"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Mawar dan Racun
Mawar dan Racun
Di tanah basah where doa-doa mengendap
Kuletakkan setangkai mawar merah
Duri-durinya menusuk jemariku
Seperti janji yang tak pernah terucap
Maafkan aku, Ayah
Untuk semua topeng yang kupakai
Untuk air mata yang kutahan
Untuk racun yang kurakit perlahan
Mereka mengira aku mawar layu
Yang siap dipetik lalu dibuang
Mereka tak tahu
Di setiap duriku, tersimpan racun keadilan
Hari ini aku berjanji
Bukan untuk membalas
Tapi untuk mengambil kembali
Semua yang kau titipkan di genggamanku
Dan saat mawar ini mekar sempurna
Dengan duri yang siap menusuk siapa saja
Kau akan tersenyum dari sana, Ayah
Melihat putrimu akhirnya memahkotai dirinya sendiri.
---
Hujan turun sejak subuh, tapi Alana tak peduli.
Ia berdiri di depan makam ayahnya dengan gaun hitam sederhana, rambut basah menempel di pelipis, dan setangkai mawar merah di tangan. Tanah di bawah lututnya basah, meresap ke dalam stoking mahal yang ia kenakan, tapi ia tak bergerak. Sudah setengah jam ia berlutut di sana, membiarkan air hujan bercampur air mata yang tak lagi ia tahan.
Di depannya, nisan marmer hitam bertuliskan:
HENDRA WIJAYA
1960 – 2023
Terbanglah tinggi, Nak. Dunia milikmu.
Kalimat terakhir itu yang selalu membuatnya hancur. Bahkan di batu nisan, ayahnya masih memberinya pesan. Masih percaya padanya. Padahal saat ayahnya meninggal, Alana hanya bisa terdiam di sudut ruang ICU, melihat monitor jantung berubah menjadi garis lurus, sementara Richard—pria yang kemudian menjadi suaminya—sibuk menelepon pengacara untuk mengurus warisan.
"Ayah..."
Suaranya serak, nyaris tertelan derasnya hujan.
"Ayah tahu? Hari ini genap tiga tahun."
Tiga tahun sejak ayahnya pergi. Tiga tahun sejak Richard mulai perlahan-lahan mengambil alih perusahaan dengan dalih "membantu istri yang berduka". Tiga tahun sejak Viola mulai sering "menemani" Richard di rumah—kamar tamu, katanya. Padahal Alana tahu, kamar tamu itu hanya sepuluh langkah dari kamar utama. Dan dinding rumah ini tidak cukup tebal untuk menutupi erangan yang Viola lontarkan setiap malam Kamis.
Tiga tahun Alana diam.
Bukan karena bodoh. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu—balas dendam yang terburu-buru hanya akan melukai dirinya sendiri. Ayahnya pernah berkata, "Racun paling mematikan adalah yang tak tercium baunya, Nak. Bukan yang paling cepat, tapi yang paling tidak terduga."
Alana tersenyum pahit di tengah hujan.
"Aku sedang meracuni mereka, Ayah. Perlahan. Setiap hari. Mereka bahkan tak tahu sedang meneguk racun itu dalam gelas kristal kesayangan mereka."
Ia meletakkan mawar merah di atas nisan. Duri-durinya sudah ia buang—karena untuk ayahnya, ia tak perlu melukai. Tapi untuk yang lain, duri-duri itu akan ia simpan. Satu per satu. Untuk setiap pengkhianatan, satu duri. Untuk setiap air mata yang ia tahan, satu duri yang lebih tajam.
Hujan mulai reda saat Alana masih di sana. Dari balok pohon trembesi tua di belakangnya, seseorang mengamati.
Lucas.
Ia datang dengan payung hitam besar, jas hujan yang basah, dan sebuah map plastik di tangan. Diam-diam ia mengikuti Alana sejak tadi—bukan untuk mengganggu, tapi karena ia tahu, setelah ziarah ini, Alana akan membutuhkan sesuatu. Sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kenangan.
