Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Satu
Di malam yang gelap gulita, suara desir angin dan debur ombak membuat siapa saja yang mendengarnya merasa merinding. Bangunan villa di tepi pantai itu terasa sunyi, padahal biasanya ada suara tangisan bayi.
Malam itu, Queenza tidak bisa tertidur begitu lelap, dia berbaring di sebelah bayinya yang berusia lima bulan dengan mata tertutup, tetapi indra pendengarannya begitu sensitif.
Queen tidak tahu, jika di dalam makan malamnya tadi sudah dicampur dengan obat pelumpuh syaraf. Ia hanya merasa matanya begitu berat dan tubuhnya terasa lemas.
Tidak jauh dari ranjangnya yang luas, sepasang pria dan wanita menatapnya dengan ekspresi bermacam-macam. Sang pria menatapnya dingin dan si wanita memandangnya dengan senyum penuh ejekan. Sayangnya saat itu Queen belum membuka matanya.
"Sayang, akhirnya kita berhasil menguasai harta wanita ini. Kamu tidak menyesal, kan melepaskannya?"
"Aku hanya mencintaimu, Mia. Aku tidak pernah mencintai dia. Kamu tahu kan kenapa aku menikahinya?"
Alis Queenza berkerut. Dia jelas mengenali suara keduanya. Suami dan sahabatnya, tetapi kenapa mereka? Perlahan Queen membuka matanya sambil menahan ketidaknyamanan di tubuhnya. Saat kedua matanya terbuka, Queenza terkejut melihat suaminya berdiri memeluk pinggang sahabatnya.
Tubuh Queen gemetaran, hatinya bergetar sakit. Ia ingin mengumpat dan memaki keduanya. Jadi selama ini suami tidak pernah mencintainya dan sahabatnya juga menusuknya dari belakang? Queen mencoba untuk bangkit, tetapi tubuhnya benar-benar lemas dan tidak dapat digerakkan. Hatinya mendadak dilanda kepanikan.
"Kalian! A_apa yang telah kalian lakukan padaku?"
Mia dan Xavier saling melempar tatapan. Mia tertawa terbahak-bahak. "Queen, kamu bahkan tidak menyadari jika kita mencampur racun ke dalam makananmu."
Usai mendengar ucapan Mia, Queen mematung. "Racun?" Queen menatap Xavier, dia berharap masih bisa melihat sedikit kehangatan yang biasanya dia perlihatkan selama ini, tetapi semuanya sia-sia. Dia hanya melihat ekspresi dingin tak terbaca di matanya.
"Aku dan Xavier telah mencampur racun pelumpuh syaraf di makananmu. Apakah kamu suka kejutan yang kami berikan?" Mia tampak begitu senang dan pamer di depan Queen.
"Sayang sekali, wanita sepertimu tidak pantas untuk dicintai, Queen. Apakah kamu tahu siapa yang sudah menghancurkan keluargaku? Itu adalah ayahmu. Dia yang sudah membuat kedua orang tuaku putus asa sehingga mereka memutuskan untuk bunuh diri. Seharusnya saat itu kamu dengarkan ucapan ayahmu, Dia benar, aku tidak tulus mencintaimu. Mungkin jika kamu mendengarkannya dulu, sekarang kamu tidak akan mengalami kemalangan ini. Kamu pasti tidak menduganya, kan? Semua asetmu sekarang akan menjadi milikku, Queen. Mulai sekarang aku tidak memerlukan kamu lagi." Xavier berjalan mendekati ranjang. Matanya menatap Queen dengan bengis. Ia ingat raut putus asa kedua orang tuanya sebelum mengakhiri hidupnya. Itulah kenapa dia begitu membenci keluarga Celeste dan dia ingin membalaskan dendamnya pada Queen.
Queen merasa jantungnya berhenti berdetak. Kilasan kilasan masa lalunya saat bersama Xavier berputar di otaknya seperti kaset rusak. Jadi selama ini kebaikannya, kasih sayang yang dia tunjukkan padanya itu palsu? Betapa bodohnya dia.
Hatinya seperti ditikam belati berkali-kali. Dia benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan peringatan mendiang ayahnya dulu. Lalu sekarang apa? .... Queen merasa telah dibodohi oleh orang-orang yang dia percayai dengan sepenuh hati.
