"
"Apa aku tidak bisa membuat mu tertarik?"lanjut nya sambil menggeser gelas kristal berisi anggur merah ke hadapan Kenzo.
"Aku tak ingin berdebat tentang masalah itu."
Liu Xiang pun bangkit lalu berjalan ke meja kerjanya dan meraih sebuah file tebal bersegel.
"Tuan Kenzo, aku ingin merekrut mu sebagai bawahan ku."
"Bagaimana?"
"Nona, bukankah di sekeliling mu telah memiliki pengawal-pengawal yang profesional."
"Untuk apa lagi anda merekrut ku?"
"Aku bukan ingin merekrut mu sebagai bodyguard."
"Tetapi sebagai finishing."
"Apa maksud mu?"
"Hari ini pekerjaan mu sangat memuaskan. Orang yang menjadi klien ku mengaku puas dengan hasil yang kau lakukan. Sangat bersih. Sangat rapi."
"Jadi... aku ingin menjadikan mu sebagai pembunuh bayaran untuk ku."
"Kau wanita gila."balas Kenzo sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa dan melipat kedua tangannya.
"Sekarang ini jika kita tidak gila dan berani, maka kita akan tenggelam dan musnah. Dunia bawah tidak memberi ruang bagi orang ragu."
"Seperti yang kau tahu, dunia bawah adalah nerakanya dunia."
"Yang lemah akan tertindas, dan yang kuat akan berkuasa."
"Tentu saja aku tidak akan merugikan mu."
"70-30 bagaimana?"
Kenzo berdiri lalu mendekati Liu Xiang dan menarik tubuhnya mendekat ke dekapannya dengan satu tangan kuat di punggungnya.
"K-Kenzo mau apa kau."
"80-20 tak boleh kurang."
"Kau ternyata sangat ambisius."
Kenzo melumat bibir Liu Xiang, keras dan dalam, membuat napas Liu Xiang terpotong. Tubuhnya langsung menegang.
"Hmmm... K-Kau... hmmm..."
Kenzo tak menghentikan ciumannya. Dia terus menekan dan melumat bibir Liu Xiang, lidahnya masuk dan bermain, menuntut, mendominasi, membuat Liu Xiang kehilangan ritme napas.
"K-Ken... hentikan..."
Kenzo melahap leher Liu Xiang, menjilatinya perlahan hingga basah, meninggalkan jejak hangat. Tangan Liu Xiang mencengkeram pakaian Kenzo.
"Ohhh... Ken... K-Kau membuat ku tidak bisa menahannya."
Liu Xiang mendorong mundur tubuh Kenzo hingga ke sofa sambil menikmati permainan lidah Kenzo. Kenzo membalikkan tubuh Liu Xiang dan menggeser tali dress Liu Xiang hingga terjuntai ke lantai, lalu menjilati punggungnya dengan gerakan panjang.
"Ahhhh... Ken... hentikan..."
Kenzo membungkukkan badan Liu Xiang dan memasukkan kejantanannya ke dalam milik Liu Xiang sambil memeras payudaranya dengan kasar dan ritmis. Gerakannya cepat, berat, tanpa ragu.
"Ahhhh.... Ken... sayang.... ssssst... ahhh..."
Kenzo mempercepat gerakan pinggulnya, menghantam tanpa jeda sampai napas mereka kacau. Akhirnya dia mencabut kejantanannya dan mengeluarkan cairan kenikmatan ke arah punggung Liu Xiang, hangat dan kental.
"Ken... kau..."
Liu Xiang merebahkan tubuhnya ke sofa, dada naik turun. Kenzo merapikan pakaiannya dengan tenang lalu meraih jas yang tersampir di sofa seolah tidak terjadi sesuatu yang berarti.
Liu Xiang pun membetulkan pakaiannya lalu duduk kembali, menatap Kenzo dengan mata setengah mabuk."Apa yang kau lakukan kepada ku."
Kenzo menyalakan rokoknya lalu duduk di samping Liu Xiang."Kau tahu aku telah lama di penjara dan setelah bebas tidak tersentuh wanita."
"Jangan salahkan aku yang telah melakukan nya, kau menggoda singa yang tertidur terlalu lama."
Liu Xiang terdiam dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja kerjanya untuk menghubungi sekretarisnya.
(Ubah kontrak untuk Kenzo 80-20.)
(Dan segera bawa ke ruanganku.)
Kenzo menghembuskan asap rokoknya ke arah langit-langit ruangan. Asap tipis naik, berputar, memudar di bawah cahaya lampu kristal. Dia duduk santai, kaki di atas meja, seolah ini wilayah kekuasaannya.