"Alana," panggilnya lembut.
Alana tak menoleh. "Kau tahu, Lucas? Dulu Ayah sering bawa aku ke sini. Bukan ke makam—karena saat itu Ayah masih hidup. Tapi ke tempat ini. Ada pohon besar di ujung sana, tempat kami duduk dan Ayah bercerita tentang masa mudanya."
Lucas mendekat, menaungi Alana dengan payungnya meskipun tubuhnya sendiri basah. "Kau mau cerita?"
Alana akhirnya menoleh. Matanya sembab, tapi di dalamnya ada api yang tak bisa dipadamkan hujan. "Dulu Ayah bilang, hidup itu seperti mawar. Indah, tapi penuh duri. Orang bodoh akan memetiknya tanpa hati-hati dan terluka. Orang pintar akan memetiknya dari pangkal batang, lalu membuang durinya. Tapi orang bijak..."
Ia berhenti, mengambil napas panjang.
"Orang bijak akan membiarkan durinya tetap ada. Karena duri itulah yang membuat mawar dihargai. Tanpa duri, semua orang bisa memetiknya. Mawar akan kehilangan nilainya."
Lucas mengangguk pelan. Ia mengerti. Alana bukan lagi mawar yang bisa dipetik sembarangan. Ia telah menumbuhkan duri di setiap inci batangnya. Dan siapa pun yang mencoba mendekat tanpa izin—akan terluka.
"Aku membawa sesuatu," kata Lucas, menyerahkan map itu.
Alana membukanya. Di dalamnya, ada tumpukan dokumen—laporan keuangan perusahaan yang selama tiga tahun ini dikendalikan Richard. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah flashdisk kecil yang ditempel dengan selotip di halaman terakhir.
"Apa ini?"
"Rekaman," jawab Lucas. "Tiga tahun. Setiap malam Kamis. Setiap sudut ruangan yang mereka gunakan. Ada juga percakapan mereka tentang rencana menguras perusahaan dan melarikan diri ke Singapura."
Alana menatap flashdisk itu lama. Di tangannya kini ada senjata yang bisa menghancurkan dua orang dalam satu tembakan. Tapi ia tak terburu-buru.
"Kau tahu, Lucas?" katanya pelan. "Aku bisa saja menggunakan ini sekarang. Menghancurkan mereka hari ini juga. Tapi... apa gunanya?"
Lucas mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Alana berdiri, merapikan gaunnya yang basah. Ia menatap langit yang mulai cerah. "Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Bukan sekadar jatuh, Lucas. Tapi jatuh perlahan. Kehilangan satu per satu. Merasa aman, lalu sadar bahwa semua yang mereka bangun di atas puing-puing hidupku, sebenarnya adalah pasir. Satu ombak saja, semuanya runtuh."
Ia menoleh pada Lucas dengan senyum yang tak bisa Lucas artikan—apakah itu senyum kemenangan atau kesedihan yang membeku.
"Biarkan mereka terus berpesta di atas kapal Titanic. Aku akan memastikan mereka tak melihat gunung es sampai detik terakhir."
Sore harinya, Alana kembali ke rumah.
Rumah mewar yang dulu penuh tawa ayahnya, kini hanya menjadi panggung sandiwara. Richard sedang duduk di ruang tamu dengan setelan jas rapi, meskipun hari sudah menjelang malam. Viola ada di sampingnya, bersandar terlalu dekat untuk ukuran "tamu".
"Alana!" Richard berdengan pura-pura senang. "Kamu dari mana saja? Basah kuyup begini."
Alana tersenyum tipis. "Ziarah ke makam Ayah."
Viola memasang wajah iba yang palsu. "Oh, kasihan sekali kamu. Tiga tahun sudah, ya? Pasti masih berat."