Kenapa? Kenapa ini harus terjadi padanya? Apa salahnya? Dan Mia, dia bersahabat dengan Mia bukan sehari dua hari, tetapi mengapa Mia mengkhianati dirinya? Batin Queen bergejolak. Ini benar-benar pukulan berat baginya.
Mia menatap Queen dengan ekspresi mencemooh. Dia merasa puas melihat kondisi Queen saat ini. Sejak dulu Mia sangat membenci Queen yang selalu dimanja oleh ayahnya. Berbeda dengan dirinya yang sering menjadi korban kekerasan karena ayahnya pecandu judi. Mia iri dengan kebahagiaan Queen saat itu, tetapi kini dia sudah menjadi pasangan Xavier dan juga mendapat harta Queen. Jadi dia terlihat sangat senang.
Setelah puas melihat Queen tersiksa, kedua orang itu pergi, Queen mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi tidak bisa. Dia ingin memeluk putrinya, tetapi kedua tangannya bahkan tidak ada rasanya.
Di tengah rasa putus asa itu, Queen mencium bau bensin. Hatinya seketika itu langsung bergetar. Mungkinkah kedua orang itu berniat membakar dirinya dan juga putri kecilnya.
Queen sekuat tenaga ingin meraih Sofia putrinya, tetapi dia tetap tidak bisa. Lambat laun Queen merasakan suhu udara semakin memanas. Xavier benar-benar membakar villanya. Queen memejamkan matanya erat. Dia benar-benar menyesal tidak mendengarkan nasihat ayahnya waktu itu.
Wanita itu berharap Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup bersama Sofia putrinya. Queenza menangis. Dia melihat api perlahan membesar di kamarnya.
"Tuhan, tolong aku. Beri kesempatan padaku dan Sofia untuk tetap hidup. Aku tidak terima mereka menyakitiku seperti ini. Aku begitu mencintai Xavier, Aku bahkan rela mengecewakan keluargaku demi dia, tetapi inikah balasannya? Tuhan, tolong selamatkan aku dan putriku," jerit Queen.
Tanpa ia sadari berlian hitam yang ada di kalungnya tiba-tiba berkilau memancarkan seberkas sinar sekilas. Sangking paniknya Queen benar-benar tidak memperhatikannya.
Queen perlahan melihat api membesar dengan cepat. Terlebih villanya berada di tepi pantai, dengan cepat angin meniup api sehingga api mulai merembet ke kasur. Queenza panik. Dengan sekuat tenaga dia menggerakkan tubuhnya dan berhasil berguling mendekati Sofia.
Di saat itu, dia mendengar bunyi berderak. Kayu di atap tiba-tiba jatuh menimpanya. Queen merasakan rasa panas yang begitu menyakitkan. Kulitnya terbakar dan dia menatap Sofia dengan putus asa.
"Sofia, maafkan mama tidak bisa menjagamu. Sofia, mama sangat menyayangimu."
Queen mulai kehabisan energi. Sekujur tubuhnya terasa sakit luar biasa. Dia menatap putrinya yang sejak tadi diam saja. Queen menatap dada dan perut Sofia, dia baru menyadari putrinya tidak tidur, melainkan dia sudah tidak bernyawa. Queen berteriak memanggil nama Sofia dengan hati hancur.
Napas Queen mulai melemah. Ia tidak menyangka Xavier bahkan rela menghabisi putrinya sendiri demi Mia. Apa salahnya sampai sampai dia dan Sofia harus menanggung semua ini?
Perlahan mata Queen terpejam. Hingga tubuhnya dilalap api, dendamnya akan ia bawa sampai ke alam baka.
Sementara itu, di luar tak jauh dari lokasi Villa, mobil Xavier terparkir di tepi jalan. Dia menatap api yang menghanguskan villa milik istrinya. Tatapannya begitu dingin tak berperasaan seolah yang ada di dalam villa itu sama sekali tidak ada hubungan dengannya, padahal jelas-jelas ada putri kandungnya yang ikut terbakar di dalam sana.
Mia melirik ekspresi Xavier. Dia tersenyum puas melihat kekasihnya sama sekali tidak menaruh perasaan melihat anak dan istrinya terbakar. Mia mengusap lengan Xavier.
"Apakah kamu menyesal?"