"Aku telah membuatkan rekening pribadi untukmu."
Liu Xiang menyerahkan kartu ATM kepada Kenzo. Kartu hitam dengan logo emas, terasa berat dan eksklusif.
"Sisa pembayarannya ada di dalam kartu itu. Tidak tersentuh pajak. Tidak terlacak."
Kenzo membolak-balikkan kartu ATM miliknya. Tidak ada nama. Hanya nomor dan chip."Bank Internasional Qiuxin?"
"Kau tak perlu khawatir. Uangmu akan aman di sana. Jika terjadi sesuatu, pihak keamanan tidak akan bisa memeriksanya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku adalah pemilik bank tersebut."
Kenzo bersiul pelan. Bukan karena kagum. Karena paham posisi wanita ini sebenarnya.
"Nona Liu, kau ternyata sangat kaya."
"Lalu mengapa kau ingin melakukan bisnis ini?"
"Untuk bersenang-senang. Uang hanya alat. Bahaya adalah hiburan."
Liu Xiang meminum anggur dalam gelasnya. Seteguk kecil. Elegan. Tapi matanya tajam dan liar.
"Kau sungguh wanita gila."
Sekretaris Liu Xiang masuk, menyerahkan file, lalu keluar tanpa menoleh ke arah Kenzo. Gerakannya cepat dan disiplin.
"Aku telah mengubahnya."
Liu Xiang menyerahkan file itu. Kenzo membaca klausul demi klausul. 80-20. Kerahasiaan mutlak. Hukuman mati bagi pengkhianat. Tanpa celah. Tanpa belas kasihan. Lalu menandatangani dengan tinta hitam tajam.
"Baiklah, aku pergi."ucap Kenzo bangkit dari duduknya
"Kenapa terburu-buru?"
"Aku telah janji kepada Yue Yan untuk mengunjungi nenek di rumah sakit."
Liu Xiang membuka laci, mengambil kunci mobil McLaren F1, lalu melemparkannya ke arah Kenzo. Kunci itu berputar dan berkilau di udara."Bawalah itu, aku memberikannya sebagai hadiah."
Kenzo menangkapnya dengan satu tangan.
"Hadiah untuk apa?"
"Bisnis baru kita. Anggap bonus tanda tangan."meneguk anggur merah miliknya
Kenzo menatap mata Liu Xiang lama. Dingin. Mengukur. Lalu mundur.
"Baiklah, aku pergi."
Kenzo meninggalkan Shehua, kembali ke apartemennya, menjemput Yue Yan. McLaren melaju kencang membelah jalanan, suara mesinnya meraung panjang.
Mereka pergi ke mall dan berbelanja pakaian. Yue Yan berlari dari toko ke toko dengan wajah cerah. Kenzo berdiri di sudut memegang tas belanjaan, matanya terus memindai sekitar.
Setelah itu mereka menuju rumah sakit. Gedung putih, lorong panjang, udara dingin.
"Nenek..."
Yue Yan memeluk nenek panti di ranjang.
"Bagaimana kondisi nenek?"
"Yue Yan... nenek baik-baik saja."Tersenyum sambil membelai rambut Yue Yan.
Kenzo masuk dan menyapa dengan canggung.
"Anak bodoh... kemarilah."
"Nek, maaf aku tidak bisa melindungi nenek."
"Bicara apa kau. Aku masih keras kepala."
"Oh iya, Yue Yan, bagaimana anak-anak panti lainnya."
"Mereka baik-baik saja. Nona Liu merawat mereka."
"Syukurlah..."
"Nenek, istirahatlah dulu di sini."
"Aku akan mencari cara membangun panti asuhan Zhenzhu kembali. Lebih besar dari sebelumnya."
Ponsel Kenzo berdering.
("Halo.")
("Ken, pergi ke jalan Bao Fang 15 tengah malam ini.")
("Ada paket untukmu.")
tut... tut... tut...
"Huang, pergilah jika kau ada keperluan."
"Baik, Nek."
"Yue Yan, jaga nenek."
"Aku mengerti."
Langkah Kenzo berubah cepat. Dari hangat menjadi dingin. Dari keluarga menjadi bayangan pemburu.
("Nona Liu, apakah kau tahu tempat penjual senjata?")
("Apa yang mau kau cari?")
("Aku ingin mencari beberapa senjata api dan sebilah pedang.")
("Baiklah, nanti aku akan carikan untukmu.")
("Kirimkan saja gambar senjata yang ingin kau beli.")
("Baiklah, nanti aku kirimkan.")
...BERSAMBUNG...
...****************...