Lebih berat melihatmu duduk di kursi yang biasa Ayah pakai, dengan tangan menyentuh lengan suamiku.
"Masih," jawab Alana datar. "Tapi aku sudah biasa."
Richard dan Viola bertukar pandang cepat. Mereka pikir Alana tak melihat. Tapi Alana melihat semuanya. Bahkan kedipan mata mereka.
"Richard," panggil Alana tiba-tiba. "Aku ingin minta sesuatu."
Richard mengangkat alis. "Apa?"
"Aku ingin kembali bekerja. Di perusahaan."
Richard tertawa kecil, mencoba terdengar wajar. "Alana, sayang, kamu tak perlu bekerja. Aku yang cari nafkah. Kamu cukup di rumah, istirahat, belanja, apa pun yang kamu mau."
"Aku bosan," potong Alana. "Aku ingin melakukan sesuatu. Apa salahnya?"
Viola ikut campur. "Alana, bukannya kami melarang, tapi perusahaan sekarang sedang tidak stabil. Banyak masalah. Mungkin lebih baik kamu tunggu sampai semuanya membaik."
Tidak stabil karena kalian mengurasnya.
Alana tersenyum. "Justru itu. Aku ingin membantu. Lagipula, ini perusahaan Ayahku. Aku punya hak untuk tahu apa yang terjadi, kan?"
Richard terdiam. Ada sesuatu di mata Alana yang tak ia sukai. Tapi ia tak bisa menolak tanpa terlihat curiga.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi posisi apa yang kamu mau?"
Alana berpura-pura berpikir. Lalu menjawab dengan santai,
"Divisi pengadaan. Entry level saja. Aku mau belajar dari bawah."
Richard hampir tertawa lega. Divisi pengadaan—divisi yang paling ia kendalikan, paling mudah dimanipulasi. Dan entry level? Alana bahkan tak akan bisa melihat laporan keuangan.
"Setuju," katanya cepat.
Alana tersenyum. Dalam hati, ia berkata:
Terima kasih sudah membiarkanku masuk ke dapurmu, Richard. Sekarang, biar aku yang mengatur bumbunya.
Malam itu, di kamarnya, Alana membuka laptop. Flashdisk Lucas terpasang. Ia memutar rekaman pertama.
Suara Richard dan Viola memenuhi ruangan.
"Kapan kita bisa pergi, Vi? Aku bosan dengan istriku yang lembek itu."
"Sabarlah, Sayang. Kita ambil semua dulu. Biarkan dia jadi bodoh yang manis."
Alana mendengar semuanya dengan wajah datar. Tak ada air mata. Tak ada getar.
Ia hanya mencatat. Tanggal. Waktu. Kata-kata kunci.
Lalu ia membuka aplikasi yang Lucas buatkan—sebuah program yang bisa mengakses sistem perusahaan secara diam-diam. Tanpa jejak. Tanpa sepengetahuan siapa pun.
Satu per satu, ia mulai memindahkan data. Perlahan. Hati-hati.
Di luar, hujan mulai turun lagi.
Alana berhenti sejenak, menatap jendela. Di balik kaca, ia melihat bayangannya sendiri—wanita dengan gaun tidur putih, rambut panjang tergerai, wajah cantik yang tak menunjukkan luka.
Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang membara.
Bukan dendam.
Bukan kebencian.
Tapi keyakinan.
Bahwa ia akan mengambil kembali semua miliknya. Bahwa ia akan membuat ayahnya bangga. Bahwa ia akan berdiri di puncak, bukan sebagai korban, tapi sebagai pemenang.
Dan saat itu tiba, ia akan meletakkan setangkai mawar lagi di makam ayahnya.
Kali ini, dengan duri yang utuh.
Karena duri-duri itu adalah bukti—bahwa ia tak lagi menjadi mawar yang bisa dipetik sembarangan.
Ia adalah mawar beracun.
Dan siapa pun yang mendekat...
...akan mati perlahan.
---
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