"Tidak," jawab Xavier dingin.
Tak lama mobil mereka meninggalkan lokasi Villa. Akan sangat berbahaya jika sampai mereka ketahuan oleh polisi.
Begitu mereka meninggalkan lokasi, tak berselang lama polisi dan pemadam kebakaran datang ke lokasi kebakaran. Saat itu api sudah membesar dan tidak ada yang berani mendekat.
Seorang pria menatap ke arah villa yang terbakar itu dengan tangan terkepal. Ia tahh betul di villa itu tinggal seorang wanita cantik bersama bayi perempuannya. Karena beberapa kali dia sempat melihat wanita itu mengajak putrinya berjemur di tepi pantai. Pria itu memperkirakan usia bayi perempuan itu hampir sama dengan usia bayinya, jika saja bayinya masih hidup.
Hari ini awalnya pria itu datang ke tempat ini karena dia ingin melihat bayi Queen untuk mengobati rasa rindunya pada sang putri. Lima bulan yang lalu, ia juga memiliki seorang putri dari istri kontraknya, sayangnya putrinya meninggal karena memiliki kelainan yang langka. Dia Alergi Susu Formula dan tidak bisa meminum ASI dari perempuan yang golongan darahnya berbeda dengannya. Sehingga 10 hari setelah dilahirkan bayi itu meninggal dengan menyedihkan. Sementara istri kontraknya juga sudah meninggal karena pendarahan saat melahirkan.
"Tuan Bryan, ibu dan bayi itu ditemukan terbakar di dalam villa. Ada kemungkinan mereka tertidur saat kebakaran terjadi."
"Ethan, menurutmu kebakaran itu disengaja atau tidak? Kamu bantu polisi periksa semua CCTV di sekitaran sini."
Setelah mendapat perintah dari atasannya, Ethan pergi meninggalkan Bryan seorang diri.
Bryan menatap bangunan yang kini hanya menyisakan asap dan reruntuhan. Pria itu menyentuh cincin di jarinya yang bertahtakan berlian hitam. Hatinya ikut berdenyut saat membayangkan wanita cantik itu dan bayi lucunya terbakar.
Seandainya saja dia datang lebih awal, mungkinkah dia bisa menyelamatkan ibu dan anak itu? Entah mengapa Bryan merasa begitu tertekan mendengar kematian ibu dan anak itu.
Bryan tiba-tiba merasakan sengatan panas dari jarinya. Berlian di cincinnya tiba-tiba memancarkan cahaya dalam sekejap. Bryan memandangi cincinnya dengan ekspresi bingung, dia tidak berpikir ada yang aneh dengan itu, tak lama ia memutuskan untuk pulang.
Bryan kembali ke rumahnya dengan langkah gontai. Di ruang tamu, kakeknya duduk dengan sorot mata tajam.
"Bryan Lewis, apakah menurutmu dengan sikapmu yang seperti ini, keluarga Lewis tidak akan segera jatuh ke dasar lembah kemiskinan?"
Bryan menghentikan langkahnya, dia mengangkat pandangannya dan menatap kakeknya dengan ekspresi datar.
"Masih ada cucumu yang lain, Kek. Ada Mike, Adam, Henry, mereka bisa menggantikanku."
Setelah menjawab kakeknya, Bryan langsung berjalan meninggalkan sang Kakek yang dilanda kemarahan.
Sejak tadi dalam pikirannya terus terbayang wajah Queen dan juga putrinya. "Andai saja aku datang lebih awal, mungkin nyawa mereka berdua bisa selamat."
Bryan masuk ke kamarnya. Dia langsung menuju arah balkon. Pria berusia 29 tahun itu melepas jasnya dan melemparkannya sembarangan. Bryan mengambil rokok dari sakunya dan membuka pintu balkon. Bryan menatap langit yang begitu mendung dengan suara gemuruh petir.
Suara guntur yang menggelegar bercampur suara hujan membuat suasana di kamar Bryan semakin suram.
Bryan berjalan dengan langkah lesu masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan diri sampai tidak menyadari ada sesuatu yang aneh di malam itu. Saat Bryan hendak tertidur, listrik tiba-tiba padam. Namun, alih-alih bangun, Bryan justru merasa matanya terasa berat dan sulit terbuka. Dia jatuh tertidur dalam sekejap mata.