Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Malam itu, Mansion Gonzales berubah menjadi panggung sandiwara. David Gonzales menyambut Edgar Martinez layaknya menyambut seorang raja yang membawa kunci menuju takhta yang lebih tinggi. Lampu gantung kristal di ruang utama bersinar dua kali lebih terang, dan wine terbaik dikeluarkan.
Namun, Edgar tampak bosan dengan segala basa-basi bisnis David. Matanya terus mencari satu sosok yang tidak ada di meja jamuan.
"Ethan," panggil Edgar dengan nada malas yang elegan, "mansion ini sangat luas. Tapi aku penasaran, di mana kau menaruh kamar kakakmu? Aku ingin melihat ruang kerja seorang desainer terbaik universitas kita."
Ethan, yang sudah merasa menjadi sahabat karib Edgar, tertawa sombong. "Oh, kau ingin melihat sarang Leonor? Ayah menaruhnya di sudut paling jauh. Katanya agar bau kain dan uap catnya tidak mengganggu tamu. Mari, biar ku tunjukkan."
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang semakin sunyi dan dingin. Kontras antara kemewahan ruang utama dan lorong menuju kamar Leonor sangat terasa. Hingga akhirnya, mereka tiba di depan sebuah pintu kayu tua yang tampak terasing.
Tok, tok!
Tanpa menunggu jawaban, Ethan membuka pintu itu. "Hei, Gadis Kain! Tamu agung ingin melihat sarangmu."
Leonor yang sedang duduk di depan meja sketsanya tersentak. Ia baru saja akan beristirahat, wajahnya tertutup masker lumpur hitam pekat yang sudah mengering, menyisakan hanya lubang mata dan bibir. Rambutnya diikat sembarangan ke atas. Ia tampak seperti makhluk dari planet lain, jauh dari kata feminin atau cantik.
Edgar masuk dengan langkah santai, mengabaikan protes di wajah Leonor. Matanya mulai memindai setiap detail ruangan itu.
Kamar itu kecil, namun dipenuhi karakter. Tidak ada barang mewah. Hanya ada tumpukan kain, manekin yang mengenakan gaun setengah jadi, dan dinding yang dipenuhi guntingan majalah mode tua serta sketsa-sketsa yang sangat detail. Aroma di sana adalah campuran dari kopi pahit, melati, dan aroma kimia dari tekstil.
"Jadi, di sini tempat kau merancang rencana untuk membuatku jatuh cinta?" sindir Edgar.
Tanpa permisi, Edgar berjalan menuju ranjang kecil Leonor yang tertutup sprei putih polos yang sudah agak pudar. Ia merebahkan tubuhnya di sana, meletakkan tangannya di belakang kepala, dan menatap langit-langit kamar yang sedikit retak.
"Sedikit keras, tapi tidak buruk untuk seseorang yang tidak punya marga," ucap Edgar sambil memejamkan mata, sengaja memprovokasi.
Leonor mengepalkan tangannya. Rasa muak yang menumpuk sejak kejadian di kantin, ditambah dengan lelahnya begadang dan invasi pria sombong ini ke satu-satunya tempat ia bisa bernapas, membuat sesuatu di dalam dirinya pecah.
Ia tidak ingin lagi berdebat secara elegan. Ia ingin Edgar pergi. Ia ingin Edgar menganggapnya wanita gila yang tidak layak didekati.
Leonor berjalan mendekat ke arah ranjang, berdiri tepat di atas Edgar yang masih berbaring. Dengan masker hitam di wajahnya yang membuatnya tampak mengerikan, ia membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Edgar.
"Kau suka ranjangku, Tuan Martinez?" bisik Leonor, suaranya serak dan penuh racun.
Edgar membuka mata, menatap mata tajam di balik lubang masker itu. "Cukup nyaman."
Leonor menyeringai, sebuah pemandangan yang aneh di wajah bermasker itu. "Tentu saja nyaman. Kau tahu kenapa? Karena di ranjang inilah aku membayangkan hal-hal yang akan membuat pria suci dan terhormat sepertimu lari ketakutan."
Ethan yang berdiri di pintu mengernyit. "Leo, apa yang kau bicarakan?"
Leonor tidak peduli. Ia terus menatap Edgar dengan tatapan predator. "Kau bertanya bagaimana cara membuatmu mencintaiku? Mungkin aku tidak butuh desain baju. Mungkin aku hanya perlu menyeret mu ke ranjang ini, mengikat tanganmu dengan sisa-kain sutra ku, dan membiarkan mu memohon ampun saat aku menguliti mu hidup-hidup dengan gigiku."
Ia tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat terdengar gila. "Aku wanita jalang yang haus darah, Edgar. Aku bukan wanita cantik yang kau temui di pesta dansa. Aku punya fantasi yang bisa membuat MTZ Group bangkrut dalam semalam hanya untuk memuaskan kegilaanku. Apa kau masih ingin tinggal di sini? Atau kau ingin aku menunjukkan padamu bagaimana rasanya tidur dengan sampah yang sudah kehilangan akal sehatnya?"
Leonor berharap Edgar akan bangkit dengan wajah ilfil, merasa jijik, dan keluar dari kamarnya sambil mengumpat bahwa dia adalah wanita gila yang vulgar. Ia ingin Edgar melihatnya sebagai ancaman bagi reputasinya.
Ethan sudah tampak ketakutan di ambang pintu. "Ed, ayo pergi. Dia benar-benar sudah gila!"
Namun, Edgar tetap berbaring di sana. Ia tidak bergerak sedikit pun. Perlahan, sebuah senyum tipis yang sangat gelap muncul di bibir Edgar. Ia justru menaikkan tangannya, menyentuh tepi masker hitam di pipi Leonor, mengabaikan bau lumpur yang tajam.
"Kreatif sekali," bisik Edgar, matanya berkilat penuh gairah yang aneh. "Kau pikir dengan bicara vulgar dan berpura-pura gila, aku akan lari? Kau justru baru saja memberitahuku bahwa di balik wajah cantik dan kain-kain ini, ada api yang sangat menarik untuk dipadamkan."
Edgar bangkit dengan gerakan yang sangat tenang, berdiri tepat di depan Leonor sehingga Leonor harus mendongak.
"Terima kasih atas undangan ranjangnya, Leonor. Tapi aku lebih suka melakukannya saat kau tidak memakai masker lumpur ini. Kita bahas proyek kita di bawah sepuluh menit lagi. Jangan terlambat, atau aku akan kembali ke sini dan benar-benar membiarkanmu mencoba mengikatku dengan kain sutra mu."
Edgar berjalan keluar dengan santai, meninggalkan Leonor yang mematung dengan napas memburu.
"Sialan!" teriak Leonor saat pintu tertutup. Ia segera berlari ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus rasa panas di pipinya yang bukan berasal dari masker, melainkan dari tatapan Edgar tadi.
Ia telah mencoba menjadi wanita gila, namun pria itu justru tampak menyukainya. Leonor menyadari bahwa Edgar Martinez bukan hanya sombong dia adalah pria berbahaya yang menyukai kekacauan. Dan Leonor baru saja memberikan kekacauan yang pria itu cari.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